NovelToon NovelToon
Bayang Koridor Di Utara

Bayang Koridor Di Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Romantis
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: nana_2

Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.

Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.

Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 — Nama di Lantai

NARESHA.

Tulisan darah itu berhenti tepat di tengah lingkaran merah.

Menyala terang.

Basah.

Menetes perlahan ke lantai.

Ruangan mendadak sunyi.

Terlalu sunyi.

Bahkan suara jeritan Penjaga dan Evelyn seolah menghilang sesaat.

Naresha hanya bisa menatap namanya sendiri dengan tubuh gemetar.

Jantungnya berdetak kacau.

Dingin menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Ga…”

Bisikannya hampir tidak terdengar.

“Ga mungkin…”

Namun simbol merah di lantai justru semakin terang.

Dan suara bisikan mulai memenuhi kepalanya lagi.

“Pengikat baru…”

“Dia dipilih…”

“Jangan biarkan pergi…”

Naresha memegang kepalanya kuat-kuat.

“Astaga…”

Arven langsung berlutut di depannya.

“Sha!”

Cowok itu memegang bahu Naresha panik.

“Lihat gue.”

Namun pandangan Naresha mulai kabur.

Bisikan-bisikan itu terlalu keras.

Seolah ada ratusan orang berbicara langsung di dalam pikirannya.

Pak Damar perlahan berdiri sambil menatap tulisan darah itu.

Dan untuk pertama kalinya…

Ekspresinya terlihat lega.

“Syukurlah,” bisiknya pelan.

Deg.

Arven langsung menoleh tajam.

“Lo seneng?!”

Pak Damar tidak menjawab.

Tatapannya justru tertuju pada Naresha.

“Dia cocok.”

“DIAM!”

Arven berdiri cepat lalu mendorong Pak Damar keras sampai pria itu membentur dinding.

Brak!

Naresha membeku.

Ia belum pernah melihat Arven semarah itu.

Tatapan cowok itu benar-benar gelap sekarang.

“Gue ga bakal biarin siapa pun nyentuh dia.”

Pak Damar mengusap sudut bibirnya pelan.

Masih tenang.

“Kamu ga bisa lawan Penjaga.”

“Gue bakal cari cara lain.”

“Ga ada cara lain.”

Suasana kembali bergetar.

Penjaga perlahan bangkit lagi dari bayangan hitam.

Tubuhnya kini dipenuhi retakan gelap.

Dan suara banyak orang keluar bersamaan dari tubuhnya.

“Bawa dia…”

“Bawa pengikat…”

Naresha mulai kesulitan bernapas.

Dadanya sakit.

Tangannya dingin.

Dan anehnya…

Ia mulai mendengar suara lain.

Suara perempuan.

Lembut.

Sedih.

“Jangan takut…”

Naresha perlahan mengangkat kepala.

Evelyn berdiri di dekatnya.

Namun kali ini wajahnya terlihat normal.

Tidak menyeramkan.

Tidak berdarah.

Hanya penuh kesedihan.

“Aku dulu juga takut…” bisiknya lirih.

Air mata perlahan jatuh dari mata Evelyn.

“Aku ga mau kamu jadi seperti aku.”

Deg.

Naresha menatap hantu itu dengan napas gemetar.

“Terus aku harus gimana…”

Evelyn perlahan menoleh ke arah buku hitam di lantai.

“Buku itu…”

Tatapannya berubah serius.

“Itu sumbernya.”

Naresha langsung mengikuti arah pandang Evelyn.

Buku hitam tua itu masih tergeletak di dekat lingkaran merah.

Halaman-halamannya bergerak sendiri pelan.

Seolah hidup.

Evelyn melangkah mendekati Naresha.

Dan untuk pertama kalinya…

Tangannya menyentuh tangan Naresha.

Dingin.

Namun lembut.

“Kalau buku itu dihancurkan…”

Suara Evelyn mengecil.

“Penjaga juga akan hilang.”

Deg.

Naresha langsung menatap buku itu lagi.

Namun Pak Damar tiba-tiba tertawa kecil.

“Heh…”

Semua langsung menoleh padanya.

Pria itu berdiri perlahan sambil menatap Evelyn.

Tatapannya dingin.

“Kamu masih ga ngerti ya.”

Evelyn langsung menegang.

Pak Damar tersenyum tipis.

“Kalau buku itu dihancurkan…”

Tatapannya perlahan mengarah ke Naresha.

“Semua pengikat juga akan lenyap.”

Sunyi.

Naresha langsung membeku.

“Maksudnya…”

Pak Damar menatap Evelyn.

“Termasuk dia.”

Deg.

Tubuh Evelyn perlahan gemetar.

Tatapannya langsung turun.

Penuh ketakutan.

Untuk pertama kalinya…

Naresha sadar.

Kalau buku itu dihancurkan…

Evelyn juga akan menghilang selamanya.

Dan anehnya…

Pikiran itu membuat dada Naresha terasa sakit.

Hening menyelimuti ruangan beberapa detik.

Hanya suara retakan dinding dan bisikan samar Penjaga yang terdengar dari belakang.

Naresha menatap Evelyn lama.

Meski perempuan itu sudah menjadi hantu…

Tetap saja, ia terlihat seperti seseorang yang terlalu muda untuk mengalami semua ini.

“Aku capek…” bisik Evelyn lirih.

Air matanya jatuh perlahan.

“Aku udah lama sendirian di sini.”

Deg.

Dada Naresha terasa sesak.

Ia tidak pernah membayangkan bakal merasa iba pada sosok yang dulu begitu ia takuti.

Evelyn perlahan tersenyum kecil.

Sedih.

“Tapi aku juga takut hilang…”

Suara itu nyaris membuat Naresha ikut menangis.

Arven berdiri diam beberapa langkah dari mereka.

Tatapannya rumit.

Cowok itu jelas ingin menyelamatkan Naresha.

Tapi di saat bersamaan…

Ia juga tidak tega melihat Evelyn.

Pak Damar menghela napas panjang.

“Makanya jangan melawan.”

Tatapannya kini tajam ke arah Naresha.

“Terima saja takdirmu.”

Naresha langsung menatap pria itu marah.

“Takdir apaan?!”

Suaranya bergetar.

“Aku bukan tumbal buat monster kalian!”

Ruangan mendadak bergetar lebih keras.

Penjaga melangkah maju perlahan.

Tok.

Tok.

Tok.

Dan setiap langkahnya membuat simbol merah di lantai semakin terang menyala.

Suara bisikan kembali memenuhi kepala Naresha.

“Pengikat…”

“Pengikat…”

“Pengikat…”

Naresha memejamkan mata kuat-kuat.

Namun di tengah semua suara itu…

Ia merasakan tangan Arven menggenggam tangannya erat.

Hangat.

Menenangkan.

Dan saat Naresha membuka mata…

Arven menatapnya lurus.

“Aku ga bakal biarin lo sendirian.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!