Bayu Rangga Alexander, seorang pengacara handal yang banyak memenangkan kasus persidangna di usianya yang masih terbilang muda. Semuanya terlihat sangat sempurna, jika saja dia bukan seorang cassanova.
Bermain wanita hanya untuk kepuasan semalam sudah biasa dia lakukan. Alasannya hanya satu, dia tidak pernah mau terikat dengan siapapun. Menganggap jika semua wanita hanya akan menginginkan hartanya, Bayu tidak percaya akan ketulusan cinta.
Hingga suatu malam seorang wanita beranjak naik ke atas ranjangnya, menemani malamnya, memuaskannya, tapi sama sekali tidak meminta bayaran, hal yang membuat Bayu merasa aneh hingga dia cukup penasaran.
Wanita bernama Viona itu menolak kehadirannya, menolak keras untuk tidur kembali dengan Bayu meski pria itu akan membayarnya mahal. Dia memilih untuk pergi dan tidak berurusan dengan Bayu lagi.
"Aku tidak meminta bayaran, karena aku sengaja memanfaatkanmu untuk tidur denganku. Jangan ganggu aku lagi!"
"Sial wanita itu berani sekali menolakku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Mengakhiri Kehamilan
Seperti kaki yang tidak menapaki bumi, pikiran yang kosong, bahkan oksigen yang terasa semakin sedikit, membuatnya merasa sesak. Sebuah foto kecil hasil pemeriksaan kandungan di tangannya menjadi hal yang membuatnya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Ketika sampai di Apartemen, Viona menutupi pintu kasar dan bersandar disana dengan memegang dadanya. Hembusan napas begitu berat, seolah apa yang baru saja terjadi padanya adalah sebuah bencana besar.
"Aku hamil? Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini akhirnya?"
Tubuh Viona perlahan luruh ke lantai, duduk bersandar di lantai. Dia berpikir setelah berpisah kehidupannya bisa lebih baik, tapi jika dia hamil, apa yang akan terjadi kedepannya. Viona sudah tidak ingin kembali dengan suaminya, dan hatinya tetap yakin jika anak ini bukanlah anak dari suaminya. Karena yang terakhir kali adalah Bayu, bukan Dani.
Viona membuka ponsel, mencari sesuatu di internet yang dia tahu ini bahaya dan ilegal. Tapi saat ini hanya itu yang berada dalam pikiran Viona.
Malam harinya, dia mengambil jaket dan pergi keluar rumah. Memakai masker dan menutupi kepala. Pergi kes sebuah apotek dan membeli sebuah obat. Meski terlihat sangat ragu dan takut. Tangannya bahkan bergetar saat menunjukan sebuah foto di ponselnya ke pemilik apotek.
"Saya ingin beli obat ini"
Si penjaga apotek sedikit terkejut, lalu menatapnya lekat. "Kamu yakin? Apa tidak akan menyesal? Selain berdosa, kau juga mungkin akan merasa bersalah seumur hidupmu"
Viona terdiam, jantungnya berdebar kencang. Tangannya semakin bergetar. Namun saat ini yang ada dalam pikirannya hanya satu solusi ini. "I-iya Bu, saya mau obat ini satu saja"
"Baiklah"
Setelah mendapatkan obat dan membayarnya, Viona berbalik dan siap untuk pergi sebelum si penjaga Apotek itu berkata lagi. "Pikirkan baik-baik, mungkin suatu saat dia yang akan memberikanmu kebahagiaan dan tidak membuat hidupmu kesepian lagi"
Deg... Seperti tertampar dengan ucapannya, Viona sejenak membeku di tempatnya. Seperti semua orang tahu kalau dia hidup dalam kesepian selama ini. Tangannya memegang kuat obat di tangannya, seolah masih mencoba meyakinkan dirinya dengan keputusan yang dia ambil saat ini. Lalu melangkah pergi dari apotek itu.
Kembali ke Apartemen, Viona membuka masker yang menutupi wajahnya dan duduk di karpet dekat sofa, tubuhnya bersandar pada sofa. Menatap botol obat di tangannya, lalu tangan satunya lagi memegang perutnya tanpa perintah, seperti refleks begitu saja.
"Hidupku sudah sulit, jika dia hadir mungkin akan semakin menambah beban. Belum tentu aku bisa memenuhi kebutuhannya"
Viona sudah membuka botol obat, mengeluarkan beberapa pil dari dalamnya. Menatap beberapa pil di telapak tangannya, sudah siap meminumnya, tapi ponsel berdering membuatnya batal meminum pil itu. Menyimpan kembali obat ke dalam wadahnya, lalu menjawab telepon dari Raisa dulu.
"Hallo Sa, ada apa?"
"Vio, apa kamu di Apartemen sekarang?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Aku sama Rendi menuju kesana, membawa makanan ini. Kita makan malam bersama di Apartemenmu"
Viona terdiam, menatap obat di atas meja, sepertinya tidak bisa malam ini meminumnya. "Baiklah, datang saja"
Viona menyimpan obat itu di bawah meja, lalu dia pergi ke arah dapur menyiapkan minuman untuk Raisa dan suaminya yangh sebentar lagi sampai. Beberapa saat kemudian, suara bel pintu terdengar, Viona segera membuka pintu.
"Ayo masuk, kenapa kalian mendadak sekali datang kesini?"
"Ya, tiba-tiba saja Raisa mau makan sama kamu" ucap Rendi.
Viona hanya tersenyum, langsung membawa tamunya masuk. Membantu Raisa untuk menyajikan makanan yang dia bawa di meja makan. Sementara Rendi duduk di sofa sambil bermain ponsel.
"Kenapa tiba-tiba sekali, jadi aku tidak menyiapkan apa-apa, hanya ada minuman saja"
"Tidak papa, aku hanya merasa ingin saja sama kamu disini. Gak papa 'kan karena aku tiba-tiba datang"
Viona menggeleng pelan. "Tidak papa, aku senang bisa makan bersama. Biasanya juga hanya makan sendirian"
Mereka bertiga makan dengan tenang, menikmati makanan yang di bawa oleh Raisa. Sedikit berbincang dan bercanda.
"Dia itu seperti orang hamil saja akhir-akhir ini, selalu meminta yang aneh-aneh" ucap Rendi setelah menceritakan kebiasaan istrinya.
Mendengar kata hamil, Viona langsung terdiam. Gerakan tangannya yang ingin menyuapkan suapan terakhir langsung terhenti. Pikirannya tertuju pada ucapan Dokter siang tadi tentang kehamilannya. Rasanya masih sulit untuk terima tentang kenyataan itu.
"Viona, hey... Vio, kamu kenapa?"
Viona mengerjap pelan saat Raisa menyadarkannya dari lamunan. Dia sedikit tergagap saat bicara. "Em, ti-tidak papa"
"Kamu melamun, apa yang kamu pikirkan?" tanya Rendi.
"Iya Vio, kalau ada masalah bisa bicara sama kita"
Viona menggeleng pelan sambil tersenyum dengan sedikit di paksakan. "Tidak, aku baik-baik saja. Hanya baru ingat kalau aku belum kirim email ke Papa kamu, ada yang berkas yang belum aku kirim"
"Ah itu, tenang saja. Papa tidak akan marah kok. Lagian Papa orangnya cukup bisa mengerti kalau hanya terlambat mengirimkan berkas, asal tidak sampai berdampak kerugian untuk Perusahaan"
Viona mengangguk pelan, memang sebenarnya dia juga tahu jika Pak Hermawan adalah atasan yang sangat baik dan pengertian.
Viona dan Raisa berakhir mencuci piring dan membereskan meja makan. Sementara Rendi duduk di sofa. Bermain ponsel, namun karena merasa bosan, dia berniat untuk mengambil remot televisi dan menyalakannya. Saat mencari remot yang berada di bawah meja, tangannya tidak sengaja meraba sebuah benda di dalam kantong plastik hitam. Merasa penasaran, Rendi membukanya dan mengambil benda di dalamnya. Melihat sebuah botol obat disana, membuatnya mengerutkan kening bingung.
"Obat apa ini? Dia menatap ke arah Viona yang sedang mencuci piring sambil mengobrol dengan istrinya. "Apa Viona sakit? Tapi sakit apa?"
Merasa curiga, Rendi mengeluarkan ponselnya dan memfoto obat itu mencari tahu di internet tentang obat apa itu. Saat hasilnya keluar, Rendi benar-benar terkejut. Sama sekali tidak menyangka kalau obat ini akan ada disini, di tempat tinggal Viona.
"Obat penggugur kandungan?"
Tangannya mengepal erat memegang obat itu, dia berdiri dan menghampiri Viona yang berada di dapur.
"Viona, jelaskan padaku obat apa ini?!" Suaranya tertekan, tertahan, namun cukup penuh penekanan. Menunjukan obat di tangannya pada Viona yang sudah terlihat sangat terkejut.
"Rendi, darimana kamu dapat obat ini" Viona panik, sudah ingin mengambil obat dari tangan Rendi, tapi pria itu lebih sigap menyembunyikan obat di belakang tubuhnya. "Rendi, balikin obatnya. Itu bukan obat apa-apa"
"Kau pikir aku bodoh, obat penggugur kandungan! Apa kau ingin membunuh bayi tidak berdosa?"
"Hah? Viona, kamu hamil?" tanya Raisa dengan kaget.
Viona terdiam, tubuhnya membeku tegang. Wajahnya pucat, bingung harus bagaimana menjelaskan.
Bersambung
di tunggu up nya thor 🙏
nnt panggil pengasuh bu Aminah, panggil viona, ibu.