Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21: Sudden Chaos (2)
Setelah memastikan bahwa setiap orang yang dievakuasi sudah berada di tempat aman, jauh dari jangkauan api dan reruntuhan, Amorette tidak berhenti di situ saja. Ia melihat wajah-wajah lelah, wajah-wajah pucat yang dipenuhi debu, dan mata-mata yang masih menyisakan ketakutan. Banyak dari mereka yang berlari begitu tergesa hingga tidak sempat membawa apa pun, bahkan makanan sepotong pun tidak. Rasa iba yang mendalam menyergap hati gadis itu, membuatnya bertindak lebih cepat dan tegas dari biasanya.
Ia memanggil kedua pengawal yang setia mendampinginya, nada bicaranya tidak bisa dibantah, penuh dengan desakan dan keprihatinan.
"Kalian berdua, segera pergi ke kedai makanan terdekat yang masih buka atau aman. Beli apa saja yang bisa dimakan dan diminum, sebanyak yang kalian bisa bawa. Jangan pikirkan biaya, ambil dari kantongku. Bawakan roti, daging, air minum, apa saja yang bisa mengembalikan tenaga mereka. Cepat!"
Perintah itu dilaksanakan seketika. Tak sampai dua puluh menit berlalu, kedua pengawal itu kembali membawa beberapa kotak besar yang berat, penuh dengan bungkusan makanan dan botol-botol air. Amorette sendiri yang memimpin pembagiannya. Ia berjalan dari satu kelompok warga ke kelompok lain, menyerahkan langsung ke tangan mereka roti isi daging yang lezat dan air mineral dalam botol kecil yang bersih.
"Maafkan kami atas ketidaknyamanan ini. Makanlah, pulihkan tenagamu," ucapnya lembut pada setiap orang yang dijumpainya.
Rakyat Kerajaan Elowen hanya bisa menatap takjub. Di hadapan mereka berdiri seorang Putri, anak dari Raja, yang pakaian indahnya kini kotor terkena debu, wajahnya berkeringat, namun senyumnya tetap hangat dan tulus. Gadis yang baru berusia tujuh belas tahun itu memiliki hati yang jauh lebih besar daripada usianya. Tidak hanya memerintah, ia turun tangan langsung membantu evakuasi, menuntun orang tua, menggendong anak-anak, dan kini membagikan makanan dengan tangannya sendiri. Belum pernah ada anggota keluarga kerajaan yang begitu peduli, begitu rendah hati, dan begitu berani berada di tengah bahaya demi rakyat biasa.
Di tengah kerumunan itu, seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar lima tahun, dengan pakaian yang berlubang dan wajah yang kotor oleh asap, berjalan terhuyung-huyung mendekat ke arah Amorette. Di tangannya yang kecil dan kotor, ia menggenggam selembar kertas lusuh yang dilipat berkali-kali. Ia tersenyum polos, menampakkan giginya yang ompong, lalu menyodorkan kertas itu ke hadapan sang Putri.
Amorette menerimanya dengan hati-hati. Di atas kertas itu terdapat gambar yang dibuat seadanya menggunakan krayon sisa. Gambarnya berantakan, garis-garisnya tidak rapi, warnanya keluar dari batas, namun bentuknya cukup jelas: ada sosok wanita tinggi dengan gaun panjang dan mahkota di kepalanya, dikelilingi oleh banyak orang kecil yang tersenyum, dan di atasnya ada matahari berwarna kuning cerah.
Hati Amorette seketika terasa diremas. Matanya memanas dan seketika berkaca-kaca. Dalam kehidupan sebelumnya, ia hanyalah gadis biasa yang berjuang memenuhi kebutuhan sendiri. Ia selalu ingin menolong orang lain, namun kemampuannya sangat terbatas, hanya bisa bersedekah dengan uang receh sisa jajanan atau makanan sisa. Ia tidak punya kuasa, tidak punya kekayaan, dan tidak punya tempat. Namun kini... di dunia ini, di tubuh ini, ia mampu melakukan hal yang jauh lebih besar. Ia mampu membagikan makanan yang bagi sebagian rakyatnya tergolong mahal dan mewah, ia mampu melindungi, dan ia mampu menjadi harapan bagi orang-orang ini.
"Te-Teyi... ma ka... sih, Tu-tuan... Putri," ucap bocah itu terbata-bata karena malu dan gembira. Matanya berbinar menatap roti isi yang baru saja ia pegang. "Aku... tidak pe-pernah memakan... daging... sebesar ini sebelumnya," lanjutnya dengan suara kecil, namun cukup jelas terdengar oleh Amorette.
Saat itulah, benteng pertahanan emosi Amorette runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ia tahan agar tetap teguh kini mengalir deras membasahi pipinya. Ia berlutut di atas tanah berdebu, menyamakan tingginya dengan anak kecil itu. Ia memeluk bocah itu dengan sangat erat, seolah memeluk semua rasa sakit, kemiskinan, dan penderitaan yang selama ini tersembunyi di balik kemegahan ibu kota ini.
Biarlah semua orang melihatnya. Biarlah semua orang tahu bahwa seorang Putri Kerajaan Elowen rela berjongkok di tanah kotor dan menangis karena tersentuh oleh nasib rakyatnya. Tidak ada aturan sopan santun yang berlaku saat ini, hanya ada kemanusiaan.
"Sama-sama... sama-sama..." ucap Amorette dengan suara yang gemetar dan serak karena menahan tangis. "Makanlah yang banyak... mulai hari ini... kau akan makan enak. Aku janji."
Butuh waktu empat jam penuh bagi Amorette untuk memastikan keadaan benar-benar aman, api sudah padam, dan setiap warga sudah mendapatkan bantuan maupun tempat berlindung sementara. Saat ia kembali masuk ke dalam kereta kuda untuk pulang ke istana, tubuhnya terasa sangat lelah, namun hatinya terasa penuh.
Berita tentang kejadian sore itu menyebar dengan kecepatan kilat. Dari mulut ke mulut, kisah tentang Putri Amorette yang berani turun tangan, memimpin evakuasi, membagikan makanan, hingga berlutut dan menangis sambil memeluk anak kecil itu menjadi pembicaraan hangat di setiap sudut kota. Koran-koran esok hari pun pasti akan memuat berita utama tentangnya.
Reaksi rakyat sangatlah positif. Mereka yang tadinya hanya mengagumi, kini mulai menumbuhkan rasa cinta yang mendalam. Belum pernah ada sejarah keluarga kerajaan yang begitu dekat dan begitu baik hati pada rakyat biasa. Nama Amorette kini bukan lagi sekadar nama Putri yang cantik atau cerdas, tapi nama "Putri Penyelamat", "Putri Berhati Emas".
Di sisi lain, sesampainya di istana, Amorette langsung masuk ke kamarnya. Ia menolak makan malam, merasa tidak nafsu makan dan terlalu lelah, lebih ingin segera membersihkan diri dan berbaring. Ia mengganti pakaiannya, membasuh debu di wajah dan rambutnya, lalu duduk diam di tepi tempat tidur, tenggelam dalam pikiran dan rasa haru yang masih tersisa.
Tiba-tiba, terdengar ketukan lembut di pintu kamar. Esther segera berjalan membukanya, dan saat pintu terbuka lebar, Amorette sontak terkejut.
Di ambang pintu berdiri Raja Julius sendiri. Di tangannya, beliau membawa nampan berisi peralatan makan dan hidangan lengkap yang masih mengepulkan uap hangat. Esther segera menunduk hormat dan mundur memberi jalan.
Amorette segera bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, menyapu kain gaunnya dan membungkuk sangat dalam, penuh rasa hormat dan keterkejutan.
"Ayahanda... Kenapa Ayahanda datang ke sini? Saya belum pantas menerima kunjungan langsung dari Baginda Raja di kamar pribadi saya..." ucapnya gugup.
Raja Julius tersenyum tipis, mengangkat tangan memberi isyarat agar putrinya berdiri tegak kembali. Ia melangkah masuk perlahan, meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja dekat jendela.
"Untuk apa semua formalitas itu di antara ayah dan anak, Amorette? Aku datang bukan sebagai Raja yang memerintah, tapi sebagai ayah yang ingin melihat anaknya pulang dengan selamat," ucap Raja Julius lembut. Ia menatap putrinya lekat-lekat, melihat jejak kelelahan dan sisa air mata yang masih samar di sudut mata gadis itu. "Aku sudah mendengar semuanya. Semua yang kau lakukan sore ini... aku sangat bangga, Amorette. Sangat bangga. Kau melakukan jauh lebih dari apa yang seharusnya dilakukan seorang Putri."
Raja Julius kemudian mendekat, melangkah perlahan hingga ia berdiri tepat di depan Amorette. Dengan gerakan pelan dan hati-hati, tangan besar dan kasar milik Raja itu terangkat, lalu mendarat lembut di atas kepala Amorette, mengelus rambut hitam panjang putrinya dengan penuh kasih sayang.
Gerakan itu sederhana, sebuah belaian kasih sayang seorang ayah. Namun bagi Amorette, rasanya begitu asing. Sangat lama rasanya ia tidak pernah disentuh atau dibelai oleh sosok ayah, baik di kehidupan sebelumnya maupun di dunia ini. Rasa hangat dan berat telapak tangan itu menembus hingga ke tulang, membuat dadanya terasa sesak dan perih. Entah karena respon tubuh asli sang pemilik yang rindu kasih sayang orang tua, atau karena perasaannya sendiri yang sedang sangat sensitif dan emosional hari ini, mata Amorette kembali memanas.
"Kau sudah berusaha keras, Putriku," ucap sang Raja pelan namun tegas, penuh penekanan dan makna yang dalam. "Kau sudah membuat namamu bersinar, kau sudah membuat rakyatmu mencintaimu, dan kau sudah membuatku bangga memiliki anak sepertimu. Istirahatlah, makanlah makanan ini. Besok adalah hari baru, dan aku tahu... kau akan menjadi kebanggaan terbesar Kerajaan Elowen."
Amorette menahan isak tangisnya, menatap wajah ayahnya dengan pandangan yang penuh rasa syukur dan haru. Di saat seperti ini, di tengah segala intrik dan kejahatan di istana, ia menyadari satu hal penting: ia tidak berjuang sendirian. Ia memiliki rakyat yang mencintainya, ia memiliki tujuan yang jelas, dan kini, perlahan namun pasti, ia mulai mendapatkan dukungan terbesar dari sosok yang paling berkuasa di negeri ini.
"Terima kasih... Ayahanda," bisik Amorette lirih, sambil menundukkan wajahnya di hadapan tangan ayahnya yang masih bertengger lembut di atas kepalanya.