Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!
---
Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Kedua
Pukul 19.00 malam. Makan malam di Vila Mega Permata telah usai.
Suasana malam kedua karyawisata terasa berbeda. Mungkin karena udara terasa lebih dingin dibanding malam sebelumnya. Mungkin karena besok kami harus kembali pulang ke Jakarta. Atau mungkin karena aku tahu—di balik tawa dan canda teman-teman sekelasku—ada rencana pembunuhan yang segera akan dilaksanakan.
Rasya duduk di teras vila, dekat kolam renang yang airnya berkilauan diterangi lampu taman. Di tangannya tergenggam segelas jus jeruk—bukan jus sembarangan, melainkan jus yang disiapkan khusus oleh Andre atas perintah Rio.
Namun Rasya tidak meminumnya.
Ia hanya memegang gelas itu, sesekali menggoyangkannya, sesekali mendekatkannya ke hidung untuk mencium baunya—namun bibirnya tidak pernah menyentuh cairan berwarna oranye itu.
“Kenapa tidak diminum?” tanyaku sambil duduk di sampingnya.
“Nanti saja.”
“Ini jus jeruk kesukaanmu, bukan?”
“Iya.” Ia tersenyum tipis. “Sayangnya, kesukaan itu sekarang sudah tercampur dengan sesuatu yang tidak menyenangkan.”
“Racun?”
“Benar.”
Aku menggigit bibir, merasa geram sekaligus takut.
“Aku tidak habis pikir, Rasya. Bagaimana kamu bisa setenang ini menghadapi ancaman nyawa?”
Ia menoleh menatapku. Matanya tampak gelap, namun tidak ada rasa takut di sana. “Karena aku sudah pernah mati sekali. Dan ternyata, mati itu tidak seburuk yang aku bayangkan. Satu-satunya hal yang membuatku takut sekarang bukanlah kematian—melainkan kehilanganmu.”
Aku meremas tangannya dengan lembut.
“Kamu tidak akan kehilanganku.”
“Aku tahu.” Ia menekan punggung tanganku dengan ibu jarinya. “Itulah sebabnya aku bisa tetap tenang.”
---
Sasha (20.32): “Aku sudah di posisi. Bersembunyi di balik semak dekat gazebo. Rio sedang duduk di sana.”
Nayla (20.33): “Hati-hati, Sha.”
Sasha (20.33): “Tenang saja. Aku tidak akan terlihat.”
Rasya (20.34): “Rekam semuanya. Mulai dari saat ia berbicara dengan Andre.”
Sasha (20.34): “Siap, Bos.”
Aku tersenyum kecil menahan tawa. Sasha memang suka berlebihan, namun justru itulah yang membuatnya sangat cocok untuk tugas ini. Tidak ada yang akan curiga pada gadis bertubuh mungil berkacamata bundar yang selalu membawa buku catatan ke mana-mana.
Tak lama kemudian, Andre berjalan mendekat. Wajahnya terlihat pucat dan langkahnya tampak ragu-ragu. Ia membawa sebotol air mineral—mungkin untuk memastikan apakah Rasya sudah meminum jusnya.
“Nayla,” sapanya pelan.
“Andre.”
“Bisa… bicara sebentar?”
Aku melirik ke arah Rasya. Ia mengangguk pelan memberi izin.
“Boleh,” jawabku sambil berdiri.
Kami berjalan menuju sudut taman yang lebih sepi, tidak terlalu jauh dari tempat Rasya duduk—cukup dekat agar Rasya bisa mendengar percakapan kami, namun cukup jauh agar tidak terlihat mencurigakan.
“Ada apa, Andre?”
“Nayla…” Andre menggigit bibirnya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya meski suhu udara hanya sekitar 18 derajat Celcius. “Rio… Rio sedang marah. Ia tahu kalau Rasya belum meminum jus itu.”
“Lalu apa yang ia inginkan?”
“Ia menyuruhku memaksa Rasya untuk meminumnya. Bagaimana pun caranya.”
“Dan kamu akan melakukannya?”
“Aku… aku tidak tahu.”
“Kamu tahu, Andre.” Aku menatap matanya lekat-lekat. “Di dalam hatimu, kamu sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kamu hanya butuh sedikit keberanian untuk memilih.”
Andre menunduk dalam-dalam. Bahunya naik turun dengan cepat.
“Aku tidak mau masuk penjara lagi, Nayla. Di kehidupan sebelumnya, setelah kamu meninggal, Rio menjebakku. Aku dihukum lima tahun penjara atas kasus korupsi yang sebenarnya dilakukannya sendiri. Hidupku hancur di sana.”
Jantungku berdebar kencang. Jadi ternyata Rio juga mengkhianati Andre di kehidupan sebelumnya?
“Jadi kamu ingin membalas dendam padanya?”
“Andaikata aku bisa…”
“Kamu bisa, Andre.” Aku meraih lengannya—bukan karena menyayanginya, tapi karena ia butuh pegangan. “Kamu hanya perlu menjadi saksi. Cukup berikan bukti yang kita miliki. Kamu tidak perlu membunuh atau melukai siapa pun.”
Andre mengangkat wajahnya. Matanya tampak berkaca-kaca.
“Kamu… kamu tidak membenciku?”
“Aku membenci apa yang kamu lakukan di kehidupan sebelumnya. Tapi aku lebih membenci Rio,” jawabku jujur. “Dan sekarang, kamu masih punya kesempatan untuk memilih. Apakah kamu ingin menjadi penjahat lagi, atau menjadi orang yang berbuat baik untuk pertama kalinya?”
Andre terdiam beberapa saat. Lalu ia mengangguk mantap.
“Aku akan membantu. Aku bersedia menjadi saksi.”
Tiba-tiba ponsel Andre bergetar. Ia membaca pesan yang masuk, lalu wajahnya memucat kembali.
“Rio… ia menyuruhku menemuinya di gazebo. Sekarang juga.”
“Ini kesempatan emas.”
Andre terlihat ragu. “Tapi—”
“Aku akan mengawasimu dari kejauhan. Sasha sudah siap merekam semuanya.”
Andre melirik ke arah semak-semak di dekat gazebo. Tidak terlihat sedikit pun sosok Sasha—benar-benar seperti ninja cilik yang pandai bersembunyi.
“Baiklah.”
---
Andre duduk di kursi gazebo. Di hadapannya, Rio sudah menunggu dengan senyum tipis yang membuat bulu kuduk meremang.
“Apakah jus itu sudah diminum?” tanya Rio dengan nada dingin.
“Belum. Ia masih memegang gelasnya.”
“Paksalah ia meminumnya.”
“Aku sudah mencoba, tapi ia menolak.”
“Mencoba saja tidak cukup.” Suara Rio meninggi sedikit. “Kamu harus berhasil. Kalau tidak, kamu tahu apa konsekuensinya.”
“Apa konsekuensinya?”
Rio mencondongkan tubuh ke depan. Matanya menyipit tajam seperti pisau.
“Aku akan menghancurkan seluruh keluargamu. Ayahmu yang sedang naik jabatan di kantor? Aku bisa membuatnya dipecat. Ibumu yang memiliki toko kue? Aku bisa membuat usahanya bangkrut. Adikmu yang masih TK? Aku bisa…” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum licik. “Kamu pasti sudah mengerti maksudku.”
Andre gemetar ketakutan.
“Kamu… kamu ini monster.”
“Aku bukan monster. Aku hanya orang yang realistis.” Rio bersandar santai di kursi sambil merentangkan tangannya. “Di dunia ini, orang yang kuatlah yang berkuasa. Orang yang lemah akan tersingkir. Dan kamu itu lemah, Andre. Selalu lemah. Itulah sebabnya kamu membutuhkanku.”
“Aku… aku tidak membutuhkanmu lagi.”
“Tidak, kamu butuh. Siapa yang menyelamatkanmu dari penjara di kehidupan sebelumnya? Siapa yang memberimu modal untuk memulai hidup baru? Siapa yang—”
“Kamu. Tapi semua itu hanya utang budi yang kamu paksakan padaku.”
Rio tertawa kecil. “Entah itu utang budi atau bukan, kamu tetap berada di bawah kendaliku. Dan kamu akan melakukan apa saja yang aku perintahkan.”
Di balik semak-semak, ponsel Sasha terus merekam seluruh percakapan itu dengan jelas.
---
Sementara itu, Rasya masih duduk di tempatnya. Gelas jus di tangannya sudah terisi setengahnya, namun ia tetap tidak meminumnya. Ia hanya meminum air mineral dari botol yang dibawanya sendiri.
“Apakah rekamannya berhasil?” tanyanya saat aku kembali mendekat.
Sasha muncul dari balik pohon dengan wajah berseri-seri, meski ada beberapa helai daun yang menempel di rambutnya. “Berhasil! Rio bicara semuanya—mulai dari ancaman pada keluarga Andre, hingga rencana pembunuhan. Semuanya terekam dengan jelas!”
“Aku juga mendengar sebagian dari sini,” tambah Rasya. “Suaranya cukup terdengar jelas.”
“Besok kita serahkan rekaman ini ke polisi, ya?” tanya Sasha antusias.
“Belum bisa,” jawab Rasya sambil menggeleng. “Rio orang yang sangat pintar. Ia bisa saja menyangkalnya—mengatakan suaranya palsu atau rekamannya sudah diedit.”
“Terus bagaimana caranya agar ia tertangkap?”
“Kita butuh bukti fisik yang nyata.”
“Bukti fisik apa?”
Rasya menatap gelas jus beracun yang masih dipegangnya. “Ini.”
“Jus ini?”
“Benar.” Ia mengangkat gelas itu. “Racun di dalamnya. Kalau kita bawa ke laboratorium untuk diuji dan terbukti mengandung zat berbahaya, rekaman suara ditambah hasil uji lab akan menjadi bukti yang sangat kuat dan tidak bisa disangkal lagi.”
---
“Racun ini.” Rasya mengangkat gelas berisi jus jeruk itu. “Nanti setelah Rio ditangkap, kita bisa bawa gelas ini untuk diuji di laboratorium. Pasti masih ada sisa zat racun di permukaannya—atau setidaknya di botol aslinya yang ia simpan.”
“Tapi dia bisa saja menyangkal dan bilang itu bukan miliknya,” sahutku.
“Karena itulah kita harus membuatnya ketahuan secara langsung sedang memegang atau berurusan dengan racun itu.”
“Caranya?”
Rasya tersenyum tipis. “Kita akan membuat jebakan untuknya.”
---
Rasya mengumpulkan kami bertiga di kamarnya di Vila B. Teman sekamarnya semuanya sudah terlelap, kecuali satu anak yang asyik bermain gim dengan headset menutupi telinga—sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
“Ini rencananya,” mulai Rasya sambil menggambar sketsa sederhana di buku catatannya. “Besok pagi, Rio pasti akan datang ke kamarku untuk memastikan aku sudah tewas akibat racun itu. Tapi dia tidak akan menemukan aku di sini—karena aku sudah pindah tempat.”
“Pindah ke mana?” tanya Sasha.
“Ke Vila C, tempat para guru menginap.”
“Kenapa harus ke sana?”
“Karena di sanalah aku akan berpura-pura terbaring lemah seolah keracunan. Para guru akan panik dan segera memanggil polisi. Rio pasti akan datang untuk memastikan keadaanku. Saat dia mendekat, Sasha akan merekam semuanya, dan Andre akan membuka tempat persembunyian di lemari kamar Rio untuk mengambil botol racun aslinya.”
“Andre setuju melakukan itu?” tanya Sasha lagi.
Andre yang duduk termenung di pojok kamar mengangguk lesu. “Aku sudah setuju.”
“Dan saat polisi tiba, kita serahkan semua bukti yang sudah dikumpulkan—rekaman percakapan, gelas jus beracun, dan botol racun aslinya.” Rasya menutup buku catatannya. “Dengan begitu, Rio tidak akan punya kesempatan untuk kabur atau menyangkal.”
Aku menggenggam tangannya erat. “Kamu yakin rencana ini akan berhasil?”
“Tidak ada rencana yang bisa dipastikan seratus persen berhasil. Tapi ini adalah cara terbaik yang bisa kita susun saat ini.”
“Baiklah. Aku percaya padamu.”
Rasya tersenyum lembut. “Terima kasih.”
Sasha menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. “Tolong kalian berdua jangan terus menunjukkan kemesraan di depanku terus, dong. Aku jadi merasa iri sendiri.”