Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 neraka daun meran dan puing kesombongan faksi naga
Angin badai yang menderu di luar batas tembok gerbang utara Kota Provinsi Awan Darah tidak lagi sekadar membawa rintik hujan dingin, melainkan telah menjelma menjadi pusaran kabut kelabu yang sarat akan aroma kematian. Di kejauhan, bentangan Lembah Maple Berdarah tampak menyerupai lautan merah yang mengamuk di bawah terkaman langit malam. Daun-daun maple berwarna merah darah gugur berhamburan, terhempas badai topan, lalu menyatu dengan tanah lumpur merah yang becek, menciptakan pemandangan neraka dunia yang mencekam jiwa siapa pun yang berani melangkah masuk.
Di tengah kegelapan lembah sempit tersebut, sebuah pedati logistik raksasa bergerak dengan ritme yang konstan, melindas batuan kerikil tajam dengan suara berderit yang berat. Keempat ekor Kuda Bersisik Hitam yang menarik pedati itu sesekali mendengus rendah, mengeluarkan kepulan uap putih berbau belerang dari lubang hidung mereka, merespons tekanan energi spiritual alam yang semakin tajam dan mengunci di sepanjang rute ngarai sempit di depan.
Yan Xinghe berdiri tegak lurus di atas papan kemudi depan pedati, membiarkan jubah sutra hitamnya yang basah kuyup berkibar liar ditiup angin badai. Wajah pucatnya tetap tenang tanpa ekspresi sedikit pun, sepasang mata gelap tak berdasarnya menatap lurus menembus kabut malam yang pekat. Di punggungnya, **Pedang Berat Tanpa Bilah** dari material **Meteorit Bintang Kegelapan** memancarkan getaran frekuensi mikro yang sangat halus, menguapkan rintik air hujan tepat tiga inci sebelum sempat menyentuh permukaan logam hitam legam tersebut.
Di dalam pusat Dantian perut bawahnya, sebuah keajaiban kultivasi tingkat kosmik sedang berputar dengan keagungan mutlak. Butiran mutiara padat berwarna perak-emas—tanda esensi dari pencapaian **Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Pertama** yang baru saja dirajutnya melalui asimilasi *Cairan Air Mata Naga Emas*—memancarkan pancaran rona emas pasif yang menyelimuti seluruh jaringan organ dalamnya. Sembilan Meridian Petir miliknya kini mengalir deras, memompa energi campuran guntur murni, api Gagak Emas, dan esensi naga purba dengan kestabilan mutlak yang tidak lagi terpengaruh oleh kelelahan fisik fana.
Ye Ling’er yang duduk memegang kendali tali kekang kuda di samping Xinghe tiba-tiba menarik tuas rem kayu dengan hentakan tajam. Pedati logistik itu perlahan melambat, lalu berhenti total tepat di tengah-tengah area terbuka ngarai yang dikelilingi oleh pilar-pilar batu hitam vulkanik.
"Mereka sudah berada di depan kita, Penatua Yan," bisik Ye Ling’er dengan suara yang sangat rendah, matanya yang cerah menyipit tajam menatap ke arah rimbunnya pohon maple merah di ujung ngarai. "Indra informasiku melacak setidaknya ada lima puluh titik napas energi meridian yang terkunci rapat ke arah posisi berdiri kita saat ini. Dan di tengah-tengah mereka... ada dua tekanan Inti Mistik yang sangat pekat."
Xinghe tidak membalas menggunakan kata-kata lisan. Ia melompat turun dari atas papan kemudi dengan gerakan yang sangat ringan nyaris tanpa suara, mendarat di atas tanah lumpur merah yang becek. Tangan kanannya menjuntai lemas ke bawah, sementara sisa-sisa kesadaran spiritualnya melesat keluar menyapu seluruh perimeter lembah dalam hitungan milidetik. Penguasaan persepsi tingkat kaisar miliknya langsung membaca tata letak jebakan musuh layaknya garis telapak tangan sendiri.
Dari balik keremangan bayangan pohon maple merah dan celah-celah pilar batu vulkanik, sesosok demi sesosok pria berpakaian jubah perang sutra biru dengan corak sulaman taring serigala di dada kirinya melangkah keluar secara perlahan. Mereka bergerak dengan disiplin pembunuh bayaran yang ketat, memegang golok melengkung bermata lebar yang permukaannya dialiri oleh energi spiritual elemen api korosif yang membakar rintik hujan di sekelilingnya.
Lima puluh praktisi elit Korps Pembunuh Klan Mu wilayah dalam. Seluruh kekuatan tempur tersembunyi yang dibawa oleh Mu Tianshu untuk mengamankan jalur komersial kota provinsi.
Berdiri paling depan di antara barisan pembunuh tersebut adalah Mu Tianshu. Pemuda pewaris klan bangsawan itu mengenakan jubah perang sutra emas yang sangat mencolok, wajah tampannya yang penuh keangkuhan kini dirusak oleh gurat kebencian murni yang meledak-ledak. Di samping kanannya, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan jubah abu-abu kusam berdiri mematung layaknya patung batu purba. Pria tua itu memegang sebilah belati panjang berwarna hitam legam yang memancarkan aura transenden yang sangat dingin dan menekan paru-paru. Dialah Tetua Mo, mesin pembunuh klan Mu yang telah menduduki **Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Awal**.
Mu Tianshu melangkah maju tiga langkah memangkas jarak, sepasang matanya menatap tajam ke arah sosok Xinghe dengan pandangan predator sejati yang menemukan mangsa terpojok. "Bocah Keparat berjubah hitam... kau membelinya dengan harga tujuh ratus ribu keping batu spiritual di dalam paviliun siang tadi. Kau pasti berpikir bahwa dengan status Penatua Kehormatan palsu dari Paviliun Awan Putih, kau bisa berjalan keluar dari kota provinsi ini membawa harta karun klanku tanpa membayar harga?"
Mu Tianshu tertawa keras, tawanya penuh dengan nada sadisme yang bergema memecah deru badai hujan. "Kau sangat bodoh karena sengaja memilih Lembah Maple Berdarah ini sebagai rute pelarianmu. Tempat ini tidak dikuasai oleh Faksi Militer Naga Emas, tempat ini adalah wilayah buta hukum di mana pembunuhan dinilai sebagai seni dagang yang lumrah. Serahkan kotak giok Cairan Air Mata Naga Emas itu sekarang, bersujudlah memotong kedua kaki dan tanganmu sendiri di hadapan panji klan Mumu, dan aku mungkin akan mempertimbangkan untuk membiarkan mayat keluargamu di dalam kereta itu terkubur secara utuh!"
Mendengar ancaman verbal yang kembali menyeret nama keluarganya, sudut bibir Yan Xinghe yang pucat perlahan melengkung, menciptakan seutas senyum tirani yang sangat tipis dan sedingin es abadi di puncak pegunungan utara. Ia tidak menoleh ke arah kereta barangnya, sepasang mata gelap tak berdasarnya menatap langsung ke dalam manik mata Mu Tianshu dengan kedalaman kedaulatan yang menakutkan.
"Kalian para serigala bangsawan fana selalu memiliki delusi keangkuhan yang sama di hadapanku," suara Xinghe mengalun tenang, sehalus embusan angin malam namun memiliki bobot menekan mental yang membuat beberapa pembunuh di barisan depan tanpa sadar menelan ludah ketakutan. "Kau mengira kuantitas lima puluh pembunuh rendahan dan satu ekor anjing tua di Alam Inti Mistik awal ini cukup kuat untuk mendikte hukum hidup dan mati atas lintasanku? Mu Tianshu, sepupumu Mu Yunfei mengucapkan kalimat kesombongan yang sama di gang kotor selatan sebelum tubuhnya kuremukkan menjadi tumpukan daging cincang sepeser koin. Hari ini, kau mengulanginya lagi... dan harga yang harus kaubayar adalah kepunahan silsilah klanmu dari tanah provinsi ini selamanya."
Mendengar nama Mu Yunfei disebut beserta fakta kematiannya yang brutal, wajah Mu Tianshu seketika berubah merah padam akibat amarah yang meledak total. "Kau... kau tikus pembunuh Yunfei?! Keparat! Tetua Mo, bantai dia! Hancurkan semua tulang di tubuhnya!"
"Hamba menerima titah, Tuan Muda," Tetua Mo bersuara, nadanya rendah dipenuhi kedinginan pembunuh profesional yang matang. Pria paruh baya berjubah abu-abu itu mengambil langkah maju satu langkah besar di atas tanah lumpur merah. Seketika itu juga, aura transenden Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Awal meledak tanpa ditutup-tutup dari tubuh tegapnya.
Kabut energi berwarna merah kecokelatan yang pekat menyelimuti seluruh jubah abu-abunya, menciptakan pusaran angin bertekanan tinggi yang menguapkan rintik hujan dalam radius sepuluh meter di sekelilingnya. Lantai tanah lumpur di bawah sepatunya retak amblas sedalam setengah jengkal akibat letupan Qi murni dari lautan Dantiannya.
"Formasi Jaring Gagak Darah! Kepung seluruh perimeter!" perintah Tetua Mo dengan disiplin militer yang ketat.
Lima puluh pembunuh elit klan Mu bergerak secepat kelebatan bayangan biru. Mereka melompat membelah rintik hujan badai, menancapkan golok-golok melengkung mereka ke tanah membentuk formasi melingkar raksasa sepanjang lima puluh meter yang mengurung posisi berdiri Xinghe dan Ye Ling’er. Riak energi elemen api dari lima puluh golok menyatu di udara, membentuk kubah transparan berwarna merah kehitaman yang memutus seluruh koordinat jalan keluar ngarai.
Xinghe tetap berdiri diam di pusat kepungan formasi tersebut. Tangan kanannya bergerak lambat ke belakang jubah sutra hitamnya, mencengkeram erat lilitan kulit di gagang **Pedang Berat Tanpa Bilah**. Dengan satu tarikan otot bahu yang pendek namun membawa daya ledak mutlak, ia mencabut balok logam hitam raksasa itu dari punggungnya.
Kain sutra hitam pembungkusnya terbakar habis seketika menjadi serpihan debu akibat letupan energi guntur emas yang merembes keluar dari telapak tangannya. Begitu ujung tumpul meteorit hitam seberat lima ribu kati itu diturunkan menyentuh tanah lumpur merah, lantai lembah bergetar hebat melahirkan riak kejut mekanik yang meretakkan batuan vulkanik di sekeliling sepatunya.
"Serang!" raung pemimpin regu pembunuh klan Mu dari sayap timur.
Dua puluh orang pembunuh barisan terdepan melesat maju secara serempak, golok melengkung mereka meluncur membelah ruang udara badai menciptakan puluhan tebasan bulan sabit api korosif yang mengincar leher, jantung, dan kaki Xinghe dari berbagai arah sudut yang mematikan.
Xinghe tidak menggunakan teknik pergerakan Langkah Bayangan Hantu untuk mengelak. Kapasitas energi Inti Mistik Tingkat Pertamanya yang baru saja terbentuk kini memompa pasokan tenaga murni yang seratus kali lipat lebih padat dari sebelumnya ke seluruh jaringan otot lengannya. Ia mengangkat pedang berat hitamnya menggunakan satu tangan kanan, lalu melayangkan satu tebasan horizontal penuh sejauh tiga ratus enam puluh derajat membelah badai hujan.
**"Seni Pedang Berat Penakluk Gunung: Amuk Badai Patahan Poros Bumi!"**
*DUUUUAAAAARRRR!*
Ayunan tunggal dari balok logam meteorit seberat lima ribu kati yang dialiri energi guntur murni dan esensi naga emas melahirkan sebuah gelombang tekanan mekanik absolut yang luar biasa dahsyat. Udara di dalam kubah formasi seolah-olah terkompresi paksa membentuk dinding gelombang kejut transparan yang melesat menghantam ke segala arah.
Dua puluh pembunuh elit yang sedang menerjang maju bahkan tidak sempat menaikkan pertahanan golok mereka. Bilah senjata tajam tingkat menengah, zirah pelindung dada sutra, dan struktur fisik tubuh fana mereka di ranah Pembukaan Meridian hancur lebur berkeping-keping menjadi kabut darah merah dan serpihan tulang abu-abu dalam sekejap mata begitu bersentuhan dengan lintasan pedang berat Xinghe. Daya hancur fisik murninya mereduksi seluruh taktik pengeroyokan klan Mu menjadi ketiadaan dalam kurun waktu kurang dari sepertiga kedipan mata fana.
Semburan cairan merah pekat menyiram rimbunnya daun maple merah di sekeliling ngarai, membuat warna daun-daun tersebut semakin merah menyala di bawah kegelapan malam badai. Dua puluh nyawa terhapus bersih tanpa sempat mengeluarkan jeritan penderitaan bisu mereka.
Sisa tiga puluh pembunuh di barisan belakang seketika membeku kaku di tempat pijakan mereka, tangan mereka yang memegang gagang golok bergetar hebat hingga senjata-senjata tersebut berisik berbenturan satu sama lain. Niat membunuh dari korps pembunuh elit klan bangsawan itu runtuh total hingga ke dasar jurang, digantikan oleh teror primitif menghadapi monster berjubah hitam yang kekuatannya tidak bisa diukur menggunakan nalar praktisi lokal.
Wajah tampan Mu Tianshu yang semula dipenuhi keangkuhan kini berubah menjadi topeng pucat pasi yang mengerikan. Langkah kakinya gemetar mundur dua langkah menyembunyikan diri di balik jubah abu-abu Tetua Mo. "T-Tetua Mo... dia... kekuatan fisiknya tidak masuk akal! Cepat bunuh bajingan itu!"
Tetua Mo menyipitkan sepasang matanya yang cekung, raut wajah tenangnya kini sepenuhnya digantikan oleh keseriusan yang sangat pekat dan dingin. Sebagai pendekar Alam Inti Mistik, ia segera menyadari fluktuasi aura emas pasif yang terpancar dari tubuh Xinghe bukan lagi energi alam Penyempurnaan Tubuh atau Pembukaan Meridian. Itu adalah tanda pembentukan Inti Mistik yang tingkat kemurniannya jauh melampaui miliknya.
"Kau... kau telah menelan Cairan Air Mata Naga itu dan memadatkan Inti Mistikmu di dalam kamar penginapan?!" suara Tetua Mo berat bergetar menahan ngeri tak percaya. "Luar biasa gila... memadatkan inti dalam waktu kurang dari satu jam tanpa bantuan formasi tungku alkimia tingkat tinggi! Bocah, kau benar-benar menyimpan warisan teknik dewa terlarang di dalam jiwamu!"
Tetua Mo memutar belati panjang hitamnya di udara, meledakkan seratus dua puluh persen dari sisa energi lautan Dantian Inti Mistik Tingkat Awalnya. Kabut energi merah kecokelatan melesat membesar membentuk proyeksi kepala serigala api raksasa setinggi lima meter di atas punggung tegapnya, memancarkan hawa membakar ekstrim yang meretakkan batuan vulkanik di sekelilingnya.
**"Jurus Belati Iblis Api: Semburan Taring Pemusnah Inti!"**
Pria tua berjubah abu-abu itu melesat maju melampaui kecepatan suara, meninggalkan jejak parit terbakar berasap di atas tanah lumpur lembah. Belati hitam panjangnya meluncur dalam lintasan diagonal yang sangat rumit dan presisi tinggi, membawa seluruh sisa kekuatan hidup dan ketebalan energi spiritual transendennya untuk membelah jantung Xinghe dari sela-sela celah udara hujan.
Serangan penuh seorang master Inti Mistik klan bangsawan wilayah dalam, didukung oleh pembakaran esensi Qi murni, daya rusaknya sanggup merobek pertahanan praktisi Tingkat Ketiga Alam Inti biasa dalam sekali tebas.
Xinghe berdiri diam menyambut terkaman maut tersebut. Sepasang mata gelap tak berdasarnya menatap lintasan belati Tetua Mo dengan ketenangan seorang penguasa sejati yang sedang menilai latihan murid magang yang penuh celah.
"Energi Inti Mistikmu tebal karena terlalu banyak menelan pil sisa pembuangan, Tetua Mo," suara Xinghe mengalun halus, sedingin es utara. "Teknik belatimu terlalu banyak hiasan sudut visual yang membuang takaran tenaga di udara kosong. Di hadapan seorang kaisar pedang... gerakanmu tidak lebih dari tarian kura-kura lumpuh."
Xinghe memajukan kaki kirinya setengah langkah, membiarkan tubuh bagian atasnya condong ke depan. Kedua tangan pucatnya menggenggam erat lilitan kulit gagang pedang berat meteorit hitamnya. Ia tidak mengelak ke samping; ia menyambut ujung belati hitam Tetua Mo menggunakan satu hantaman lurus ke depan dari arah bawah menggunakan permukaan datar bilah tumpul pedang beratnya.
**"Seni Pedang Berat Penakluk Gunung: Palu Dewa Penghancur Pilar Langit!"**
*DUUUUAAAAARRRRR!*
Benturan dua kekuatan transenden berskala besar meledak dahsyat di tengah Lembah Maple Berdarah. Gelombang kejut mekanis dan energi guntur ungu yang dihasilkan merobek seluruh sisa kubah transparan formasi jaring gagak klan Mumu menjadi serpihan energi mati dalam hitungan milidetik. Sisa tiga puluh pembunuh elit di barisan belakang terlempar terbang sejauh puluhan meter menahan gelombang panas dan tekanan udara yang menghancurkan struktur zirah pelindung dada mereka secara serempak.
Di pusat kawah ledakan yang amblas sedalam dua meter, mata Tetua Mo membelalak lebar menampilkan kengerian dan keputusasaan telanjang yang tak terbatas. Belati panjang hitam kebanggaannya—senjata spiritual tingkat menengah yang ditempa dari baja inti vulkanik—hancur berantakan menjadi jutaan partikel debu besi halus tertiup angin badai begitu bersentuhan dengan permukaan datar **Meteorit Bintang Kegelapan** Xinghe.
Tenaga balasan mekanis dari massa lima ribu kati yang dialiri energi Inti Mistik kaisar merambat cepat menghancurkan seluruh jaringan saraf utama, meremukkan tulang pergelangan tangan, siku, hingga mematahkan kedua tulang bahu Tetua Mo dalam sekejap mata. Pria tua berjubah abu-abu itu terhuyung mundur dengan langkah kaku, lautan Dantiannya bergejolak hebat sebelum akhirnya butiran Inti Mistik di dalam perutnya retak hancur menjadi abu akibat hantaman getaran frekuensi mikro Xinghe.
"T-Tidak mungkin... Inti Mistikku... hancur murni oleh benturan fisik..." desis Tetua Mo, darah segar mengalir deras dari mata, hidung, dan mulutnya. Tubuh besarnya ambruk berdebum ke atas tanah lumpur merah, tewas mengenasan tanpa sempat menyelesaikan kalimat penyesalannya.
Mesin pembunuh utama klan Mu, praktisi Inti Mistik wilayah dalam, tumbang hanya dalam satu ketukan pedang tumpul.
Sisa tiga puluh pembunuh yang terkapar di sekitar lereng lembah tidak lagi memiliki kapasitas kewarasan untuk bertahan. Mereka membuang sisa golok patah mereka, merangkak melarikan diri ke dalam rimbunnya belantara hutan maple merah dengan langkah seribu, melarikan diri terbirit-birit menjauhi lembah seakan sedang dikejar oleh dewa kematian sejati. Eksistensi kekuatan tempur klan Mu di kota provinsi telah musnah total malam ini.
Xinghe menarik kembali pedang berat hitamnya, menyeret ujung tumpulnya di atas permukaan tanah lumpur berdarah, berjalan perlahan menghampiri sosok Mu Tianshu yang kini telah jatuh terduduk menempel pada batang pohon maple raksasa yang roboh. Air kencing hangat membasahi jubah perang sutra emasnya yang mahal, wajah tampannya telah berubah bentuk menjadi topeng kengerian absolut yang bergetar hebat.
"P-Penatua Yan... ampuni aku... tolong... klan Mu wilayah dalam akan menyerahkan seluruh gunung batu spiritual kepadamu! Semuanya!" rengek Mu Tianshu, air mata, ingus, dan darah bercampur baur di wajahnya seiring dengan hilangnya seluruh keangkuhan bangsawan yang ia miliki seumur hidup.
Xinghe berhenti tepat dua langkah di depan pemuda emas tersebut. Ujung tumpul **Pedang Berat Tanpa Bilah** miliknya diangkat perlahan, bersandar ringan di atas bahu kanan Mu Tianshu. Massa seberat lima ribu kati dari logam dewa itu seketika mematahkan tulang selangka dan meremukkan sendi pundak sang tuan muda hingga berbunyi derak keras yang memilukan. Mu Tianshu menjerit histeris menahan penderitaan murni.
"Orang mati tidak memiliki hak milik untuk menegosiasikan harga koin emas, Mu Tianshu," suara Xinghe mengalun sangat lembut, menyamarkan kedinginan kekejaman mutlak seorang kaisar sejati. "Kau mengirim pasukan untuk memburu lintasanku demi memuaskan keserakahan klan bangsawanmu. Sekarang, silsilah namamu harus dihapus dari tanah ini sebagai biaya administrasi tambahan gratis yang kaubayarkan di ujung pedang beratku."
Xinghe tidak mengayunkan senjatanya; ia hanya menekan sedikit gagang kulit pedangnya ke bawah menggunakan tenaga internal Inti Mistik barunya. Beban ribuan kati mekanik murni seketika meremukkan seluruh rongga dada, mematahkan tulang belakang, dan meledakkan jantung Mu Tianshu dalam hitungan milidetik. Pemuda pewaris klan bangsawan terbesar kedua itu tewas mengenasan dalam keadaan kaku merangkak di bawah lumutan tanah Lembah Maple Berdarah.
Xinghe menarik kembali senjatanya, memutarnya santai di sela-sela jari jalannya sebelum menyampirkannya kembali menyilang di punggung jubah sutra hitamnya yang basah. Ia membalikkan badan, berjalan perlahan menghampiri pedati logistik tempat Ye Ling’er yang mematung kaku menatap profil tubuhnya dengan pandangan pemujaan fanatik yang semakin mendalam.
"Bersihkan sisa pakaian mereka, ambil cincin penyimpanan Mu Tianshu," perintah Xinghe datar pada Ye Ling’er seraya melompat kembali ke atas kursi kemudi pedati. "Badai di lembah ini telah selesai. Roda pedati kita harus terus berputar membelah rute malam, bergerak maju menembus gerbang provinsi luar, menuju ke arah ibukota pusat Kekaisaran Naga Langit yang sesungguhnya."
Ye Ling’er mengangguk patuh dengan gerakan patah-patah, segera melaksanakan perintah pembersihan lapangan dengan kecepatan tinggi. Roda pedati kayu logistik keluarga Yan kembali berputar konstan membelah kegelapan malam badai, meninggalkan area Lembah Maple Berdarah yang kini dipenuhi oleh puing-puing kesombongan faksi klan bangsawan lokal yang telah terhapus dari tatanan fana.
Naga raksasa yang membawa beban lima ribu kati meteorit hitam itu kini telah secara resmi membentangkan sayap Inti Mistiknya lebih lebar, bersiap mengguncang seluruh tatanan kekuasaan faksi militer dan klan suci di wilayah pusat kekaisaran terdalam bentangan Tiga Ribu Dunia. Langkah kakinya yang berdarah menembus awan tinggi kekekalan sejati baru saja menyelesaikan babak pembukaannya dengan sempurna.