NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Kedua — Racun, Pengkhianatan, dan Rekaman

Pukul 19.00. Villa Mega Permata. Makan malam telah usai.

Suasana malam kedua karyawisata terasa berbeda. Mungkin karena udaranya lebih dingin dari semalam. Mungkin karena besok kita sudah pulang ke Jakarta. Atau mungkin karena aku tahu—di balik tawa dan canda teman-teman sekelasku—ada rencana pembunuhan yang akan segera dieksekusi.

Rasya duduk di teras villa A, dekat kolam renang yang airnya berkilauan oleh lampu-lampu taman. Dia memegang segelas jus jeruk—bukan sembarang jus jeruk, tapi jus jeruk yang disiapkan khusus oleh Andre atas perintah Rio.

Tapi Rasya tidak meminumnya.

Dia hanya memegang gelas itu, sesekali menggoyangkannya, sesekali menciumnya—tapi bibirnya tidak pernah menyentuh cairan oranye itu.

"Nggak diminum?" tanyaku, duduk di sampingnya.

"Nanti."

"Jus jeruk kesukaanmu, kan?"

"Iya." Dia tersenyum tipis. "Tapi sayangnya, kesukaan itu sekarang dicampur dengan sesuatu yang tidak begitu menyenangkan."

"Racun?"

"Racun."

Aku menggigit bibir.

"Aku nggak habis pikir, Rasya. Kamu bisa setenang ini menghadapi ancaman pembunuhan?"

Dia menoleh padaku. Matanya gelap, tapi tidak takut. "Karena aku sudah mati sekali. Dan ternyata, mati itu tidak seburuk yang aku bayangkan. Satu-satunya hal yang membuatku takut sekarang bukan kematian—tapi kehilangan kamu."

Aku meremas tangannya.

"Kamu nggak akan kehilangan aku."

"Aku tahu." Dia menekan punggung tanganku dengan ibu jarinya. "Karena itu aku tenang."

---

Pukul 20.30 — Sasha Memasuki Posisi

Sasha mengirim chat:

Sasha (20.32): "Aku udah di posisi. Di balik semak dekat gazebo. Rio lagi duduk di sana."

Nayla (20.33): "Hati-hati, Sha."

Sasha (20.33): "Tenang. Tiba-tiba tak terlihat."

Rasya (20.34): "Rekam semuanya. Mulai dari dia bicara sama Andre."

Sasha (20.34): "Affirmative, boss."

Aku menyembunyikan senyumku. Sasha memang lebay, tapi itulah yang membuatnya sempurna untuk pekerjaan ini. Tidak ada yang akan curiga pada bocah cilik dengan kacamata bundar yang selalu membawa buku catatan kemana-mana.

---

Pukul 21.00 — Andre Mendekati Rasya

Andre berjalan keluar dari villa B. Wajahnya pucat, langkahnya ragu-ragu. Dia membawa segelas air mineral—mungkin untuk mengawasi apakah Rasya sudah meminum jusnya.

"Nayla," sapanya.

"Andre."

"Bisa... bicara sebentar?"

Aku melirik Rasya. Rasya mengangguk tipis.

"Ayo," kataku, berdiri.

Kami berjalan ke sudut taman yang lebih sepi, tidak terlalu jauh dari Rasya—cukup untuk didengar Rasya, tapi cukup jauh untuk tidak terlihat mencurigakan.

"Ada apa, Andre?"

"Nayla..." Andre menggigit bibir. Keringat dingin membasahi dahinya meskipun suhu hanya 18 derajat. "Rio... Rio marah. Dia tahu kalau Rasya belum minum jusnya."

"Terus?"

"Dia nyuruh aku..." Andre menelan ludah. "Dia nyuruh aku memaksa Rasya minum. Entah dengan cara apa."

"Kamu mau lakuin?"

"Aku... aku nggak tahu."

"Kamu tahu, Andre." Aku menatap matanya. "Di hatimu, kamu sudah tahu apa yang benar dan apa yang salah. Kamu cuma butuh keberanian."

Andre menunduk. Bahunya naik turun cepat.

"Aku nggak mau masuk penjara lagi, Nayla. Di kehidupan sebelumnya, setelah kamu meninggal, Rio menjatuhkan aku. Aku dihukum lima tahun karena kasus korupsi yang sebenarnya Rio yang lakukan. Aku... aku hancur di sana."

Jantungku berdegup. Rio menjatuhkan Andre?

"Jadi kamu mau balas dendam?"

"Andaikata aku bisa..."

"Kamu bisa, Andre." Aku meraih pergelangan tangannya—bukan karena sayang, tapi karena dia butuh pegangan. "Cukup dengan menjadi saksi. Cukup dengan memberinya bukti. Kamu nggak perlu membunuh atau melukai siapa pun."

Andre mengangkat kepalaku. Matanya berkaca-kaca.

"Kamu... kamu nggak benci aku?"

"Aku benci apa yang kamu lakukan di kehidupan sebelumnya. Tapi aku benci Rio lebih." Aku jujur. "Dan sekarang, kamu bisa memilih. Jadi penjahat lagi, atau jadi pahlawan untuk pertama kalinya."

Andre diam.

Lalu dia mengangguk.

"Aku akan bantu. Aku akan jadi saksi."

---

Pukul 21.30 — Rio Menghubungi Andre

Handphone Andre bergetar.

Dia membaca pesan, lalu memucat.

"Apa?" tanyaku.

"Rio... dia mau ketemu aku di gazebo. Sekarang."

"Ini kesempatan."

Andre gelisah. "Tapi—"

"Aku ikut. Dari kejauhan. Sasha sudah merekam."

Andre melihat ke arah semak-semak di dekat gazebo. Sasha tidak terlihat sama sekali—benar-benar seperti ninja cilik.

"Oke."

---

Di Gazebo

Andre duduk di kursi gazebo. Di seberangnya, Rio sudah menunggu—dengan senyum tipis yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Sudah diminum?" tanya Rio.

"Belum. Dia masih pegang gelasnya."

"Maksa dia."

"Aku sudah coba."

"Coba tidak cukup." Suara Rio meninggi sedikit. "Kamu harus berhasil. Kalau tidak, kamu tahu konsekuensinya."

"Apa konsekuensinya?"

Rio mencondongkan badan. Matanya menyipit—tajam seperti pisau.

"Aku akan hancurkan keluarga kamu. Ayahmu yang lagi naik daun di kantor? Aku bisa buat dia dipecat. Ibumu yang punya toko kue? Aku bisa buat toko itu bangkrut. Adekmu yang masih TK? Aku bisa..." Dia berhenti, tersenyum. "Kamu tahu sendiri."

Andre gemetar.

"Kamu... kamu monster."

"Bukan monster. Realistis." Rio bersandar, merentangkan tangan di sandaran kursi. "Di dunia ini, yang kuat berkuasa. Yang lemah tersingkir. Kamu lemah, Andre. Kamu selalu lemah. Itu kenapa kamu membutuhkan aku."

"Aku... aku nggak butuh kamu."

"Kamu butuh. Siapa yang menyelamatkan kamu dari penjara di kehidupan sebelumnya? Siapa yang memberi kamu uang untuk memulai hidup baru? Siapa yang—"

"Kamu. Tapi itu semua utang budi yang kamu paksakan padaku."

Rio tertawa kecil. "Utang budi atau tidak, kamu tetap di bawah kendaliku. Dan kamu akan melakukan apa yang aku perintahkan."

Dari balik semak, handphone Sasha terus merekam.

---

Pukul 22.00 — Kembali ke Teras Villa

Rasya masih duduk di tempatnya. Jus jeruk di tangannya sudah setengah—tapi dia masih belum meminumnya. Yang dia minum hanyalah air mineral dari botol yang dia bawa sendiri.

"Rekamannya berhasil?" tanyanya.

Sasha muncul dari balik pohon, wajahnya berseri-seri meskipun ada daun di rambutnya. "Berhasil! Rio bicara semuanya. Soal ancaman, soal keluarga Andre, soal rencana pembunuhan—semuanya!"

"Aku dengar sebagian dari sini," ucap Rasya. "Suaranya cukup jelas."

"Besok kita serahkan ke polisi?" tanya Sasha.

"Belum." Rasya menggeleng. "Rio orang pintar. Dia bisa menyangkal. Bilang suara itu bukan suaranya, atau rekaman itu editan."

"Terus gimana?"

"Kita butuh bukti fisik."

"Bukti fisik seperti apa?"

Rasya menatap gelas jus jeruk di tangannya. "Ini."

"Jus ini?"

"Racun ini." Dia mengangkat gelasnya. "Setelah Rio ditangkap, kita bisa uji laboratorium. Pasti ada sisa racun di gelas ini—atau di botol racun yang dia simpan."

"Tapi dia bisa bilang racun itu bukan punyanya," godaku.

"Maka kita harus membuatnya ketahuan memegang racun itu."

"Caranya?"

Rasya tersenyum. "Kita akan membuat jebakan."

---

Pukul 23.00 — Rencana Jebakan

Rasya mengumpulkan kami di kamarnya (Villa B, tapi semua teman sekamarnya sudah tidur, kecuali satu anak yang sibuk main game dengan headset—tidak peduli dengan dunia luar).

"Ini rencananya," mulai Rasya, menggambar di buku catatannya. "Besok pagi, Rio akan datang ke kamarku untuk memastikan aku sudah mati kena racun. Tapi dia nggak akan menemukan aku di kamar—karena aku sudah pindah."

"Pindah ke mana?"

"Ke Villa C. Tempat guru-guru."

"Kenapa ke guru?"

"Karena di sanalah aku akan berpura-pura mati. Guru-guru akan ketakutan, memanggil polisi, dan Rio akan datang untuk memastikan aku mati. Saat dia mendekat, Sasha akan merekam, dan Andre akan membuka lemari tempat Rio menyimpan botol racun."

"Andre setuju?" tanya Sasha.

Andre yang duduk di pojok kamar mengangguk lesu. "Aku sudah setuju."

"Dan saat polisi datang, kita serahkan semua bukti." Rasya menutup buku catatannya. "Rio tidak akan bisa kabur."

Aku menggenggam tangannya. "Kamu yakin ini berhasil?"

"Nggak ada rencana yang pasti berhasil. Tapi ini rencana terbaik kita."

"Oke. Aku percaya kamu."

Rasya tersenyum. "Terima kasih."

Sasha menghela napas. "Kalian berdua jangan baper di depan aku terus, dong. Aku jadi iri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!