Riski seorang Fans Sepak bola fanatic saat pulang nonton pertandingan di tabrak mobil dan akhirnya terlempar Ke Dunia Lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Derby Nusantara dan Sumpah di Tanah Hanoi
September 2016 menjadi saksi bagaimana nama Riski berubah dari sekadar talenta muda menjadi momok yang menakutkan di kawasan Asia Tenggara. Setelah menyapu bersih fase grup dengan rekor sempurna, takdir mempertemukan Indonesia dengan rival abadi mereka: Malaysia. Laga semifinal yang digelar pada 22 September 2016 di Stadion Hang Day, Hanoi, ini bukan sekadar pertandingan sepak bola; ini adalah Derby Nusantara yang mempertaruhkan harga diri bangsa.
Malam itu, suhu di Hanoi terasa lembap, namun tensi di dalam stadion sudah mencapai titik didih. Media-media Malaysia mulai melancarkan perang urat saraf, menyebut bahwa ketergantungan Indonesia pada satu pemain (Riski) akan menjadi bumerang. Di sisi lain, ribuan suporter Indonesia yang melakukan away days ke Vietnam tak berhenti menyanyikan lagu-lagu penyemangat, membuat atmosfer terasa seperti di Jakarta.
Riski berdiri di lorong pemain, menatap lurus ke depan. Di depannya, barisan pemain Malaysia tampak melakukan latihan-latihan kecil dengan tatapan provokatif. Namun, dengan atribut 'GOAT' yang baru saja ia dapatkan, Riski tetap tenang. Ketenangannya begitu dingin, hampir seperti predator yang sedang mengamati mangsanya.
Tiba-tiba, layar sistem berwarna emas muncul kembali, memberikan denting yang jauh lebih keras dari biasanya.
[Ding! Misi Harga Diri Bangsa Aktif!]
[Nama Misi: Penakluk Harimau Malaya]
[Tujuan: Cetak 4 Gol (Quat-trick) ke gawang Malaysia!]
[Hadiah Misi:]
Seluruh Statistik meningkat 5 Poin
Uang Cash Rp 100.000.000 (Otomatis masuk ke Inventory)
Riski menarik napas dalam-dalam. Mencetak empat gol dalam sebuah laga semifinal Derby Nusantara adalah permintaan yang gila. Namun, sistem seolah tahu bahwa kebencian dan rivalitas ini adalah bahan bakar terbaik bagi Riski untuk melampaui batas kemampuannya.
Babak Pertama: Badai dari Bau-Bau
Peluit dibunyikan, dan Malaysia langsung menerapkan permainan fisik yang sangat kasar. Mereka sadar bahwa satu-satunya cara menghentikan Riski adalah dengan tidak membiarkannya berdiri tegak. Baru dua menit berjalan, Riski sudah dijatuhkan dengan tekel keras dari belakang. Ia bangkit tanpa ekspresi, hanya menatap bek Malaysia tersebut dengan pandangan yang membuat lawan bergidik.
Menit ke-15, momen itu dimulai. Riski menerima umpan pendek di lini tengah. Ia melakukan akselerasi yang tidak masuk akal (Pac: 65), melewati dua gelandang lawan seolah mereka adalah tiang diam. Dari jarak 20 meter, ia melepaskan tendangan placing yang melengkung indah ke pojok kanan gawang. Gol ke-1 terkunci.
Hanya berselang sepuluh menit, Riski kembali beraksi. Memanfaatkan kesalahan komunikasi lini belakang Malaysia, ia mencuri bola, mengecoh kiper dengan satu gerakan tipu, dan menceploskan bola ke gawang kosong. Gol ke-2 terkunci.
Stadion bergemuruh. Suporter Malaysia terdiam, sementara tribun Merah Putih menggila. Riski tidak merayakan secara berlebihan; ia langsung mengambil bola dari jaring dan membawanya kembali ke titik tengah. Ia butuh dua gol lagi.
Babak Kedua: Dominasi Sang GOAT
Memasuki babak kedua, Malaysia mencoba bangkit. Mereka memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1 lewat skema tendangan bebas. Tekanan mulai terasa di pundak para pemain Indonesia lainnya, namun 'National Hero Aura' milik Riski bekerja. Ia menepuk pundak rekan-rekan pertahanannya, memberikan ketenangan yang seketika meredakan kepanikan.
Menit ke-65, Indonesia mendapatkan hadiah penalti setelah Riski dijatuhkan di kotak terlarang. Menghadapi provokasi kiper lawan, atribut 'GOAT' membuat detak jantung Riski tetap stabil. Ia mengambil ancang-ancang pendek dan melepaskan tendangan keras ke arah tengah yang merobek jaring gawang. Gol ke-3 terkunci (Hattrick).
Malaysia semakin frustrasi. Mereka mulai bermain sangat brutal. Riski beberapa kali harus menghindar dari injakan dan sikutan pemain lawan. Namun, kecerdasannya dalam mencari ruang sulit dibendung.
Menit ke-88, saat semua orang mengira laga akan berakhir 3-1, keajaiban muncul. Riski melakukan kerja sama satu-dua yang apik dengan Saddil Ramdani. Di depan kotak penalti, Riski dikepung empat pemain. Dengan kontrol bola yang mustahil (Dri: 72), ia melakukan flick bola melewati kepala bek lawan, berputar, dan melepaskan tendangan voli tanpa melihat gawang.
Bola bersarang telak di pojok kiri atas. Stadion Hang Day seolah runtuh oleh teriakan suporter Indonesia. Quat-trick! Gol ke-4 terkunci - MISI BERHASIL!
[Ding! Misi 'Penakluk Harimau Malaya' SELESAI!]
[Seluruh Statistik Meningkat 5 Poin!]
[Bonus Rp 100.000.000 Telah Ditambahkan ke Inventory!]
Peluit panjang berbunyi. Skor akhir 4-1 untuk kemenangan telak Indonesia. Para pemain Malaysia jatuh terduduk, tak percaya bahwa mereka baru saja dihancurkan oleh seorang remaja berusia 16 tahun sendirian. Riski berjalan ke arah tribun suporter Indonesia, membungkuk hormat, dan mencium lambang Garuda di dadanya.
Statistik Riski (Usia: 16 Tahun - Pasca Semifinal AFF):
Pac (Speed): 70 (+5)
Sho (Shooting): 82 (+5)
Pas (Passing): 74 (+5)
Dri (Dribbling): 77 (+5)
Def (Defending): 72 (+5)
Phy (Physical): 75 (+5)
Overall: 75.0
Informasi Keuangan & Aset (Inventory):
Saldo Sebelumnya: Rp 250.000.000
Hadiah Misi: Rp 100.000.000
Total Saldo Saat Ini: Rp 350.000.000
Aset Tetap: 1 Jet Pribadi, 1 Rumah di Catalunya, 1 Apartemen di Barcelona, 1 Toyota (di Panti).
Malam itu di hotel, Riski membuka laptopnya. Ia melihat saldo investasinya yang terus membengkak hingga 350 juta rupiah. Namun, matanya lebih tertuju pada berita bahwa Indonesia akan menghadapi Thailand di laga final. Ia tahu, Thailand yang ia kalahkan di fase grup pasti akan datang dengan strategi pembalasan yang jauh lebih matang.
Dengan statistik Overall: 75, Riski kini sudah setara dengan pemain inti di tim papan tengah La Liga Spanyol. Di level Asia Tenggara, ia adalah dewa di tengah lapangan hijau. Namun, rasa lapar itu belum padam. Ia ingin mempersembahkan trofi pertama bagi Indonesia.
"Empat gol untuk Malaysia hanyalah pesan," gumam Riski sambil menatap medali final yang belum ia miliki. "Pesan bahwa era baru sepak bola Indonesia telah tiba, dan aku adalah ujung tombaknya."
Ia mematikan lampu kamar, membiarkan tubuhnya beristirahat untuk satu pertempuran terakhir di Hanoi. Pertempuran yang akan menentukan apakah ia akan pulang sebagai pahlawan atau hanya sebagai talenta yang gagal di saat kritis.