Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang baik.
Srek!!!!
Penjaga toko menyeret uang kembalian milik Cakka dimeja. Tatapan yang tadinya bodo amat, kini berubah menjadi khawatir. Namun penjaga toko kembali kepada karakternya. Alih-alih sedang menasehati, mimik mukanya tak berani untuk diperlihatkan secara langsung kepada Cakka.
"Kalau di sini ada yang dijambret, atau dia celaka. Kamu jangan turun tangan langsung! Bisa-bisa kamu yang jadi pelakunya, sebaiknya kamu telepon polisi atau satpam yang lebih berwenang mengurus kejadian seperti tadi"
Cakka hanya mengganggukan kepalanya sembari menghitung kembalian.
"Kamu orang baru kan di sini? Sekarang kamu tahu budaya di sini seperti apa?"
Lagi, Cakka menganggukan kepalanya.
"Segera periksa ke dokter wajahmu! Takutnya infeksi" saran penjaga toko ketus.
Cakka tersenyum, ia meraih kantong belanjaannya yang super besar itu, tentu kata terima kasih dan pamit undur diri ia ucapkan untuk menutup pagi bersama penjaga toko yang baik.
Cakka berbalik arah, ia akan pulang ke rumah, ia mengajak Aulia dengan mengganggukan kepalanya, seolah mengatakan 'ayo kita pulang!' penjaga toko pun juga melihat tingkah Cakka yang seperti itu.
Beliau menghembuskan nafasnya, panjang. "Sepertinya dia memang gangguan jiwa, tapi rumah sakit menyuruhnya untuk berobat jalan. Yah kehidupan manusia siapa yang tahu? Semoga dia selalu dilindungi orang-orang baik" mendoakan Cakka dari kejauhan. Langkah yang sedikit terseret karena masih ada nyeri dikakinya membuat Cakka terasa lamban untuk bergerak.
"kalau naik angkot ini bakalan susah, aku harus naik taksi" ujarnya.
"Aulia, kamu maukan memberhentikan taksi untuk ku?" Tanya Cakka.
Namun Aulia hanya diam, ia malah memainkan jari jemarinya. Seperti permintaan tolong itu begitu erat untuk dia. Melihat gerak gerik Aulia, Cakka mengerti, mungkin Aulia merasa keberatan. Cakka membentangkan senyum palsu agar Aulia merasa tidak terbebani oleh permintaannya.
"Tidak apa, biar aku saja!" Ujarnya.
Cakka melambaikan tangan pada setiap taksi yang lewat sampai akhirnya ada yang berhenti tepat didepannya.
"Ya pak?" Tanya supir taksi sembari menurunkan kaca mobil penumpang bagian depan.
"Tolong antarkan saya sampai rumah ya, kaki saya sakit" ucap Cakka.
Supir itu mengangguk sembari tersenyum, pun tangannya membuka pintu belakang.
"Silahkan pak" ujarnya.
Cakka menyuruh Aulia terlebih dahulu untuk masuk ke dalam taksi. Disusul Cakka. Sempat ia kebingungan menaruh barang-barangnya yang banyak itu.
"Pak, barang-barang saya boleh disimpan di depan tidak?" Tanya Cakka pada pak sopir.
Pak sopir yang melihat Cakka melalui kaca spion tengah, tentu menyuruhnya untuk "Simpan saja di samping bapak, kan itu tempatnya masih ada" tadinya Cakka akan mengatakan bahwa ada dua penumpang yang menaiki mobilnya. Namun, Aulia menyambar kantong kreseknya lalu disimpan di atas paha.
"Sudah berikan saja ini padaku! Aku tidak keberatan"
"D-duh! Itu berat banget Au"
Pak sopir bingung, Cakka berbicara dengan siapa?.
"Maaf pak"
"Ini, te-..." Belum selesai Cakka bicara, tangan Aulia menepisnya lebih dulu.
"Kamu tidak perlu menjelaskan soal aku ke pak sopir, kamu cukup bilang saja, jalan. aku benar-benar nggak keberatan kok Cak, tenang saja" tutur Aulia.
Cakka mengangguk dan kini fokusnya beralih pada pak sopir.
"Gakpapa pak, jalan saja"
Pak sopir tersenyum tapi alis kanannya naik, batinya berbicara "orang aneh!" Meski begitu, beliau menginjak gas dan mengantarkanya ke rumah kontrakan sesuai arahan Cakka.
(***)
Cakka belum membeli kasur dan lemari baju, pun tubuhnya juga tak sempat ia periksa kedokter. Ia lebih memilih pulang dan merebahkan dirinya dikamar yang masih dingin tanpa sehelai kain.
Aulia, dia yang membereskan perabotan dapur milik Cakka. Menatanya, rapih sekali! Sampai Cakka mengucapkan kata terimakasih berkali-kali.
"Terimakasih ya, tanpa kamu sepertinya perabotan itu akan ada ditempatnya besok"
"Gakpapa, di pasar aku tidak bisa membantu kamu. Minimal di sini aku bisa meringankan pekerjaan kamu! Nggak usah nggak enakan, aku nggak akan minta imbalan"
Selesai dengan semua perabotan itu Aulia menghampiri Cakka, ia menyingkab celana Cakka sampai kelutut. Pun Cakka langsung bangun dari posisi tidur ke duduk.
"Mau ngapain kamu?"
Tapi Aulia tidak menjawab, justru ia malah memijat kaki Cakka, pelan namun pasti.
"Tadi sakit sekali ya, dikeroyok?"
"Ya begitulah, ternyata kita berbuat baik belum tentu dibalas baik"
"Tapi di satu sisi ada kan orang baik yang nolongin kamu, meskipun orang itu bukan orang yang kamu tolongin?"
Cakka mengangguk sembari tersenyum.
"Iya, tuhan itu maha adil. Aku jadi malu, sudah menggerutu"
"Manusiawi"
Ketika Cakka sedang menikmati pijatan Aulia, tiba-tiba dari luar suara pintu diketuk.
Tok! Tok! Tok!
Mereka berdua pun langsung menengok ke arah pintu.
"Siapa?" Tanya Cakka.
Ia bangun, menghampiri pintu untuk membukanya.
Kret!!!!!!
Begitu pintu perlahan terbuka Cakka melihat sosok wanita di depan pintunya. Ia tatap dari bawah sampai atas. Ternyata itu Sofia.
"Ada apa?" Tanya Cakka, masih dengan perasaan kesal sisa semalam.
"Aku mau bicara sama kamu boleh?" Tanya Sofia dengan nada manja dan lemah lembut.
"Soal apa? Urusan kita kan sudah selesai. Apa uangnya masih kurang?"
Sofia menggelengkan kepalanya dengan wajah yang cemberut, perlahan kakinya maju sedikit demi sedikit masuk ke dalam rumah. Pun Cakka juga ikut melangkah, mundur. Rasanya Cakka seperti terkena hipnotis, ia tidak bisa menolaknya begitu saja. Hingga pintu tertutup dan terkunci oleh Sofia, barulah di situ dia sadar kalau keadaannya kini sedang ditemani oleh dua wanita.
"Aku kangen sama kamu, ternyata semalam aku bukan cuma kerja tapi ada rasa"
"Oh begitu ya? Lalu dengan perkataanmu yang semalam, mengatakan aku jelek, aku tidak tampan, itu hanya bualan?"
"Aku marah sama kamu, soalnya lagi begitu, kamu malah usir aku. Jadinya kan nggak klimaks!"
"Alasan!"
"Tidak! Sungguh! Aku kangen kamu"
"Kangen uangku kan?"
"Tidak! Aku mohon Cakka kamu terima aku lagi, ini bukan soal uang. Tapi soal kita berdua"
"Tidak bisa Sofia, lagi pula di ruangan ini ada satu perempuan yang sepertinya lebih baik dari kamu"
"Siapa?"
"Aulia"
Mendengar nama itu Sofia mengernyitkan keningnya "Aulia?" Tanyanya, mengucap nama wanita itu. Sofia menyebarkan pandangannya ke setiap sudut ruang.
"Mana? Tidak ada siapa-siapa di sini!"
"Ada, dia bersembunyi. Dia perempuan yang memiliki malu, tidak seperti kamu!"
Sofia berdecak jijik ketika dia dibandingkan dengan Aulia. Egonya tersentil, harga dirinya pun seperti terinjak oleh kaki Cakka.
"Kamu baru kenal dia, jadi kamu belum tahu sikap dia yang sebenarnya seperti apa?"
"Tahu dari mana kamu kalau aku baru kenal dia?"
"Aku tidak tahu, tapi aku menyangka. Kalau kamu mengenal dia baru sehari"
"Yah... Apapun itu tebakanmu, aku tidak akan pernah kembali ke pelukanmu, Sofia"
Sofia menyunggingkan senyumnya sembari memangku kedua tangan. Matanya mengintimidasi Cakka dari atas sampai bawah.
"Kamu milikku hari ini!"