NovelToon NovelToon
Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 : Siapa dia sebenarnya?

Lyko membeku di tempat. Wajahnya menegang saat melihat luka di sisi perut Xavier.

Kapas yang menempel di sana sudah berubah warna menjadi merah pekat. Bahkan sebagian darah masih keluar dan membasahi kain kemeja hitam di sekitarnya.

Jantung Lyko langsung berdegup kencang. "Xavier..." Suaranya terdengar pelan namun penuh kekhawatiran. "Apa kau baik-baik saja?"

Tatapannya tidak bisa lepas dari luka itu. "Kenapa perutmu terluka seperti ini?" ia tampak panik sekaligus bingung. Dan tidak tahu harus melakukan apa terlebih dahulu.

Sementara itu Xavier berdiri bersandar di dekat wastafel. Napasnya sedikit naik turun karena menahan rasa sakit. Namun wajahnya tetap tenang seperti biasa.

Tetapi warna pucat yang mulai terlihat di wajahnya membuat Lyko semakin khawatir. "Kita harus ke rumah sakit,” ucap Lyko refleks.

Ia langsung mengeluarkan ponselnya. Namun sebelum sempat menekan nomor darurat, Xavier menahan pergelangan tangannya.

Lyko langsung menoleh karena terkejut.

Pria itu menatapnya dengan mata yang masih tenang. "Jangan hubungi rumah sakit,” suaranya terdengar sedikit serak. Namun nadanya tetap datar seperti biasanya.

Lyko dibuat keheranan olehnya. "Bagaimana mungkin aku tidak menghubungi rumah sakit? Darahmu terus keluar, Xavier.”

"Ku mohon padamu jangan hubungi rumah sakit,” kata Xavier sambil memegang erat tangan Lyko.

"Ta-Tapi...”

"Tolong," kali ini nada suaranya sedikit lebih tegas.

Lyko menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa Xavier begitu menolak pergi ke rumah sakit. Namun melihat kondisi pria itu sekarang, berdebat bukanlah pilihan terbaik.

Ia mencoba menenangkan dirinya. Menarik napas perlahan. Lalu ingatan muncul di kepalanya, ia pernah berlatih kedokteran dulu, dan ia masih ingat pertolongan pertama yang harus dilakukan.

Mata Lyko langsung bergerak mencari sesuatu di sekitar ruangan. Dan kemudian ia menemukan sebuah lemari kecil yang tergantung di dinding.

Lyko segera membukanya. Di dalamnya tersedia berbagai perlengkapan medis P3K seperti perban, kapas, antiseptik, dan beberapa obat-obatan darurat.

Lyko langsung mengambil barang-barang yang dibutuhkannya. Kemudian ia kembali berdiri di depan Xavier. "Aku bisa mengobatinya... tapi boleh aku membuka lukanya dulu?" katanya pelan.

Xavier hanya mengangguk.

Dengan hati-hati Lyko mulai membuka kapas yang sudah basah oleh darah itu. Gerakannya sangat perlahan, dan sangat hati-hati. Karena takut membuat luka itu semakin parah.

Setelah kapas lama dilepas, ia menaruhnya di dekat wastafel. Kemudian mengambil kapas bersih untuk membersihkan darah yang masih mengalir sampai area luka terlihat lebih jelas.

Lyko lalu mengambil antiseptik. Menuangkannya ke kapas bersih. Sebelum mulai membersihkan luka, ia mengangkat pandangannya.

"Tahan sedikit ya,” katanya pada Xavier. "Mungkin akan terasa perih."

Xavier hanya mengangguk kecil.

Perlahan kapas itu menyentuh luka. Namun tidak ada reaksi berarti dari Xavier. Pemuda itu tidak meringis kesakitan dan mengeluh. Bahkan ekspresinya hampir tidak berubah.

Ia hanya diam memperhatikan setiap gerakan Lyko. Memperhatikan bagaimana gadis itu begitu fokus merawat lukanya. Bagaimana alisnya sedikit berkerut karena khawatir.

Dan bagaimana jemarinya bergerak sangat hati-hati.

Entah mengapa pemandangan itu membuat Xavier sulit mengalihkan pandangannya.

Setelah selesai membersihkan luka, Lyko mengambil kapas baru dan menempelkannya di atas area yang terluka. Kemudian mulai membalutnya dengan perban.

Gerakannya teliti dan sangat rapih. Beberapa menit kemudian, balutan itu akhirnya selesai.

Lyko menghela napas lega. Lalu mengangkat kepalanya. "Apa ikatannya terlalu kencang?" tanyanya lembut.

Dan saat itulah mata mereka bertemu.

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Lyko tanpa sadar menatap Xavier lebih lama dari biasanya. Dari jarak sedekat ini, ia baru benar-benar menyadari sesuatu.

Xavier terlihat sangat tampan. Jauh lebih tampan dibandingkan saat ia melihatnya dari kejauhan.

Mata merah birunya terlihat begitu tajam. Garis rahangnya tegas. Dan wajah dinginnya justru membuatnya terlihat semakin menarik.

'Ternyata... Xavier tampan juga ya...' batin Lyko tanpa sadar.

Di saat yang sama, Xavier juga sedang memandang wajah Lyko. Dan untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah terlalu ia pikirkan.

Lyko ternyata sangat cantik. Bahkan lebih cantik dari yang selama ini ia lihat. Wajahnya terlihat lembut. Mata birunya jernih. Dan ketika sedang serius seperti ini, gadis itu terlihat jauh lebih imut daripada biasanya.

Untuk beberapa detik tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Mereka hanya menganggumi satu sama lain dari dalam hati.

Sampai tiba-tiba...

DRRRTTT!

Ponsel Lyko berbunyi. Keduanya langsung tersentak. Seolah baru tersadar dari sesuatu.

Lyko buru-buru memalingkan wajah. Sementara Xavier langsung menoleh ke arah lain.

Suasana mendadak menjadi canggung.

Lyko segera mengambil ponselnya. Ternyata itu panggilan dari Bundanya. "Ha-Hallo, Bun?" katanya sedikit gugup.

"Lyko, kamu sedang dimana? mengapa lama sekali?"

Suara Bundanya terdengar dari seberang.

Lyko langsung gugup. Namun berusaha terdengar tenang. "Ah... Ly-Lyko akan segera kembali, Bun."

"Baiklah jangan terlalu lama ya."

"Iya Bun."

Setelah panggilan berakhir, Lyko perlahan menurunkan ponselnya.

Sementara itu Xavier masih berdiri diam. Entah karena merasa sakit atau bukan. Namun telinganya terlihat sedikit merah. Hal yang sangat jarang terjadi.

Lyko menggaruk pipinya kecil. Lalu bertanya pelan. "A-Anu... apa perbannya terlalu kencang?"

Xavier menggeleng. “Tidak ini pas.”

Jawaban singkat itu membuat Lyko sedikit lega.

“Terimakasih,” ucap Xavier padanya.

Lylo mengangguk sambil tersenyum kecil.

Kemudian Xavier mulai mengancingkan kembali kemejanya satu per satu. Agar menutupi luka yang baru saja diperban. Setelah itu ia mengenakan mantelnya seperti biasa.

Sementara Lyko membereskan seluruh perlengkapan P3K. Lalu ia buang bekas kapas tadi ke dalam tempat sampah. Dan botol antiseptik dikembalikan ke tempatnya.

Dan setelah semuanya selesai, mereka keluar dari kamar mandi bersama-sama.

.

.

Saat kembali ke ruang makan, Bunda Lyko langsung tersenyum melihat keduanya. "Akhirnya kalian kembali juga."

Lyko segera duduk di kursinya.

Sementara Xavier kembali duduk dengan tenang seperti biasa.

Namun tidak lama kemudian Bunda Lyko bertanya penasaran. "Kalian lama sekali?"

Lyko langsung menjawab. "Ah itu... Lyko tadi mencari barang dimobil Bun jadi lama.”

"Lalu ketemu?" tanya Bundanya.

Lyko tersenyum canggung dan menggeleng. "Lyko lupa kalau ternyata barangnya mungkin tertinggal di rumah Grace."

"Oh begitu," Bunda Lyko mengangguk mengerti.

Kemudian ia menoleh kepada Xavier. "Kalau Xavier? Ada apa yang salah?"

Xavier menjawab tenang. "Tidak ada Nyonya, tadi hanya Mama meneleponku jadi sedikit lebih lama."

Bunda Lyko tersenyum. “Mamamu memang sangat perhatian ya."

Xavier hanya mengangguk kecil.

Beberapa saat kemudian Felix berjalan mendekat. Ia sedikit membungkukkan badan dan berbisik pelan. "Tuan, ada beberapa berkas terkait aset kelompok musuh yang harus segera ditandatangani malam ini."

Xavier mengangguk. "Aku mengerti."

Kemudian ia berdiri dari kursinya. "Nyonya maaf, aku harus pergi dulu."

Semua orang langsung menoleh.

"Ada urusan mendadak yang harus diselesaikan di kantor,” katanya.

Bunda Lyko ikut berdiri. Raut wajahnya terlihat sedikit kecewa. "Sayang sekali ya padahal baru mengobrol sebentar."

Xavier membungkukkan badan dengan sopan. “Aku minta maaf karena tidak bisa tinggal lebih lama."

Bunda Lyko tersenyum memahami. "Tidak apa-apa, Xavier. Terima kasih sudah menyempatkan waktu ya."

“Mari Bunda antar kedepan,” kata Bunda Lyko.

Xavier hanya bisa mengangguk, dan mereka semua berjalan menuju pintu depan mansion.

Udara malam terasa sejuk. Hamparan bunga matahari terlihat bergoyang perlahan tertiup angin malam. Di depan mobil, Xavier dan Felix berpamitan sebelum masuk.

"Saya permisi dulu, Nyonya terimakasih dan maaf merepotkan," ucap Xavier.

Bunda Lyko mengangguk. “Tidak merepotkan ko, lain kali kalau mau berkunjung datang saja ya. Oh iya, jangan panggil Nyonya terasa sangat canggung, panggil Bunda saja ya.”

Xavier mengangguk paham. “Baik, terimakasih banyak, Bunda.”

Felix juga membungkukkan badan.

“Kalau begitu kami pergi dulu,” ujar Xavier.

Lyko juga ikut mengangguk. "Hati-hati dijalan," katanya lembut.

Untuk sesaat Xavier menatapnya dalam, kemudian mengangguk kecil. “Baik.”

Kemudian ia masuk ke dalam mobil. Dan Felix langsung masuk dan duduk di kursi kemudi.

Mesin mobil menyala. Dan perlahan kendaraan hitam itu mulai meninggalkan halaman mansion.

Lyko dan Bundanya berdiri di depan pintu masuk, memperhatikan mobil yang semakin menjauh.

Namun jauh di dalam hati Lyko pikirannya masih tertinggal pada luka yang baru saja ia lihat.

Luka yang jelas bukan luka biasa. Itu adalah luka tembakan. Ia menggenggam ujung gaunnya perlahan. Tatapannya mengikuti mobil itu hingga menghilang dari pandangan.

‘Siapa Xavier sebenarnya...?’ gumamnya pelan dalam hati.

***

Sementara didalam mobil. Suasananya sunyi. Lampu-lampu jalan melintas satu per satu di balik jendela.

Xavier duduk bersandar sambil memegang sisi perutnya yang baru saja diperban. Rasa nyeri itu masih ada. Namun tidak lagi separah sebelumnya.

Tangannya perlahan menyentuh perban yang dipasang oleh Lyko. Kemudian tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat.

Terukir sebuah senyum yang sangat tipis dan hampir tidak terlihat.

Namun cukup membuat Felix yang melihat dari kaca spion berkedip beberapa kali karena terkejut. Pemandangan itu sangat langka.

Xavier memejamkan matanya perlahan. Ia tidak menyangka ternyata Lyko bisa sangat panik setengah mati saat melihat darah di yang keluar dari lukanya.

Dan entah mengapa saat mengingat semua itu membuat dadanya terasa sedikit lebih hangat daripada biasanya.

1
Raicy Starmoonix
bnr lgi/Facepalm/
It's me Sky: efek trlalu kaya bgtu tuh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bohongnya nyambung lagi/Facepalm/
It's me Sky: bkn skrip dlu mrka/Slight/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
gmna g terpesona Lykonya aja cantik gituu/Sly//Rose/
It's me Sky: //Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
tegang tor, aura mafianya ada bgt/Shame/
It's me Sky: bulu kudup aman?/Blush/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bagusss bgt ceritanyaa/Kiss//Kiss/
Raicy Starmoonix
si mc ganteng bgt tor/Drool/
It's me Sky: kiww🤭
total 1 replies
Raicy Starmoonix
Xavier tanggung jwb anak orng salting/Facepalm/
It's me Sky: xavier aja salting sendiri/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
salting.... saltingg/Smirk/
It's me Sky: gengsi... gengsi/CoolGuy/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
omak, terbakar cemburu dan posesif/Doubt/
It's me Sky: shhtt/Shhh/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
astaga diksih black card.../Doubt/
It's me Sky: iya dong/Casual/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
lyko nya polos bgt pilss/Proud/
It's me Sky: hu um, soalnya dya bukan batik/Tongue/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
pingin punya cowok spek Xavier ihh, royal bgt😍/Rose/
It's me Sky: heii aku jg mau lohh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
wahh alurnya keren/Joyful/
Arditya
luar biasa mantap thor
It's me Sky: makasihh/Hey/
total 1 replies
Arditya
Mampir baca thor😍
It's me Sky: yuk¹ mampir/Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!