NovelToon NovelToon
Cinta Di Langit Tajmahal

Cinta Di Langit Tajmahal

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:627
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨

AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.

Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.

Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.

Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 PENGORBANAN CINTA YANG TAK TERBATAS

Waktu berlalu, kebahagiaan keluarga Singhania seolah sempurna. Aryanveer dan Arshveer sudah tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan tampan. Namun, takdir Tuhan ternyata masih memiliki skenario lain yang luar biasa dalam hidup mereka.

Tiba-tiba, kabar gembira datang kembali. Maheera dinyatakan positif hamil lagi!

"Masya Allah... kita dapat amanah lagi ya Sayang?" seru Aaryan bahagia sambil memeluk istrinya.

Namun, senyum itu tidak bertahan lama. Saat kontrol ke dokter dan dilakukan USG, wajah dokter terlihat sangat serius dan penuh kekhawatiran.

 

Kondisi Kritis dan Risiko Besar

"Dokter jujur saja ya Tuan Aaryan..." ucap dokter dengan nada berat. "Kondisi Ibu saat ini sangat berisiko tinggi. Karena sebelumnya Ibu pernah melahirkan bayi kembar dengan berat yang besar, kondisi rahim dan fisik Ibu belum pulih sepenuhnya."

"Terus bagaimana Dok? Bahaya kah?" tanya Aaryan cemas, tangannya dingin dan gemetar.

"Jujur saja, ada komplikasi pada dinding rahim. Beban janin ini membuat tubuh Ibu bekerja sangat keras. Tekanan darahnya juga tidak stabil. Kami sangat khawatir akan keselamatan Nyonya..."

Mendengar itu, Maheera yang ada di samping langsung memegang tangan suaminya erat-erat. Wajahnya pucat namun matanya memancarkan tekad yang sangat kuat.

"Tidak Dok... Maheera mau bayinya selamat. Maheera mau pertahankan anak ini. Dokter bilang kan ini bayi perempuan? Benar kan Dok?" tanya Maheera bergetar.

"Iya Bu... benar. Ini janin perempuan. Cantik dan sehat perkembangannya."

"Kalau begitu... Maheera janji akan berjuang. Maheera mau anak ini lahir ke dunia. Biar Aryanveer dan Arshveer punya adik perempuan. Biar keluarga kita lengkap ada cowok dan ceweknya. Maheera tidak mau menggugurkan atau menyerah," tegas Maheera bulat tekadnya.

Aaryan menangis mendengarnya. "Tapi Sayang... nyawamu juga taruhannya. Aku takut kehilangan kamu..."

"Percayalah sama aku Mas... kita akan berjuang bareng-bareng. Demi putri kecil kita."

 

Perjuangan yang Berat

Sejak saat itu, Maheera benar-benar dijaga ketat. Ia harus tirah baring total di ranjang. Tubuhnya semakin kurus dan lemas karena nutrisi diambil oleh bayi di dalam perutnya.

Seringkali ia mengalami pendarahan ringan, seringkali kram perut yang hebat, dan tekanan darahnya naik turun tidak stabil.

Tapi setiap kali ada gerakan bayi di perutnya, senyumnya selalu muncul.

"Kamu kuat ya Nak... Ibu pasti usahakan yang terbaik buat kamu. Kamu harus sehat ya..." bisiknya lembut sambil mengelus perutnya yang terlihat kecil namun berisi nyawa yang sangat berharga.

Aaryan tidak pernah meninggalkannya sedetik pun. Ia menjadi perawat pribadi yang setia. Memberikan obat, menyuapi makan, memijat kaki, dan selalu berdoa di samping istrinya.

"Ya Allah... tolong selamatkan istri dan anakku. Jangan ambil salah satunya. Aku mohon..." doanya setiap malam dengan air mata yang tak henti.

Ny. Savitri pun ikut hancur melihat menantunya yang dulu ceria kini harus terbaring lemah. "Nak... kamu wanita terhebat yang pernah Ibu kenal. Pengorbananmu luar biasa."

 

Saatnya Waktu Penentuan

Akhirnya, karena kondisi yang semakin kritis, dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar (Sectio Caesarea) lebih cepat dari waktu perkiraan untuk menyelamatkan nyawa bayi dan ibunya.

Di ruang operasi yang dingin dan hening itu, seluruh tim medis bekerja dengan sangat sigap dan cepat.

Aaryan menunggu di luar dengan hati hancur, memukul-mukul dinding tak karuan. "Tolong... tolong selamatkan mereka..."

Beberapa jam yang terasa seperti abad lamanya...

Akhirnya pintu ruang operasi terbuka.

HUUUUAAAAAAA!!! 🎶👧

Terdengar tangisan bayi yang sangat lantang dan sehat!

"Alhamdulillah!!! Lahir dengan selamat!" seru perawat.

"Bayinya perempuan Tuan! Sehat! Beratnya 2,8 Kg! Cantik sekali!"

Aaryan berlari mendekat melihat bayi mungil itu. Wajahnya putih, rambutnya halus, dan sangat cantik jelita. Mirip sekali dengan Maheera.

"Putriku... adiknya Aryan dan Arsh..." bisiknya haru.

Namun, senyum itu langsung pudar saat melihat wajah dokter yang kembali muram.

 

Kepergian Sang Ratu

"Maaf Tuan Aaryan... kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Pendarahannya terlalu hebat. Tenaga Ibu sudah habis total habis melahirkan dan mempertahankan nyawa bayi ini..."

BRUK!!!

Dunia seakan runtuh seketika bagi Aaryan. Ia berlari masuk ke ruangan tempat istrinya dibaringkan.

Maheera terbaring lemah, wajahnya pucat pasi, napasnya sudah sangat lemah dan putus-nyambung. Matanya masih terbuka sedikit seolah menunggu suaminya datang.

"Sayangkuuuu!!! Maheeraaaa!!!" teriak Aaryan histeris sambil memeluk tubuh dingin itu. "Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan kita semua! Bangun Sayang!"

Maheera menggerakkan tangannya dengan sisa tenaga terakhirnya, menyentuh pipi suaminya yang basah oleh air mata.

"Mas... Maheera... sudah tidak kuat lagi..." bisiknya sangat pelan.

"Tapi lihat... Maheera sudah berhasil... kita punya putri cantik... namakan dia... Aarohi Singhania... ya... artinya... melodi cinta..."

"Jaga... Aryanveer... Arshveer... dan Aarohi... sayangi mereka... seperti kamu sayang sama aku..."

Air mata menetes di sudut mata Maheera.

"Aku sayang sekali sama kamu Mas... selamanya... sampai di akhirat nanti..."

TANG...

Detak jantung di monitor berbunyi panjang. Gerakan tangan itu lemas jatuh. Mata indah itu perlahan menutup selamanya.

"TIDAKKKKKKK!!!!" 🤯😭

Aaryan menjerit histeris, memeluk tubuh istrinya erat-erat seolah ingin menahan kepergiannya. "JANGAN PERGI SAYANGKU!!! BALIK LAGI!!! AKU BELUM SIAP!!!"

 

Dunia yang Gelap

Berita itu sampai ke telinga Ny. Savitri dan kedua anak laki-lakinya.

Saat mendengar bahwa Ibu mereka sudah tiada...

"IBUUUUUU!!!" 🥺😭

Aryanveer dan Arshveer yang baru berusia 3 tahun itu menangis sejadi-jadinya. Mereka tidak mengerti kenapa Ibu tidur terus dan tidak bangun-bangun lagi memeluk mereka.

Ny. Savitri pun ambruk lemas, tubuhnya gemetar hebat, ia menangis tersedu-sedu. "Ya Allah... kenapa harus dia? Dia begitu baik... dia begitu hebat... kenapa ambil dia secepat ini..."

Rumah megah yang dulu selalu penuh tawa dan canda, kini berubah menjadi rumah duka yang sunyi, sepi, dan penuh air mata.

Aaryan duduk mematung di samping jenazah istrinya. Ia masih tidak percaya. Ia masih menatap wajah itu berharap istrinya akan tersenyum dan bangun lagi seperti biasa.

"Kamu bohong ya Sayang... kamu bilang kita akan bersama selamanya... kenapa kamu pergi duluan..." gumamnya kosong.

Ia memegang bayi kecil Aarohi di dadanya. Bayi itu adalah hadiah terakhir, bukti pengorbanan terbesar Maheera. Wajah Aarohi yang cantik itu adalah salinan wajah Maheera.

"Kamu akan tumbuh besar ya Nak... dengan nama Ibu kamu selalu terukir di hati kita semua. Ibu kamu adalah pahlawan terhebat."

 

Akhir yang Penuh Haru

Meskipun hati mereka hancur berkeping-keping, meskipun rasa kehilangan itu terasa begitu perih... namun mereka sadar, bahwa Maheera telah memberikan yang terbaik dalam hidupnya.

Ia memberikan cinta, ia memberikan dua pangeran, dan terakhir ia memberikan seorang putri cantik sebagai pelengkap keluarga.

Pengorbanannya adalah bukti cinta yang paling murni dan abadi.

Kini, Aaryan harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi ketiga anaknya. Ia harus kuat demi Aryanveer, Arshveer, dan Aarohi.

Kenangan manis, tawa, dan kasih sayang Maheera akan selalu hidup abadi di setiap sudut rumah itu, di hati mereka, dan di dalam diri anak-anak yang ditinggalkannya.

Selamat jalan Sang Ratu... Cintamu akan abadi selamanya. 🕊️🤍👼

Kabar kehamilan yang kedua ini membawa suasana yang berbeda. Tidak seperti kehamilan pertama yang penuh dengan kegembiraan dan kemeriahan, kali ini suasana di rumah keluarga Singhania terasa lebih hening, lebih tegang, dan penuh dengan kekhawatiran yang mencekam.

Sejak dokter menyatakan bahwa kehamilan ini berisiko sangat tinggi dan berpotensi membahayakan nyawa sang ibu, kehidupan mereka berubah total.

 

Rutinitas Menuju Rumah Sakit

Hari demi hari, minggu demi minggu, tidak pernah terlewatkan. Setiap minggunya, mobil keluarga Singhania pasti terlihat parkir di halaman rumah sakit terbaik di kota itu.

"Mas... tolong pegang tanganku ya," ucap Maheera lembut dengan wajah yang mulai terlihat pucat dan kurus.

"Iya Sayang... Ayah di sini. Tenang ya, kita cuma cek kondisi dedek bayi sama Ibu biar keduanya sehat," jawab Aaryan berusaha tersenyum meski hatinya bergemuruh cemas.

Setiap kali masuk ruang pemeriksaan, detak jantung Aaryan pasti berpacu cepat. Ia takut mendengar kata-kata buruk dari dokter.

Dan setiap kali hasil pemeriksaan keluar, wajah dokter selalu saja berkerut serius.

"Tekanan darah Nyonya naik lagi Tuan Aaryan. Denyut jantungnya juga tidak stabil. Dinding rahimnya terlihat semakin menipis karena beban janin ini. Ingat Tuan... ini sangat berbahaya. Kondisi fisik Ibu belum pulih total setelah melahirkan kembar sebelumnya, ditambah lagi sekarang mengandung lagi..." jelas dokter dengan nada berat.

Aaryan menunduk, tangannya mengepal kuat. "Lalu bagaimana Dok? Apa yang harus kami lakukan?"

"Ibu harus benar-benar istirahat total. Tidak boleh ada aktivitas berat sama sekali. Setiap gerakan sedikit saja bisa berisiko. Kami akan memantau sangat ketat. Taruhannya adalah dua nyawa: Nyonya dan bayinya."

Mendengar kalimat "taruhan dua nyawa", bulu kuduk Aaryan meremang. Ia takut, sangat takut kehilangan wanita yang paling dicintainya di dunia ini.

 

Rahim yang Lemah dan Beban yang Berat

Seiring berjalannya waktu, perut Maheera memang membesar, namun bentuknya berbeda. Terlihat lebih kecil dan lebih menonjol ke depan, namun tegang dan keras sekali.

Di dalam sana, janin perempuan itu tumbuh dengan sehat dan aktif. Tapi kesehatan sang bayi itu didapat dengan cara "mengambil" seluruh nutrisi dan kekuatan dari tubuh ibunya.

Maheera semakin hari semakin kurus. Kakinya bengkak luar biasa, tangannya gemetar, dan seringkali mengalami pendarahan ringan yang membuat seluruh keluarga panik setengah mati.

"Ugh... sakit sekali rasanya di perut bagian bawah Bu..." keluh Maheera sambil memegang perutnya erat-erat saat sedang berbaring.

Ny. Savitri langsung memijat kakinya dengan air hangat, matanya tak henti meneteskan air mata.

"Sabar ya Nak... sabar ya putriku. Ibu tahu ini berat sekali. Kalau rasanya terlalu sakit dan kamu tidak kuat, kita bicara sama dokter lagi ya..."

"Tidak Bu..." potong Maheera cepat dengan sisa tenaganya. "Aku kuat Bu. Aku tahu ini anak perempuan. Aku tahu dia adalah pelengkap hidup kita. Aku ingin dia lahir ke dunia dengan selamat. Biar aku saja yang menahan sakitnya, yang penting anakku sehat."

Kata-kata itu keluar dengan tegas namun penuh kelemahan. Ia benar-benar sedang berperang melawan tubuhnya sendiri.

Rahimnya yang lemah akibat efek melahirkan dua bayi laki-laki yang besar sebelumnya kini harus bekerja ekstra keras menampung satu lagi nyawa yang berharga. Seringkali terasa nyeri hebat seperti ada yang robek dari dalam.

 

Malam-malam Penuh Doa dan Ketakutan

Malam hari adalah waktu yang paling menegangkan.

Aaryan tidak pernah tidur nyenyak. Matanya selalu terbuka memantau tidur istrinya. Setiap kali Maheera mengerang sakit sedikit saja, Aaryan langsung bangun sigap.

"Sayang... kenapa? Sakit lagi ya?"

"Iya Mas... rasanya sesak sekali nafasku... dan kakinya panas sekali," jawab Maheera lemas.

Aaryan akan segera mengambil kompres air dingin, mengoleskan minyak, dan memijat pelan kaki istrya yang bengkak itu.

"Maafkan aku Sayang... maafkan Ayah. Seharusnya Ayah tidak membiarkan kamu mengalami semua ini. Ayah takut... Ayah sangat takut kehilangan kamu," isak Aaryan akhirnya pecah di tengah malam yang gelap.

Ia memeluk pinggang istrya dengan sangat hati-hati.

"Jangan bilang gitu Mas..." bisik Maheera sambil mengusap kepala suaminya. "Ini bukan salah siapa-siapa. Ini takdir. Dan aku rela melakukan apa saja asalkan anak kita selamat."

"Bayi ini adalah bukti cinta kita yang ketiga. Biarkan dia hadir Mas... biarkan nama kita terus hidup lewat dia."

Di luar kamar, Ny. Savitri juga sering terlihat duduk bersimpuh di ruang tamu, berdoa tanpa henti memohon kepada Tuhan agar diberikan keselamatan untuk menantu dan cucunya yang masih di dalam kandungan.

Seluruh rumah terasa berat menyaksikan perjuangan hidup dan mati ini.

 

Janin Perempuan yang Dijaga Bagai Permata

Setiap kali USG dilakukan dan layar monitor menampilkan bentuk bayi di dalam sana...

Wajah Maheera akan langsung bersinar, seolah rasa sakitnya hilang seketika.

"Lihat Mas... lihat... dia menggerakkan tangannya. Cantik sekali ya wajahnya..." ucap Maheera dengan mata berbinar.

"Iya Sayang... dia sangat cantik. Dia mirip sekali sama kamu."

Dokter pun membenarkan, "Janin perempuan ini tumbuh dengan sangat baik dan sehat. Organ-organ tubuhnya lengkap dan sempurna. Dia sangat kuat di dalam sana."

Itulah yang menjadi kekuatan terbesar Maheera.

Mendengar bahwa bayinya sehat, membuatnya merasa semua rasa sakit yang ia rasakan adalah harga yang sangat pantas dibayar.

"Ayah dan Ibu akan jaga kamu baik-baik ya Nak... Kamu harus kuat, Ibu juga akan kuat..." bisiknya sambil membelai perutnya yang kian membesar dan terasa berat.

Ia tahu, jalan yang ia tempuh ini sangat tajam dan berbahaya. Satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Tapi demi putri kecilnya, ia rela mempertaruhkan segalanya, bahkan nyawanya sendiri.

Perjuangan ini bukan sekadar kehamilan biasa. Ini adalah pertarungan paling dahsyat antara cinta seorang ibu melawan keterbatasan fisiknya sendiri.

Waktu terus berjalan dengan kecepatan yang menyiksa. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.

Suasana di kediaman keluarga Singhania terasa begitu berat dan mendayu. Tidak ada lagi tawa riang seperti dulu. Setiap sudut rumah terasa dipenuhi oleh kekhawatiran dan doa-doa yang dipanjatkan dengan air mata.

Melihat Maheera yang semakin hari semakin kurus, semakin pucat, dan semakin lemah... hati siapa pun yang melihatnya pasti akan teriris perih. Namun, di mata Maheera, tetap ada api semangat yang tak padam. Ia bertahan demi buah hati di dalam perutnya.

Akhirnya, tibalah waktu yang ditunggu-tunggu sekaligus ditakuti. Hari Perkiraan Lahir (HPL) telah tiba.

 

Keputusan Operasi

Mereka kembali pergi ke rumah sakit untuk kontrol rutin. Kali ini wajah dokter terlihat sangat serius dan tegas.

"Baik Tuan dan Nyonya... melihat kondisi saat ini, rahim sudah tidak kuat menahan beban lebih lama lagi. Tekanan darah Nyonya sudah sangat tinggi dan fungsi organ mulai terganggu."

"Kami sarankan sebaiknya segera dilakukan operasi Sectio Caesarea (SC) hari ini juga. Kita tidak bisa menunggu kontraksi alami karena terlalu berbahaya. Kita harus segera mengeluarkan bayinya selagi masih ada kesempatan," jelas dokter dengan nada berat.

Aaryan memegang tangan istrinya yang dingin dan gemetar. "Baik Dok... kami setuju. Lakukan operasi sekarang juga. Kami percayakan segalanya pada Bapak Dokter."

Maheera menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Mas... doakan aku ya... doakan kita berdua selamat..."

"Pasti Sayang... pasti. Kamu wanita terkuat. Ayah tunggu di luar, kita akan bertemu dengan putri kecil kita," jawab Aaryan berusaha tegar meski suaranya bergetar.

 

Di Ruang Operasi

Maheera dibawa masuk ke ruang operasi yang dingin dan berkilauan oleh alat-alat medis. Ia sudah tidak bisa berjalan sendiri, tubuhnya terlalu lemas.

Anestesi diberikan. Operasi pun dimulai.

Dokter dan tim medis bekerja dengan sangat cepat dan sigap. Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi mereka yang menunggu di luar.

Di dalam sana, suasana sangat tegang.

"Siap... kita buka... hati-hati..."

Dengan teknik yang cepat, dokter berhasil membuka rahim dan mengambil janin kecil di dalamnya.

HUUUUAAAAAAA!!! 🎶👧

Tangisan bayi terdengar sangat lantang dan jelas memecah keheningan ruangan!

"Alhamdulillah! Bayi lahir dengan selamat! Perempuan! Sehat! Beratnya 2,8 Kg!" seru perawat dengan gembira sambil segera membersihkan dan membedung bayi mungil itu.

Semua orang di ruangan itu sempat bernapas lega melihat bayinya selamat dan sehat. Namun, kelegaan itu tidak berlangsung lama.

 

Pendarahan Hebat dan Nyawa yang Menggantung

Tiba-tiba...

"AWAS! Pendarahan hebat! Darahnya keluar banyak sekali!" teriak salah satu perawat panik.

Sruuuuttt... 🩸

Darah seakan tak henti mengalir keluar dari tubuh Maheera dengan volume yang sangat banyak. Lantai operasi berlumuran merah, sprei tempat ia berbaring cepat berubah warna menjadi gelap.

"Tekanan darah turun drastis! Denyut nadi melemah! Jantungnya lambat!"

Wajah Maheera yang tadinya pucat kini berubah menjadi putih seperti kertas. Napasnya mulai tersengal-sengal tidak beraturan.

"Bu Nyonya... tetap sadar ya Bu! Jangan tidur! Cari pembuluh darahnya! Segera transfusi! Cepat!" teriak dokter panik, keringat dingin membasahi dahinya. Mereka berusaha mati-matian menekan pendarahan itu, mencoba menjahit dan menghentikan aliran darah, tapi seolah tubuh Maheera sudah kehabisan tenaga, darah itu terus keluar tak terbendung.

Efek dari kehamilan kembar sebelumnya yang membuat rahimnya lemah, ditambah kehamilan kedua yang memaksakan kerja keras tubuh... kini membayar lunas dengan situasi kritis ini.

Darah Maheera terus menetes, terus mengalir. Wajahnya semakin pucat, matanya mulai sayu dan berat untuk dibuka.

"Dok... tolong... anakku..." bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar.

"Kami berusaha Bu... kami berusaha sekuat tenaga..."

Namun, takdir berkata lain. Detak jantung di monitor EKG yang tadinya bergerak aktif... perlahan-lahan mulai melambat...

Tuk... tuk... tuk...

Semakin lama semakin jarang... hingga akhirnya...

Semakin lama semakin jarang, semakin lemah... hingga akhirnya...

Bunyi panjang datar.

Jantung Maheera berhenti berdetak selamanya.

 

Pesan Terakhir Sang Ibu

Wajah Maheera yang tadinya pucat kini semakin dingin. Dengan sisa tenaga terakhir dan napas yang tersengal, ia berusaha menggerakkan tangannya mencari suaminya yang sudah diizinkan masuk ke ruangan.

"Mas..." bisiknya sangat pelan, nyaris tak terdengar.

"Aku di sini Sayang! Aku di sini!" Aaryan memegang tangan dingin itu erat-erat, air matanya jatuh membasahi tangan istrinya.

"Mas... lihat... anak kita..." Maheera menunjuk pelan ke arah bayi perempuan yang sudah dibedung dan diletakkan di sampingnya. "Dia cantik... sehat..."

"Maheera sudah berhasil... membawa dia ke dunia..."

Air mata menetes di sudut mata Maheera. "Sayang mereka ya... Aryanveer, Arshveer, dan si kecil... sayangi mereka..."

"Aku sayang sekali sama kamu Mas... selamanya..."

Tangan itu perlahan melemah dan terkulai lemas. Mata indah itu perlahan menutup, tidak akan terbuka lagi untuk selama-lamanya.

"TIDAKKKKK!!!!" 🤯😭

Aaryan menjerit histeris, memeluk tubuh istrinya sekuat tenaga seolah ingin menahan nyawa yang sudah pergi itu. "JANGAN PERGI SAYANGKU!!! BANGUNLAH!!! AKU BELUM SIAP KEHILANGAN KAMU!!!"

 

Dunia yang Runtuh

Berita itu menghancurkan seluruh keluarga.

Saat pintu ruang operasi terbuka dan dokter keluar dengan wajah tertunduk lesu...

"Maaf Tuan... kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Nyawa Ibu tidak dapat tertolong lagi..."

BRUG!!!

Aaryan ambruk ke lantai, tubuhnya lemas tak bertulang. Ia tidak percaya. Baru saja ia bahagia mendapatkan putri, tapi sekarang ia harus kehilangan ratu hatinya.

"BOHONG!!! ITU BOHOOOONG!!!" teriaknya tak karuan. "Istri saya cuma tidur kan? Dia pasti bangun lagi! Dia janji mau sama saya selamanya!"

Di sudut ruangan, Ny. Savitri melihat jenazah menantunya dan bayi cucunya yang masih menangis. Ia langsung pingsan tidak sadarkan diri melihat kenyataan pahit itu.

"Ya Allah... kenapa harus dia... kenapa ambil dia yang begitu baik... hancur hati Ibu..." isaknya saat sadar kembali.

Kedua anak laki-laki mereka, Aryanveer dan Arshveer, yang masih berusia 3 tahun, hanya bisa menangis memanggil-manggil "Ibu... Ibu..." tidak mengerti mengapa ibunya tidur terus dan tidak mau memeluk mereka lagi.

 

Kehampaan Abadi

Rumah sakit yang tadi terdengar tangisan bahagia bayi, kini berganti menjadi tangisan pilu dan kesedihan yang mendalam.

Aaryan duduk mematung, memegang bayi perempuannya, Aarohi, di satu tangan, dan menggenggam tangan dingin istrinya di tangan lainnya.

"Kamu jahat sekali Sayang... kamu pergi ninggalin aku sendirian ngurus mereka bertiga..." gumamnya hampa.

Tapi ia tahu, ini adalah pengorbanan terbesar Maheera. Ia rela mengorbankan nyawanya sendiri demi bisa memberikan anak perempuan yang sempurna untuk melengkapi keluarga mereka.

Cinta seorang ibu memang sehebat itu, sedalam itu, dan setulus itu.

Kini, kisah mereka berakhir dengan air mata, namun meninggalkan kenangan manis yang tak akan pernah mati. Maheera akan selalu hidup di hati mereka dan di dalam diri anak-anak yang ditinggalkannya.

...Tangan itu perlahan melemah dan terkulai lemas. Mata indah itu perlahan menutup, tidak akan terbuka lagi untuk selama-lamanya.

"TIDAKKKKK!!!!" 🤯😭

Aaryan menjerit histeris, memeluk tubuh istrinya sekuat tenaga seolah ingin menahan nyawa yang sudah pergi itu. "JANGAN PERGI SAYANGKU!!! BANGUNLAH!!! AKU BELUM SIAP KEHILANGAN KAMU!!!"

 

Cinta Abadi Seperti Mumtaz Mahal

Dunia seakan runtuh seketika bagi Aaryan. Ia terdiam mematung, memandang wajah istrinya yang damai namun dingin.

Dalam hati kecilnya, ia sadar... kisah cintanya persis seperti legenda cinta terbesar di dunia, kisah cinta Raja Shah Jahan dan Mumtaz Mahal.

Sama seperti Mumtaz Mahal yang wafat saat melahirkan anak kesayangan mereka, Maheera pun pergi meninggalkannya saat berjuang melahirkan putri kecil mereka, Aarohi.

Sama seperti Shah Jahan yang kehilangan separuh jiwanya, Aaryan pun merasa hidupnya kini hampa dan gelap. Cintanya pada Maheera tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapa pun, selamanya.

Meskipun ia tidak bisa membangun bangunan megah seperti Taj Mahal untuk mengenangnya, namun di dalam hatinya, ia akan membangun monumen cinta yang jauh lebih indah dan abadi. Maheera akan tetap menjadi Ratu satu-satunya di hatinya sampai akhir hayatnya.

 

Dunia yang Runtuh

Berita itu menghancurkan seluruh keluarga.

Saat pintu ruang operasi terbuka dan dokter keluar dengan wajah tertunduk lesu...

"Maaf Tuan... kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Nyawa Ibu tidak dapat tertolong lagi..."

BRUK!!!

Aaryan ambruk ke lantai, tubuhnya lemas tak bertulang. Ia tidak percaya. Baru saja ia bahagia mendapatkan putri, tapi sekarang ia harus kehilangan ratu hatinya.

"BOHONG!!! ITU BOHOOOONG!!!" teriaknya tak karuan. "Istri saya cuma tidur kan? Dia pasti bangun lagi! Dia janji mau sama saya selamanya!"

Di sudut ruangan, Ny. Savitri melihat jenazah menantunya dan bayi cucunya yang masih menangis. Ia langsung pingsan tidak sadarkan diri melihat kenyataan pahit itu.

"Ya Allah... kenapa harus dia... kenapa ambil dia yang begitu baik... hancur hati Ibu..." isaknya saat sadar kembali.

Kedua anak laki-laki mereka, Aryanveer dan Arshveer, yang masih berusia 3 tahun, hanya bisa menangis memanggil-manggil "Ibu... Ibu..." tidak mengerti mengapa ibunya tidur terus dan tidak mau memeluk mereka lagi.

 

Kehampaan Abadi

Rumah sakit yang tadi terdengar tangisan bahagia bayi, kini berganti menjadi tangisan pilu dan kesedihan yang mendalam.

Aaryan duduk mematung, memegang bayi perempuannya, Aarohi, di satu tangan, dan menggenggam tangan dingin istrinya di tangan lainnya.

"Kamu jahat sekali Sayang... kamu pergi ninggalin aku sendirian ngurus mereka bertiga..." gumamnya hampa.

Tapi ia tahu, ini adalah pengorbanan terbesar Maheera. Ia rela mengorbankan nyawanya sendiri demi bisa memberikan anak perempuan yang sempurna untuk melengkapi keluarga mereka.

Cinta seorang ibu memang sehebat itu, sedalam itu, dan setulus itu.

Kini, kisah mereka berakhir dengan air mata, namun meninggalkan kenangan manis yang tak akan pernah mati. Seperti kisah legenda yang tak akan terlupakan, Maheera akan selalu hidup di hati mereka dan di dalam diri anak-anak yang ditinggalkannya.

Beberapa hari kemudian, tibalah saat yang paling menyakitkan untuk dilewati. Hari pemakaman tiba.

Di India, prosesi perpisahan ini disebut Antim Yatra atau perjalanan terakhir. Suasana di sekitar kediaman keluarga Singhania mendung dan gelap. Langit seakan ikut menangisi kepergian wanita mulia itu.

Jenazah Maheera dibaringkan dengan sangat indah. Ia mengenakan baju tradisional India berwarna merah marun yang disulam benang emas, wajahnya ditutup kain putih bersih, dan tubuhnya diletakkan di atas tandu yang dihiasi bunga-bunga segar dan dupa yang harum.

Semua orang berkumpul. Keluarga besar, kerabat, teman, dan seluruh staf rumah tangga datang untuk memberikan penghormatan terakhir.

 

Tangisan yang Pecah di Sela Doa

Saat jenazah hendak diangkat dan dibawa keluar menuju tempat pembakaran (Shamshaan Ghat) atau pemakaman...

Suasana langsung pecah! 😭😭😭

"IBUUUUUU!!! JANGAN PERGI IBUUU!!!" 🥺😭

Aryanveer dan Arshveer berlari kecil mengejar tandu jenazah ibunya. Mereka menangis sejadi-jadinya, tangan mungil mereka meraih-raih kain penutup tubuh ibunya.

"Kenapa Ibu tidur terus? Kenapa Ibu gak bangun? Ibu janji mau main sama kami!!!" teriak mereka histeris. Hati siapa pun yang melihatnya pasti akan hancur berkeping-keping.

Melihat kedua cucunya yang masih kecil itu menangis begitu kencang, Ny. Savitri pun tidak kuasa menahan air matanya. Ia menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar hebat.

"Putriku... Maheera... kenapa kau tinggalkan kami begitu cepat... Rumah ini sepi tanpa suaramu..." isaknya pilu.

Seluruh keluarga besar pun ikut menangis. Tangisan mereka bergema memenuhi udara, bercampur dengan suara doa-doa dan nyanyian pujian yang dibacakan oleh para pendeta dan kerabat.

 

Hati yang Hancur Lebur

Di barisan paling depan, berjalanlah Aaryan.

Ia memikul bagian depan tandu jenazah istrinya sendiri. Wajahnya pucat, matanya bengkak dan merah, tatapannya kosong dan hampa. Ia berjalan lambat, seolah tidak ingin beranjak, seolah ingin memperlama waktu bersamanya.

Di pelukannya, ia menggendong bayi mungil Aarohi, putri yang baru beberapa hari lahir dan menjadi sebab kepergian ibunya.

Bayi itu seakan ikut merasakan kesedihan itu, ia pun menangis pelan dalam dekapan ayahnya.

"Lihat ini Sayang..." bisik Aaryan parau, air matanya jatuh menetes di pipi bayi itu. "Ini Aarohi... anak kita. Dia sehat dan cantik persis sepertimu."

"Kita semua sayang padamu... sangat sayang... Kenapa kau harus pergi duluan... Dunia ini terasa mati bagiku tanpa kehadiranmu..."

Hati Aaryan hancur lebur. Ia merasa separuh jiwanya ikut terbawa pergi bersama jenazah itu. Kisah cintanya yang begitu indah, kini harus berakhir sedahsyat ini. Persis seperti kisah Shah Jahan yang kehilangan Mumtaz Mahalnya selamanya.

 

Perpisahan yang Menyakitkan

Sesampainya di tempat pemakaman, prosesi pun berjalan sesuai adat dan tradisi India yang khidmat.

Api dinyalakan. Asap mengepal tinggi ke angkasa.

Semua orang berdiri memandang dengan mata basah.

Aaryan berdiri paling depan, memandang untuk yang terakhir kalinya wajah wanita yang paling dicintainya di dunia ini.

"Sampai jumpa di surga, Sayangku..." bisiknya lirih. "Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih untuk cinta, terima kasih untuk anak-anak, dan terima kasih telah menjadi istri terbaik di dunia."

"Kaulah Mumtaz Mahalku... dan aku akan menjadi Shah Jahanmu yang akan mengingatmu selamanya..."

Api pun semakin membesar, membawa pergi raga Maheera, namun meninggalkan kenangan dan cinta yang akan abadi selamanya di hati mereka yang ditinggalkan.

 

TAMAT

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!