Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.15. HARI KETUJUH.
Ternyata Orion sudah menyiapkan surat kontrak, berarti dia menguntit ku sampai ke Bali. Aku agen rahasia XpostOne, bisa dikalahkan oleh bodyguard recehan. Ingin rasanya meremas surat itu dan menc*kik manusianya. Gerutu Qai geram.
"Tanda tangan disini nyonya Orion." ucap Berlin melempar bolpoin.
Qai mengambil kertas itu dan menanda tangani dengan tanda tangan palsu. Ia tidak ingin Orion tahu bahwa dirinya adalah agen rahasia.
"Kau sekarang menjadi istri simpananku, sebagai istri tentu kau tahu tugas utama seorang istri." ucap Orion berdiri dihadapi Qai. Matanya berbinar menatapnya.
"Aku tahu tugasku yaitu mengintip nyawa mu, hati-hati lah."
"Kau juga harus hati-hati jangan sampai tulang mu remuk saat aku tidak bisa mengendalikan hasrat ku."
"Dasar m*sum."
"Aku suami mu, jika tidak m*sum bagaimana kita punya anak?"
"Orion, kau delusi. Kita ini musuh, ingat itu. Walaupun kita sekamar tapi ada batasan. Makan, nyuci dan segala kerjaan kita bagi dua."
"Kenapa tambah ribet, kita sudah suami istri, ngerti gakk..."
"Orion kecilkan suaramu, kita jalani saja." ucap Qai mengalah.
"Aku keluar beli makan siang, kau diam di kamar." ucap Orion pendek.
Qai senang akan bisa lari dari Orion, tapi ia salah menilai pria itu, pintunya ternyata dikunci dari luar. Kurang ajar!
SEMINGGU BERLALU
Satu minggu berada di kamar membuat Qai jenuh, ia ingin keluar melihat sunrise. Tapi Orion belum bangun pria itu pasti marah kalau di tinggal, tapi tak apa-apa, ia hanya ingin melihat sunrise.
Pertama kali sekamar selalu ribut dan saling menyalahkan. Ada saja yang membuat marah.
Tapi hari kedua Qai dan Orion sudah mulai duduk semeja saat makan. Masak berdua dan bersih-bersih berdua.
Pada hari ketiga Qai terpeleset di kamar mandi. Orion mengangkatnya ke ranjang, ia mengobatinya dan menyikat kamar mandi supaya tidak licin.
Di hari ke empat Orion tiba-tiba menc*um Qai di ranjang dan pura-pura ngigau. Malamnya mereka tidur berpelukan.
Hari kelima mereka kembali bertengkar hanya gara-gara Qai mengagumi bintang sepak bola yang nongol di televisi.
Hari ke enam Orion setengah mabuk dan memaksa Qai melayaninya sampai subuh.
Ini hari ke tujuh, ia akan meninggalkan Orion dengan lapang dada. Cukup sudah.
"Nona, mau pesan apa?" tanya pramuniaga Indomaret mengagetkannya.
"Kopi point dan burger." jawab Qai grogi.
Saat mencari tempat duduk Qai bertemu Dewi dan Putra. Mereka bertiga akhirnya bergabung bercerita ngalor ngidul.
"Qai kau mematikan semua alat agen, Jhon Mayer sulit menghubungimu. Dia tanya sama aku tempat tinggalmu."
"Jangan di kasih tahu, aku mau menyepi tiga bulan..."
"Elehh...ngelunjak namanya, Jhon Meyer paling banter ngasi cuti seminggu."
"Dewi kau jangan ngadu kalau kita pernah ketemu, aku ...."
"Telat, ini bos telpon kau..." ucap Dewi menyerahkan hapenya kepada Qai.
[Hallo bos...]
[Qai kemana saja, kau berani mati ya]
[Bos jangan emosi dulu, sebenarnya ada apa?]
[Gimana aku tidak marah, kau mematikan GSM tidak bisa dihubungi, banyak client yang perlu penanganan. Aku butuh kamu untuk melanjutkan misi ke Thailand."
[Kenapa harus aku, terus Nhatan apa gunanya?]
[Kamu ngomong apa, Nhatan sudah lama meninggal di Thailand?]
[Ahhh...bos..bos..aku akan pulang hari ini, sudah ya]
Qai langsung mengembalikan GSM Dewi, jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetaran, ia sangat kaget mendengar Nhatan sudah meninggal.
"Qai, wajah mu pucat, apa yang dikatakan bos?] tanya Putra memegang tangan Qai.
"Kau jangan menangis, bos pasti marah padamu."
"Dewi kenapa kau tidak memberitahu ku kalau Nhatan sudah meninggal?"
"Sudah di umumkan di GSM, makanya aku kaget saat kau bilang Nhatan chat kau. Ingat gak?"
"Aku ingat, bukti chat masih ada di hape ku. GSM sengaja aku matikan karena aku ingin menenangkan diri." ucap Qai membuka hapenya.
"Nhatan sangat mencintaimu, setelah meninggal dia tetap chat kau."
"Aku menyesal tidak memerima cintanya. Aku akan kesana menemuinya ....." ucap Qai menitikan air matanya. Dewi memeluk Qai mereka menangis saling berpelukan.
Berlin baru saja sampai di Indomaret dan mendengar ucapan Qai. Ia mengepalkan tangannya saat Qai akan pergi menemui pria yang di tolak cintanya.
Berarti Qai akan menyerahkan dirinya kepada pria itu. Bathin Berlin sedih. Walaupun hubungan mereka baru, tapi hatinya merasa sakit mendengar ini.
Berlin kembali ke apartemen, ia akan menerima apapun keputusan Qai, lagi pula paman akan datang ke Indonesia dan menetap di Bali. Semua aset sudah habis terjual di luar negeri. Ia dan paman akan membangun bisnis daripada menunggu warisan kluarga Raharja.
*****