NovelToon NovelToon
SAH TAPI TIDAK SELESAI

SAH TAPI TIDAK SELESAI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menikah Karena Anak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.

Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.

Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.

Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA JIWA YANG SALING MEMUNGGUNGI

Mira memarkirkan motornya di halaman rumah dengan tangan yang masih gemetar hebat. Sepanjang perjalanan dari masjid, ia mati-matian menelan isaknya, mencoba fokus pada jalanan meski pandangannya berkali-kali kabur oleh air mata. Ia memakai helm dengan kaca tertutup rapat, menyembunyikan kehancurannya dari dunia luar. Ia berpikir ia cukup kuat untuk sampai ke kamar tanpa diketahui siapapun.

Namun, begitu ia melangkah menuju pintu depan, pintu itu terbuka lebih dulu.

Ibu Mira berdiri di sana dengan wajah lembut yang penuh kekhawatiran. Sang ibu tidak bertanya, tidak menghakimi, ia hanya menatap mata putrinya yang merah dan bengkak. Tatapan penuh kasih sayang yang seolah bisa membaca seluruh luka yang disembunyikan Mira selama ini.

"Mira... kamu sudah pulang, Nak?" tanya Ibunya dengan suara sangat tenang.

Hanya satu kalimat itu. Hanya suara itu.

Pertahanan Mira yang ia bangun setinggi gunung seketika runtuh berantakan. Tas yang ia pegang terjatuh begitu saja ke lantai. Mira menghambur ke pelukan ibunya, menyembunyikan wajahnya di bahu wanita yang melahirkannya itu. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini meledak menjadi raungan yang menyayat hati.

"Ibu... dia sudah menikah, Bu... Nayaka sudah sah jadi milik orang lain..." tangis Mira pecah, suaranya parau karena rasa sesak yang luar biasa. Tubuhnya merosot lemas hingga ia bersimpuh di kaki ibunya, memeluk erat lutut sang ibu seolah hanya di sanalah tempat teraman di dunia ini.

Ibunya ikut berlutut, memeluk kepala Mira dan mengusap rambutnya dengan penuh kesabaran. Air mata sang ibu ikut menetes melihat putri bungsunya hancur sehancur-hancurnya.

"Tumpahkan semuanya, Nak. Menangislah di sini, di pelukan Ibu. Jangan ditahan lagi," bisik Ibunya sambil terus membelai punggung Mira yang terguncang hebat.

Di teras rumah itu, di bawah dekapan hangat ibunya, Mira melepaskan seluruh rasa sakit dari sepuluh tahun yang sia-sia. Ia tidak peduli lagi jika Mas Danang atau kakak-kakaknya yang lain melihatnya dalam kondisi serendah ini. Hari ini, ia hanya ingin menjadi anak kecil bagi ibunya, satu-satunya orang yang tidak akan pernah meninggalkannya, bahkan saat dunianya baru saja kiamat.

Ibunya mengecup kening Mira dengan lembut, membiarkan tetesan air mata mereka menyatu dalam keheningan yang menyesakkan. Pelukan itu begitu erat, seolah sang ibu sedang berusaha merekatkan kembali kepingan hati putrinya yang telah hancur berserakan.

"Nggak ada yang salah soal menangis, Nak. Menangislah sampai dadamu terasa lapang, sampai tidak ada lagi sesak yang tersisa," ucap Ibunya dengan suara yang bergetar namun tetap menenangkan. "Menangis bukan berarti kamu kalah, itu tandanya kamu manusia yang punya hati. Tapi ingat, setelah air mata ini kering, kamu harus janji pada diri sendiri untuk tidak menoleh lagi."

Sang ibu memegang kedua pundak Mira, memaksanya untuk mendongak dan menatap mata yang penuh kebijaksanaan itu.

"Sepuluh tahun itu waktu yang lama, Ibu tahu itu berat. Tapi hari ini Tuhan sudah kasih jawaban paling tegas. Dia bukan untukmu. Sekarang, bebanmu untuk menjaga perasaan itu sudah selesai. Kamu sudah bebas, Mira. Kamu sekarang bisa mulai melangkah, pelan-pelan saja, tidak perlu berlari. Ibu dan kakak-kakakmu akan selalu ada di belakangmu untuk memastikan kamu tidak jatuh lagi."

Mira hanya bisa mengangguk lemah di sela isaknya. Kata-kata ibunya perlahan meresap, menjadi penawar sedikit rasa sakit yang membakar jiwanya. Di dalam rumah, ia bisa mendengar langkah kaki Mas Danang yang terhenti di balik pintu, seolah kakaknya itu juga sedang menahan diri untuk tidak ikut meledak melihat adiknya terluka.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mira tidur di pangkuan ibunya. Meskipun bayangan Nayaka yang menangis di depan penghulu masih membekas kuat, ia mulai menyadari satu hal: ia memang telah kehilangan cintanya, tapi ia tidak pernah kehilangan rumahnya. Perjalanan barunya dimulai di sini, di atas sajadah dan pelukan ibu, di mana ia harus belajar berjalan tanpa nama laki-laki yang selama ini menjadi dunianya.

Di kamar pengantin yang seharusnya penuh kebahagiaan, suasana justru terasa mencekam. Azzura, yang masih mengenakan kebaya putih mewah, duduk bersimpuh di depan ibunya. Ia merobek hiasan melati di rambutnya dengan kasar, membiarkan bunga-bunga itu berserakan di lantai, sama seperti perasaannya yang hancur.

"Ibu sudah puas?" tanya Azzura dengan suara serak, air mata mengalir deras merusak riasan pengantinnya yang sempurna. "Aku sudah turuti permintaan Ibu untuk menikah dengan pria yang Ibu dan Ayah pilih. Aku sudah menyerahkan seluruh hidupku untuk ambisi kalian!"

Ibunya hanya berdiri mematung, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Azzura, ini demi kebaikanmu, demi masa depan..."

"Masa depan siapa, Bu?!" potong Azzura dengan tawa getir di sela tangisnya. "Ibu lihat laki-laki di luar sana? Nayaka bahkan tidak bisa menatap mataku tanpa menangis karena meratapi wanita lain. Dia hancur, dan aku... aku harus hidup bersama mayat hidup yang jiwanya tertinggal di tempat lain!"

Ternyata, Azzura bukanlah antagonis dalam cerita ini. Ia hanyalah korban lain dari catur kekuasaan orang tua. Namun, berbeda dengan Nayaka yang terlihat rapuh dan kehilangan arah, Azzura jauh lebih kuat dalam menyembunyikan lukanya. Di depan penghulu tadi, ia mampu bersikap tegar, mencium tangan Nayaka dengan tenang, dan menjalankan perannya sebagai pengantin wanita yang patuh—meski hatinya sendiri sedang berteriak kesakitan karena harus meninggalkan seseorang yang ia cintai secara diam-diam.

"Jangan pernah minta aku untuk tersenyum lagi, Bu," ucap Azzura dingin sambil menghapus air matanya dengan punggung tangan. "Aku sudah berikan ragaku untuk pernikahan ini. Tugas sebagai anak yang berbakti sudah selesai. Sekarang, biarkan aku menanggung neraka ini sendirian."

Azzura berdiri, menatap bayangan dirinya di cermin dengan tatapan kosong. Di balik pintu kamar itu, Nayaka mungkin sedang meratapi Mira, namun di dalam kamar ini, Azzura sedang meratapi dirinya sendiri—seorang wanita yang harus membunuh mimpinya demi menjadi alat perdamaian dan bisnis orang tuanya. Ia kuat karena ia terbiasa memendam, namun kekuatannya itu justru yang membuatnya merasa paling kesepian di dunia.

Nayaka menutup pintu kamar dengan gerakan yang sangat pelan, seolah tidak punya tenaga lagi bahkan untuk sekadar menggerakkan tangannya. Ia meletakkan peci di atas meja rias tanpa menoleh ke arah Azzura yang masih duduk di tepi tempat tidur dengan gaun pengantin yang masih melekat.

Ruangan itu dipenuhi aroma melati yang menyesakkan, kontras dengan suasana hati keduanya yang dingin dan hancur.

"Kamu tahu kan kalau aku menikahi kamu bukan karena cinta?" ucap Nayaka dengan suara datar, nyaris berbisik. Ia menatap kosong ke arah jendela, tidak berani menatap Azzura karena setiap inci dari pernikahan ini hanya mengingatkannya pada wajah sembab Mira di masjid tadi.

Azzura tidak tersinggung. Ia justru terkekeh getir, sebuah suara yang terdengar begitu hampa. Ia mendongak, menatap punggung Nayaka yang tampak begitu rapuh.

"Aku tahu," jawab Azzura tenang, meski matanya masih kemerahan. "Sangat tahu. Dan aku rasa kamu juga harus tahu satu hal, Nayaka. Kamu bukan satu-satunya orang yang merasa sedang dieksekusi hari ini."

Nayaka terdiam, kalimat Azzura barusan seolah menamparnya. Ia baru menyadari bahwa wanita di hadapannya ini tidak sedang menjalankan peran sebagai "pencuri kebahagiaan", melainkan sesama tawanan yang sedang menjalani hukuman yang sama.

"Aku juga mencintai pria lain yang sekarang mungkin sama hancurnya seperti kekasihmu," lanjut Azzura. Ia menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar, menatap Nayaka dengan sorot mata yang tajam namun kosong.

"Pria yang harus melihat wanita yang ia cintai bersanding dengan laki-laki yang bahkan tidak punya keberanian untuk kabur. Jadi, jangan merasa kamu adalah korban sendirian di sini, Nayaka. Di luar sana, ada pria yang hatinya baru saja aku hancurkan demi menuruti ambisi orang tua kita."

Nayaka terduduk lemas di sofa sudut kamar, menenggelamkan wajah di kedua tangannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lega karena tidak perlu berpura-pura di depan Azzura. Namun, kenyataan bahwa mereka berdua adalah korban dari ambisi yang sama membuat rasa sakit itu terasa semakin nyata.

"Lalu... apa yang harus kita lakukan?" tanya Nayaka tanpa mengangkat wajahnya.

"Sederhana," sahut Azzura dingin sambil mulai melepas perhiasan di tangannya satu per satu. "Kita hanya perlu memainkan peran ini di depan orang tua kita sampai mereka puas. Jangan harap aku akan menjadi istri yang manis, dan aku tidak akan menuntut kamu menjadi suami yang mencintai. Di kamar ini, kita hanya dua orang asing yang terjebak dalam nasib yang sial. Selebihnya? Kita tidak punya urusan."

Malam itu, di kamar pengantin yang seharusnya penuh janji kebahagiaan, hanya ada dua jiwa yang saling memunggungi. Nayaka teringat Mira, sementara Azzura teringat pria yang ia tinggalkan—keduanya sama-sama menyadari bahwa mulai malam ini, hidup mereka hanyalah sebuah sandiwara panjang yang melelahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!