NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Gaya Gandos Sang Penjaga

Pintu ruangan kerja ditutup rapat, suara langkah kaki mereka bergema jelas di lorong yang panjang dan sepi itu. Viona jalan dengan langkah cepat, wajahnya kelihatan tegang banget, alisnya mengerut rapat seolah dia lagi memikul beban berat banget di pundaknya. Tapi beda sama Faris yang jalan di belakangnya, dia malah melangkah santai banget, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jas, badannya digoyang-goyangkan pelan, gayanya persis kayak orang yang lagi jalan-jalan santai di tepi sawah, bukan orang yang lagi ada di dalam gedung perusahaan besar dan mewah begini.

Sambil jalan santai, tangan kirinya ngeluarin bungkus rokok Gajah Baru isi 16 batang yang dari tadi dia simpan rapi. Tanpa ribet, jempolnya cuma satu gerakan cepat cekrek! penutup bungkusnya langsung kebuka gampang banget, nggak pake acara kertek-kertek nggak jelas atau diotak-atik lama-lama kayak orang bingung mau ngapain. Dia langsung ambil sebatang rokok dengan jari tengah sama jari telunjuk, selipin rapi di antara bibirnya, tangan kanannya udah megang korek api yang udah siap di saku.

Cesss! Api langsung menyala terang, dia deketin pelan ke ujung rokok, terus mulutnya menghisap kuat-kuat beberapa kali: pluk, pluk, pluk! Rasa tembakunya langsung menyebar enak ke seluruh mulut sama tenggorokan, bikin dia ngerasa puas banget, pikiran yang tadi agak berat jadi terasa ringan seketika. Asap putih dia tiupkan pelan ke arah atas, matanya merem sebentar nikmatin rasa tenang yang datang, mukanya kelihatan puas banget kayak orang yang baru aja makan enak abis kelaparan berhari-hari.

"Ehh Faris! Apa-apaan ini?! Di dalam kantor jangan sembarangan ngerokok dong! Kamu ini kelakuannya emang nggak bisa diubah dikit aja ya!" bentak Viona tiba-tiba berhenti jalan, nengok ke belakang natap Faris dengan wajah yang udah mau merah kesel ngeliat kelakuan anak buahnya yang satu ini.

Faris malah senyum sengklek, rokoknya masih nempel manis di bibirnya, dia ngangkat sebelah tangannya melambai santai ke arah Viona, gayanya tetap santai abis nggak ada rasa takut atau bersalah sedikit pun.

"Aduh Ibu Bos cantikku, galak terus mulu dari tadi, nggak capek apa Bu? Kan ini lorongnya sepi banget, nggak ada orang yang lewat, nggak ada tamu penting juga, aman kok Bu, tenang aja, nggak bakal ada yang ngeluh atau marahin Ibu gara-gara saya ngerokok di sini. Lagian kan ini juga demi keselamatan Ibu lho Bu, kalau saya nggak ngerokok dulu, pikiran saya jadi berat banget, pusing, nggak fokus jagain Ibu, nanti malah bahaya kalau ada apa-apa terus saya lambat tanggapnya. Harusnya Ibu malah seneng dan ngebolehin saya gini, bukan malah marah-marah terus tiap liat saya megang rokok," jawab Faris santai banget, nada bicaranya enak didenger tapi penuh alasan yang menurut dia masuk akal banget.

Viona cuma bisa geleng-geleng kepala sambil hembuskan napas panjang dan kasar, dia nyerah banget ngadepin kelakuan Faris yang satu ini. Dia udah hafal banget, kalau dia terus-menerus ngomel atau melarang, Faris malah bakal makin banyak alasan lucu dan nggak masuk akal yang keluar dari mulutnya, bikin dia makin kesel sekaligus makin geli sendiri. Jadi dia milih buat diem aja dan jalan terus biar cepet kelar urusan penting yang menunggu mereka.

Mereka berdua terus jalan sampe keluar gedung menuju tempat parkir, sopir pribadi Viona udah nunggu rapi dan hormat di sebelah mobil mewah hitam yang kelihatan mengkilap dan mahal banget. Pas Viona masuk duluan ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman, Faris yang mau ikutan masuk tiba-tiba berhenti sebentar. Rokok yang masih ada separuh lagi di tangannya langsung dia buang ke tempat sampah yang ada di dekat situ, terus diinjak-injak pelan sama ujung sepatunya sampe apinya mati total dan aman, baru dia naik ke dalam mobil dan duduk rapi di sebelah Viona.

"Nah baru tau diri! Di dalam mobil saya jangan sembarangan ngerokok, bau asapnya nempel susah ilang, apalagi mobil ini kan sering dipake buat terima tamu penting," omel Viona lagi tapi nadanya udah nggak sekeras tadi, sebenernya dia udah mulai terbiasa dan mulai nganggap kelakuan Faris itu lucu dan bikin suasana jadi nggak tegang banget kayak biasanya.

"Iya iya Bu, saya tau aturan dong, saya kan anak baik kalau udah dibilangin. Kan tadi cuma di luar aja, abis itu udah dibuang rapi, nggak sembarangan buang sembarangan di dalem mobil kan? Masa saya bauin Ibu yang wangi-wangi gini pake asap rokok, sayang lho, nanti Ibu batuk-batuk terus saya yang disalahin lagi kan," jawab Faris santai sambil nyender enak di kursi empuk itu, tangannya dia taruh rapi di atas paha, natap keluar jendela ngeliat jalanan kota yang makin rame dan padat menjelang sore.

Mobil pun melaju mulus ninggalin halaman kantor, menuju ke arah kawasan elit tempat pertemuan penting bakal diadain. Sepanjang jalan Viona makin lama makin kelihatan tegang, mukanya pucat, tangannya diremas-remas satu sama lain nandain dia lagi cemas dan khawatir banget. Faris yang ngelihat perubahan itu langsung nyenggol pelan lengan Viona pakai sikunya, mukanya tetep santai dan senyum-senyum mau nenangin bosnya itu.

"Wih Bu, jangan kaku banget gitu dong, mukanya jangan dipelintir terus nanti kerutan cepet muncul, cantiknya ilang lho. Lagian mau ketemu siapa sih Bu sampe kelihatan takut dan panik banget gitu? Emang orangnya setan, hantu, atau raksasa sampe Ibu yang seberani ini aja kelihatan ciut nyalinya? Kalau emang jahat atau bikin ribet, biar saya aja yang ngomong sama dia, saya jamin dia nurut dan manut, paling juga mulutnya doang gede, dalemnya lembek banget kayak tahu digeprek," celetuk Faris enteng banget seolah bahaya itu hal remeh banget yang gampang banget diurusin.

Viona natap Faris dengan pandangan campur aduk, dia bingung antara mau marah, mau ketawa, atau mau sedih. Sifat santai dan percaya diri berlebihan Faris itu kadang bikin dia kesel banget, tapi lebih sering bikin dia ngerasa tenang dan berani banget.

"Kamu itu emang nggak ada takut-takutnya sama sekali ya Faris? Kamu tau kan kita mau ketemu sama orang yang punya kekuasaan gede banget, yang punya banyak anak buah, yang koneksinya nyampe ke mana-mana? Kalau salah ngomong dikit aja atau bertindak ceroboh, bisa nyawa kita jadi taruhannya, lho," jawab Viona pelan, nadanya serius banget mau ngasih pengertian ke Faris biar dia lebih hati-hati dan nggak sembarangan bertindak.

Faris malah senyum santai, garuk kepalanya yang sama sekali nggak gatel, gayanya tetap enteng dan nggak berubah.

"Waduh Bu, nyawa kan udah jadi hak Tuhan, mau kita takut segede apa pun, mau kita mikir sampe pusing sekalipun, kalau emang udah waktunya pergi ya pergi aja, kan nggak bisa ditahan atau ditawar-tawar. Daripada kita takut, mikir terus, malah bikin capek, bikin sakit sendiri, mending santai aja, hadepin apa adanya, kalau dia baik kita baik, kalau dia jahat kita lawan. Gampang kan Bu? Lagian kan saya ada di sini, saya kan pengawal bayaran mahal yang Ibu pilih sendiri, masa saya diem aja ngeliat orang sembarangan nyentuh rambut Ibu aja saya nggak bisa cegah? Itu malu dong nama saya, malu sama gaji gede yang saya terima nanti," jawab Faris santai banget tapi nadanya penuh ketegasan dan keseriusan.

Viona cuma bisa hembuskan napas panjang dan diem aja, dia tau ngomong sama Faris itu percuma banget, sifatnya emang udah dari sananya kayak gitu, nggak bisa diubah jadi kaku atau takut sembarangan. Tapi anehnya, denger omongan santai dan percaya diri Faris itu bikin rasa takut dan cemas di hati Viona perlahan ilang, diganti rasa berani dan tenang yang jauh lebih kuat, bikin dia ngerasa siap buat ngadepin apa aja yang bakal terjadi nanti.

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!