Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Ketukan langkah kaki Adiba Abbey di atas anak tangga marmer tidak lagi terdengar anggun; langkah itu terburu-buru, didorong oleh gelombang kegilaan yang membuncah dari balik dadanya.
Begitu pintu kamar utama griya tawang Manhattan itu tertutup rapat, Adiba langsung memutar kunci ganda dengan sentakan kasar.
Dia menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang kokoh, lalu perlahan tubuhnya merosot ke atas lantai karpet beludru yang tebal. Kamar itu gelap, hanya menyisakan pendar lampu jalanan Manhattan dari balik jendela kaca besar. Di dalam kesunyian yang pekat itu, sebuah suara mulai lolos dari tenggorokannya.
Bukan suara tangisan, melainkan suara tawa.
Adiba tertawa. Mula-mula hanya kekehan kecil yang lirih, namun perlahan berubah menjadi tawa histeris yang menggema mengerikan di sudut-sudut kamar mandi mewah itu.
Dia mengangkat tangan kanannya, menyentuh permukaan pipi kirinya yang masih terasa kebas, panas, dan berdenyut nyeri akibat hantaman tangan kasar Raynazh beberapa menit lalu.
Di sudut bibirnya, sisa darah segar masih terasa asin saat lidahnya menyapu luka robek tersebut.
"Bagaimana rasanya hidup di neraka bersamaku, Raynazh Osborn?!" teriak Adiba ke arah kegelapan kamar, suaranya melengking tinggi, sarat akan kepuasan sadis yang terdistorsi.
"Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan kekerasan?! Kau hanya sedang mempercepat langkahmu menuju tiang gantungan, Pengecut!"
Tawa histeris itu perlahan mereda, menyisakan napas Adiba yang memburu berantakan di dalam kesunyian.
Pandangan matanya yang semula liar mendadak melembut dengan transisi yang teramat ekstrem ketika kedua telapak tangannya bergerak turun, mengusap permukaan perutnya yang masih rata dengan kelembutan yang teramat sangat. Di dalam rahimnya, benih milik Louis sedang berjuang untuk tumbuh.
"Ini semua kulakukan untukmu, Louis..." Adiba berkata lirih, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang teramat dalam dan penuh perasaan.
Setitik air mata yang hangat akhirnya mengalir melewati pipinya yang bengkak. "Lihat... anak kita bahkan harus merasakan tamparan sebelum dirinya lahir ke dunia. Semua rasa sakit ini, semua penghinaan ini, aku menanggungnya hanya agar jalanmu menuju takhta tertinggi menjadi bersih."
Adiba bangkit dengan tubuh yang sedikit gemetar, berjalan mendekati meja riasnya.
Dia menatap bayangan dirinya di cermin besar. Di bawah pendar remang, tanda kemerahan dari Louis di dadanya bersanding kontras dengan luka lebam di pipinya akibat tamparan Raynazh. Dua tanda dari dua pria bersaudara, namun memiliki arti yang sepenuhnya berbeda di dalam jiwanya.
"Tidak bisakah kau melihat cinta yang kupunya, Louis?" ratap Adiba, jemarinya menyentuh permukaan cermin, tepat pada bayangan matanya sendiri yang berkaca-kaca.
"Aku menyerahkan tubuhku, aku mengotori namaku, aku masuk ke dalam rumah neraka ini... semuanya hanya untukmu. Kenapa kau masih menatapku sebagai musuh? Kenapa kau tidak bisa melihat bahwa seluruh kegilaan ini bersumber dari cintaku yang abadi?"
Namun, di tengah gelombang obsesinya, sebuah nama tiba-tiba melintas di dalam benak Adiba seperti sambaran petir yang membekukan darahnya.
Christine.
Gadis berusia 22 tahun yang pagi tadi dengan manja menghubungi Louis di telepon. Gadis rapuh yang memegang status resmi sebagai kekasih pria yang dipujanya.
Mengingat bagaimana Louis mendadak kaku dan canggung saat mengangkat telepon dari gadis itu pagi tadi di Brooklyn, dada Adiba seketika dihantam oleh rasa sesak yang teramat masif.
Setetes demi setetes air mata akhirnya jatuh mengalir deras di wajah cantiknya, merusak riasan wajah yang sudah berantakan. Pertahanan keangkuhan seorang putri tunggal dinasti Abbey runtuh oleh rasa cemburu yang membakar batinnya.
"Apakah memang kita tidak ditakdirkan bersama, Louis?" lirih Adiba, suaranya pecah oleh tangisan yang selama ini selalu dia tahan di depan publik.
Dia memeluk lututnya di atas lantai, menenggelamkan wajahnya di sana. "Dunia ini memang begitu luas... tapi kenapa duniaku isinya hanya kamu saja? Kenapa di dalam kepalaku tidak ada ruang untuk hal lain selain dirimu... tapi duniamu justru diisi untuk orang lain? Kenapa gadis ingusan itu yang berada di sampingmu, sementara aku harus mendekam di sini bersama kakakmu yang menjijikkan?!"
Malam itu, di dalam kemegahan Manhattan, Adiba Abbey menangis dalam kegelapan—seorang wanita yang dikuasai oleh cinta yang terlanjur berubah menjadi kegilaan.
Sementara itu, jauh di seberang sungai, di kawasan industrial Brooklyn yang sunyi, atmosfer di dalam penthouse pribadi Louis Enver Osborn terasa jauh lebih tenang namun sarat akan labirin batin yang membingungkan.
Aroma sisa percintaan gilanya dengan Adiba pagi tadi telah sepenuhnya dihilangkan oleh semprotan pengharum ruangan dan jendela yang sengaja dibuka beberapa senti untuk membiarkan angin dingin masuk.
Di atas sofa kulit hitam yang besar, Louis duduk bersandar dengan sebuah kaus oblong putih polos dan celana jins gelap.
Namun, malam ini dia tidak sendiri.
Pintu lift privat berdenting, dan sosok seorang gadis muda melangkah masuk dengan langkah yang teramat halus dan ringan. Christine.
Gadis itu mengenakan mantel rajut berwarna krem yang hangat, rambut pirang tipisnya dibiarkan terurai membingkai wajahnya yang mungil dan polos. Pembawaannya yang rapuh dan matanya yang selalu memancarkan binar ketergantungan membuat siapa pun yang melihatnya akan langsung merasakan dorongan untuk melindunginya.
"Louis!" Christine memanggil dengan suara lembutnya yang khas.
Begitu melihat Louis duduk di sofa, gadis itu langsung berlari kecil dan menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Louis. Dia melingkarkan kedua lengan kecilnya di pinggang tegap Louis, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu dengan rasa aman.
"Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu tahu," Christine bertanya sembari mendongak, menatap Louis dengan sepasang mata bulatnya yang jernih.
Louis tertegun sejenak, kehangatan tubuh Christine yang tulus mendadak membuat rasa bersalah di dalam dadanya semakin menggunung tinggi.
Memori tentang bagaimana dia memuaskan diri dengan membayangkan Adiba, dan bagaimana dia meniduri kakak iparnya itu berkali-kali semalam, laksana pisau panas yang menguliti nuraninya saat ini di depan Christine.
Namun, Louis tidak melepaskan pelukan itu. Dia memaksakan bibirnya untuk bergerak, mengulas sebuah senyuman tipis di wajah tegasnya. "Aku baik, Christine. Pekerjaan di pelabuhan agak menyita waktu beberapa hari ini," ucap Louis lembut, tangannya terulur mengusap puncak kepala Christine dengan perlahan.
Senyuman yang diberikan Louis malam ini adalah senyuman yang tulus—namun ketulusan itu bukan didasari oleh getaran cinta seorang pria kepada kekasihnya.
Senyuman itu adalah wujud kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Bagi Louis, Christine tidak lebih dari seorang adik perempuan yang harus dia jaga, seorang gadis kecil yang menjadi muara dari seluruh rasa bersalah di dalam hidupnya.
Sejujurnya, di dalam hati kecilnya yang paling dalam, Louis dilingkupi oleh kebingungan yang teramat luar biasa tentang bagaimana kelanjutan hubungan ini.
Demi Tuhan... Louis tahu betul dia tidak memiliki rasa cinta romantis sedikit pun pada Christine. Setiap kali mereka bersama, tidak pernah ada debaran gila seperti yang dia rasakan saat mengungkung tubuh Adiba semalam.
Pertemuannya dengan Christine selalu didasari oleh rasa kasihan yang teramat mendalam.
Gadis ini... tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini. Ayah dan ibunya telah lama tiada, dan satu-satunya sandaran hidup yang dia punya—kakak kandungnya, Ambar—telah direnggut dengan kejam oleh kebejadatan keluarganya sendiri di masa lalu.
Dunia Christine telah hancur total, dan satu-satunya puing yang tersisa yang membuatnya tetap bertahan hidup adalah Louis.
"Jika kau meninggalkanku, Louis... maka aku akan menyusul Kak Ambar," ingatan akan ucapan Christine setahun lalu kembali terngiang di telinga Louis, terasa seperti rantai besi yang mengikat kedua kakinya ke dasar jurang.
Louis bersandar pada sandaran sofa, membiarkan Christine bercerita dengan ceria tentang aktivitas kuliahnya malam ini sembari menyandarkan kepala di bahunya. Mata elang abu-abu Louis menatap kosong ke arah langit-langit penthouse yang remang.
Ingin rasanya Louis berteriak. Ingin rasanya dia melepaskan semua beban jahanam ini—beban dosa pemerkosaan Ambar yang dilakukan oleh kakaknya, Raynazh, namun harus dia tanggung nama buruknya seumur hidup.
Ingin rasanya dia berkata jujur pada Christine bahwa bukan dirinya yang menghancurkan Ambar di masa lalu. Namun, dia tidak pernah bisa melakukannya.
Mengungkapkan kebenaran hanya akan menghancurkan nama besar Osborn, memicu serangan jantung pembuluh darah ayahnya, dan yang paling penting: akan menghancurkan kewarasan Christine yang selama ini mengenal Louis sebagai satu-satunya pria yang bertanggung jawab untuk menebus kesalahan tersebut melalui dirinya.
Kenapa... Kenapa Tuhan menciptakan sebuah rasa bersalah yang cukup tinggi di dalam hidupku? batin Louis meratap dalam keheningan jiwanya yang sepi.
Dia merasa dikutuk oleh moralitasnya sendiri. Di satu sisi, dia dipaksa menjadi pahlawan palsu bagi Christine demi menebus dosa kakaknya.
Di sisi lain, jiwanya telah sepenuhnya jatuh dan terikat ke dalam kubangan dosa baru bersama Adiba Abbey—sebuah kegilaan terlarang di Brooklyn yang dia lakukan secara sadar untuk membalas dendam atas status "catur cadangan" yang diberikan ayahnya.
Louis mengetatkan pelukannya pada bahu rapuh Christine, mencoba mencari sedikit kedamaian di tengah badai intrik yang kian merapat mengitari hidupnya.
Dia tahu, waktu dua bulan yang dia berikan pada Zack untuk menyelidiki Adiba kini berjalan seperti hitungan mundur bom waktu.
Dan ketika bom itu meledak nanti, entah itu Christine, Adiba, Raynazh, atau dirinya sendiri... tidak akan ada satu pun yang bisa keluar dari neraka ini dalam keadaan utuh.