NovelToon NovelToon
Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Blurb

"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"

Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.

Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."

Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.

Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.

Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.

Semuanya terlambat Alina sadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 : LEMBARAN BARU DI BAWAH NAUNGAN YAYASAN

...BAB 29...

...LEMBARAN BARU DI BAWAH NAUNGAN YAYASAN...

Setelah mendengar keinginan Alina yang sudah bulat, Aditya pun berusaha mewujudkannya sebaik mungkin. Ia datang ke kantor Yayasan Pendidikan Al-Ahzar secara khusus, meminta pertemuan dengan kepala sekolah dan pengurus yayasan. Dengan nada rendah hati, ia menjelaskan keadaan putrinya—bahwa Alina baru ingin memulai mempelajari dasar-dasar agama, tentang aqidah, fiqih serta belum lancar membaca Al-Qur’an sama sekali, namun memiliki niat dan semangat yang sungguh-sungguh untuk berubah.

“Kami siap menyesuaikan diri, Pak. Kalau ada kekurangan, kami berusaha memperbaikinya secepat mungkin,” ujar Aditya dengan tulus.

Pengurus yayasan terkesan mendengar kejujuran itu. Mereka menyetujui pendaftaran Alina, bahkan bersedia memberikan perlakuan khusus secara pribadi. Guru-guru ditugaskan untuk menitipkan dan membimbing Alina secara perlahan, tidak memaksakan kecepatan belajar agar gadis itu tidak merasa terbebani atau tertinggal jauh.

Beberapa hari kemudian, Alina menerima tiga set lengkap seragam sekolah. Baju berwarna krem, putih abu, dan biru dongker dengan rok panjang yang rapi, dipadukan dengan jilbab lebar yang menutupi dada dan bahu dengan sempurna. Saat ia mencobanya di depan cermin, senyum lebar dan tulus terukir di wajahnya. Penampilan yang tertutup ini membuatnya merasa lebih tenang, lebih aman, dan entah mengapa membuat hatinya terasa lebih damai. Tidak ada lagi rasa takut diperhatikan secara salah atau merasa tidak berharga hanya karena penampilan.

“Bagus sekali, Nak. Tampak lebih tenang dan berseri,” puji Aditya melihat putrinya. Merangkul kedua bahu putrinya di belakang.

Alina menoleh, matanya berbinar. “Terima kasih, Pah. Alina merasa nyaman sekali memakainya. Ada satu permintaan lagi, boleh?”

“Apa itu?”

“Tolong rahasiakan dulu ya, kalau Alina sudah bersekolah di sini. Jangan sampaikan dulu pada Bu Kirana dan juga Dimas. Alina belum siap untuk mereka tahu, takut rasanya canggung dan malu. Nanti kalau Alina sudah merasa lebih baik dan bisa membuktikan diri, baru Alina sampaikan sendiri,” pinta Alina dengan nada memohon.

Aditya mengangguk mengerti. “Baiklah, Papa janji akan menyimpannya dulu.”

Hari pertama masuk sekolah pun tiba. Begitu melangkah masuk ke halaman sekolah yang luas dan tertib, Alina langsung melihat sosok yang dikenalnya sedang berdiri di dekat papan pengumuman. Itu Farhan.

Farhan juga segera mengenali Alina meski penampilannya kini jauh berbeda. Matanya melebar terkejut, lalu berubah menjadi senyum yang hangat.

“Alina? Ternyata benar kau mendaftar di sini,” sapanya ramah.

Alina mendekat, tersenyum malu. “Iya, Farhan. Akhirnya Papa mengurusnya. Tapi ada satu hal lagi, tolong rahasiakan juga ya soal kehadiranku di sini. Jangan ceritakan pada siapa pun, termasuk Dimas dan ibunya. Alina belum siap mereka tahu.”

Farhan mengangguk mantap, tanpa ragu menyetujuinya. “Baiklah, aku janji akan menjaga rahasiamu. Justru aku senang sekali melihatmu di sini. Lingkungan ini cocok untukmu yang ingin memulai lembaran baru.”

Tanpa disadari, sejak pertama kali melihat Alina yang kini tampil lebih tertutup, sederhana, dan membawa ketenangan di wajahnya, hati Farhan terasa berdebar halus. Ia melihat perubahan yang sangat indah—bukan hanya pada pakaiannya, tapi pada sorot matanya yang kini terlihat lebih rendah hati dan penuh tekad. Farhan menyadari, perasaannya pada Alina perlahan tumbuh semakin dalam, namun ia menyimpannya rapat-rapat, tidak ingin mengganggu proses perubahan yang sedang dijalani gadis itu.

Di sekolah Al-Ahzar, sistemnya memang terpisah. Ruang kelas, koridor, dan area belajar putra dan putri dibagi jelas, sehingga mereka jarang bertemu secara langsung. Kesempatan bertemu hanya ada di kantin sekolah yang luas atau di perpustakaan besar yang juga dipisahkan zona waktunya. Hal ini justru membuat Alina merasa lebih aman dan fokus.

Setiap hari, Alina belajar dengan sungguh-sungguh. Ia mulai mengenal huruf hijaiyah satu per satu, berlatih mengucapkannya dengan benar, dan mempelajari tata cara sholat dengan bantuan guru pembimbingnya. Prosesnya memang lambat, seringkali ia merasa kesulitan dan malu karena sering salah, tapi ia tidak pernah menyerah. Ia sadar ini jalan yang ia pilih untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Suatu siang, saat jam istirahat, Alina berjalan menuju perpustakaan untuk meminjam buku panduan mengaji. Saat melintasi lorong pembatas, ia tanpa sengaja berpapasan dengan sekelompok siswa laki-laki yang baru saja keluar dari ruang baca.

Jantung Alina berhenti berdetak sejenak. Di antara mereka ada sosok Dimas.

Adik tirinya itu tampak lebih tinggi dan tampak dewasa. Matanya tertuju pada kitab Al-Qur'an mini di tangannya, bibirnya bergerak-gerak perlahan seolah melantunkan ayat suci. Wajahnya begitu serius dan fokus, hingga ia benar-benar tidak menyadari kehadiran Alina yang berdiri tak jauh darinya.

Seorang teman Dimas menyenggol bahunya. “Dim, istirahat sebentar saja. Sudah sejak pagi kau menghafal terus.”

Dimas hanya menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya. “Sebentar lagi selesai. Aku ingin mengulang hafalan juz 28 sampai 30 supaya tidak lupa. Besok ada ujian hafalan rutin.”

Alina mendengar percakapan itu dengan mata terbelalak tak percaya. Dimas masih duduk di kelas 3 SMP, namun sudah memiliki hafalan hampir 30 juz Al-Qur’an—angka yang luar biasa bagi anak seusianya. Ia teringat dulu Dimas hanyalah anak pendiam yang sering ia anggap tidak berguna, namun kini ia tumbuh menjadi pemuda yang tekun dan berilmu.

Sosok Dimas berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikit pun, terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri. Begitu Dimas menjauh, senyum lembut terukir di bibir Alina. Ada rasa bangga yang tiba-tiba muncul di hatinya.

Sejak hari itu, tanpa sadar Alina sering mencari-cari keberadaan Dimas. Saat jam istirahat, ia akan berdiri di tempat yang agak tersembunyi, mengamati adiknya dari kejauhan. Ia melihat Dimas duduk di sudut taman yang teduh, membuka mushaf Al-Qur’an, dan melantunkan ayat-ayatnya dengan suara yang merdu dan jelas. Kadang ia melihat Dimas membantu teman-temannya yang kesulitan membaca, dengan kesabaran yang luar biasa.

Melihat adiknya yang begitu giat beribadah dan belajar, semangat Alina pun semakin membara. Ia ingin menjadi seperti mereka—seperti Bu Kirana yang tenang, seperti Dimas yang tekun. Setiap kali ia merasa lelah atau ingin menyerah, ia hanya perlu melihat Dimas dari kejauhan, dan tekadnya kembali bangkit.

“Aku akan terus berusaha. Suatu hari nanti, saat aku sudah bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar dan menjadi pribadi yang lebih baik, baru aku akan berani berdiri di hadapan mereka dan menyapa,” janji Alina dalam hati sambil tersenyum lembut memandangi punggung Dimas yang sedang asyik menghafal.

Bersambung...

Bantu like dan komentarnya ya readerss biar, author semangat melanjutkan ceritanya hingga tamat 😇🙏 nanti akan ada episode yang bikin tegang juga... Terimakasih banyak 👋👋👋

1
Wulandari Ayuningtyas
like back y kak😁
Kam1la
tangkap saja si Raka
Kam1la
Raka pelakunya kah...?
Kam1la
semoga bu Kirana baik-baik saja
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ulah songong monyet.
Kayla Rane: 😂🤭 ulah emosi teuing
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
oh, terserah
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tante
penulismisterius
sabar ya bu Kirana😞
nanti Alina juga perlahan luluh
penulismisterius: siap kak sama samaa😄😄
total 2 replies
Kam1la
Alina keren....
Kam1la
akhirnya, Alina menyadari juga
Kam1la
bu Kirana meski disakiti, hatinya tetap baik dan peduli
Kam1la
Alina mulai berubah
Kam1la
jujur saja Alina
Kam1la
kasihan Alina. ketakutan
Kam1la
nah kan, baru terasa kehilangan
Kam1la
akhirnya mau pulang juga
Kam1la
ayo, Alina pulang ke rumah
Kam1la
jangan pergi bu Kirana. ....
Kam1la
Alina pasti mau pulang ke rumah
Kam1la
untung ada Farhan... kamu datang tepat waktu Faran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!