NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Besar dari Tanah Delta

Lokasi: Kota Sidoarjo, Jawa Timur.

Waktu: Awal bulan Juni 2011, pukul 10.00 pagi. Udara pagi itu hangat dan sedikit lembap, ciri khas daerah delta Sungai Brantas yang subur. Kabut tipis masih terlihat menggantung di kejauhan, menutupi pandangan ke arah kawasan tambak garam yang luas, sementara di sisi lain terlihat jelas asap pabrik yang mengepul, tanda bahwa Sidoarjo adalah kota industri yang sedang tumbuh pesat.

Dika berjalan santai menyusuri trotoar jalan utama di kawasan Gelanggang Olahraga Sidoarjo, tempat biasa Tim Kota mereka berlatih. Di punggungnya, tas olahraga berisi perlengkapan latihan terasa ringan, sama ringannya dengan beban pikirannya yang kini sudah terangkat habis setelah menyelesaikan urusan pembagian aset Bitcoin dengan Rio beberapa hari yang lalu. Di dadanya, terpatri lambang kebanggaan Sidoarjo, dan di hatinya, tumbuh rasa cinta yang mendalam pada tanah kelahirannya ini—kota yang terkenal dengan lumpur panasnya, keripik udangnya, dan masyarakatnya yang pekerja keras.

Namun, Dika tahu, sehebat apa pun cintanya pada kota ini, mimpinya jauh melampaui batas kabupaten dan provinsi. Mimpinya menembus samudra, menembus benua, sampai ke jantung sepak bola dunia: Inggris.

Setelah penampilan fenomenalnya di Kejuaraan Tingkat Provinsi Jawa Timur sebulan yang lalu, di mana Dika membawa Tim Sidoarjo menjadi juara tak terkalahkan sekaligus meraih gelar Pemain Terbaik, namanya meledak seketika. Di Surabaya, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya, para pengamat sepak bola mulai membicarakan sosok gelandang jenius dari Sidoarjo itu. Media lokal bahkan sempat memuat berita utama dengan judul: "Bintang Muda Sidoarjo Bersinar Terang: Dika Pratama, Calon Pengatur Permainan Masa Depan."

Akibat ketenaran yang melesat itu, bukan cuma pujian yang datang. Tawaran-tawaran resmi pun mulai berdatangan. Dan tawaran paling besar, paling bergengsi, serta paling didambakan oleh hampir seluruh pesepak bola muda di Jawa Timur, datang kemarin sore.

Di ruang kantor pengurus KONI Sidoarjo, telah hadir perwakilan resmi dari Persebaya Surabaya, klub raksasa dan kebanggaan masyarakat Jawa Timur yang saat itu berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia. Mereka datang membawa surat tawaran resmi, meminta izin dan menawarkan Dika untuk langsung bergabung dengan skuad utama Bajul Ijo, melewati jenjang muda sekalipun. Sebuah kehormatan luar biasa bagi seorang siswa SMA kelas dua.

Pak Haris berjalan di samping Dika, wajahnya tampak bercampur antara bangga dan sedih. Beliau adalah orang yang pertama kali diberitahu soal tawaran ini, dan beliau sangat berharap anak asuhnya mau menerimanya. Bagi Pak Haris, masuk ke Persebaya adalah jalan tercepat dan termulus menuju karier profesional di Indonesia.

"Dika, kamu harus pikirkan ini baik-baik, Nak," kata Pak Haris memecah keheningan, langkah kakinya berirama seiring dengan langkah Dika. "Persebaya itu bukan sembarang tim. Itu klub raksasa, basis pendukungnya paling besar di negeri ini. Kalau kamu masuk ke sana, kamu bakal langsung terkenal, kamu bakal main di stadion besar, kamu bakal dilirik Tim Nasional lebih cepat. Banyak pemain hebat rela mati-matian cuma buat bisa memakai jersey hijau itu. Dan sekarang, tawaran itu ada di genggamanmu, dikirim khusus ke sini ke Sidoarjo. Kamu benar-benar beruntung, Nak."

Dika mengangguk hormat. "Saya tahu, Pak. Saya sangat menghargai kepercayaan dan ketertarikan Persebaya pada saya. Itu kehormatan terbesar buat saya dan nama baik kota Sidoarjo kita."

"Terus... kenapa wajahmu tidak terlihat gembira? Kenapa aku lihat kamu masih ragu?" tanya Pak Haris menatap tajam ke arah muridnya. "Aku dengar, kemarin juga ada utusan dari tim besar lain, kan? Dari Persela Lamongan, bahkan dari Arema Malang juga sempat bertanya kabarmu. Semua tim besar di Pulau Jawa berebutan kamu, Dika. Kesempatan emas begini jarang datang dua kali."

Dika berhenti melangkah tepat di depan gerbang masuk lapangan. Ia menatap luasnya rumput hijau di depannya, tempat ia menumbuhkan semua mimpi ini. Ia menatap jauh ke arah utara, ke arah Surabaya yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Sidoarjo, tempat Persebaya bermarkas. Kota itu dekat, mudah dijangkau, fasilitasnya lengkap, dan jalannya sudah terhampar mulus.

Namun, dalam benak Dika, terbayang jalan yang lebih jauh, lebih berliku, tapi jauh lebih indah dan megah. Ia teringat kembali semua persiapan yang telah ia bangun diam-diam selama setahun terakhir. Ia teringat buku catatan bahasa Inggris, Spanyol, dan Italia yang sudah lusuh dibaca. Ia teringat angka-angka kekayaannya di dunia maya yang nilainya terus melonjak gila, kini mencapai puluhan miliar rupiah. Ia teringat rencana hidupnya yang sudah tersusun rapi seperti peta navigasi kapal laut.

Dika menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke mata Pak Haris dengan ketegasan dan kedewasaan yang jarang dimiliki anak seusianya.

"Pak Haris... saya sangat berterima kasih atas semua dukungan Bapak, dan saya sangat menghargai tawaran mulia dari Persebaya maupun klub-klub hebat lainnya. Bagi banyak orang, tawaran ini adalah puncak mimpi. Tapi bagi saya... ini baru gerbang awal, dan bukan arah tujuan saya."

Pak Haris mengerutkan kening, bingung sekaligus penasaran. "Maksudmu apa, Dika? Kamu mau ke liga luar pulau? Ke Jakarta?"

Dika menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis, senyum yang menyimpan jutaan persiapan dan keyakinan mutlak.

"Bukan, Pak. Saya tidak mau bermain di liga Indonesia dulu. Dan saya berniat... menolak semua tawaran itu."

"APA?!" Pak Haris hampir melompat kaget, suaranya meninggi tak percaya. "Menolak?! Dika, kamu sadar apa yang kamu katakan? Itu Persebaya! Klub terbesar di Jawa Timur! Kamu mau menolak jadi pemain profesional cuma-cuma? Kamu tahu betapa sulitnya masuk ke sana? Kamu tahu kalau kamu salah langkah, mimpimu bisa kandas di tengah jalan?!"

Wajah Pak Haris memerah, bercampur marah dan khawatir. Beliau menganggap keputusan ini sangat bodoh, sangat ceroboh, dan membuang peluang emas.

Dika tidak terguncang sedikit pun. Ia justru mendekat, suaranya rendah namun penuh penjelasan yang mendalam.

"Pak, saya mohon dengarkan alasan saya. Saya tidak menolak karena sombong, saya tidak menolak karena tidak tahu diri. Saya menolak karena saya punya rencana yang jauh lebih besar, jauh lebih jauh, dan saya sudah persiapkan semuanya sampai ke detail terkecil."

Dika mengeluarkan buku catatan kecil dari saku, buku yang sama yang selalu menemaninya, lalu membuka halaman di mana tertulis rencana masa depannya.

"Pak, Bapak tahu saya kelas berapa sekarang? Kelas 2 SMA. Masih satu tahun lagi saya punya waktu sampai lulus. Rencana saya sudah bulat: Saya akan menyelesaikan sekolah saya di sini, di Sidoarjo, sampai tamat. Tidak akan saya potong masa sekolah saya demi pindah klub."

"Terus setelah lulus? Mau jadi apa kamu?" potong Pak Haris masih dengan nada tinggi.

"Setelah saya lulus SMA tahun depan... saya akan berangkat ke Inggris."

Keheningan menyelimuti udara sejenak. Pak Haris ternganga, mulutnya terbuka diam tak bersuara.

"Inggris...?" gumam Pak Haris pelan. "Maksudmu... mau liburan? Atau mau sekolah di sana?"

"Bukan liburan, Pak. Dan bukan sekadar sekolah. Tujuan saya ke sana satu: Masuk ke Akademi Sepak Bola di Inggris."

Dika mulai menjelaskan panjang lebar, memaparkan semua alasan yang telah ia susun matang-matang, alasan yang ia ketahui dari pengalaman masa depan dan pemahaman mendalam tentang dunia sepak bola.

"Pak, saya sudah pelajari ini semua lama sekali. Liga Indonesia kita ini hebat, punya pendukung luar biasa, tapi sistem pembinaannya masih jauh tertinggal dibandingkan Eropa. Di sini, kalau kita jago sedikit, kita langsung ditawari kontrak main di tim inti, langsung dibayar besar, langsung jadi terkenal. Itu enak, Pak. Tapi itu berbahaya."

Dika menunjuk dadanya sendiri.

"Kalau saya terima tawaran Persebaya sekarang, umur saya baru 17 tahun, saya sudah main di liga utama. Saya akan merasa sudah sukses, saya akan merasa sudah hebat. Padahal secara teknik, secara taktik, secara fisik, saya belum matang sepenuhnya. Saya akan terjebak di zona nyaman. Saya akan berhenti berkembang. Lima tahun lagi, saya mungkin cuma jadi pemain biasa-biasa saja, tidak ada kemajuan, dan tidak ada klub luar negeri yang mau melihat saya karena pola pikir dan gaya main saya sudah tercetak dengan pola main lokal."

Pak Haris mulai terdiam, mendengarkan sambil mengerutkan dahi, mulai tertarik dengan argumen anak didiknya.

"Tapi kalau saya pergi ke Inggris... atau mungkin ke Jerman, Spanyol, atau Italia... saya masuk ke akademi mereka. Di sana, Pak, standarnya beda. Di sana saya akan ditempa bukan cuma cara menendang bola, tapi cara berpikir, cara bergerak, cara berkomunikasi, cara menjaga fisik, taktik modern. Di sana saya akan dididik menjadi pemain yang utuh. Di sana persaingannya keras sekali, jadi saya tidak akan bisa merasa puas dulu. Saya harus bertahan, saya harus berjuang mati-matian. Dan kalau saya berhasil lulus dari sana, kalau saya berhasil menembus liga utama mereka... maka saya bukan cuma jadi pemain bagus, saya akan jadi pemain kelas dunia."

Dika menatap mata Pak Haris lekat-lekat, menegaskan mimpinya yang paling dalam.

"Pak, tujuan hidup saya bukan cuma mau jadi bintang di Indonesia. Bukan cuma mau jadi kebanggaan Sidoarjo atau Surabaya. Tujuan saya adalah Timnas Indonesia, Piala Dunia. Saya mau mengangkat nama bangsa di panggung tertinggi. Dan untuk bisa bertanding di Piala Dunia, saya harus punya kualitas pemain Eropa. Saya harus dididik di sana. Saya harus paham budaya main mereka. Saya harus fasih bahasa mereka. Dan saya sudah persiapkan itu semua."

Dika mengeluarkan bukti nyata. Ia membuka halaman buku catatan yang penuh tulisan bahasa Inggris, istilah taktik dalam bahasa Spanyol, dan daftar nama-nama akademi besar.

"Bapak lihat ini? Saya belajar bahasa Inggris tiap malam. Saya sudah fasih percakapan dasar, dan terus belajar istilah teknis sepak bola. Saya juga belajar bahasa lain. Saya punya tabungan sendiri, Pak, hasil kerja keras saya diam-diam, cukup untuk membiayai diri saya setahun pertama di sana tanpa bergantung siapa pun. Saya sudah cari tahu cara mendaftar tes masuk akademi, saya sudah tahu jadwalnya, saya sudah tahu syarat-syaratnya. Semuanya sudah ada di sini, Pak, di kepala saya dan di sini di catatan ini."

Pak Haris diam terpaku. Beliau memandang Dika dengan pandangan yang berubah drastis. Dari yang awalnya marah dan khawatir, kini berubah menjadi kagum, takjub, dan rasa hormat yang luar biasa. Beliau baru sadar, anak di hadapannya ini bukan sekadar anak berbakat biasa. Ini adalah anak yang sudah merencanakan hidupnya jauh lebih matang daripada orang dewasa sekalipun.

"Dika... kamu....."

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!