NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"WOY, DANIEL SAPUTRA bayar uang kas!" Teriak gadis cantik dengan lantang saat seorang teman sekelasnya baru saja memasuki kelas.

​"Monyong eh monyong, astaga gue aja baru aja masuk kelas belum juga duduk udah lo tagih bayar? Temen macam apa kau ini hah??" Ucapnya kesal dengan memandang gadis yang nangkring di atas mejanya.

​"Suka-suka gue lah, ini tuh bagian dari tugas dan amanah dari Bu Dewi. Udah lah buruan bayar!" Sewotnya.

​"Ais, ya udah berhubung gue ini adalah anak orang kaya banyak uang gue bayar deh, kurang berapa sih? Gue bayar sampai bulan ini deh," ucapnya dengan sombong.

​"Belagu banget lo! Katanya anak orang kaya bayar uang kas aja nunggak sampai berminggu-minggu cih," cibirnya. "Kurang dikit nggak banyak, cuma 50 ribu aja kok," ucapnya santai dengan mengadahkan telapak tangannya.

​Daniel melototkan matanya mendengar nominal yang baru saja gadis itu sebutkan. "What the fuck! Dikit dari mananya itu? 100 ribu itu uang jajan gue buat 2 hari! Oh no no no."

​"Udah buruan bayar, gue masih banyak urusan!" ucapnya sewot.

​"Eh, emm... gue bayar nyicil dulu ya??" ucap Daniel dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.

​"Nggak ada, nggak ada! Enak aja nyicil-nyicil, emangnya gue apaan? Gimana kelas bakal makmur orang bayar kas aja nunggak-nunggak. Nggak ada uang lah, duitnya ketinggalan lah, banyak banget alesannya. Kali ini gue nggak terima alesan apa pun! Ingat ini akhir bulan gue mau tutup buku kas hari ini juga, titik tidak pakai koma," ucapnya memperingati teman sekelasnya dengan mata tajam. Mereka yang mendengarnya hanya bisa menganggukkan kepala tanpa bantahan, kecuali bagi orang-orang yang suka nunggak bayar, wajah mereka berubah pias.

​Gadis itu adalah Ziva Alqueena A, kerap dipanggil Ziva. Berumur 15 tahun, memiliki kulit putih, tinggi badan kisaran 156 cm, mata bulat berwarna cokelat, hidung mancung, dan bibir pink alami. Ziva adalah bendahara kelas yang sangat sulit diajak kompromi. Setiap Rabu dan Sabtu, ia akan menjadi "satpam" di depan pintu kelas dengan pena dan buku kesayangannya. Guru-guru sangat percaya padanya, bahkan sering memintanya membantu kelas lain.

​"Udah buruan bayar gue mau sarapan, keburu masuk," ucap Ziva lagi.

​"Iya iya, sampai jumpa lagi kawan..." ucap Daniel lemas sambil menyerahkan uang biru.

Srek!

"Lama," ucap Ziva mengambil paksa uang itu.

"Nah gini kan utang lo lunas. Orang kaya kok banyak utang," cibirnya santai.

​"Sabar bro," ucap Demian menepuk pundak temannya.

​"Lo juga Demian! Bayar kas sekarang!" Ziva melotot.

​"Hah? Gue juga kena?" tanya Demian polos.

​"Ya iyalah! Udah buru bayar lo orang beruang! Masa lo nggak punya uang sih?"

​"Ck, gue ini ada banyak uang. Cuma gue ini mau nabung buat besok nikah sama Cici," ucap Demian memandang gadis di meja depannya.

​"Eleh, inget masa depan masih panjang. Lagian mana mau Cici nikah sama lo, yang ada sebelum nikah dia udah muak duluan. Hidup butuh uang, uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang. Lo baperin Cici tiap hari Cicinya nggak bakal kenyang, minimal kasih nasi rendang. Ci, lo mau nggak nikah sama ni bocah??"

​Cici mengalihkan pandangan dari ponsel. "Nggak mau gue," ucapnya santai.

​"Noh lo denger? Makanya jangan halu terlalu tinggi entar jatuh nanges," ejek Ziva.

​"Jahat banget sih lo Ci? Atit hati babang Demian ini tauuu," ucap Demian dengan wajah tersakiti.

​"Kebanyakan drama lo, udah buruan bayar babang Demian."

​"Iya iya nih gue bayar," ucapnya menyodorkan lembaran biru.

​"Nah gini kan lo jadi ganteng, gue do'ain deh semoga Cici nggak mau sama lo," ucap Ziva senang.

​"Aamii— eh apa lo bilang!" Demian melotot saat sadar doa Ziva sangat sesat. Daniel tertawa puas melihat sahabatnya kena mental.

​Brak!

"Aaaaaa Zivaaaa gue kira lo ada di kantin ternyata di kelas!" Teriak seorang gadis yang baru saja masuk.

​"Berisik banget sih lo?" kesal Ziva.

​"Hehehe gue pikir lo di kantin, ya udah sampai sekolah gue langsung ke kantin ternyata lo nggak ada, kan ngeselin," ucapnya dengan bibir dimonyongkan. Dia adalah Karlota Salsabila, gadis dengan postur ideal, tinggi 160 cm, dan sifat bar-bar yang melekat sejak lahir. Karlota adalah sahabat sejati Ziva.

​"Biasa lah nagih utang dulu gue sama orang-orang sok kaya ini," cibir Ziva menyindir Daniel dan Demian.

​"Yok ngantin pren," ajak Ziva merangkul Karlota.

​"Yok bestot kita ngantin," sahut Karlota.

​"Eh mau kemana lo berdua!" ucap Rangga sang ketua kelas menghalangi.

​"Lo nggak denger barusan kita ngomong mau ke mana?" tanya Karlota ketus.

​"Kantin," jawab Rangga polos.

​"Nah itu lo tau pake nanya lagi, bodoh kok dipelihara," ketus Karlota sambil berlalu.

​Demian menepuk pundak Rangga. "Sabar Nga, gue jamin kaum jantan nggak bakal menang lawan kaum betina macam mereka."

​"Diem lo!" sentak Rangga. "Kalian duduk, bel masuk bentar lagi bunyi. Jangan lupa bayar kas hari ini!" ucapnya pada seisi kelas 11 IPS 3 SMA Cakra Buana. Kelas ini memang berisi murid "sisa", tapi dalam hal solidaritas dan non-akademik, mereka adalah juaranya.

​Sementara itu di kantin, Ziva dan Karlota asyik dengan seblak mereka, mengabaikan bel yang baru saja berbunyi. "Gilak, ini seblaknya behh mantap banget!" Ziva makan dengan antusias hingga lidahnya terjulur kepedasan.

​"Gue setuju, seblak Mbak Jum emang nggak ada tandingannya," sahut Karlota dengan keringat membanjiri wajah.

​"ZIVAAAA, KARLOTAAAA!" Teriak seorang guru yang mendadak muncul di kantin.

​"Uhuk uhuk aarggg panas tenggorokan gue panas!!!" Karlota tersedak hebat. Ziva dengan sigap menyodorkan es teh.

Glek, glek!

"Ah leganya, sialan tuh guru kalau manggil nggak mandang kondisi," cerutu Karlota.

​"KALIAN BERDUA KENAPA DI SINI! INI UDAH JAM PELAJARAN!!"

​Ziva dan Karlota menutup telinga. "Eh ada Pak Bambang," sapa Ziva cengengesan.

​"Eh ada Pak Bambang," cibir Pak Bambang menirukan. "Ngapain kalian di sini hah? Bukannya masuk kelas malah enak-enakan di kantin."

​"Kita lagi makan Pak, emangnya bapak nggak liat di depan kita ada mangkok?" ucap Karlota berani.

​"Tadi di rumah nggak sarapan Pak, nanti kalau nggak sarapan kita bisa pingsan, iya kan Ziva?"

​"Bener banget Pak," dukung Ziva.

​"Ck, kalian ini sehari aja nggak bikin ulah bapak capek. Nggak bosan keluar masuk ruang BK?"

​"Gimana sih Pak, kita itu bikin ulah biar besok kalau sudah lulus Bapak bakal tetep inget sama kita. Jujur kita juga bosen, tapi kalau nggak masuk BK sehari kayak ada yang kurang Pak," ucap Karlota santai sambil lanjut menyuap seblak.

​Ziva menimpali dengan gaya menggoda, "Udah deh Pak, daripada Bapak nyerocos mulu mending Bapak cobain nih menu baru Mbak Jum, bikin nagih deh."

​Pak Bambang yang sebenarnya pencinta pedas mulai goyah. Aroma kencur dan cabai dari seblak itu sangat menggoda imannya. "Gimana Pak? Katanya pencinta pedas kok ditawarin seblak nggak mau? Atau Bapak udah tobat sekarang sukanya kecap?" sindir Ziva telak.

​"Oke, Mbak Jum saya pesan seblak komplit level 5 sama es teh manis," ucap Pak Bambang akhirnya menyerah pada rasa lapar dan gengsi.

​"Ck, katanya doyang pedas kok levelnya level 5 hahaha," tawa Karlota pecah.

​Tak mau diremehkan muridnya, Pak Bambang berseru, "Mbak, seblaknya level 9!"

​"Oke Pak!" sahut Mbak Jum.

​"Nah gitu dong baru kita solid! Tapi kalau mau lebih solid lagi, traktir kita bakso ya nggak Lota?" Ziva mengedipkan mata.

​"Yaudah mumpung bapak baru gajian kalian boleh pesen makanan lagi. Tapi ingat tak boleh lebih dari 10 ribu!" ucap Pak Bambang pasrah dompetnya diperas.

​"Siaaap Pak! Bapak emang terbaik, kapan-kapan traktir lagi ya!" Ziva dan Karlota langsung berlari ke stan makanan dengan riang. Di kantin itu, hukuman berubah menjadi pesta kecil, membuktikan bahwa di SMA Cakra Buana, bahkan guru pun bisa "dijinakkan" oleh pesona bendahara paling galak dan sahabat bar-bar-nya.

​Sambil menunggu bakso, Ziva membuka buku kasnya lagi. "Lota, abis ini si Rangga belum bayar kas dua minggu, kita cegat dia di depan ruang guru ya?"

​Karlota menyeringai nakal. "Siap, laksanakan Ibu Bendahara! Habis makan, kita beraksi." Pak Bambang hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah dua siswi ajaib itu, sambil bersiap menghadapi ledakan level 9 di lidahnya. Hari itu, kelas 11 IPS 3 mungkin akan sedikit terlambat memulai pelajaran, tapi bagi Ziva dan Karlota, perut kenyang dan kas penuh adalah prioritas utama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!