Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.
Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35 Jangan sentuh!
Dua jam sebelum berangkat ke acara Galang Dana Amal.
Di sebuah butik yang sudah punya brand pakaian terkenal. Hana berdiri di depan cermin besar di dalam ruang ganti VIP, mengamati pantulan dirinya. Gaun sutra hitam pilihan Reigan melekat sempurna, membingkai siluet tubuhnya dengan potongan yang luar biasa rapi.
Gaun baru lagi.
Gaun itu tertutup rapat dan elegan di bagian punggung, menyembunyikan segala hal yang perlu Hana sembunyikan dengan aman. Namun, potongan kainnya yang memeluk tubuh tetap menegaskan lekuk feminin yang selama ini selalu Hana samarkan di balik pakaian kaku khas seorang Vesper.
Hana menata letak rambut panjangnya, memastikan penampilannya tetap terlihat tenang dan tidak terusik.
Untuk memenuhi undangan menteri sosial, Reigan menginginkan gaun baru untuk Hana. Berbeda dengan waktu lalu, kini pria itu memilihkan sendiri gaun apa yang ia pakai.
Pria ini sengaja mengosongkan butik dan menunggunya di luar untuk melihat hasil pilihannya.
"Cepatlah keluar Hana!" panggil Reigan di luar fitting room sambil menyesap minuman.
Hana menghela napas. Menyibak tirai mewah itu. Lalu keluar dari fitting room.
Reigan yang tadinya menunduk kini mendongak. Netranya mengawasi lekuk tubuh Hana yang meski terlihat kurus ternyata memukau jika memakai gaun yang tepat.
Wanita ini masih membuatnya terpesona.
Pria ini tidak bicara apa-apa. Hanya diam, tapi tubuhnya langsung bangkit dari sofa. Berjalan mendekat dan berkata, "Ternyata tidak ada gaun yang gagal di tubuhmu." Tepat saat dia berdiri di dekat Hana. Lalu mengulurkan tangan untuk merapikan rambut wanita ini.
Sentuhan jemari Reigan di tengkuknya terasa hangat.
Hana tetap diam, menatap lurus pada dada bidang Reigan yang kini hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya. Dia bisa mencium aroma parfum pria itu—maskulin, pekat, dan entah sejak kapan mulai terasa familiar di indera penciumannya.
"Kau sengaja membuatku menunggu lama di luar?" tanya Reigan rendah. Suaranya serak, ada nada menginterogasi yang intim, bukan kemarahan.
"Tidak. Gaunnya agak sulit dipakai."
Reigan meraih pinggang Hana. Lalu turun menyusuri tubuh sisi kanan. Ada yang menyembul sedikit. Dia curiga.
"Jangan sentuh," cegah Hana. Ia langsung memegang pergelangan tangan Reigan, menahan agar jemari pria itu tidak meraba lebih jauh. Ada sesuatu yang ia sembunyikan disana.
Tapi tangan Reigan masih ingin bergerak menyusuri paha kanan.
"Kau bukan sedang menginginkan tubuhku, kan?" sergah Hana ketat.
"Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya ingin tahu apa itu?" tunjuk Reigan dengan tatapannya.
"Senjata."
Reigan menatap lurus ke arah Hana.
"Kita bukan sedang bermain boneka, kan? Itu pesta besar yang kemungkinan banyak musuh disana," sambung Hana.
Benar.
Reigan tersenyum tipis. Ia menatap Hana dengan pandangan menilai yang puas. Dirinya lupa siapa Hana. Sifat waspada Hana justru membuatnya semakin tertarik.
Hana sudah mempersiapkan semuanya. Dia memang ahli.
Tangan Reigan naik lagi dan memegang erat pinggang Hana. Mendadak menarik Hana lebih dekat. Reigan menyentuh bibir Hana perlahan. Memaku pandangannya disana beberapa detik.
Hana menahan napas.
"Reigan, kita tidak punya banyak waktu sebelum acara menteri dimulai," ucap Hana, suaranya sedikit tertahan. Itu adalah upaya terakhirnya untuk menarik garis batas.
Reigan mengerjap. Sepertinya fantasinya buyar. Ia harus kembali ke kenyataan bahwa wanita ini terlalu dingin padanya. Padahal atmosfer barusan terasa hangat.
"Ya. Kita bukan sedang bermain-main." Reigan melepas pegangannya pada pinggang Hana. Merapikan jas berwarna hitam miliknya dan mendengus. "Ayo kita berangkat. Aku ingin segera tahu apa tujuan menteri sosial itu mengundang ku."
Di balik keanggunan gaun sutra itu, gerakannya selalu waspada. Seperti refleks seseorang yang sudah terbiasa hidup di ujung tanduk.
Reigan tahu betul, wanita di depannya ini bisa saja mendadak mencabut belati dan menyerang kapan saja. Sifat dingin Hana terkadang hampir membuatnya lupa kalau wanita ini menyimpan bahaya yang bisa mengancam dirinya sendiri. Tapi anehnya, hal itu justru membuat Reigan tidak bisa mengalihkan pandangan.
***
Di dalam mobil.
Reigan menyetir dengan kecepatan yang tenang. Hana menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk. Tubuhnya tegak dan bola matanya melihat ke arah jalan.
Sunyi. Mengusik Reigan untuk bertanya.
Ekor mata Reigan melirik. "Apa menjadi Vesper membuatmu memilih sunyi daripada keramaian?"
Kepala Hana menoleh cepat. Tidak biasanya pria ini bertanya personal padanya.
"Bukankah jadi seorang Vesper memang harus terus dalam kesunyian?" tanya Hana balik. Nada suaranya datar, tanpa emosi, sebelum pandangannya kembali beralih menatap tajam ke luar jendela mobil.
"Tapi tidak jika denganku," potong Reigan.
Hana menatap Reigan lurus. Meminta jawaban dari kalimat barusan.
"Buka topengmu. Kamu pasti ingin hidup normal." Reigan menunjukkan kesal.
Hana tersenyum dengan dengusan halus. Geli. Juga getir. Reigan tertegun.
Jawaban bisu Hana menyudahi menyudahi pembicaraan. Reigan tidak membalas lagi, hanya ada senyum tipis sarat arti di sudut bibirnya yang menunjukkan bahwa dia menghargai alasan wanita ini menjadi sedingin es.
...----------------...
Di dalam aula pesta Galang Dana Amal.
Menteri Sosial melangkah maju dan langsung mengulurkan tangan ketika dia melihat Reigan. Ia menjabat tangan Reigan dengan erat, sementara tangan kirinya menepuk bahu tegap pria itu beberapa kali. Sebuah sambutan yang menunjukkan kedekatan nyata, bukan sekadar basa-basi politik.
Reigan membalas jabat tangan itu dengan hormat, senyum tipis yang penuh karisma tersungging di bibirnya.
"Saya senang sekali Anda bisa menyempatkan diri datang malam ini," ucap sang menteri meski Reigan muda darinya, dia tetap menghormati.
Reigan tersenyum formal.
"Sebuah kehormatan bagi saya bisa memenuhi undangan Anda, Pak Menteri," jawab Reigan tenang, suaranya terdengar stabil dan berwibawa. "Ini istri Saya." Reigan mengenalkan Hana.
Tatapannya beralih sekilas pada Hana yang berdiri sambil memeluk lengan Reigan.
"Oh, Nyonya Reigan. Saya baru dengar kalau Anda sudah menikah." Menteri itu mengulurkan tangan pada Hana.
Ya, wajar jika beliau baru tahu. Reigan baru membawa Hana ke publik saat pesta ulang tahun kakek Arthur. Pernikahan mereka juga tertutup.
Bibir Hana tersenyum formal. Ada perasaan aneh ketika Hana akhirnya bertemu sedekat ini dengan pria yang masuk daftar buruannya.
"Terima kasih sudah mengundang kami," ujar Hana mengangguk hormat.
"Justru kami yang berterima kasih," ujar menteri sosial itu. "Mari. Saya bisa antarkan Anda duduk."
"Tidak perlu. Kami bisa mencari tempat duduk kita sendiri," tolak Reigan.
"Ini pertama kalinya Anda datang ke acara Galang dana milik kami. Kami wajib menerima tamu dengan baik."
"Anda datang sendiri menyambut kami sudah termasuk menerima tamu dengan baik, Pak Menteri," ujar Reigan menolak kedua kalinya.
"Baiklah, baik. Saya mengalah. Anda bisa mencari tempat duduk Anda tanpa saya antar." Bapak menteri memberi jalan pada Reigan dan Hana untuk mencari kursi.
lanjutttt💪😄