Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Setelah memilih gaun dan jas. Beberapa pegawai butik mulai sibuk mencocokkan berbagai aksesori yang sebelumnya sempat Nara pilih.
"Tuan, Ini jam tangan yang tadi Nona Nara pilihkan untuk Anda," ujar salah satu pegawai sambil menyerahkan sebuah jam tangan elegan dan tentu saja berharga mahal pada Sagara.
Pria itu baru hendak menolak ketika Nara lebih dulu mengambil jam tersebut lalu memakaikannya langsung pada pergelangan tangannya.
"Bagaimana? Bukankah ini cocok?" tanya Nara singkat.
Sagara refleks menunduk memperhatikan jam tangan yang kini melingkar di pergelangan tangannya. "Apa Anda selalu seperti ini?" tanyanya sambil mengangkat wajah lalu menatap Nara.
Nara justru tersenyum kecil tanpa melepaskan jemarinya yang masih bertengger di pergelangan tangan Sagara. "Aku hanya seperti ini padamu."
Sagara langsung terdiam. Sementara pegawai butik di sekitar mereka mulai mati-matian menahan ekspresi. Jika seperti ini caranya, siapa yang akan percaya hubungan mereka cuma pura-pura?
Tak lama kemudian semua pilihan akhirnya selesai. Kotak-kotak besar berisi jas, sepatu, aksesori, dan gaun mulai dirapikan pegawai butik untuk dikirim ke alamat masing-masing.
Nara kembali mengenakan pakaian kerjanya setelah keluar dari ruang ganti.
"Tolong kirim barang-barang milik saya ke alamat biasa," ucap Nara. Tatapannya lalu beralih pada beberapa barang milik Sagara. "Untuk yang lainnya tolong kirim ke alat yang saya catat tadi."
"Anda mengirimnya ke mana?" sela Sagara cepat.
Nara menoleh lalu menatap Sagara yang berdiri di sampingnya. "Tentu saja ke alamat rumah kontrakanmu."
"Jangan!" Sagara kembali menjawab cepat.
Semua orang langsung menoleh padanya. Wajah Sagara terlihat serius. "Jangan kirim ke kontrakan saya."
Kalau sampai tetangga keponya melihat isi kotak-kotak mahal itu datang ke rumah kontrakannya ... Ia yakin hidupnya benar-benar tamat.
Nara yang langsung memahami alasannya justru menahan tawa. "Kalau begitu kirim ke apartemenku saja," ucapnya santai.
Sagara langsung menatap tajam. "Itu lebih tidak boleh lagi."
Mendengar jawaban ketus Sagara, Nara malah terkekeh kecil, apalagi saat melihat ekspresi frustasi pria itu. Ia merasa sangat puas.
****
Keesokan harinya, suasana bengkel sudah jauh lebih sepi dibanding biasanya.
Hari mulai beranjak malam. Sebagian besar montir sudah pulang sejak satu jam lalu setelah pekerjaan selesai. Hanya tersisa dua orang montir baru yang masih membereskan peralatan sebelum menutup bengkel.
Di dalam ruang kecil belakang bengkel. Sagara berdiri kaku di depan cermin retak yang menggantung di dinding.
Jas hitam yang semalam dipilihkan Nara melekat pas di tubuhnya. Dipadukan dengan kemeja putih bersih dan jam tangan mahal di pergelangan tangannya, membuat penampilan Sagara berubah drastis.
"Buset ...." Suara Andi tiba-tiba terdengar dari balik pintu yang terbuka sedikit.
Sagara langsung menoleh tajam. "Ngapain lu belum pulang?"
Andi malah masuk sambil menatap Sagara dari atas sampai bawah tanpa berkedip. Mulutnya terbuka kagum. "Gila ...," gumamnya pelan. "Lu kalau begini beneran kayak anak orang kaya, Ga."
Sagara mendecak pelan lalu kembali merapikan manset kemejanya. "Mending lu pulang sana."
Bukannya pergi, Andi justru makin mendekat dengan tatapan penasaran. "Jujur deh," katanya sambil menyipitkan mata. "Lu yakin bukan anak orang kaya yang ketuker waktu bayi?"
Alis Sagara terangkat tipis. "Maksudnya?"
"Ya kali aja," jawab Andi santai. "Soalnya muka lu tuh cocok jadi pewaris perusahaan bukan jadi montir yang belepotan oli."
Sagara langsung menendang pelan kaki Andi. "Ngaco! Gue malah bangga jadi montir."
Andi tertawa keras. Namun, tawanya mendadak terhenti saat suara klakson mobil terdengar dari depan bengkel.
Keduanya refleks menoleh keluar.
Sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti tepat di depan bengkel yang sudah hampir tutup itu. Lampu depannya memantul terang di lantai semen.
Andi melongo melihatnya. "Anjir ... ayang mbeb beneran dateng."
Tangan Sagara refleks menggeplak bahu Andi lumayan keras. "Sembarangan," semburnya.
Mulut Andi berniat memprotes. Namun, matanya lebih dulu menangkap Nara yang keluar dari mobil.
Wanita itu mengenakan gaun biru tua elegan dengan rambut yang ditata sederhana, namun memikat. Sepasang anting berkilau di telinganya. Tumit heelsnya berdetak pelan saat melangkah mendekati bengkel.
Tatapan Nara langsung jatuh pada Sagara. Ia bahkan sempat terpaku sejenak sebelum sorot matanya bergerak perlahan menelusuri penampilan Sagara dari atas sampai bawah. Jas yang semalam di pilihnya ternyata benar-benar cocok.
Sudut bibir wanita itu terangkat tipis. "Ternyata kau memang cocok berpakaian seperti itu."
Andi langsung menyenggol lengan Sagara pelan sambil berbisik heboh. "Woi ... Pacar lu aja sampe bengong gitu."
Sagara langsung melotot tajam. Namun, Andi malah menyeringai lebar sebelum buru-buru mundur menjauh.
"Oke oke gue pergi!" katanya cepat sambil mengangkat tangan menyerah. "Daripada jadi obat nyamuk di sini."
Nara terkekeh kecil melihat tingkah Andi. Sementara Sagara justru terlihat makin tidak nyaman.
"Sebaiknya kita pergi sekarang, Nona," ucap Sagara.
Nara mengangguk santai. "Ayo." Ia lalu berbalik menuju mobilnya lebih dulu.
****
Mobil melaju membelah jalanan malam kota yang dipenuhi cahaya lampu. Susana di dalam mobil terasa jauh berbeda di banding saat mereka biasa berboncengan motor menuju warung bakso atau angkringan pinggir jalan. Kali ini semuanya terasa mewah ... dan juga lebih menegangkan.
Sagara duduk tegak di kursi penumpang belakang Tatapannya beberapa kali melirik keluar jendela. Sementara Nara yang duduk di sampingnya duduk santai sambil berbalas pesan dengan Tiwi yang sudah menunggunya di tempat acara.
"Kau gugup?" tanya Nara tiba-tiba.
Sagara menghela napas pendek. "Menurut Anda?"
Sudut bibir Nara terangkat tipis. "Tenang saja," ucapnya santai. "Aku hanya ingin memberitahu beberapa hal penting sebelum kita sampai."
Sagara menoleh padanya.
Nara menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Malam ini yang berulang tahun adalah Kakekku. Dhanubrata. Dan beliau bukan tipe yang mudah dibohongi."
Tatapan Sagara menyipit tipis.
"Karena itu jangan banyak bicara," lanjut Nara. "Jawab seperlunya saja. Sisanya biar aku yang mengurus."
Sagara mengangguk pelan.
"Selain Kakekku, akan ada paman, bibi, sepupu, dan beberapa relasi bisnis keluarga yang datang," jelas Nara lagi. "Sebagian besar mungkin hanya penasaran melihatmu."
"Mereka tahu soal saya?"
"Hanya kakek yang tahu," jawab Nara santai. "Oh iya," lanjut wanita itu lagi. "Ada satu orang lagi yang harus kau waspadai selain kakek."
"Siapa?"
"Seokjin," jawab Nara.
Nama itu membuat alis Sagara sedikit terangkat.
Nara melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali menatap jalan di depan. "Dia cucu keluarga utama juga," jelasnya. "Bisa dibilang ... orang yang paling disukai kakek selain aku."
"Kekasih Anda?" tanya Sagara datar.
Nara langsung menoleh cepat. "Kau bercanda? dia itu sepupuku."
Jawaban itu terlalu cepat sampai membuat Sagara sedikit menahan senyum tipis.
Nara mendecak pelan sebelum kembali melanjutkan. "Dia baru pulang dari luar negeri. Kudengar salah satu anak perusahaan di sana sedang bermasalah dan dia turun tangan langsung di sana."
"Kalau begitu dia pasti sibuk."
"Mm." Nara mengangguk kecil. "Tapi untuk acara keluarga seperi ini, Seokjin hampir tidak pernah absen."
Mobil kembali dipenuhi keheningan sejenak.
"Tolong ingatlah untuk tidak terlalu terpancing dengan ucapan Seokjin. Dia itu ...."
"Apa dia menyukai Anda?" potong Sagara tiba-tiba.
Nara sempat terdiam. Lalu perlahan wanita itu justru tertawa kecil. "Kau ternyata cukup suka bertanya soal kehidupan pribadiku."
"Saya tidak bermaksud seperti itu," jawab Sagara cepat.
Mobil mewah itu akhirnya melambat memasuki area lobi sebuah hotel berbintang di pusat kota. Cahaya lampu kristal yang memantul dari dinding kaca langsung menyambut begitu mobil berhenti tepat di depan pintu utama.
Seorang petugas hotel buru-buru membukakan pintu mobil untuk mereka.
Nara turun lebih dulu dengan anggun, disusul oleh Sagara yang ikut turun dari sisi lain mobil.
Pria itu sempat terdiam sesaat melihat suasana hotel yang begitu megah. Ia jelas tahu siapa pemilik hotel megah itu.
"Kenapa diam?" tanya Nara pelan.
Sagara menghembuskan napas pendek. "Saya cuma merasa salah tempat."
"Aneh," gumam Nara santai. "Padahal menurutku justru banyak orang di sini yang kalah cocok dibanding denganmu."
Sagara menoleh cepat. Namun, sebelum sempat membalas, Nara tiba-tiba menyelipkan tangannya ke lengan pria itu. "Mulai sekarang ingat," bisiknya pelan tanpa melepas senyum. "Di dalam sana kita pasangan."
Tubuh Sagara refleks menegang sesaat. Ia bisa merasakan beberapa pasang mata mulai memperhatikan mereka.
Dan benar saja, begitu mereka melangkah memasuki ballroom hotel, suasana langsung berubah sedikit riuh.
Beberapa tamu tampak saling berbisik.
"Bukankah itu Nona Naraya?"
"Pria di sampingnya siapa?"
"Apa itu kekasihnya?"
Tatapan Sagara menyipit tipis mendengar bisik-bisik itu. Namun, pria itu tetap berjalan tenang di samping Nara tanpa menunjukkan rasa gugup sedikit pun.
Justru sikap tenangnya itulah yang membuat beberapa orang semakin penasaran.
Di ujung ballroom, seorang pria paruh baya yang sedang berbincang dengan tamu lain tiba-tiba berhenti saat melihat kedatangan mereka. Matanya membulat samar. Tatapannya lalu turun pada tangan Nara yang sedang melingkar di lengan Sagara.
Dan selanjutnya, suasana pesta yang semula biasa perlahan mulai berubah.
**** bersambung.
kira2 surat epa ya yg pengen dikasih ibunya viola? surat tentang kebenaran kekuarga sagara atau apa?
akhirnya sudah lebih jauh sagara masuk ke konflik para eksekutif, padahal dia cuma ingin menikmati hidupnya yg sederhana