"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022: Batu Palsu Membanjiri Pasar
"Mas Bayu, pasar sedang sakit."
Pak Gunawan datang ke ruko CV Prasetyo pada hari ke-45 dengan wajah yang biasanya hanya muncul ketika orang melihat batu bagus berubah menjadi kerikil. Di tangannya ada kotak plastik berisi tiga cincin, dua liontin, dan satu batu hijau yang sudah dibuka jendela.
Rizal menutup pintu ruang pemeriksaan. Budi langsung menyalakan kamera dokumentasi.
"Semua dari pembeli berbeda?" tanya Bayu.
"Berbeda. Tapi keluhannya sama. Katanya Bacan tua, katanya giok bagus, katanya sertifikat lengkap. Harga tidak kecil. Ada yang jual motor untuk beli."
Bayu mengambil satu cincin dengan pinset. Dari luar, warnanya hidup. Seratnya bahkan tampak alami bagi mata biasa. Namun ketika Mata Dewa menyala, bagian dalamnya memberi jawaban lain.
Struktur warna terlalu rata.
Garis retak berhenti pada lapisan atas.
Di pori halus, ada jejak bahan pengisi yang sama seperti benda di toko Herman.
Bayu membuka dua sampel lain. Polanya berulang.
"Ini satu sumber."
Gunawan menegang. "Saya juga sempat lolos satu. Untung belum saya jual lagi."
"Kualitas palsunya jauh di atas barang pasar biasa," kata Bayu. "Formula pengisi, penuaan warna, dan retak buatannya mirip dengan high-grade replica di Balai Pusaka."
Budi memotret setiap benda dengan nomor sampel. "Kita buat database. Pemilik, harga beli, penjual terakhir, sertifikat, nomor rekening jika ada."
"Jangan ada sampel keluar dari meja tanpa label," tambah Rizal. "Kalau nanti jadi bukti, urutannya harus bersih."
Hendra masuk dari bawah sambil membawa map. "Aku baru dari Kembang Jepun. Rek, antreannya panjang kalau kita buka hari pemeriksaan gratis."
Bayu menatapnya.
Hendra mengangkat kedua tangan. "Maksudku pemeriksaan gratis. Lidahku ikut panik."
Keputusan dibuat hari itu juga.
CV Prasetyo dan Toko Zamrud Nusantara mengumumkan hari pemeriksaan gratis untuk korban dugaan batu palsu. Keluarga Wibowo membantu meminjamkan aula kecil di belakang toko jaringan mereka, tetapi Intan meminta satu syarat: tidak ada penjual yang disebut di depan umum sebelum bukti cukup.
"Kita menolong orang dulu," katanya. "Jaga kerumunan tetap tenang."
Pagi berikutnya, antrean sudah memanjang sebelum pintu dibuka.
Antrean itu berisi pegawai kantor dengan cincin tunangan, ibu-ibu yang menyimpan batu suaminya di kotak bedak, mahasiswa korban penjual liontin daring, dan pensiunan yang telah menghabiskan tabungan.
Di meja pendaftaran, Rizal memberi nomor antrean dan meminta setiap orang menulis asal pembelian tanpa berteriak. Hendra menjaga pintu sambil mengulang kalimat yang sama berkali-kali.
"Tenang, rek. Kita periksa dulu. Kalau palsu, jangan langsung serbu toko. Nanti bukti rusak, uang makin jauh."
Beberapa orang datang dengan marah. Beberapa datang dengan malu. Ada yang masih berharap Bayu berkata barang mereka asli, seolah satu kalimat bisa menyelamatkan harga diri mereka di rumah.
Bayu memeriksa satu per satu. Tidak semua palsu. Beberapa hanya kualitas rendah yang dijual terlalu mahal. Tetapi puluhan sampel menunjukkan pola sama: pengisian, pewarnaan, penuaan, dan sertifikat yang terlalu rapi.
Yang paling membuat ruangan dingin adalah sertifikatnya.
Budi memasukkan nomor ke database terbuka lembaga pemeriksa.
Nomor, nama batu, dan tanggalnya tercatat dengan benar.
Tetapi foto dan beratnya mengarah ke benda lain.
"Sertifikat tempelan," gumam Rizal. "Sertifikat asli dipakai untuk barang yang salah."
Bayu mengangguk. "Satu sertifikat benar bisa menjadi topeng untuk puluhan barang palsu."
Seorang bapak tua duduk lama setelah mendengar batunya palsu. Ia tidak marah. Ia hanya menatap kuitansi kusut di tangannya.
"Saya beli untuk cucu, Mas. Katanya nanti bisa jadi tabungan."
Bayu menutup kotak itu dengan hati-hati.
"Pak, saya tidak bisa mengembalikan uang hari ini. Tapi kami bisa mencatat jalurnya. Kalau cukup banyak korban dari penjual yang sama, kita punya dasar untuk somasi dan laporan."
Bapak itu mengangguk pelan. "Yang penting jangan ada orang lain kena."
Kalimat itu membuat Hendra, yang biasanya paling ramai, diam cukup lama.
Selama tiga hari, mereka mencatat lebih dari seratus sampel. Tiga puluh tujuh di antaranya memiliki pola Bengkel yang sama. Dua puluh satu memakai sertifikat asli milik barang lain. Aliran pembelian berulang pada tiga pintu grosir, semuanya mengarah ke Jakarta melalui pedagang perantara.
Budi tidak langsung menyebut itu bukti pidana. Ia menempelkan kartu warna di papan tulis: merah untuk barang palsu dengan pola sama, kuning untuk harga berlebihan, biru untuk sertifikat yang cocok, hitam untuk sertifikat tempelan.
Setiap sampel mendapat nomor registrasi, foto empat sisi, nama pemilik, serta catatan siapa yang terakhir memegangnya. Barang yang bersedia diserahkan untuk pemeriksaan dimasukkan ke kantong terpisah dan disegel di depan pemilik. Budi ingin jalur bukti mereka tetap utuh jika perkara ini kelak masuk ruang sidang.
"Kalau kita mau melapor nanti, kita butuh korban, barang, jalur transaksi, dan pola yang berulang," katanya. "Marah saja tidak cukup."
Gunawan berdiri di dekat pintu, wajahnya muram. "Kalau penipuan dibiarkan, besok orang baik ikut tidak dipercaya. Kerugian satu orang akan merusak seluruh pasar."
Bayu memandang antrean yang belum habis. Hari itu ia mengerti mengapa Hartono bicara tentang kepercayaan seperti orang bicara tentang nyawa.
Di papan tulis ruko, Budi menarik garis dari korban, toko kecil, reseller online, hingga tiga nama pemasok.
Rizal berdiri di sampingnya.
"Kita sedang memegang ujung tali yang masuk ke jaring besar."
Bayu menatap garis-garis itu.
"Kalau begitu, cepat atau lambat kita harus melihat siapa yang menariknya."
Sore itu, di ruang berbeda, Intan membawa map kerja sama.
Logo sementara di halaman pertama tertulis: Cahaya Timur Jewelry.
"Wibowo menyediakan kanal desain, etalase, dan pelanggan lama," kata Intan. "CV Prasetyo menyediakan sumber batu, pemeriksaan, dan quality control. Setiap sertifikat harus melewati verifikasi dua lapis. Lampiran saja tidak cukup."
Budi membaca pasal demi pasal. Rizal memeriksa tanggung jawab komplain. Bayu melihat satu klausul yang ditandai Intan.
Jika terdapat keraguan atas asal dan kualitas batu, produk tidak boleh dijual dengan nama Cahaya Timur.
"Keras," kata Bayu.
"Nama baik lebih mahal daripada margin pertama," jawab Intan.
"Ada satu lagi," kata Budi. "Semua batu masuk harus punya foto sebelum potong, foto setelah potong, nomor internal, pemasok, dan status sertifikat. Kalau ada komplain, kita bisa mundur sampai orang pertama yang membawa barang."
Intan mengangguk. "Setuju. Cahaya Timur tidak boleh lahir sebagai merek cantik tapi buta."
Bayu menatap papan nama sementara itu. Cahaya berarti barang yang bisa diperiksa tanpa takut.
Hartono akan menyukai kalimat itu.
Mereka menandatangani kerja sama awal malam itu di antara empat gelas teh, satu map, dan papan tulis penuh garis merah menuju Jakarta.
Di luar ruko, beberapa korban masih menunggu hasil pemeriksaan. Untuk pertama kalinya, Bayu melihat perusahaannya sebagai tempat orang mencari kepastian sekaligus keuntungan.
Kadang, mata yang tajam harus menjadi payung untuk orang yang matanya sudah dibuat percaya pada kebohongan.