NovelToon NovelToon
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:25.6k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

​Halaman luas rumah lama itu kini tampak berbeda. Biasanya hanya ada jajaran pohon mangga dan melati yang asri, namun sore ini, puluhan karangan bunga duka cita berjajar rapi di sepanjang pagar tembok yang dibangun Siham.

Nama-nama besar dari relasi kantor Dewangga hingga ucapan dari penulis-penulis nasional untuk "Aksara Renjana" (meski mereka hanya tahu itu alamat kantor) memenuhi sudut-sudut halaman.

​Siham turun dari mobil dengan langkah yang masih terasa goyah. Ia melihat sekeliling. Rumah ini terasa begitu sunyi tanpa suara radio tua yang biasanya diputar Ayahnya sore-sore.

​Pak RT, seorang pria bersahaja dengan baju takwa putih, mendekati Siham saat mereka sudah berada di teras. Papa dan Mama Dewangga berdiri di samping Siham, memberikan dukungan moral, sementara Dewangga berdiri agak jauh di belakang, tampak sibuk dengan ponselnya namun matanya sesekali melirik tajam ke arah istrinya.

​"Neng Siham," panggil Pak RT lembut. "Mengenai adat kita di sini, biasanya diadakan tahlilan. Bagaimana menurut Neng Siham? Apakah akan diadakan di sini?"

​Siham mengangguk pelan tanpa ragu. "Iya, Pak RT. Saya minta tolong tahlilan diadakan selama tujuh hari penuh di rumah ini. Masalah tenda dan kursi, saya minta tolong Bapak yang koordinasikan. Untuk konsumsi, tadi saya sudah bicara dengan istri Pak Heru, beliau yang akan membantu saya memasak dan menyiapkan semuanya."

​Mama Dewangga mengusap bahu Siham. "Bagus itu, sayang. Mama dan Papa juga akan bantu biayanya. Kamu tidak usah pusing."

​"Terima kasih, Mah, Pah. Tapi biar Siham yang urus semuanya untuk Ayah," ucap Siham dengan nada yang sopan namun menunjukkan kemandirian yang mutlak.

​Siham kemudian menatap Pak RT dengan tatapan serius. "Pak RT, saya ingin tanya soal administrasi. Apakah almarhum Bapak punya hutang yang belum lunas di lingkungan sini? Dan berapa biaya pemakaman, liang lahat, serta perangkat alat jenazah tadi? Saya ingin melunasi semuanya sekarang juga."

​Pak RT tersenyum haru, matanya berkaca-kaca menatap Siham. "Alhamdulillah, Neng. Ayahmu itu orang yang sangat teliti. Sejak dua tahun lalu, beliau rutin ikut Tabungan Masa Depan yang saya kelola untuk warga. Beliau bilang tidak mau merepotkan Neng Siham kalau suatu saat dipanggil. Uang tabungan itu sudah mencakup kain kafan, biaya penggali kubur, hingga nisan. Bahkan setelah dipotong biaya tadi, uangnya masih sisa, Neng. Bapak tidak punya hutang sama sekali di sini."

​Siham tertegun. Ia langsung terdiam membisu. Hatinya seperti diremas kenyataan pahit. Ayah sudah menyiapkan kematiannya sendiri sejak dua tahun lalu, batinnya. Ayahnya seolah tahu bahwa waktu mereka tidak banyak. Hal ini sangat selaras dengan kondisi Siham saat ini; mereka berdua sama-sama sedang menyiapkan perpisahan tanpa saling tahu.

​"Tabungan masa depan..." gumam Siham lirih. Kata-kata itu terngiang di kepalanya, mengingatkannya pada vonis dokter dan sisa umurnya yang singkat.

​"Pak RT," ucap Siham tiba-tiba, suaranya sedikit merendah. "Nanti malam, setelah orang-orang pulang, saya ingin bicara berdua saja dengan Bapak. Ada hal penting mengenai administrasi rumah ini dan... hal lainnya yang ingin saya titipkan."

​Siham melirik ke arah Dewangga. Suaminya itu tampak memperhatikannya dengan kening berkerut, curiga dengan nada bicara Siham yang penuh rahasia.

​"Saya ingin bicara berdua saja, Pak. Hanya kita berdua. Saya tidak mau ada orang lain yang tahu, termasuk keluarga saya," tegas Siham lagi.

​Pak RT yang melihat kegigihan di mata Siham pun mengangguk paham. "Baik, Neng. Nanti Bapak mampir lagi setelah isya."

​Siham menarik napas panjang. Ia merasa waktu sedang mengejarnya. Jika Ayahnya saja sudah menyiapkan "tabungan masa depan" agar tidak merepotkannya, maka Siham pun harus melakukan hal yang sama. Ia tidak ingin kematiannya nanti menjadi beban bagi siapapun, terutama ia tidak ingin Dewangga memiliki kendali atas akhir hidupnya.

​Papa dan Mama mengajak Siham masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.

Dewangga mengikuti dari belakang, ia sempat menahan lengan Siham di lorong menuju kamar.

​"Apa yang mau kamu bicarakan dengan Pak RT? Kenapa harus rahasia?" tanya Dewangga dengan nada menuntut.

​Siham melepaskan tangan Dewangga dengan tenang. "Hanya urusan tanah dan rumah Ayah, Mas. Ini urusan internalku dan keluargaku. Kamu tidak perlu repot-repot ikut campur. Bukankah bagimu urusan keluargaku tidak sepenting urusan bisnismu?"

​Dewangga terbungkam. Kalimat datar Siham barusan terasa lebih menyakitkan daripada sebuah teriakan. Ia hanya bisa menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kamar lama Ayahnya.

​Malam itu, di bawah temaram lampu rumah tua, Siham sedang menyiapkan sebuah skenario besar. Jika Ayah punya tabungan masa depan untuk kain kafan, maka Siham punya naskah masa depan yang akan menentukan siapa yang pantas memiliki sisa hartanya, dan di mana ia akan merebahkan tubuhnya untuk terakhir kalinya kelak di samping Ayah dan Bundanya, jauh dari kemewahan palsu keluarga Dewangga.

1
Maya Lara Faderik
cerita yang memilukan penuh luka tak dapat dibayangkan kalau didunia nyata,kalau ia pun Kalian dijodohkan Dewangga jangan lah membenci siham , memarahi nya juga siham hanya dituntut oleh kedua orang tua kalian lagipun mantan mu yang mengkhinat meninggalkan dirimu tapi kenapa harus siham tempat kau melempias kemarahan dan kebencian,lelaki yang teregois,angkuh dan tersombong didunia novel ...adakah aku patut bersyukur itu hanya mimpi untuk menyedarkan Dewangga...tapi hatiku masih sakit kerana menangis terisak2 ,... hidung ku tersumbat banyak mengeluarkan air mata...Thor..karyamu sangat membuat ku terbawa perasaan ..terrrbaik thorr...
Maya Lara Faderik: Amin 🙏🙏🙏
total 4 replies
sukensri hardiati
sukaa....nggak nyangka klo dewangga cuma mimpi...tak kira ceritanya mengulang waktu....yaaah...efeknya sama sih...ngadih dewangga kesempatan buat memperbaiki semuanya ....
sukensri hardiati
aduuuh....tamatnya jangan begini laah....
sukensri hardiati
semoga bapak siham juga selamat....sehat sampai punya cucu
Sherly Neovita
🥰
Erna Nurwahyu
😭😭😭😭😭jahat banget sih Thor ini mata sampe bengkak karna nangis terus part ini😭😭😭😭
Erna Nurwahyu
aku nangis terus part ini😭😭😭😭
Mas Nunah
aku nangis nangis baca novel ini
Ainun Nasir
ya Ampun kaget banget pas di akhir ada tulisan tamat
blcak areng: Maaf Kak🙏
total 1 replies
Charlie Si Pendiam
kok tamat sih Thor, sudah melow berat🤭
blcak areng: Maaf ya kak 🙏
total 1 replies
Uthie
Apakah Judul itu kelanjutannya????
Uthie: Yaaaa..😢😢😢
total 2 replies
Uthie
Yaaa...koq Tamat aja 😢😢😢😢
Bunga
sedih banget/Sob/
Uthie
Semoga masih ada kesempatan untuk kalian hidup bahagia yaaa.... not Sad Ending 👍👍👍
Uthie
💞💞💞💞
Haryati Atie
thoor ini ga ada cerita unboxing kli ya , ku kira cerita bakal bede sma mimpi dewangga .
Uthie
Masihkah mereka dapat bersatu dan mengubah takdir 😢
Uthie
Semoga di kesempatan kali ini, mereka bisa bersama selamanya 😢
Uthie
Nexxxttt.... lagiiii
Uthie
syukurlah...bisa kembali bersama merubah kejadian tragis di masa depan 👍👍😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!