NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Aditiar

SINOPSIS:

"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."

Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.

Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang di Bawah Pelabuhan

Bab 15: Gerbang di Bawah Pelabuhan

Hujan telah berhenti ketika Ethan Mahendra menutup ponselnya.

Suara perempuan dari Departemen Investigasi Khusus masih terngiang di benaknya.

"Kalau kau tetap pergi malam ini... kau tidak akan menghadapi manusia."

Ancaman itu terdengar seperti peringatan, bukan jebakan. Namun setelah lima ratus tahun hidup di dunia kultivasi, Ethan telah belajar satu hal—tidak ada informasi yang benar-benar gratis.

Ia memandang cincin Pemburu Naga di atas meja. Lambang naga yang melilit sembilan rantai kini telah kembali redup, seolah peta tiga dimensi yang muncul beberapa saat lalu hanyalah ilusi.

Namun Ethan tahu itu nyata.

Ia mengambil selembar kertas kuning, menggambar beberapa garis rumit menggunakan darah dari ujung jarinya. Darah segera meresap ke dalam serat kertas, membentuk Jimat Penangkal Yin tingkat rendah.

"Dengan Qi yang kumiliki sekarang, hanya satu yang bisa kubuat."

Ia menyelipkan jimat itu di balik jaket.

Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Ethan keluar menuju pelabuhan tua.

Pelabuhan di tengah malam berbeda dengan siang hari.

Gudang-gudang tua berdiri seperti raksasa yang telah mati. Derek berkarat menjulang dalam gelap, sementara suara ombak memukul tiang beton menciptakan irama yang suram.

Tak ada pekerja.

Tak ada kapal yang beroperasi.

Namun kesadaran Ethan menangkap sesuatu.

"Terlalu sunyi."

Bahkan burung laut pun tidak terdengar.

Ia memperlambat langkah.

Matanya mengamati setiap sudut.

Bekas jejak kaki.

Pecahan beton.

Arah angin.

Beberapa menit kemudian, ia tiba di sebuah gudang tua bernomor 17.

Persis seperti koordinat yang muncul dari cincin.

Pintu gudang telah terbuka sedikit.

Di dalam hanya tampak kegelapan.

Begitu Ethan melangkah masuk, hawa dingin langsung menyelimuti tubuhnya.

Udara di dalam jauh lebih lembap dibandingkan di luar.

Di tengah gudang terdapat lantai baja yang tampak baru diganti.

Ethan berlutut.

Tangannya menyentuh permukaan logam.

"Qi..."

Sangat tipis.

Namun berbeda dengan Qi alam.

Ini adalah sisa energi formasi.

Ia mengeluarkan sebuah paku besi kecil dari sakunya lalu menusukkannya ke salah satu sudut lantai.

Klik.

Suara mekanisme terdengar.

Seluruh lantai perlahan bergeser.

Tangga batu muncul dari bawah.

Senyum tipis muncul di wajah Ethan.

"Formasi penyembunyian kelas rendah."

"Masih kasar."

Ia mulai menuruni tangga.

Semakin ke bawah, udara semakin berat.

Dinding lorong dipenuhi simbol kuno yang telah aus dimakan waktu.

Sebagian besar telah rusak.

Namun Ethan mengenali beberapa di antaranya.

"Segel Penekan Roh..."

"Segel Penahan Yin..."

"Dan..."

Tatapannya berhenti pada sebuah lambang yang nyaris terhapus.

Seekor naga berkepala sembilan.

Mata Ethan sedikit menyipit.

Lambang yang sama seperti pada cincin Pemburu Naga.

"Jadi mereka memang menjaga tempat ini."

Namun satu hal mengganjal pikirannya.

Segel-segel ini bukan dibuat untuk melindungi harta.

Melainkan...

Untuk mengurung sesuatu.

Beberapa ratus meter kemudian, lorong berakhir pada sebuah ruang bawah tanah yang sangat luas.

Langit-langitnya mencapai puluhan meter.

Pilar-pilar batu hitam berdiri melingkar.

Di tengah ruangan terdapat gerbang batu raksasa setinggi lima belas meter.

Permukaannya dipenuhi retakan.

Di bawah gerbang terukir tulisan kuno.

Ethan membacanya perlahan.

"Gerbang Pertama Penjara Langit."

Jantungnya berdetak sedikit lebih keras.

"Penjara Langit..."

Nama itu pernah ia dengar.

Namun bukan di dunia modern.

Melainkan di Alam Kultivasi.

Konon, sebelum zaman para Kaisar Abadi, para leluhur menyegel makhluk-makhluk yang tidak bisa dibunuh.

Ia selalu menganggap kisah itu hanyalah legenda.

Kini...

Salah satu gerbangnya berada di bawah kota.

Suara langkah kaki tiba-tiba memecah kesunyian.

Ethan tidak menoleh.

"Ternyata kau benar-benar datang."

Suara itu milik wanita yang menghubunginya tadi.

Dari balik salah satu pilar muncul tiga orang.

Seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun mengenakan mantel abu-abu.

Di belakangnya berdiri dua pria berseragam hitam.

Aura mereka berada di Alam Pengumpulan Qi Bintang 1.

Wanita itu sedikit lebih kuat.

Sekitar Bintang 3.

"Aku Livia."

"Departemen Investigasi Khusus."

Ia mengeluarkan sebuah lencana bergambar burung garuda yang dikelilingi delapan bintang.

"Kami bertugas mengawasi fenomena supranatural."

Ethan tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru mengamati posisi mereka.

Jarak.

Sudut serangan.

Jalur mundur.

Livia tersenyum kecil.

"Kau benar-benar tidak mudah percaya."

"Aku masih hidup karena itu."

Jawaban Ethan membuat kedua agen di belakang Livia saling berpandangan.

Pria biasa tidak mungkin berbicara setenang ini di hadapan mereka.

Livia menghela napas.

"Kami tidak datang untuk menangkapmu."

"Kami justru ingin bekerja sama."

"Mengapa?"

"Karena segel ini mulai rusak."

Ia menunjuk gerbang batu.

"Tiga bulan terakhir..."

"...terjadi peningkatan aktivitas energi Yin."

"Kami kehilangan tujuh agen."

Ethan memandang retakan pada gerbang.

Retakan itu memang semakin melebar.

Namun ada sesuatu yang lebih aneh.

Seseorang...

Dengan sengaja mempercepat kerusakannya.

Ia berjalan mendekati gerbang.

Tangannya menyentuh permukaan batu.

Seketika bayangan-bayangan aneh memenuhi kesadarannya.

Raungan.

Api hitam.

Pertempuran ribuan kultivator.

Lalu...

Sosok manusia berjubah emas berdiri di depan gerbang sambil mengangkat pedang.

Wajahnya tidak terlihat.

Namun aura orang itu...

Begitu akrab.

Ethan tiba-tiba menarik tangannya.

Penglihatan itu langsung menghilang.

"Kau melihat sesuatu?"

tanya Livia.

Ethan hanya mengangguk pelan.

"Tidak lengkap."

Ia memilih menyimpan semuanya.

Tiba-tiba...

Kraak!

Salah satu rantai batu yang melilit gerbang putus.

Seluruh ruangan berguncang.

Debu berjatuhan.

Qi hitam mulai keluar dari celah retakan.

Livia langsung berteriak.

"Formasi siaga!"

Dua agen segera mengeluarkan cakram logam dan menancapkannya ke tanah.

Sebuah penghalang cahaya muncul.

Namun Ethan menggeleng.

"Terlambat."

"Apa?"

"Bukan segelnya yang pecah."

"Lalu?"

"Sesuatu di dalam..."

"...baru saja bangun."

Raungan berat menggema dari balik gerbang.

Bukan suara manusia.

Bukan pula binatang.

Suara itu membawa tekanan mental yang membuat salah satu agen langsung berlutut sambil memegangi kepala.

"D-di kepalaku..."

"Ada suara..."

Livia menggertakkan gigi.

Darah menetes dari sudut bibirnya.

Tekanan spiritual.

Meski segel belum sepenuhnya terbuka, makhluk di baliknya sudah mampu memengaruhi kesadaran.

Ethan segera merobek Jimat Penangkal Yin miliknya.

Cahaya kuning menyelimuti keempat orang.

Tekanan langsung berkurang.

Livia menatap Ethan penuh keterkejutan.

"Kau..."

"Simpan pertanyaanmu."

Ethan tetap menatap gerbang.

"Ada yang datang."

Benar saja.

Dari lorong atas terdengar puluhan langkah kaki.

Tidak lama kemudian, sekitar dua puluh orang berjubah hitam memasuki ruangan.

Di dada mereka terdapat lambang...

Seekor matahari emas.

Sekte Matahari Langit.

Di depan mereka berdiri pria muda yang memenangkan Fragmen Gerbang Bintang di pelelangan.

Tuan Muda Shen.

Ia tersenyum santai.

"Terima kasih."

"Kalian sudah membuka jalannya."

Wajah Livia langsung berubah.

"Bagaimana kalian bisa menemukan tempat ini?"

Pria itu tertawa kecil.

"Kami memang yang merusaknya."

Ia mengangkat Fragmen Gerbang Bintang.

Benda itu memancarkan cahaya keemasan.

Retakan pada gerbang semakin melebar.

Ethan akhirnya memahami semuanya.

Pelelangan.

Pemburu Naga.

Peta.

Semuanya hanyalah rangkaian langkah untuk membawa seseorang yang mampu membaca simbol kuno ke tempat ini.

Dan orang itu...

Adalah dirinya.

Tuan Muda Shen menatap Ethan sambil tersenyum.

"Akhirnya kita bertemu."

"Yang Mulia..."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.

"...Kaisar Bayangan."

Mata Ethan yang tenang akhirnya menyipit.

Ia belum pernah menggunakan gelar itu sejak kembali ke Bumi.

Lalu bagaimana pria itu bisa mengetahui identitas yang bahkan seharusnya telah terkubur bersama dunia kultivasinya?

Sebelum siapa pun sempat bergerak, Fragmen Gerbang Bintang memancarkan cahaya yang menyilaukan.

Gerbang batu mulai terbuka perlahan.

Dan dari celah gelap di baliknya...

Sepasang mata merah raksasa perlahan terbuka, disertai tawa rendah yang mengguncang seluruh ruang bawah tanah.

"Lima ribu tahun... akhirnya segel ini mulai terbuka..."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!