NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

Detik demi detik berlalu bagai siksaan bagi sepuluh pria di meja itu. Hanya terdengar suara kunyahan pelan dari Benedict, seolah ia tidak sedang berada di tengah krisis.

“Robert,” panggil Benedict memecah keheningan. “Aku belum mendengar ketukan keyboard dari laptopmu.”

Robert dengan tangan gemetar langsung mengetik cepat, wajahnya semakin memucat.

“S-sedang berjalan, Sir. Enkripsinya berlapis, pelaku menggunakan shadow proxy dari dalam sistem kita sendiri.”

Marcus, yang merasa posisinya terancam karena kecurigaan Benedict, kembali membuka suara.

“Mr. Franklin, jika saya boleh berasumsi, kebocoran ini terlalu rapi. Mustahil jika dilakukan oleh orang dalam tanpa adanya kerja sama dari pihak luar. Pesaing kita, keluarga Bellucci, mereka sudah lama mengincar rute logistik Equinox.”

Benedict tidak langsung menjawab. Ia menelan potongan rotinya, lalu menatap Marcus dengan pandangan kosong yang justru seribu kali lebih mengerikan daripada tatapan marah.

“Bellucci tidak secerdas itu untuk menembus sistem ku, Marcus. Jangan gunakan nama mereka untuk menyembunyikan tikus yang ada meja ini,” desis Benedict.

“Tapi Mr. Franklin!” sela Arthur, direktur keuangan, suaranya naik satu oktav karena panik.

“Saham kita turun lima persen dalam satu jam terakhir! Jika kita tidak segera merilis pernyataan palsu atau menunjuk kambing hitam ke media, dewan pengawas dari investor luar akan membekukan aset Equinox di Brooklyn!” lanjutnya.

“Menunjuk kambing hitam?” tanya Benedict. “Siapa yang kau sarankan? dirimu sendiri?”

Napas Arthur tercekat di tenggorokan. “B-bukan begitu maksudku, Sir……”

“Lalu apa?” Benedict memotong dengan desisan tajam. “Kalian panik karena saham turun? atau kalian panik karena tahu, begitu aku menemukan siapa pelakunya, orang itu tidak akan pernah keluar dari gedung ini dalam keadaan bernapas?”

Seketika itu juga terdengar suara bip dari laptop Robert. Suara itu terdengar seperti lonceng kematian. Robert menatap layarny,matanya membelalak, dan ia memandang ke arah meja dengan tatapan kosong.

“Mr. Franklin….” bisik Robert, suaranya hampir habis. “S-saya sudah menemukan orangnya.”

“Sebutkan namanya, Robert,” perintah Benedict tanpa mengalihkan pandangannya dari jajaran direksi.

“Aksesnya….. menggunakan kode otorisasi privat dari dek direktur keuangan,” Robert menelan ludah dengan susah payah, tangannya gemetar hebat saat menunjuk ke satu arah.

“Komputer itu terdaftar atas nama….. Mr. James Arthur.”

Seluruh mata di ruangan itu langsung tertuju pada Arthur. Wajah pria itu seketika kehilangan rona darahnya. Kursi yang didudukinya berderit keras saat ia mencoba mundur dengan panik.

“Itu tidak mungkin! jebakan! seseorang menjebakku!” teriak Arthur, suaranya melengking ketakutan.

Arthur menatap Marcus, lalu beralih pada direktur lainnya. “Marcus! kau tahu aku tidak mungkin melakukannya! Robert, periksa lagi! sistemmu pasti salah!”

“Sistemku tidak pernah salah untuk urusan pengkhianatan, Arthur,” ucap Benedict. Ia berdiri dari kursinya.

Arthur melompat dari kursinya, bersiap berlari menuju pintu. “Aku tidak bersalah! Mr. Franklin, demi Tuhan, dengarkan aku—“

Klik.

Luca langsung mencabut pistol dari balik jasnya, mengarahkannya tepat ke kepala Arthur. Langkah kaki Arthur langsung terhenti, tubuhnya gemetar hebat dengan kedua tangan terangkat ke atas.

“Duduk kembali, Mr. Arthur,” perintah Luca.

Benedict berjalan lambat mengitari meja. Ia berhenti tepat di samping Arthur yang kini terduduk lemas di lantai. Benedict membungkuk, mencengkeram rahang Arthur dengan satu tangannya, memaksa pria itu menatapnya langsung.

“Kau menghancurkan investasiku di Brooklyn hanya untuk beberapa juta dolar dari musuhku, Arthur?” bisik Benedic tepat di depan wajah Arthur.

“Kau tahu apa yang paling kubenci dari seekor tikus? mereka selalu mengotori tempat mereka makan.”

“Mr. Franklin….. ini jebakan…. tolong percaya kepadaku…..” ratap Arthur dengan air mata yang mulai mengalir.

Benedict melepas cengkeramannya. “Bawa dia ke Veto. Biarkan dia menjelaskan di sana, kepada siapa saja dia telah menjualku.”

Mendengar Veto disebut, semua orang menahan napas. Wajah mereka semakin memucat. Siapapun yang di kirim ke sana tidak akan pernah kembali dalam keadaan utuh, baik fisik maupun kewarasannya.

“Mr. Franklin! jangan Veto! Kumohon, jangan Veto!” ratap Arthur histeris.

Arthur bersujud, mencoba meraih ujung sepatu Benedict, namun Luca dengan cepat langsung menendang tangan Arthur menjauh.

“Baik, Tuan,” sahut Luca.

Dengan satu gerakan sentakan yang kuat, Luca mencengkeram kerah belakang jas Arthur, menyeret pria itu yang terus menjerit meminta ampun itu keluar dari ruang rapat. Pintu itu kembali tertutup dengan dentuman berat, meredam suara teriakan Arthur yang perlahan menjauh di lorong sunyi.

Benedict kembali ke tempat duduknya. “Sekarang, mari kita bahas bagaimana cara membersihkan sisa kekacauan yang ditinggalkan mantan rekan kalian.”

Rapat itu berlangsung dalam ketegangan yang mencekik. Dibawah kendali Benedict, dokumen audit yang bocor segera diisolasi, strategi manipulasi pasar saham dijalankan untuk memulihkan valuasi Equinox, dan pengamanan di pelabuhan Brooklyn diperketat hingga ke level tertinggi.

Sembilan direktur yang tersisa, bekerja dengan dengan ujung jari gemetar, tahu benar bahwa kesalahan sekecil apapun akan melempar mereka ke tempat yang sama dengan Arthur.

Ketika Benedict akhirnya membubarkan rapat, semua orang bergegas meninggalkan ruangan dengan terburu-buru.

Benedict tetap duduk di kursinya, ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Pintu ruangan berderit terbuka. Luca melangkah masuk.

“Arthur sudah berada di Veto, Tuan. Beberapa orang sudah kuperintahkan untuk menginterogasi nya, memeras sisa informasi mengenai siapa saja pihak luar uang mendanai pengkhianatannya,” lapor Luca.

Luca melirik jam tangannya. “Sudah masuk jam makan siang, Tuan. Anda ingin saya memesankan meja di restoran biasa, atau meminta koki mansion menyiapkan sesuatu?”

Benedict menatap kantong kertas kosong diatas meja. “Tidak perlu, aku masih kenyang.”

“Baik, Tuan. Lalu, apakah anda ingin saya menjadwalkan pertemuan dengan kepala pelabuhan Brooklyn sore ini?”

“Tidak perlu untuk hari ini,” Benedict berdiri. “Biarkan tim Brooklyn menyelesaikan pembersihan internal terlebih dahulu. Kita pergi ke tempat lain.”

“Siapkan tim taktis tambahan. Kita akan mengunjungi Bellucci. Bajingan itu mengira bisa menggunakan tikus seperti Arthur untuk mengendus investasiku tanpa membayar harganya.”

Luca seketika menegakkan tubuh. “Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan dua mobil pengawal bersenjata penuh dalam lima menit.”

“Gunakan mobil penyamaran. Aku tidak ingin mereka kabur sebelum aku sampai,” perintah Benedict, melangkah keluar dari ruang rapat.

Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah gang sempit dan kumuh di kawasan industri Brooklyn. Aroma air laut yang asin langsung menusuk indra penciuman begitu mobil terbuka.

Di ujung gang, sebuah pintu besi tebal dengan lampu neon merah yang berkedip menjadi satu-satunya akses menuju club rahasia milik keluarga Bellucci.

Bendict melangkah memimpin di depan, Luca dan empat enam pria berpostur tegap mengikutinya dari belakang dengan tangan yang bersiap di balik jas mereka.

Brak!.

Luca menendang pintu besi itu hingga terbuka paksa, memutus dentuman musik disko yang bergema di ruangan itu. Suasana menjadi hening seketika. Semua mata tertuju pada pintu masuk.

Begitu mereka mengenali siluet tegap dan wajah tegas Benedict yang melangkah masuk ke dalam, beberapa pria berbaju kulit langsung berdiri, tangan mereka refleks menuju pinggang.

Bendict berhenti di tengah ruangan, mengabaikan selusin moncong senjata yang mulai diarahkan padanya. Ia menatap langsung ke arah area VIP, dimana bos wilayah itu sedang duduk tertegun.

“Kudengar kau sangat tertarik dengan urusanku di pelabuhan Brooklyn, Bellucci,” ucap Benedict dengab suara rendah.

Benedict menatapnya dengan sinis. “Aku datang untuk membawakannya langsung kepadamu. Beserta harga yang harus kau bayar karena telah menyentuh milikku.”

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!