Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pagi kedua di Bali. Udara Ubud yang sejuk menyambut mereka dengan aroma tanah basah dan bunga kamboja. Zyan sudah siap dengan setelan liburannya yang tetap terlihat mahal: celana pendek chino warna krem, kemeja polo putih, dan sepatu loafers tanpa kaus kaki. Sangat rapi, layaknya pria idaman sosialita.
Sementara Alexa? Dia akhirnya memakai salah satu kaos pemberian Zyan, sebuah kaos putih oversized yang ia padukan dengan celana pendek denim dan sandal gunung. Rambutnya diikat asal-asalan, memberikan kesan messy look yang justru bikin Zyan berkali-kali mencuri pandang.
"Kita ke mana hari ini, Om? Ke kebun binatang? Gue mau liat buaya, mau gue bandingin sama lo, banyakan mana gombalannya," celetuk Alexa sambil meneguk jus semangkanya.
Zyan memakai kacamata hitamnya. "Kita ke Sacred Monkey Forest. Mama bilang kamu suka binatang."
"Wah, serius?! Gue suka banget sama monyet! Mereka itu jujur, kalau nggak suka ya gigit, nggak kayak manusia yang mukanya dua," seru Alexa semangat.
Sesampainya di kawasan Monkey Forest, suasana sudah ramai oleh turis asing. Zyan berjalan dengan sangat hati-hati, menjaga jarak dari monyet-monyet yang berkeliaran di trotoar. Baginya, monyet adalah makhluk yang tidak bisa diprediksi dan berpotensi merusak baju mahalnya.
"Om, santai aja kali. Mereka nggak bakal gigit kalau nggak diganggu," ujar Alexa sambil asyik memotret monyet yang sedang menyusui anaknya.
"Saya hanya berjaga-jaga. Hewan-hewan ini punya insting liar yang kuat," jawab Zyan sambil terus membenahi posisi kacamata hitamnya yang mulai melorot karena keringat.
Di situlah ide jahil Alexa muncul. Saat mereka melewati seorang penjual kacang dan pisang di pintu masuk tadi, Alexa diam-diam membeli satu plastik besar kacang kulit. Tanpa sepengetahuan Zyan, Alexa mulai melakukan misinya.
Setiap kali Zyan berjalan mendahuluinya, Alexa akan menjatuhkan satu atau dua butir kacang ke dalam kantong celana pendek Zyan bagian belakang.
"Om, jalannya jangan kaku-kaku amat napa. Coba deh lebih luwes," ujar Alexa sambil menahan tawa, setelah berhasil memasukkan butiran kacang kelima ke saku Zyan.
Mula-mula, hanya ada satu monyet kecil yang mulai mengikuti Zyan. Monyet itu menarik-narik ujung kemeja Zyan.
"Alexa, monyet ini kenapa?" tanya Zyan mulai panik. Ia mencoba mengibaskan tangannya, tapi monyet itu malah memanggil teman-temannya yang lain.
"Mungkin dia ngerasa lo itu ketua klan mereka yang baru, Om! Lo kan punya aura pemimpin," sahut Alexa sambil sibuk merekam momen itu dengan HP-nya.
Tak butuh waktu lama, tiga monyet besar mulai mengepung Zyan. Salah satu monyet yang paling besar, mungkin kepalanya di daerah itu, mulai mengendus-endus bagian belakang celana Zyan. Ia merasakan ada aroma kacang yang sangat menggoda dari dalam saku sang Direktur.
"HEH! Apa-apaan ini?!" teriak Zyan saat salah satu monyet mulai mencoba memanjat kakinya.
"Om! Jangan gerak! Mereka kalau lo gerak makin agresif!" teriak Alexa, padahal dia sendiri sudah hampir terjungkal karena ketawa tanpa suara.
Puncaknya adalah saat monyet besar itu melompat ke pundak Zyan. Zyan yang biasanya tenang dan berwibawa di ruang rapat, kini berputar-putar seperti gasing mencoba melepaskan monyet itu dari pundaknya.
"ALEXA! TOLONG SAYA!"
"Hahaha! Om, bentar! Gue harus abadiin momen ini! Direktur Arsalan Group lagi dikeroyok preman Ubud! Hahaha!"
Monyet itu berhasil merogoh saku celana Zyan dan menarik keluar segenggam kacang. Tak puas sampai di situ, monyet yang lain malah tertarik dengan kacamata hitam Zyan yang bermerk Ray-Ban itu. Dengan gerakan kilat, monyet itu menyambar kacamata Zyan dan membawanya lari ke atas pohon beringin besar.
"Kacamata saya! Alexa, itu kacamata edisi terbatas!" Zyan berteriak frustrasi, berdiri di bawah pohon sambil menunjuk-nunjuk ke atas.
"Yah, kayaknya monyet itu lebih butuh kacamata biar nggak silau liat ketampanan lo, Om!" Alexa mendekati Zyan yang sekarang penampilannya sudah acak-acakan. Rambutnya yang biasanya klimis kini berdiri ke segala arah, kemeja polonya sedikit ditarik monyet hingga kancingnya lepas satu.
Zyan menatap Alexa dengan curiga. Ia meraba sakunya dan menemukan sisa kulit kacang yang terselip. "Alexa... kamu yang menaruh kacang di saku saya?"
Tawa Alexa pecah seketika. "Hahaha! Sumpah, muka lo tadi epic banget, Om! Pas monyet itu naik ke pundak lo, lo kayak lagi akting film Tarzan versi gagal! Aduh, perut gue sakit!"
Zyan menarik napas panjang. Ia ingin marah, tapi melihat Alexa tertawa selepas itu, tertawa yang sangat tulus tanpa beban membuat amarahnya mendadak menguap. Zyan justru merasa senang bisa menjadi alasan Alexa tertawa sebahagia itu, meski harganya adalah kacamata mahal dan harga diri yang jatuh di depan turis.
"Kamu nakal sekali, ya. Kamu tahu tidak kacamata itu harganya berapa?"
"Duit lo kan banyak, tinggal beli lagi! Lagian pengalaman ini nggak bisa dibeli pake duit, Om. Liat tuh, monyetnya lagi nyoba pake kacamata lo!" Alexa menunjuk ke atas pohon. Benar saja, monyet itu memakai kacamata Zyan secara terbalik, membuat Alexa dan para turis tertawa melihatnya.
Zyan akhirnya ikut tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Ia mendekati Alexa dan merangkul pundaknya. "Oke, satu sama. Kemarin saya bikin kamu baper di atas balkon, sekarang kamu bikin saya jadi badut monyet. Kamu adil sekali dalam hal balas dendam."
"Gue nggak dendam, gue cuma mau lo nggak kaku-kaku amat. Biar lo tahu kalau hidup itu nggak selalu soal kontrol dan aturan. Kadang lo harus rela dirampok monyet buat bisa ketawa," ujar Alexa sambil menatap mata Zyan dari balik rambutnya.
Mereka berdua berjalan keluar dari Monkey Forest dengan posisi yang lebih santai. Zyan tidak lagi peduli dengan bajunya yang sedikit kotor.
"Om, kacamata lo beneran ikhlas dikasih monyet?"
"Anggap saja itu sumbangan untuk kelestarian alam Bali. Tapi sebagai gantinya, karena kacamata saya hilang, kamu harus jadi mata saya selama sisa hari ini. Kamu harus menuntun saya ke mana pun saya pergi."
"Dih, manja! Kan lo masih bisa liat, nggak buta-buta amat!"
"Saya pusing kalau tidak pakai kacamata hitam di bawah terik matahari. Jadi, pegang tangan saya," Zyan meraih tangan Alexa dan menggenggamnya erat, tidak membiarkan gadis itu lepas.
Alexa mencoba melepaskan tangannya, tapi genggaman Zyan sangat kuat. "Lo modus banget sih, Om."
"Bukan modus. Ini namanya asuransi perjalanan," jawab Zyan sambil terus berjalan dengan senyum kemenangan.
Sore harinya, mereka mampir ke sebuah kedai kopi kecil di pinggiran sawah Tegalalang. Di sana, suasana jauh lebih tenang. Mereka duduk berhadapan sambil melihat matahari yang mulai turun.
"Alexa," panggil Zyan.
"Hm?" Alexa sedang sibuk mengedit video Zyan dikejar monyet tadi.
"Kenapa kamu setuju dijodohkan sama saya? Maksud saya, dengan karakter kamu yang bebas begitu, kamu bisa saja kabur dari rumah pas hari pernikahan."
Alexa terdiam sejenak. Ia meletakkan HP-nya di meja. "Awalnya gue emang mau kabur, Om. Gue udah siapin tas, udah mau stater motor. Tapi gue liat bokap gue. Dia lagi sakit-sakitan, dan dia bilang satu-satunya hal yang bikin dia tenang sebelum... ya, lo tahu lah, itu kalau liat gue ada yang jagain. Gue nggak mau jadi anak durhaka. Jadi gue pikir, ya udah lah, nikah doang. Entar kalau nggak cocok ya tinggal cerai."
"Lalu sekarang? Masih terpikir untuk cerai?" tanya Zyan dengan nada yang sedikit lebih serius.
Alexa menatap hamparan sawah hijau di depannya. "Gue nggak tahu. Tapi sejauh ini... lo nggak seburuk yang gue bayangin. Lo emang kaku, nyebelin, suka maksa, tapi lo juga... ya, lo punya sisi yang asik dikit lah."
Zyan tersenyum. Ia meraih tangan Alexa di atas meja. "Terima kasih sudah mau mencoba, Alexa. Saya juga tidak pernah membayangkan akan menikah dengan gadis yang membawa kunci inggris di kopernya, tapi ternyata, saya menyukainya."
Malam itu, mereka kembali ke villa dengan perasaan yang jauh lebih dekat. Tidak ada lagi kecanggungan yang berarti. Namun, saat mereka baru saja sampai di depan kamar, HP Zyan berbunyi. Ada telepon dari Siska, sekretarisnya.
Wajah Zyan yang tadi santai mendadak berubah menjadi tegang dan serius.
"Ada masalah di kantor?" tanya Alexa khawatir.
Zyan mematikan teleponnya, lalu menatap Alexa dengan tatapan menyesal. "Alexa... maaf. Sepertinya besok kita harus pulang lebih cepat. Ada sabotase di proyek terbaru kita, dan saya harus ada di Jakarta besok pagi."
Alexa terdiam. Liburan yang baru saja dimulai dan mulai terasa asik ini harus berakhir mendadak. Ada rasa kecewa yang muncul di hati Alexa, tapi ia mencoba tetap terlihat tenang.
"Ya udah, nggak apa-apa. Kerjaan lo kan emang lebih penting dari sekadar liat monyet."
"Bukan begitu, Alexa—"
"Gue ngerti, Om. Santai aja. Yuk masuk, gue mau packing kunci inggris gue lagi," ujar Alexa sambil berlalu masuk ke kamar dengan nada bicara yang kembali dingin.
Zyan berdiri mematung di luar. Ia tahu ia baru saja merusak suasana, tapi tanggung jawab perusahaan tidak bisa ia tinggalkan. Ia mengepalkan tangannya, merasa benci pada dirinya sendiri yang selalu mendahulukan pekerjaan.
Bersambung.....