Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32 balai Awan Emas dan panggung penghinaan Inti Emas
Sinar matahari tengah hari menembus jendela kaca patri Paviliun Hujan Gerimis, membiaskan cahaya berwarna-warni ke atas lantai kayu gaharu. Di dalam ruangan pribadi tingkat tertinggi, Lin Chen berdiri menatap ke luar jendela, memandang hiruk-pikuk Kota Gerbang Awan yang kini dipenuhi oleh patroli penjaga bersenjata lengkap. Langit di atas kota sesekali memancarkan kilatan energi; formasi udara telah dikunci total oleh perintah seorang ahli Inti Emas.
Di belakangnya, terdengar gemerisik kain sutra yang bergesekan. Yin Yue melangkah keluar dari balik bình phong (layar pembatas ruangan) setelah berganti pakaian.
Pengawas paviliun yang biasanya mengenakan gaun biru es tertutup itu kini tampil dengan pesona yang jauh lebih mematikan. Ia mengenakan gaun *cheongsam* berwarna biru malam yang dihiasi sulaman benang perak berbentuk teratai. Gaun itu melekat ketat bak kulit kedua, menonjolkan lekuk pinggangnya yang ramping sempurna dan payudaranya yang penuh. Belahan gaunnya terbelah tinggi hingga ke pangkal paha, mengekspos kaki jenjangnya yang seputih salju setiap kali ia melangkah. Udara dingin yang menjadi ciri khasnya berpadu dengan aroma parfum *musk* spiritual, menciptakan daya tarik sensual yang sangat elegan dan tidak murahan.
"Apakah penampilanku sudah memadai untuk menjadi pemandu seorang VVIP tingkat tinggi, Tuan Lin?" tanya Yin Yue. Suaranya masih tenang, namun ada sedikit getaran antisipasi di nadanya. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di samping pemuda itu.
Lin Chen menoleh. Matanya yang gelap menyapu penampilan Yin Yue dari ujung rambut peraknya yang disanggul anggun dengan jepit giok, hingga ke ujung sepatu hak tingginya.
"Pakaian yang indah," ucap Lin Chen datar, nadanya tidak memancarkan nafsu, melainkan penilaian objektif. "Namun, di tempat di mana kita akan mengundang badai, pakaian itu mungkin akan bernoda darah sebelum matahari terbenam."
Yin Yue tersenyum tipis. Ia melangkah satu inci lebih dekat, membiarkan sisi lengannya bersentuhan ringan dengan lengan kiri Lin Chen. "Darah adalah aksesori yang paling sering menghiasi sejarah Dunia Tengah. Aku siap."
Lin Chen mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela. Lengan Logam Abadinya yang kini telah mencapai asimilasi seratus persen tersembunyi dengan rapi di balik lengan jubah sutra hitamnya. Atribut ganda api bumi dan es absolut di dalam lengan tersebut berputar stabil, menanti untuk dilepaskan.
"Ayo pergi," perintah Lin Chen.
Mereka berdua melangkah keluar dari Paviliun Hujan Gerimis. Menggunakan kereta kencana terbang yang ditarik oleh dua ekor *Burung Bangau Awan*, mereka menuju ke pusat kota. Kehadiran Yin Yue di samping Lin Chen menjadi perisai yang sempurna; para penjaga kota yang sedang melakukan razia tidak berani menghentikan kereta milik eksekutif Paviliun Hujan Gerimis, bursa intelijen yang bahkan dihormati oleh Tuan Kota.
Balai Awan Emas berdiri megah di pusat persimpangan kota. Bangunan itu berbentuk kubah raksasa yang atapnya dilapisi oleh emas murni, memantulkan cahaya menyilaukan. Ratusan kereta terbang dan kereta binatang buas terparkir di halamannya. Ini adalah pelelangan tingkat bumi terbesar dalam dekade terakhir, mengundang klan-klan bangsawan, tetua sekte, dan para tiran kekayaan dari seluruh penjuru wilayah luar.
Di pintu masuk utama, penjagaan luar biasa ketat. Aura dari puluhan praktisi Transformasi Fana Puncak menyapu setiap tamu yang masuk. Namun, yang paling mencekik adalah sebuah tekanan energi yang duduk diam di atas balkon pilar pintu masuk.
Tetua Kuang.
Ahli Tahap Inti Emas dari Sekte Pedang Berkabut itu duduk di atas kursi tahta melayang, matanya yang merah dan penuh amarah menatap setiap tamu seperti burung pemakan bangkai. Ia tidak menyembunyikan niat membunuhnya. Siapa pun yang memiliki jejak mencurigakan akan langsung diinterogasi.
Saat kereta bangau Yin Yue mendarat, pintu kereta dibuka oleh pelayan balai. Yin Yue melangkah keluar lebih dulu, memamerkan kakinya yang indah dan auranya yang sedingin es. Para tamu dan penjaga seketika menundukkan kepala penuh hormat. Di belakangnya, Lin Chen melangkah keluar. Jubah hitam legamnya menyapu lantai, topeng besi kelabunya menutupi wajahnya dengan absolut. Fluktuasi energinya ditekan serendah mungkin menggunakan *Selubung Bayangan*, membuatnya terlihat seperti seorang pengawal pribadi yang misterius namun tidak mengancam.
Tatapan Tetua Kuang dari atas balkon menyapu Lin Chen sesaat. Energi spiritual sang tetua mencoba menembus topeng tersebut. Lin Chen membiarkan *Napas Karang Esensi* miliknya memancarkan aura es tipis—hasil dari asimilasi *Ruang Es Absolut*.
Merasakan aura es murni yang sangat mirip dengan kultivasi Yin Yue, Tetua Kuang mendengus pelan dan memalingkan wajahnya. Di matanya, pria bertopeng itu hanyalah pelayan kultivasi elemen es milik pengawas paviliun, tidak memiliki fluktuasi api bumi atau niat membunuh yang ia cari.
Lin Chen tersenyum sinis di balik topengnya. Trik kamuflase ini bekerja dengan sempurna. Mereka melangkah masuk ke dalam balai tanpa hambatan.
Interior Balai Awan Emas didesain menyerupai koloseum kemewahan. Lantainya terbuat dari marmer merah, dindingnya dihiasi lukisan formasi yang menceritakan sejarah para dewa, dan di tengahnya terdapat panggung bundar tempat barang dilelang. Ribuan kursi di bawah telah dipenuhi oleh praktisi tingkat menengah, sementara di dinding melingkar, puluhan bilik VVIP melayang menggunakan formasi anti-gravitasi.
Yin Yue membimbing Lin Chen menuju bilik VVIP bernomor '07'. Bilik itu tertutup oleh kaca ilusi satu arah; mereka bisa melihat ke luar dengan jelas, namun orang dari luar hanya akan melihat pantulan cermin. Di dalam bilik, sofa beludru merah yang sangat empuk, meja kristal yang dipenuhi buah-buahan spiritual, dan pelayan pribadi telah disiapkan.
"Kalian bisa pergi," perintah Yin Yue pada dua pelayan wanita di dalam bilik. Keduanya membungkuk dan segera keluar, meninggalkan Lin Chen dan Yin Yue berdua di ruangan yang kedap suara tersebut.
Lin Chen duduk di sofa beludru, menyandarkan punggungnya dengan santai. Yin Yue tidak duduk di sofa yang berseberangan. Wanita es itu melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang luwes, ia duduk di sebelah Lin Chen, menyisakan jarak kurang dari sejengkal di antara paha mereka. Aroma lotus es dari tubuh Yin Yue tercium sangat pekat di ruangan tertutup itu.
"Tetua Kuang ada di bilik nomor '01', tepat di seberang kita," Yin Yue memberikan informasi dengan suara pelan. Ia menuangkan anggur spiritual berwarna ungu ke dalam gelas kristal dan menyodorkannya pada Lin Chen. "Klan-klan besar di bawah sana akan sangat berhati-hati hari ini. Kemarahan seorang ahli Inti Emas membuat suhu politik di ruangan ini sangat sensitif."
Lin Chen tidak mengambil gelas itu. Ia menatap lurus ke panggung pelelangan. "Biarkan mereka berhati-hati. Hari ini, aku akan menguji seberapa jauh sebuah kemarahan bisa menghancurkan kewarasan seseorang."
Lelang dimulai diiringi oleh dentingan lonceng emas. Seorang juru lelang tua dengan kultivasi Transformasi Fana naik ke atas panggung, memulai acara dengan menawarkan berbagai artefak tingkat spiritual, pil perpanjang umur, dan budak-budak dengan 체질 (konstitusi fisik) langka.
Lin Chen mengamati prosesi itu dengan tenang. Harga barang-barang di sini berkisar antara lima ribu hingga dua puluh ribu Kristal Abadi Menengah. Angka yang fantastis bagi penduduk kota pinggiran, namun bagi Lin Chen yang telah merampok perbendaharaan Tuan Kota Batu Hitam dan murid elit Sekte Pedang Berkabut, ia memiliki ratusan ribu kristal di dalam cincinnya.
Setelah satu jam berlalu, suasana pelelangan mulai memanas. Juru lelang tua itu menyingkap sebuah kain sutra di atas meja dorong, memperlihatkan sebuah gulungan perkamen usang yang memancarkan pendar api keemasan.
"Para tamu yang terhormat," seru juru lelang, suaranya menggema ke seluruh balai. "Ini adalah salah satu barang utama kita hari ini! Sebuah fragmen teknik pergerakan udara dari zaman kuno: *Sayap Garuda Emas*! Teknik ini memungkinkan seorang kultivator di bawah Tahap Inti Emas untuk memadatkan Qi mereka menjadi sayap, memberikan kemampuan terbang sejati dan kecepatan manuver yang setara dengan burung dewa! Harga awal, lima puluh ribu Kristal Abadi Menengah!"
Keributan seketika pecah di seluruh ruangan. Kemampuan terbang adalah hak istimewa yang biasanya hanya dimiliki oleh ahli Tahap Inti Emas. Praktisi di bawahnya hanya bisa melayang menggunakan pedang atau artefak, yang sangat menguras energi. Sebuah teknik yang memberikan sayap Qi murni adalah harta yang tak ternilai bagi petarung manapun.
"Enam puluh ribu!" teriak seorang kepala klan dari lantai bawah.
"Tujuh puluh ribu!"
Harga terus melonjak dengan cepat hingga mencapai seratus ribu Kristal Abadi.
Di dalam bilik nomor '01', suara berat dan menekan terdengar, diperkuat oleh Qi Inti Emas sehingga membungkam seluruh penawar di lantai bawah.
"Seratus lima puluh ribu!"
Itu adalah suara Tetua Kuang. Sang tetua tidak repot-repot menyembunyikan identitasnya. Suaranya mengandung ancaman terselubung: *'Aku menginginkan barang ini, siapa pun yang berani menawarnya berarti mencari mati denganku.'*
Klan-klan besar yang tadinya bersemangat seketika terdiam. Tidak ada yang ingin menyinggung ahli Inti Emas dari sekte besar hanya demi sebuah teknik pergerakan.
Juru lelang di panggung menelan ludah, terlihat sedikit gugup namun tidak berani membantah. "S-Seratus lima puluh ribu dari Bilik 01! Apakah ada yang berani... ah, maksud saya, apakah ada penawaran lain?"
Di dalam bilik 07, Lin Chen memiringkan kepalanya sedikit. Mata hitamnya di balik topeng menyipit. Ini adalah momen yang tepat.
Layar cahaya holografik biru dari Sistem Pilihan Takdir seketika meledak di udara, membekukan waktu di sekitar Lin Chen. Format acaknya menuntut keputusan strategis.
**[Situasi Provokasi Terdeteksi: Pelelangan 'Sayap Garuda Emas'.]**
**[Target: Tetua Kuang (Tahap Inti Emas Awal). Musuh sangat menginginkan teknik ini untuk murid sektenya.]**
**[Silakan tentukan metode dominasi psikologis Anda:]**
**[Pilihan 1: Tawar dengan harga dua ratus ribu Kristal Abadi menggunakan Cincin Spasial milik Zhou Yan (murid Tetua Kuang yang Anda bunuh) untuk membayar.
Hadiah: Anda memenangkan teknik tersebut. Penggunaan aura cincin Zhou Yan secara publik akan langsung mengungkapkan identitas Anda. Tetua Kuang akan kehilangan kewarasannya karena dihina secara ekstrem. Risiko pertempuran frontal di dalam balai: 100%.]**
**[Pilihan 2: Biarkan Tetua Kuang memenangkannya. Serang dia saat dia keluar dari Kota Gerbang Awan.
Hadiah: Anda menghindari pertempuran di ruang publik. Anda tidak mendapatkan teknik terbang tersebut. Risiko kegagalan penyergapan di luar formasi kota tinggi.]**
**[Pilihan 3: Keluarkan Lengan Logam Abadi dan tembakkan energi es untuk membekukan panggung lelang sebagai bentuk ancaman teror.
Hadiah: Pelelangan dibatalkan. Anda menjadi target buronan seluruh aliansi kota. Tetua Kuang akan bekerja sama dengan penjaga kota untuk membunuh Anda.]**
Sistem kali ini menyajikan Pilihan 1 sebagai opsi konfrontasi yang paling kejam secara psikologis. Menawar barang yang diinginkan sang tetua menggunakan uang dari murid kesayangannya yang telah dibunuh adalah level provokasi yang melampaui batas arogansi. Lin Chen tahu bahwa mengalahkan seorang ahli Inti Emas secara fisik akan jauh lebih mudah jika mental musuh telah dihancurkan oleh amarah yang membutakan.
"Aku akan menggunakan hartamu untuk membeli kehancuran gurumu," bisik Lin Chen dalam hati. "Pilihan pertama."
Waktu kembali berdetak.
Juru lelang baru saja mengangkat palunya. "Seratus lima puluh ribu, sekali... Seratus lima puluh ribu, dua kal—"
"Dua ratus ribu."
Suara yang sangat tenang, datar, namun bergema dengan kejernihan absolut terdengar dari Bilik 07. Suara Lin Chen.
Seluruh Balai Awan Emas mendadak hening seolah udara disedot keluar dari ruangan. Ribuan kepala menoleh ke arah kaca ilusi Bilik 07. Siapa orang gila yang berani menantang tawaran seorang Tetua Inti Emas dari Sekte Pedang Berkabut?
Di samping Lin Chen, mata safir Yin Yue melebar sempurna. Jantungnya berdetak liar. Ia tahu pria ini merencanakan sesuatu, tapi menampar wajah seorang Tetua Inti Emas di depan ribuan bangsawan kota adalah deklarasi perang terbuka.
Di dalam Bilik 01, aura kemarahan meledak. Kaca pelindung bilik tersebut retak akibat tekanan Qi dari Tetua Kuang.
"Siapa tikus tak tahu diri di Bilik 07?!" raung Tetua Kuang, suaranya meruntuhkan beberapa hiasan kristal di atap balai. "Apakah kau tidak tahu wajah siapa yang sedang kau tampar?! Tarik tawaranmu sekarang, patahkan kedua tanganmu sendiri, dan aku mungkin akan menyisakan mayatmu secara utuh!"
Lin Chen tidak berdiri. Ia tetap duduk bersandar dengan nyaman, tangan kirinya kini mengambil gelas anggur yang tadi ditawarkan Yin Yue, memutarnya pelan.
"Balai lelang adalah tempat di mana Kristal Abadi yang berbicara, bukan volume suara anjing tua yang menggonggong," balas Lin Chen dengan nada yang sangat menyepelekan, diucapkan dengan kekuatan Qi yang menyiarkan suaranya ke seluruh balai.
Guncangan terjadi di tribun bawah. Seseorang benar-benar memanggil Tetua Kuang dengan sebutan 'anjing tua'! Keringat dingin mengucur deras dari wajah juru lelang. Ini bukan lagi soal jual beli; ini adalah awal dari pertumpahan darah.
"BAIK! SANGAT BAIK!" tawa Tetua Kuang menggelegar, tawa yang dipenuhi histeria membunuh. "Aku, Kuang Shan, tidak akan menawar lagi! Silakan bayar teknik itu, dan kita lihat apakah kau memiliki nyawa untuk membawanya keluar dari pintu ini!"
Juru lelang dengan gemetar mengetukkan palunya. "D-Dua ratus ribu... terjual kepada tamu di Bilik 07."
Seorang pelayan balai dengan takut-takut membawa nampan berisi gulungan teknik *Sayap Garuda Emas* melayang naik menuju Bilik 07. Pelayan itu masuk, menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap Lin Chen maupun Yin Yue.
"P-Pembayarannya, Tuan," cicit pelayan tersebut.
Lin Chen tidak merogoh kantong pribadinya. Tangan kirinya bergerak ke balik jubah, menarik sebuah cincin spasial berwarna perak yang dihiasi ukiran pedang dan awan. Itu adalah cincin spasial pribadi milik Zhou Yan, pemimpin murid yang ia bunuh di Oase Tulang. Setiap cincin spasial tingkat spiritual memancarkan fluktuasi aura unik dari pemilik aslinya, terutama bagi mereka yang terhubung dengan darah.
Lin Chen melemparkan cincin itu ke atas nampan pelayan tersebut.
"Ambil bayarannya dari sana," perintah Lin Chen. Ia sengaja tidak menekan aura asli dari cincin tersebut.
Saat cincin itu bersentuhan dengan nampan, gelombang kecil aura spiritual menyebar ke luar bilik. Bagi orang biasa, itu hanyalah aura cincin penyimpanan biasa. Namun, bagi Tetua Kuang yang berada di Bilik 01, fluktuasi aura itu sejelas matahari di siang bolong. Itu adalah aura murid kesayangannya yang tewas mengenaskan.
Di dalam Bilik 01, keheningan mematikan terjadi selama dua detik.
Detik berikutnya, seluruh kaca ilusi Bilik 01 meledak berkeping-keping menjadi debu.
*BOOOOOOMMMM!*
Tekanan Tahap Inti Emas meletus dengan kekuatan penuh, menghancurkan kursi dan meja di dalam bilik tersebut. Sosok Tetua Kuang melayang keluar, rambut putihnya berkibar liar, matanya menyala merah darah meneteskan air mata kemarahan yang absolut. Hawa membunuh dari sang tetua membuat ratusan praktisi tingkat rendah di bawah sana muntah darah dan pingsan.
"KAU!!!" raung Tetua Kuang. Suaranya bukan lagi ancaman, melainkan ratapan penderitaan seekor binatang buas. Matanya terkunci pada Bilik 07. "AURA ITU... KAU YANG MEMBUNUH YAN-ER!!! BAJINGAN KEPARAT, AKU AKAN MENARIK JIWAMU DAN MEMBAKARNYA SELAMA SERIBU TAHUN!"
Kepanikan masal meledak di dalam Balai Awan Emas. Para bangsawan dan pemimpin klan berhamburan melarikan diri menuju pintu keluar, saling injak demi menghindari amukan ahli Inti Emas. Juru lelang melarikan diri ke ruang bawah tanah.
Di dalam Bilik 07, Yin Yue menatap Lin Chen dengan napas tertahan. Ia akhirnya menyadari tingkat kegilaan pria ini. Lin Chen tidak hanya mengalahkan tawaran sang tetua, ia menggunakan uang murid yang dibunuhnya untuk membeli teknik lelang, di depan mata sang guru. Provokasi ini adalah mahakarya kekejaman psikologis.
Lin Chen berdiri. Ia meraih gulungan teknik *Sayap Garuda Emas* dan menyimpannya di balik jubah. Ia menoleh ke arah Yin Yue.
"Mundurlah, Yin Yue," perintah Lin Chen, suaranya berubah menjadi sangat dalam dan beresonansi dengan kekuatan. "Tontonlah dari kejauhan. Bagian ini akan sedikit kotor."
Sebelum Yin Yue sempat merespons, dinding kaca Bilik 07 hancur lebur oleh hantaman pedang raksasa yang terbuat dari Qi emas.
Tetua Kuang menerjang masuk, membawa badai Inti Emas yang merobek segala sesuatu di sekitarnya. "MATI KAU, IBLIS!"
Lin Chen tidak menghindar. Ia berdiri di tengah puing-puing kaca yang berjatuhan. Tahap Kondensasi Qi Tingkat Tujuhnya berputar hingga batas maksimal. Dantiannya bergemuruh layaknya gunung berapi yang siap meletus.
Tepat saat pedang Qi emas milik Tetua Kuang hendak membelah kepalanya, Lin Chen mengangkat tangan kanannya. Lengan jubah sutra hitamnya robek, mengekspos Lengan Logam Abadi yang memancarkan kilau perak kehitaman yang mematikan.
"Logam purba?" Tetua Kuang mendengus kasar, tidak memedulikan anomali tersebut karena amarah telah membutakannya. "Sebuah rongsokan tidak akan bisa menghentikan Inti Emasku!"
*CLANGGGGGGG!*
Sebuah ledakan yang memekakkan telinga meruntuhkan langit-langit Bilik 07. Gelombang kejutnya menyapu sisa-sisa kursi di lantai lelang hingga menjadi serpihan debu.
Pedang Qi emas milik Tetua Kuang tertahan sempurna di telapak tangan Lengan Logam Abadi Lin Chen. Percikan api dan kilatan petir spiritual meledak di titik benturan.
Mata merah Tetua Kuang membelalak. Kekuatan Inti Emas miliknya... tertahan? Oleh seorang pemuda yang fluktuasi Qi-nya sangat jelas berada di bawah Tahap Transformasi Fana?!
Lin Chen menatap sang tetua dari balik topeng besinya. Mata pemuda itu memancarkan kedinginan nol mutlak yang baru saja ia kuasai.
"Kau terlalu banyak berteriak, Orang Tua," bisik Lin Chen di tengah deru badai energi.
Pemuda itu memicu kekuatan tersembunyi dari modifikasi lengan terbarunya. Asimilasi ekstrem di ruang bawah tanah paviliun kini diuji. Ia tidak memanggil elemen api bumi yang biasa ia gunakan. Ia mengubah Lengan Logam Abadinya menjadi medium penghantar elemen es absolut.
Rune di permukaan lengan perak kehitaman itu menyala putih kristal yang sangat terang.
*Telapak Penghancur Bintang: Versi Nol Mutlak!*
Hawa dingin yang puluhan kali lipat lebih mematikan dari sihir es mana pun meledak dari telapak tangan Lin Chen, merambat secara instan melewati pedang Qi emas milik Tetua Kuang.
"A-Apa ini?!" Tetua Kuang merasakan hawa pembekuan yang mengerikan menjalar ke senjatanya. Qi Inti Emas yang selalu melindunginya gagal menahan dingin tersebut. Es biru pekat merambat dari ujung pedang, membekukan energi spiritual, lalu menjalar dengan kecepatan kilat ke lengan kanan sang tetua.
"Arghhh!" Tetua Kuang terpaksa melepaskan pedangnya dan melompat mundur melayang di udara tengah balai. Lengan kanannya tertutup lapisan es abadi. Saat ia mencoba menggerakkannya, terdengar suara retakan. Otot dan saraf di lengannya telah mati akibat pembekuan instan tersebut.
Sang ahli Inti Emas menatap Lin Chen dengan kengerian yang menggantikan amarahnya. Pemuda bertopeng ini adalah sebuah monster yang melawan hukum langit.
Di ambang pintu bilik yang hancur, Lin Chen melayang perlahan, tidak lagi menggunakan pijakan. Tangan kanannya masih memancarkan hawa es yang membekukan kelembapan udara menjadi salju yang berjatuhan.
"Kau meremehkan rongsokanku," ucap Lin Chen datar.
Ia memutar sirkulasinya secara instan. *Metode Bintang Pudar* dan *Napas Karang Esensi* berkolaborasi dengan sempurna. Warna rune di Lengan Logam Abadinya berubah seketika dari putih kristal menjadi merah pijar seperti magma neraka. Perubahan suhu ekstrem dari nol mutlak ke suhu lava dalam waktu kurang dari sedetik menyebabkan udara di sekitar lengan itu meledak.
*Langkah Bayangan Iblis.*
Lin Chen tidak menunggu Tetua Kuang pulih dari keterkejutannya. Ia melesat di udara, meninggalkan jejak bayangan api dan es. Kecepatannya kini setara dengan kilat yang menyambar.
Tetua Kuang yang panik mencoba memanggil pelindung Inti Emas dari seluruh tubuhnya. Sebuah perisai cahaya berbentuk lonceng emas raksasa membungkusnya. "Perisai Gunung Emas! Tidak ada serangan fisik yang bisa menembusnya!"
Lin Chen tiba tepat di depan lonceng emas tersebut. Matanya tidak menunjukkan keraguan.
"Tidak ada dinding yang tidak bisa kuhancurkan," geram Lin Chen.
Ia menarik Lengan Logam Abadinya ke belakang. Api bumi (Yang) dan sisa hawa es (Yin) dari serangan sebelumnya berfusi di dalam sirkulasi logamnya, menciptakan pusaran kehancuran yang sangat tidak stabil di buku-buku jarinya.
*Batu Tumbuk: Pemusnahan Batas!*
Pukulan Lengan Logam Abadi itu menghantam lurus ke arah Perisai Gunung Emas.
*KRAAAAAAK! BOOOOOOOOOOMMMMM!*
Balai Awan Emas seolah dilanda gempa bumi skala kehancuran mutlak. Atap kubah emas bangunan itu meledak ke atas, hancur berkeping-keping. Puing-puing emas dan batu bata menghujani jalanan kota.
Di pusat ledakan, lonceng emas kebanggaan sang ahli Inti Emas retak, lalu hancur layaknya kaca tipis.
Tinju logam Lin Chen yang dilapisi oleh fusi energi mematikan menembus perisai dan menghantam tepat di tengah dada Tetua Kuang.
Sang tetua tidak memuntahkan darah. Mulutnya terbuka lebar, matanya nyaris melompat keluar dari rongganya. Gelombang kejut dari pukulan itu menembus tubuh fana sang tetua, secara langsung menghantam Inti Emas di dalam Dantiannya.
Inti Emas yang merupakan sumber kehidupan dan kultivasi ratusan tahun itu... retak.
Tubuh Tetua Kuang terlempar ke udara dengan kecepatan peluru, menembus sisa-sisa dinding balai lelang, dan terbang melintasi langit Kota Gerbang Awan sebelum akhirnya menghantam tanah berbatu ratusan meter jauhnya dari bangunan tersebut. Ia terkapar di tengah jalan raya, Dantiannya hancur, kultivasinya musnah, dan napasnya berada di ujung maut.
Di dalam balai yang kini telah berubah menjadi reruntuhan beratapkan langit berdebu, Lin Chen melayang perlahan turun ke atas puing-puing panggung lelang. Lengan kanannya masih berasap tipis, memancarkan perpaduan kilau merah dan perak yang menakutkan.
Yin Yue berdiri di sisa-sisa biliknya yang berantakan, menatap sosok pemuda bertopeng di bawah sana dengan tubuh yang bergetar. Bukan getaran karena dingin elemen esnya, melainkan sensasi kejut dari adrenalin murni. Ia baru saja menyaksikan seorang pria yang belum mencapai Transformasi Fana menghancurkan seorang ahli Inti Emas secara sepihak, di depan publik, dengan tangan kosong.
Lin Chen mendongak ke arah langit-langit yang terbuka. Debu emas dari reruntuhan atap berjatuhan bagai hujan di sekitarnya.
Sistem berdenting pelan di pikirannya.
**[Peristiwa Takdir Terselesaikan: Humiliasi Inti Emas.]**
**[Anda telah menghancurkan fondasi musuh utama. Gelar: 'Dewa Kematian Batu Hitam' berevolusi. Reputasi di Wilayah Luar mencapai puncaknya.]**
**[Teknik 'Sayap Garuda Emas' diamankan. Fusi Lengan Logam Abadi berjalan di luar ekspektasi batas wajar.]**
Pemuda bertopeng itu memutar tubuhnya, menatap ke arah kerumunan ratusan penjaga kota yang kini mengepung reruntuhan balai, namun tak satu pun dari mereka yang berani melangkah maju. Tombak-tombak mereka bergetar di tangan. Siapa yang berani menangkap monster yang baru saja menjadikan ahli Inti Emas sebagai karung tinju?
"Perjalanan yang sebenarnya," gumam Lin Chen di balik topeng besinya, matanya menatap tajam menembus barisan penjaga yang membeku ketakutan. "Baru saja dimulai."
Sang Iblis Satu Tangan kini telah menjadi teror nyata yang tak terbantahkan, dan nama serta bayangannya akan segera menjadi legenda paling mematikan yang menyapu bersih langit Dunia Tengah.