HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jemputan istimewa
BAB 18 — Jemputan istimewa
Aku sempat mengira bahwa ucapan Sherkan soal penjemputan itu hanya basa-basi atau pernyataan formalitas belaka, namun ternyata dugaanku sangat keliru. Tepat pukul lima sore, halaman rumah keluarga Wibisono mendadak menjadi ramai. Bukan hanya satu kendaraan, melainkan beberapa mobil mewah berwarna hitam berhenti berjejer rapi di depan pagar rumah. Para pelayan langsung terlihat panik melihat kedatangan rombongan tersebut, bahkan ibu tiriku berkali-kali melongok dan melirik ke luar jendela seolah ingin memastikan apa yang sedang terjadi. Sementara itu, aku hanya tersenyum kecil dalam hati, karena sudah dapat menebak pasti siapa yang mengirimkan mereka ke sini.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita berpakaian rapi dan berpenampilan sangat elegan melangkah masuk ke ruang tamu, lalu mendekat dan memperkenalkan dirinya dengan nada sopan. “Nona Violet, saya diperintahkan oleh Tuan Sherkan untuk datang menjemput Anda,” ucapnya dengan sikap hormat.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dan bersiap berdiri, namun sebelum sempat melangkah, beberapa orang lain masuk membawa koper-koper besar yang terbuat dari bahan kulit berkualitas tinggi. Aku mengernyitkan dahi merasa bingung. “Barang apa saja itu?” tanyaku.
Wanita yang menjadi pemimpin rombongan itu hanya tersenyum tenang. “Semua ini adalah tambahan yang dipersiapkan dan dikirimkan oleh Tuan Sherkan untuk keperluan Anda malam ini.”
Tambahan? Baru aku memahami maksud perkataannya setelah koper-koper itu dibuka satu per satu. Di dalamnya tersusun rapi berbagai peralatan rias, perlengkapan tata rambut, sepatu, perhiasan yang terlihat mewah, serta beberapa helai gaun indah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku langsung terdiam sesaat merasa terkejut. Bukankah ini hanya pernikahan berdasarkan kesepakatan dan kontrak semata? Mengapa persiapannya terasa sama seperti acara pernikahan yang sungguhan?
“Nona, mari kita mulai bersiap-siap agar semuanya tepat waktu,” ajak salah satu dari mereka.
Aku bahkan tidak sempat memberikan penolakan apa pun. Dua orang penata rambut dan rias segera membawaku duduk di depan cermin besar, lalu semuanya bergerak bekerja dengan sangat cepat dan teratur. Rambutku ditata rapi dan indah, wajahku dirias secara halus dan pas, kuku-kuku tanganku dipercantik, dan aku mencoba satu per satu gaun yang disediakan hingga akhirnya ditemukan yang paling cocok. Selama hampir tiga jam lamanya, aku hanya bisa pasrah mengikuti semua arahan mereka seolah menjadi boneka yang diatur sesuka hati. Namun ketika semuanya selesai dan aku melihat bayanganku di cermin, aku sendiri nyaris tidak dapat mengenali diriku sendiri. Perempuan yang terlihat di balik kaca itu tampak sangat berbeda dari biasanya, terlihat cantik, anggun, dan berwibawa. Gaun putih yang dikenakan membalut tubuh dengan sempurna hingga menyentuh lantai, dengan hiasan kristal halus di bagian dada yang berkilau lembut setiap kali terkena cahaya.
Aku menatap diriku dalam cermin cukup lama, lalu tanpa sadar pikiranku melayang mengingat masa lalu. Dulu aku juga pernah mengenakan gaun pengantin serupa, namun saat itu aku menikah dengan pria yang akhirnya mengkhianati dan membunuhku. Sedangkan sekarang, aku akan menikah dengan pria yang bahkan belum menyimpan rasa cinta apa pun kepadaku. Rasanya sungguh ironis, namun anehnya justru di situasi ini aku merasa jauh lebih tenang dan aman dibandingkan saat itu.
Saat para penata rias sibuk membereskan kembali perlengkapan mereka, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa mendekati pintu kamar. Belum sempat ada ketukan, pintu itu langsung terbuka lebar dan ibu tiriku masuk dengan wajah penuh kebingungan serta rasa ingin tahu yang meluap. Begitu matanya menangkap pemandangan di dalam kamar yang dipenuhi orang asing, matanya langsung terbelalak lebar.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” tanyanya dengan nada meninggi. Pandangannya bergerak cepat meneliti koper-koper mewah, gaun yang kukenakan, hingga ke orang-orang yang berdiri mengelilingiku. “Siapa saja mereka ini?”
Tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaannya. Wanita itu lalu melangkah mendekat dengan raut wajah yang mulai dipenuhi kecurigaan. “Violet, kamu mau pergi ke mana malam ini?”
Aku berdiri dari kursi rias dan merapikan sedikit bagian gaun yang sedikit berantakan. “Mereka datang untuk menjemputku ke sebuah acara,” jawabku singkat.
“Dijemput? Acara apa yang mengharuskan kau berdandan berlebihan seperti ini?” tanyanya lagi sambil menatap dari atas hingga ke bawah. Semakin lama ia memandang, semakin aneh ekspresi di wajahnya, seolah sedang berusaha menyusun potongan informasi yang belum jelas namun tidak berhasil mendapatkan jawabannya. “Kau akan menghadiri acara siapa dan di mana?”
Aku menatapnya dengan pandangan datar dan tanpa emosi berlebih. “Hal itu bukan urusan kamu lagi.”
Wajahnya langsung berubah mendengar jawabanku. “Apa maksud ucapanmu itu, aku ini ibu mu?”
Ibu? Aku mendengus. Ibu tiri yang jahat tepat nya.
“Aku sudah dewasa dan memiliki hak atas diri sendiri,” jawabku tegas. Aku lalu berjalan melewatinya menuju pintu keluar. “Aku tidak wajib menjelaskan segala urusan hidup ku kepada kamu.”
“Violet, berhenti dulu!” serunya sambil berbalik mengikuti langkahku. “Masih di rumah inilah kau tinggal, jadi aku berhak tahu ke mana kamu pergi.”
Langkahku terhenti mendengar ucapannya. Perlahan aku menoleh ke belakang hingga pandangan kami bertemu. Selama beberapa detik tidak ada suara yang keluar, namun kali ini aku tidak lagi menunduk atau berusaha menyenangkan hatinya seperti yang biasa kulakukan di masa lalu. Aku hanya memandangnya dengan tatapan yang dingin, tajam, dan tanpa rasa takut sedikit pun. Ibu tiriku langsung membeku di tempatnya, terlihat seolah merasakan perubahan besar pada diriku. Mungkin ini pertama kalinya ia melihatku bersikap demikian, atau mungkin ia baru sadar bahwa Violet yang selalu mengalah dan sabar itu sudah tidak ada lagi.
“Jangan pernah lagi mencampuri urusan pribadiku,” ucapku dengan nada yang tenang namun tegas, cukup membuat otot-otot wajahnya menegang. “Sekarang aku harus pergi.”
Kembali suasana menjadi hening sejenak. Beberapa detik kemudian, ia perlahan mundur dan tidak lagi berusaha menghalangi langkahku atau mengajukan pertanyaan apa pun lagi. Aku mengenal benar tatapan seperti itu; itu adalah tatapan seseorang yang mulai merasa panik dan bingung menghadapi perubahan yang tidak ia mengerti. Dan dia benci jika aku mulai bisa menjawab dan membantahnya.
Tak lama kemudian aku melangkah keluar rumah. Beberapa mobil hitam masih menunggu rapi di halaman, dan salah satu staf Sherkan segera membukakan pintu kendaraan dengan sikap sangat hormat. Sebelum masuk ke dalam mobil, aku sempat melirik sekilas ke arah jendela lantai dua. Tirai jendela itu terlihat sedikit bergerak, menandakan bahwa ibu tiriku masih terus mengawasi kepergianku dari balik sana. Aku hanya tersenyum tipis mengetahui hal itu. Aku terlalu paham dengan sifat wanita itu; ia pasti tidak akan diam saja setelah melihat kedatangan rombongan mewah dan kepergianku dengan penampilan demikian. Aku yakin tidak lama lagi ia akan segera menghubungi Arga, bahkan mungkin juga Eliana, untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dan berusaha menghentikanku. Namun sayang sekali bagi mereka, kali ini semuanya sudah terlambat. Saat mereka mengetahui kebenarannya nanti, aku sudah resmi menjadi istri Sherkan Satria, orang yang paling tidak ingin mereka hadapi dan lawan.
Malam mulai turun perlahan saat kendaraan yang membawaku melaju meninggalkan pekarangan rumah. Beberapa anggota keluarga yang melihat kepergianku hanya bisa memandang dengan wajah penuh kebingungan. Aku memang belum memberitahukan apa pun kepada siapa pun, dan memang tidak berniat menjelaskan apa pun saat ini. Biarkan saja mereka mengetahuinya sendiri setelah beberapa jam ke depan.
Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan yang menyala. Dari balik jendela, aku menatap pemandangan luar sambil merasakan detak jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Meskipun aku berusaha menyangkalnya, perasaan gugup tetap hadir di hatiku. Bagaimanapun juga ini adalah sebuah pernikahan, meski atas dasar kesepakatan, dan kali ini aku tidak tahu persis seperti apa masa depan yang akan menungguku.
Sekitar empat puluh menit kemudian, kendaraan berhenti tepat di depan sebuah bangunan eksklusif yang sering digunakan oleh kalangan atas untuk acara-acara pribadi. Tempat ini tidak terlalu ramai dan tidak terlihat mewah secara berlebihan, namun memancarkan kesan elegan dan rapi. Aku turun perlahan, lalu dibimbing oleh staf Sherkan menuju bagian dalam bangunan. Semakin jauh melangkah, semakin cepat pula detak jantungku berdebar hingga akhirnya aku berhenti di depan sebuah pintu besar yang terbuka lebar.
Untuk sesaat aku benar-benar terdiam dan berhenti melangkah. Di sana, tepat di tengah ruangan, berdiri sosok pria yang sedang menungguku: Sherkan. Ia mengenakan setelan jas berwarna hitam yang sangat pas dan rapi, membuat bahunya terlihat lebih lebar dan tubuhnya tampak semakin tegap. Sosoknya memancarkan aura yang sulit dijelaskan, terlihat maskulin, berwibawa, kuat, dan penuh kharisma alami. Aku sudah bertemu dan berhadapan dengan banyak pria sukses dan berpengaruh sebelumnya, namun tidak ada satu pun yang memiliki kehadiran sekuat miliknya. Bahkan saat ia hanya berdiri diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia sudah menjadi pusat perhatian di tempat itu. Dan aku tidak memungkiri, dibanding Arga, dia jelas lebih tampan dan nyaris sempurna jauh di atas Arga di usianya yang sudah sangat matang.
Begitu matanya menangkap keberadaanku, pandangan tajamnya langsung tertuju tepat kepadaku, dan entah kenapa perasaan gugup yang sempat mereda kembali muncul dan terasa lebih kuat. Selama beberapa detik kami hanya saling memandang dalam keheningan. Kemudian Sherkan mulai melangkah mendekat dengan langkah yang tenang, pasti, dan tidak tergesa-gesa, namun cukup membuat jantungku berdetak semakin tidak karuan. Ia berhenti tepat di hadapanku, lalu pandangannya menyapu lembut wajahku dan kemudian turun ke arah gaun yang kukenakan. Aku tidak dapat menebak apa yang sedang ia pikirkan, karena wajahnya selalu sulit untuk dibaca dan ditebak. Namun setelah beberapa saat berlalu, ia akhirnya membuka suara dengan nada rendah namun jelas terdengar.
“Kemarilah,” ucapnya singkat.
Suaranya terdengar tenang, namun entah kenapa membuatku merasa patuh dan mengikuti perintahnya tanpa ragu. Sherkan lalu mengulurkan telapak tangannya yang besar ke arahku. Aku menatap tangannya itu sejenak, lalu perlahan meletakkan telapak tanganku di atasnya. Jemarinya langsung menggenggam tanganku dengan genggaman yang mantap dan hangat, jauh lebih hangat dari yang pernah kubayangkan sebelumnya. Rasanya seolah ia ingin memastikan aku tetap berdiri tegak, atau mungkin juga memastikan aku tidak akan berbalik pergi sebelum semuanya selesai. Pikiran itu kembali membuat detak jantungku terasa lebih cepat.
Sherkan menuntunku masuk ke ruangan yang sudah disiapkan untuk acara. Di sana hanya ada sedikit orang yang hadir, yaitu petugas pencatat pernikahan, dua orang saksi, tim hukum, serta orang-orang kepercayaannya. Semuanya berlangsung secara sederhana, cepat, dan efisien, sangat sesuai dengan sifat dan gaya hidup Sherkan. Namun justru kesederhanaan inilah yang membuat suasana terasa lebih nyata dan serius.
Sebelum prosesi dimulai, Sherkan tiba-tiba menghentikan langkah dan menoleh ke arahku. Ia menatap mataku dengan pandangan yang terasa sangat dalam dan tajam, hingga membuatku sulit mengalihkan pandangan ke tempat lain.
“Kau benar-benar yakin?” tanyanya tiba-tiba.
Aku sempat terkejut mendengar pertanyaannya. “Apa maksudnya?”
“Setelah pernikahan ini dilaksanakan dan sah,” lanjutnya dengan nada datar namun tegas, “kau tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk mundur atau lari dari kesepakatan ini.”
Dadaku terasa berdebar mendengar kalimatnya, namun kali ini bukan karena rasa takut, melainkan karena ia mengucapkannya bukan sebagai ancaman atau paksaan, melainkan sebagai peringatan terakhir dan kesempatan terakhir bagiku untuk menarik diri jika memang masih menginginkannya.
Aku terdiam sejenak, lalu pikiranku kembali melayang mengingat semua peristiwa yang terjadi di masa lalu: pengkhianatan Arga, kelicikan Eliana, kematian ayahku, hingga kesempatan hidup kedua yang baru saja aku dapatkan. Aku tidak mungkin mundur sekarang, tidak setelah sejauh ini aku berjalan dan berusaha mempersiapkan segalanya.
Perlahan aku mengangkat kepala dan menatap langsung ke dalam matanya dengan pandangan yang mantap dan tegas. “Saya yakin sepenuhnya,” jawabku dengan suara yang jelas dan tanpa keraguan sedikit pun. “Tentu saja saya melakukannya dengan keputusan sendiri.”
Sekilas aku melihat ada perubahan samar yang terlintas di balik tatapan dinginnya, sesuatu yang belum sempat aku mengerti maknanya, namun lenyap begitu saja sebelum sempat kupikirkan lebih lanjut.
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
aku padamu Sherkan ♥️🫰
apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
semangat Mak Eva 💪🥰