NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Katanya Menantu Harus Tahu Diri

Aku hanya bisa mengembuskan napas panjang setelah Dinda pergi sambil menggerutu. Tumpukan pakaian kotornya masih tergeletak di samping ember, sengaja ditinggalkannya begitu saja. Aku menatap pakaian itu beberapa detik, lalu kembali mengucek pakaian milikku dan pakaian Mas Viyan.

Bukan karena aku tak mampu mencucinya, tetapi karena aku ingin mereka mengerti bahwa aku bukan pembantu di rumah ini.

Setelah selesai mencuci, aku membilas pakaian-pakaian itu satu per satu, lalu memerasnya hingga air menetes ke lantai. Tanganku mulai memerah karena terlalu lama terkena sabun. Baru saja aku hendak membawa ember ke halaman belakang untuk menjemur pakaian, suara pagar rumah terdengar dibuka.

"Ibu pulang!" seru Dinda dari ruang tamu.

Aku menoleh. Bu Mirna masuk sambil membawa beberapa kantong belanja. Wajahnya tampak ceria, mungkin karena arisannya berjalan menyenangkan.

"Fitri!" panggilnya.

"Iya, Ma."

"Tolong bawakan belanjaan Mama."

"Iya."

Aku segera meletakkan ember dan menghampiri Bu Mirna. Baru saja kantong belanja itu berpindah ke tanganku, pandangan Bu Mirna berhenti pada tumpukan pakaian Dinda yang masih berada di dekat kamar mandi.

"Kok baju Dinda masih di situ?"

Aku menarik napas pelan.

"Itu baju Dinda sendiri, Ma."

"Maksudnya?"

"Tadi Dinda minta aku mencuci kan, tapi aku bilang biar Dinda cuci sendiri. Kan dia sudah besar."

Wajah Bu Mirna langsung berubah.

"Apa? Kamu nyuruh Dinda nyuci sendiri?"

"Bukan nyuruh, Ma. Aku cuma bilang kalau dia sudah dewasa."

"Fitri." Nada bicara Bu Mirna mulai meninggi. "Kamu tinggal di rumah Mama. Masa diminta bantu sedikit saja keberatan?"

Aku masih berusaha menjaga nada bicaraku.

"Aku sudah bantu banyak, Ma. Aku masak, bersih-bersih rumah, belanja, cuci baju aku sama Mas Viyan. Tapi kalau semua baju Mama sama Dinda juga harus aku yang cuci setiap hari, aku juga capek."

"Capek?" Bu Mirna tertawa sinis. "Baru juga jadi ibu rumah tangga sudah bilang capek."

Aku menggigit bibir bawahku.

"Ma, aku bukan tidak mau membantu...."

"Kalau tinggal di rumah orang, ya harus tahu diri!"

Kalimat itu membuat dadaku sesak.

Rumah orang?

Bukankah ini juga rumah suamiku?

Bukankah Mas Viyan juga ikut membayar listrik, air, dan kebutuhan rumah?

Kenapa aku selalu dianggap hanya menumpang?

Aku memilih diam. Percuma menjelaskan kalau akhirnya aku tetap dianggap salah.

Bu Mirna mendengus kesal, lalu mengambil sendiri pakaian Dinda.

"Sudah, sini. Mama saja yang cuci. Kasihan anak Mama kuliah dari pagi sampai sore, masih disuruh nyuci."

Dinda yang berdiri di dekat pintu langsung tersenyum menang.

"Iya, Ma. Aku capek kuliah."

Aku menahan diri agar tidak ikut tertawa mendengar alasan itu. Setahuku, pagi tadi Dinda berangkat hampir siang, bahkan sempat pergi bersama pacarnya. Namun aku memilih masuk ke kamar daripada memperpanjang masalah.

**

Menjelang sore, aku mulai menyiapkan makan malam. Hari ini aku memasak tumis buncis, ikan goreng, dan sayur bening. Meski suasana hatiku sedang buruk, aku tetap ingin Mas Viyan pulang dan makan dengan tenang. Tak lama kemudian, suara motor yang sangat kukenal berhenti di depan rumah. Mas Viyan pulang.

Aku segera keluar menyambutnya.

"Assalamualaikum, Mas."

"Waalaikumsalam."

Seperti biasa, aku mencium tangannya. Namun kali ini senyumku tak selebar biasanya.

"Mas, mandi dulu ya. Habis itu makan."

"Iya sayang. Laper banget ini, pengen makan masakan istriku."

"Mas ini.. ayo masuk mas"

Belum sempat Mas Viyan melangkah ke kamar, Bu Mirna keluar dari ruang tengah.

"Yan, sini dulu."

"Iya, Ma?"

"Mama mau ngomong."

Aku bisa menebak ke mana arah pembicaraan itu.

Mereka duduk di ruang tamu. Aku tetap berada di dapur, tetapi suara Bu Mirna terdengar jelas.

"Istri kamu sekarang sudah berani nyuruh Dinda nyuci sendiri."

"Memangnya kenapa, Ma?"

"Loh, Dinda kan kuliah. Masa pulang kuliah masih disuruh nyuci? Mama saja enggak tega."

Aku mengepalkan tangan. Bukan begitu kenyataannya.

"Terus istri kamu bilang dia bukan pembantu di rumah ini."

Aku terbelalak. Aku tidak pernah mengatakan kalimat itu.

Beberapa menit kemudian, Mas Viyan masuk ke dapur.

"Sayang."

"Iya, Mas."

"Kita ngobrol sebentar."

Aku mengangguk lalu mengikutinya ke kamar. Begitu pintu ditutup, Mas Viyan duduk di tepi ranjang.

"Sayang, tadi Mama cerita."

"Aku tahu."

"Benarkah kamu menyuruh Dinda nyuci sendiri?"

"Iya."

"Kamu marah sama dia?"

"Enggak."

"Lalu?"

Aku menarik napas panjang.

"Mas, aku cuma bilang Dinda sudah dewasa. Masa semua harus aku kerjakan? Aku juga punya tenaga yang terbatas."

Mas Viyan mengusap tengkuknya.

"Mas paham."

Aku sedikit lega mendengar jawaban itu.

"Tapi...."

Hatiku kembali tidak enak.

"Dinda masih kuliah, Sayang. Kasihan kalau pulang masih harus nyuci."

Aku menatap wajah suamiku beberapa saat.

"Lalu aku, Mas?"

"Maksudnya?"

"Aku dari pagi bersih-bersih rumah, masak, belanja, nyuci, beberes. Apa capek ku enggak kelihatan?"

Mas Viyan terdiam.

"Aku enggak masalah membantu, Mas. Tapi aku juga manusia."

Suamiku meraih tanganku.

"Mas tahu kamu capek. Makanya, mengalah dulu ya."

Lagi.

Kalimat itu lagi.

Aku tersenyum tipis meski rasanya ingin menangis.

"Iya, Mas."

Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.

***

Malam mulai larut. Setelah semua pekerjaan selesai, aku membuka sedikit jendela kamar karena udara terasa pengap. Dari luar terdengar suara beberapa ibu sedang mengobrol di teras rumah. Sepertinya Bu Mirna baru pulang mengantar salah satu temannya.

"Bu Mirna, sekarang enak ya sudah punya menantu."

Aku menghentikan gerakan tanganku.

Suara Bu Mirna terdengar jelas.

"Enak dari mana, Bu."

"Loh, bukannya sekarang ada yang bantu kerjaan rumah?"

Bu Mirna menghela napas panjang dengan sengaja.

"Namanya juga menantu zaman sekarang. Disuruh bantu sedikit saja banyak alasannya. Maunya dilayani terus."

"Ih, masa sih?"

"Iya. Saya juga bingung. Padahal saya anggap sudah seperti anak sendiri."

Aku membeku. Jantungku berdegup semakin kencang.

Jadi...

Selama ini Bu Mirna menceritakan hal-hal seperti ini kepada tetangga? Aku menutup mulutku sendiri agar isak tangisku tidak terdengar. Ternyata bukan hanya di dalam rumah aku harus menahan sakit. Di luar sana... Nama baikku juga mulai dihancurkan.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!