Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Perjalanan menuju Kampus Nusantara masih sekitar lima belas menit lagi. Jalanan mulai padat oleh bus kota, truk, dan sepeda motor yang saling berebut ruang. Zain mengurangi kecepatannya.
"Maaf ya, Pak. Macet."
"Tidak apa-apa. Justru saya lebih suka pelan."
Zain mengangguk. Beberapa detik berlalu dalam keheningan, sebelum pria tua itu kembali membuka suara.
"Kalau boleh tahu... kenapa memilih jadi pengemudi?"
Zain tertawa kecil. "Memilih sih enggak, Pak."
"Oh?"
"Saya nyari kerja ke mana-mana, belum ada yang nyangkut."
"Lulusan apa?"
"Diploma Teknik Mesin."
Pria tua itu tampak sedikit terkejut. "Teknik Mesin?"
"Iya, Pak."
"Kenapa tidak bekerja di pabrik?"
"Sudah coba, ditolak. Perusahaan lain... ditolak juga. Cobain tempat lain lagi, masih sama."
Nada bicara Zain tetap santai, seolah sudah terlalu sering menceritakan kepahitannya hingga tak lagi terasa menyakitkan. "Akhirnya, ya... narik."
Pria tua itu terdiam. Tatapannya lurus ke depan. "Cari kerja sekarang memang sesulit itu, ya..."
Zain menghela napas. "Kalau kata kakek saya, dulu mah gampang, Pak. Beliau selalu bilang zaman delapan puluhan sama sembilan puluhan itu enak. Kerja gampang, harga murah, hidup tenang."
Pria tua itu tersenyum tipis. "Hm..."
"Kadang saya mikir..." Zain melanjutkan.
"Mikir apa?"
"Kayaknya saya salah lahir."
Pria tua itu terkekeh pelan. "Salah lahir?"
"Iya. Coba kalau saya lahir tahun delapan puluhan, mungkin sekarang hidup saya sudah mapan."
Motor mereka kembali terhenti di lampu merah. Pria tua itu memandang ke luar, memperhatikan seorang bapak yang menjajakan tisu di bawah sengatan panas. Beberapa mobil rapat menutup kaca, tak ada satu pun yang membeli.
Pria tua itu menghela napas pelan. "Lalu... kalau benar ada kesempatan kembali ke masa itu, apa yang akan kamu lakukan?"
Tanpa berpikir panjang, Zain menjawab, "Saya mau cari kerja. Kerja yang rajin, nabung, beli rumah..." Ia terdiam sejenak. "Terus nikah."
Pria tua itu tersenyum lebih lebar. "Sederhana."
"Iya, Pak. Buat saya itu sudah cukup."
Lampu berubah hijau dan motor kembali melaju. Tak lama kemudian, mereka tiba di gerbang Kampus Nusantara. Zain menghentikan motornya di depan sebuah gedung tua yang berdiri agak terpisah dari bangunan lain. Gedung itu tampak kuno dengan dinding dipenuhi tanaman rambat. Di depannya terpasang papan kecil bertuliskan: *Pusat Riset Teknologi Eksperimental*.
Pria tua itu turun sambil mengangkat koper aluminiumnya. "Terima kasih, Zain."
"Sama-sama, Pak."
Pria itu tidak langsung pergi. Ia menatap Zain selama beberapa detik. "Lain kali kalau saya pesan lagi... boleh minta kamu yang mengantar?"
Zain sedikit bingung. "Kalau kebetulan dapat ordernya, tentu boleh, Pak."
Pria itu mengangguk puas. "Lalu..." Ia tersenyum penuh arti. "Jangan terlalu cepat percaya kalau semua cerita orang tua itu benar. Kadang... yang mereka ingat hanya bagian indahnya saja."
Setelah berkata demikian, pria itu berbalik dan berjalan memasuki gedung tua. Zain terus memandangi punggungnya yang menghilang di balik pintu.
Ucapan itu terasa bertolak belakang dengan cerita-cerita kakeknya. Ini sosok pertama yang hidup di era tersebut, tetapi tidak sepenuhnya setuju bahwa masa lalu selalu lebih baik.
"Order selesai."
Zain menekan tombol di layar aplikasi. Tak lama kemudian, notifikasi masuk.
★★★★★
*Pengemudi ramah dan berkendara dengan nyaman.*
Zain tersenyum lega. "Alhamdulillah."
Sisa hari itu berlalu seperti biasa. Ia mengantar pegawai kantor yang sibuk menatap laptop, mahasiswa yang terburu-buru mengejar kelas, hingga seorang anak kecil yang tak berhenti bercerita tentang robot kesayangannya.
Menjelang magrib, Zain akhirnya tiba di rumah.
...
"Kakek."
"Pulang juga kamu."
Kakeknya sedang menyiram tanaman cabai di depan rumah. Zain segera mengambil selang lain lalu membantu menyiram.
"Kek."
"Hm?"
"Tadi aku ketemu penumpang unik."
"Oh, ya?"
"Profesor kayaknya."
"Profesor?"
"Iya, ngantarnya ke kampus. Tapi orangnya agak aneh."
"Kenapa?"
"Dia bilang jangan terlalu percaya cerita orang tua. Katanya yang diingat cuma bagian indahnya aja."
Kakeknya terkekeh pelan. "Ya... dia ada benarnya."
Zain menoleh heran. "Lho?"
"Tapi bukan berarti Kakek bohong. Kakek cuma cerita apa yang Kakek rasain. Setiap orang punya pengalaman beda-beda."
Zain mengangguk pelan. Ia menyadari satu hal: selama ini ia menganggap masa lalu indah untuk semua orang, padahal belum tentu.
...
Dua hari kemudian, pukul sembilan pagi.
"Ting!"
Order baru masuk. Nama penumpang di layar membuat Zain mengernyit: **Prof. Surya**.
"Eh..." Zain bergumam. Bukankah ini profesor yang kemarin?
Ia segera menerima order tersebut. Lokasi penjemputannya sama—sebuah rumah tua berpagar besi dengan pohon mangga besar di halaman. Begitu Zain tiba, gerbang sudah terbuka. Profesor Surya berjalan keluar sambil membawa koper aluminium yang sama.
"Selamat pagi, Zain."
"Pagi, Pak."
Profesor itu langsung naik ke jok belakang.
"Hari ini ke kampus lagi, Pak?"
"Iya."
Motor kembali melaju. Kali ini suasananya terasa lebih santai. Profesor Surya bahkan sempat bertanya tentang motor yang dikendarai Zain.
"Motor tahun berapa?"
"Dua ribu dua puluh, Pak."
"Masih orisinal?"
"Iya."
"Rajin servis?"
"Harus, Pak. Ini aset utama," sahut Zain tertawa. "Kalau mogok, saya enggak makan."
Profesor ikut tersenyum. "Bagus itu."
Sepanjang jalan, obrolan mereka mengalir ke dunia mesin. Baru kali ini Zain bertemu penumpang yang benar-benar memahami otomotif. Profesor bahkan tahu seluk-beluk cara kerja CVT, sistem injeksi, hingga sejarah perkembangan mesin motor di Indonesia.
"Wah, Bapak hafal banget."
"Dulu saya juga suka bongkar-bongkar motor."
"Lah, profesor kok ngoprek motor?"
Profesor tertawa pelan. "Seorang ilmuwan harus suka membongkar banyak hal."
Jawaban sederhana itu entah kenapa terus membekas di pikiran Zain.
Sesampainya di kampus, Profesor Surya turun. Sebelum melangkah masuk ke gedung riset, ia menoleh kembali ke arah Zain.
"Hari Kamis biasanya saya berangkat jam yang sama."
Zain berkedip ragu. "Oh... baik, Pak."
Profesor tersenyum tipis. "Bukan memesan, hanya memberi tahu."
Ia kemudian berbalik dan berjalan masuk. Zain memperhatikan kepergiannya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Aneh juga orang tua itu..."
Zain kembali mengenakan helmnya. Tak lama berselang, bunyi *ting!* menandai orderan berikutnya. Ia langsung menarik gas, tanpa menyadari bahwa mulai hari itu, nama Prof. Surya akan menjadi pemandangan rutin di layar ponselnya setiap Selasa dan Kamis pagi.
Dari obrolan-obrolan singkat di atas jok motor itulah, sebuah persahabatan yang tak terduga perlahan mulai tumbuh.