NovelToon NovelToon
"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Bocah Cacat di Gudang Pembuangan

Tahun-tahun awal setelah keributan besar di Aula Gerhana itu berjalan lambat sekali. Rasanya seperti siksaan yang sengaja diulur-ulur oleh takdir. Bagi Ryuken kecil yang baru menginjak umur tiga tahun, bertahan hidup di atas batuan Akuma yang sedingin es bukanlah perkara mudah. Bocah malang itu tidak pernah diberi hak untuk memakai zirah pelindung atau minum ramuan herbal mahal dari tabib istana untuk menguatkan tulangnya. Perlindungan satu-satunya di dunia neraka ini hanyalah pelukan hangat dari ibunya, Hana, dan sisa-sisa pengaruh politik ayahnya yang semakin hari semakin dihancurkan oleh kelicikan orang-orang Sektor Delapan.

Dari balik bayangan, Tetua Kaelen benar-benar memotong semua pasokan makanan dan obat-obatan untuk anak pertama Juro itu. Anak-anak lain yang lahir bersamaan dengan Ryuken—termasuk Ren, saudara tirinya yang manja—sudah mulai diajarkan berdiri tegap di tengah lapangan latihan. Mereka dipasangi zirah pemberat sejak balita untuk membiasakan otot mereka menahan gaya gravitasi Akuma yang luar biasa berat. Sedangkan Ryuken? Bocah kurus itu dibiarkan bertarung sendirian melawan beratnya tekanan bumi hanya dengan mengandalkan tubuhnya yang ringkih tanpa alat bantu apa pun.

Kelainan pada jantungnya juga semakin hari semakin parah. Terkadang, dada kecil Ryuken bergetar hebat di luar kendali, memompa darah terlalu cepat hingga kulit tubuhnya yang pucat melepuh kemerahan karena menahan panas dari dalam. Tapi di waktu lain, detak itu mendadak berhenti. Jantungnya tidak berdetak total selama berjam-jam, seolah-olah nyawanya sudah hilang. Di malam-malam kritis seperti itu, Hana hanya bisa menangis dalam kesunyian. Ia memeluk erat tubuh mungil anaknya di atas tempat tidur bambu yang rapuh dan dingin, sambil menyalurkan sisa-sisa tenaga dalamnya dari telapak tangan. Hana bertaruh dengan nyawanya sendiri, menolak menyerah membiarkan ajal menjemput putranya secepat ini.

"Tatap baik-baik rongsokan daging yang lahir dari rahim madumu itu, Juro!" cemooh Renka suatu sore dengan nada suara yang sangat sinis. Wanita ambisius itu berjalan dengan keangkuhan seorang selir yang merasa di atas angin, melangkah melintasi lorong taman istana megah.

Di sampingnya, Ren kecil yang baru berumur tiga tahun sudah bisa berlari kencang, mengayunkan pedang kayu latihannya dengan lincah di bawah siraman badai hujan merkuri yang pekat. Senyum di wajah Renka begitu tajam, penuh kepuasan yang menusuk hati Hana yang sedang bersandar di tiang bangunan dengan tubuh lemas.

"Anak pertamamu bahkan tidak punya tenaga untuk sekadar menegakkan lehernya sendiri! Dewan Tetua sudah sepakat, minggu depan namanya akan dihapus dari daftar calon penerus takhta. Kursi emas Kuadran Utara ini hanya layak diduduki oleh ksatria sejati yang kuat seperti putraku, Ren!

Raja Juro Shinto yang berdiri tegap membelakangi mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas makian bising tersebut. Dia hanya mengepalkan sepuluh jarinya yang kasar hingga tiang batu setebal satu meter di samping lengan besinya retak seribu dan mengeluarkan suara yang dalam. Debu-debu batu hitam jatuh berguguran mengotori tanah. Pandangan matanya yang setenang kematian menatap lurus ke arah langit hitam di luar planet. Juro tahu, musuh-musuhnya sedang menyusun rencana rahasia untuk menyingkirkannya dari jabatan panglima perang. Waktu yang dia miliki untuk menjaga keluarganya semakin hari semakin menipis ditelan ketamakan para tetua.

Ketika usia Ryuken menginjak lima tahun, rencana jahat itu akhirnya ditunjukkan secara terang-terangan di depan umum. Atas keputusan bersama para tetua yang didukung penuh oleh pasokan senjata dari Kekaisaran Vorash, Ryuken resmi diusir secara paksa dari istana atas. Tubuh kecilnya yang kurus, pucat, dan lemas diseret kasar oleh dua pengawal berbaju besi tebal, lalu dilemparkan begitu saja ke sebuah gudang penyimpanan kayu yang lapuk, bocor, dan kotor di sudut paling belakang kompleks bangunan bawah. Sebuah tempat pembuangan untuk pelayan rendahan yang benar-benar terasing dari kemegahan dunia luar.

Lantai gudang tua itu terbuat dari batu hitam kasar tanpa selembar pun alas kain yang empuk. Lantai kotor itu terus-menerus memancarkan hawa dingin luar biasa yang menusuk langsung ke dalam tulang-tulangnya yang rapuh akibat siksaan gravitasi bumi Akuma yang kejam. Setiap kali Ryuken kecil mencoba bangkit berdiri menggunakan sepasang kakinya sendiri, sendi lututnya akan berbunyi kencang disertai rasa sakit yang luar biasa hebat. Tubuhnya akan langsung jatuh tersungkur kembali menabrak debu tanah kotor sambil memuntahkan darah segar dari mulut kecilnya. Baju hitam jahit tangan miliknya yang compang-camping selalu basah kuyup akibat rembesan air hujan merkuri mendidih yang menetes menembus celah atap seng gudang yang rusak ditiup angin badai.

Penderitaan fisik itu disempurnakan oleh kelicikan para juru masak istana yang sengaja memotong jatah makannya atas perintah kejam Renka. Setiap sore, Ryuken kecil hanya diberi jatah semangkuk bubur hambar yang sudah dingin dan berbau apek. Itu pun jika anak-anak lain tidak sengaja menendangnya ke dalam kubangan lumpur hitam hanya untuk dijadikan bahan tontonan dan ejekan kasar. Murid-murid muda yang telah dicuci otaknya oleh para tetua menjadikan kelemahan fisik Ryuken sebagai bahan hinaan. Mereka sering meludahi pundaknya yang kurus, menyebutnya sebagai sampah pembawa sial yang mengotori nama baik klan.

"Lihat si cacat pembawa aib itu! Dia bahkan tidak punya tenaga untuk mengangkat sebilah ranting kayu!" raung Ren kecil sambil melangkah maju menerobos pintu gudang yang rusak dengan langkah yang sangat angkuh. Wajahnya dipenuhi rasa sombong karena selalu dimanja oleh para tetua. Tanpa ada rasa kasihan sedikit pun pada saudaranya sendiri, Ren kecil melayangkan satu tendangan keras menggunakan tumit sepatunya tepat ke arah dada kiri Ryuken kecil yang sedang berlutut.

BRAK!

Hantaman kaki Ren melempar tubuh kecil Ryuken sejauh beberapa meter hingga punggung kurusnya membentur tiang kayu penyangga gudang sampai tiang itu berderit kencang. Ryuken terkapar di atas tanah kotor, napasnya tersengal-sengal menahan perih yang luar biasa di dadanya yang terasa seperti patah. Darah segar mengalir deras dari sudut bibirnya, membasahi baju hitamnya yang penuh noda debu jalanan.

Ren kecil tertawa terbahak-bahak bersama dengan belasan anak lainnya penuh rasa puas yang kejam. Mereka meludahi wajah pucat Ryuken sebelum berbalik arah untuk kembali ke aula latihan istana emas yang hangat. Mereka meninggalkan Ryuken sendirian di dalam kegelapan malam badai merkuri yang membeku, tanpa ada setitik pun obat untuk mengobati lukanya.

Namun, di tengah siksaan fisik yang sangat sadis itu, jiwa di dalam tubuh Ryuken kecil menolak untuk menyerah dan mati. Dia tidak pernah mengeluarkan satu tetes pun air mata keputusasaan atau berteriak memohon belas kasihan kepada dewan tetua. Di tengah rasa sakit fisiknya yang luar biasa hebat akibat tekanan berat bumi planet, Ryuken kecil perlahan memejamkan sepasang mata hitam legamnya di atas tanah kotor yang basah oleh darahnya sendiri. Ia menarik seluruh kesadarannya masuk ke dalam batin yang paling sunyi.

Di dalam kesunyian jiwanya yang terisolasi dari dunia luar, dia memfokuskan seluruh kekuatan hidupnya pada satu titik: jantung acaknya yang terus bergejolak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!