Hella Adelia menjalani hidupnya dalam diam, memikul peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi putra semata wayangnya. Dengan tekad sederhana—melihat anaknya agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMK—ia rela menyingkirkan lelah dan gengsi, menerima pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang CEO ternama.
Di balik kemewahan rumah itu, Dave Julian Alexander hidup dalam kesunyian. Seorang duda tanpa anak, dengan hati yang masih terikat pada kenangan akan mendiang istrinya. Dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Kesederhanaan Hella, ketulusannya sebagai seorang ibu, dan harapan kecil yang ia genggam untuk masa depan anaknya, menghadirkan kehangatan yang lama hilang dalam hidup Dave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endel_Bagong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJERAT CINTA SANG BOSS
Mobil melaju dengan kecepatan normal membelah jalanan kota yang masih ramai oleh kendaraan malam itu.
Di dalam mobil, suasana tetap hening.
Johan yang menyetir beberapa kali tanpa sadar mencuri pandang ke arah kaca spion tengah. Bukan untuk melihat jalan di belakang, melainkan melihat pantulan wajah Hella yang duduk di kursi belakang.
Namun hal sekecil itu tidak luput dari perhatian Dave.
Pria itu menangkapnya sejak tadi.
Dave tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya berdeham pelan.
"Hem."
Suara singkat itu langsung membuat Marcel mengangkat kepalanya dari layar tablet yang sedang ia baca.
Sebagai asisten yang sudah bertahun-tahun bekerja dengan Dave, Marcel cukup paham berbagai kode tidak tertulis milik atasannya.
Ia menoleh ke kursi belakang.
Dave hanya menggerakkan matanya dan sedikit mengangkat alis kanannya sekilas, ke arah Johan.
Dan Marcel langsung mengerti.
"Johan." panggil Marcel.
"Iya Pak?" jawab Johan cepat.
"Kalau tidak mampu menyetir dengan benar, kau bisa menepi di depan."
Johan langsung menegang.
Marcel melanjutkan dengan nada datar.
"Dan silakan keluar dari mobil ini."
Seketika suasana menjadi semakin kaku.
"Maaf Pak..." jawab Johan buru-buru.
"Maaf Tuan..."
Kini kedua tangannya benar-benar fokus pada kemudi.
Sementara Hella yang mendengar percakapan itu justru ikut merasa tegang.
Ia sudah gugup sejak duduk berdampingan dengan Dave.
Sekarang rasanya semakin tidak nyaman.
Bergerak takut salah.
Berbicara takut salah.
Bahkan bernapas pun ia merasa harus hati-hati agar tidak terdengar terlalu keras.
Mobil kembali dipenuhi keheningan.
Tidak ada yang berbicara.
Hanya suara mesin dan lalu lintas malam yang terdengar samar.
Bagi Hella, perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu lama terasa seperti berjam-jam.
Hingga akhirnya mobil memasuki area Hotel G.
Begitu mobil berhenti sempurna—
Hella langsung membuka pintu dan turun lebih dulu.
Seolah baru saja dibebaskan dari ruang interogasi.
Dave yang belum sempat keluar sedikit menoleh ke arah Hella.
Alisnya terangkat tipis melihat reaksi Hella yang begitu cepat turun dari mobil.
Namun seperti biasa, ia tidak mengatakan apa-apa.
*Dave.. Kau Jangan terlalu Kaku dan dingin, Bisa - bisa Hella kabuurrrr*
Tak lama kemudian semua orang keluar dari mobil.
Marcel segera mengambil alih situasi.
"Hella. Johan."
Keduanya langsung menoleh.
"Tuan Dave sudah memesan dua meja."
Marcel menunjuk ke arah area restoran hotel.
"Meja nomor delapan untuk kalian."
Johan mengangguk.
"Kalian boleh pesan apa saja yang ingin dimakan. Semua biaya ditanggung Tuan Dave."
Mata Hella sedikit membesar.
Namun Marcel belum selesai.
"Tapi..." lanjutnya tegas.
"Tuan Dave malam ini ada pertemuan penting di ruang VIP."
Nada suaranya berubah lebih serius.
"Jangan mengganggu beliau dengan hal-hal yang tidak penting."
Hella langsung mengangguk mengerti.
"Hummm"
Sedangkan Johan menjawab lebih formal.
"Baik, Pak."
Marcel mengangguk puas.
"Bagus kalau kalian mengerti."
Lalu ia memberi isyarat ke arah pintu masuk hotel.
"Kalau begitu masuklah. Cari sendiri meja kalian."
Sementara itu—
Dave sudah lebih dulu berjalan menjauh.
Langkahnya tenang dan pasti.
Dalam hitungan detik sosoknya menghilang di balik koridor menuju area VIP hotel.
Meninggalkan Hella dan Johan yang berdiri bersama di lobi.
"Meja delapan..." gumam Johan sambil melihat sekeliling.
Hella ikut memperhatikan.
Namun entah kenapa, sebelum melangkah menuju restoran, matanya sempat tanpa sadar mencari ke arah koridor tempat Dave menghilang tadi.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
ia bertanya-tanya.
Sebenarnya orang seperti apa majikannya itu di luar rumah dan pekerjaannya tidak bisakah di selesaikan di kantor..?
*Johan, Marcel and Dave 😁
biar gak tua-tua amat...kurang seru soalnya kalau ketuaan pemain nya 👍😁