NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrak Baru,Aturan Baru

Pagi datang,sudah menjadi kebiasaan Nayla,setelah menjalankan sholat shubuh,ia segera bergegas menuju dapur.

Ia berdiri di balik meja konter dapur yang tinggi, mengenakan celemek kain motif kotak-kotak sederhana di atas gaun rumahannya. Tangannya yang terampil dengan cekatan membalikkan potongan roti bakar di atas teflon. Rambut hitam panjangnya dicepol asal-asalan ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya yang masih agak sembap sisa tangisan dua hari lalu. Kendati demikian, matanya kini memancarkan binar yang berbeda bukan lagi keputusasaan, melainkan keteguhan yang baru.

Langkah kaki yang berirama konstan mengejutkannya.

Tanpa perlu menoleh pun, Nayla tahu siapa yang datang. Langkah kaki itu terlalu tegap, terlalu percaya diri, tipikal seorang pria yang sejak lahir sudah diajari cara menguasai lantai tempatnya berpijak.

Gibran Mahardika masuk ke area dapur. Pria itu sudah rapi dengan kemeja kerja warna biru dongker yang lengannya digulung hingga sebatas siku, memperlihatkan jam tangan kronograf mewah dan urat-urat tangan yang menonjol maskulin. Rambutnya yang kemarin sempat acak-acakan kini sudah tertata rapi dengan sedikit pomade, wangi maskulin campuran sandalwood dan citrus langsung menguar memenuhi ruangan, mengalahkan aroma roti bakar buatan Nayla.

Nayla meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada rotinya. "Pagi, Mas. Mau sarapan sekarang?"

Gibran tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekati meja konter, menarik salah satu kursi bar berkaki besi, lalu duduk di sana. Alih-alih melihat ke arah makanan, sepasang mata elang pria itu justru tertuju sepenuhnya pada wajah Nayla, memperhatikan setiap jengkal ekspresi perempuan yang kini secara hukum adat dan mata keluarganya adalah istrinya meski status aslinya masih terikat dalam selembar dokumen rahasia.

"Pagi," jawab Gibran pendek. Suaranya berat, khas pria yang baru beberapa puluh menit mengumpulkan kesadaran penuh. "Nayla, taruh dulu sepatulanya. Ada yang mau gue omongin."

Nayla mengernyitkan kening. Nada bicara Gibran terdengar sangat formal, kembali ke mode "CEO dingin" yang biasa ia tunjukkan di depan bawahannya. Dengan sedikit ragu, Nayla mematikan kompor, memindahkan potongan roti bakar terakhir ke atas piring porselen, lalu meletakkannya di depan Gibran lengkap dengan selai kacang dan cokelat.

"Ada apa lagi, Mas? Jangan bilang Papa Baskoro berubah pikiran lagi dan mau mengusirku pagi ini? Kalau iya, biar aku kemas-kemas barang sekarang," ujar Nayla defensif, nadanya agak ketus. Luka dari makian Baskoro dua hari lalu rupanya masih menyisakan sedikit rasa trauma di hatinya.

Gibran menghela napas pendek. Sudut bibirnya berkedut menahan senyum tipis melihat betapa cepatnya pertahanan diri gadis di depannya ini bangkit. "Lu bisa tenang sedikit enggak? Belum apa-apa sudah pasang mode landak mau menusuk orang."

Dari balik saku kemejanya, Gibran mengeluarkan selembar kertas putih yang sudah terlipat rapi menjadi tiga bagian. Ia membentangkan kertas itu di atas meja marmer, tepat di sebelah piring roti bakar. Di bagian atas kertas tersebut, tertulis dengan huruf kapital yang dicetak tebal:

ADDENDUM KESEPAKATAN BERSAMA (KONTRAK MASEHI SEUMUR HIDUP)

Nayla melotot. Ia mendekatkan wajahnya ke kertas itu, membaca deretan kalimat yang diketik rapi dengan font Arial berukuran dua belas. "Apa-apaan ini, Mas? Kontrak baru? Kemarin kan perjanjiannya cuma tiga bulan sandiwara di depan Kakek!"

"Itu kemarin, sebelum Papa bikin kekacauan di meja makan," kata Gibran santai. Ia meraih pisau selai, mulai mengoleskan selai cokelat ke atas rotinya dengan gerakan yang sangat tenang, berbanding terbalik dengan Nayla yang sudah mulai naik pitam. "Setelah dipikir-pikir, tiga bulan itu terlalu singkat. Investigasi Papa kemarin membuktikan kalau kontrak lama kita punya banyak celah. Kalau kita selesai dalam tiga bulan, Papa akan langsung tahu kalau ini cuma sandiwara, dan dia bakal makin gencar menjodohkan gue sama anak-anak kolega bisnisnya. Belum lagi posisi lu di kampung bakal kembali terancam kalau status kita menggantung."

Nayla menyilangkan tangan di dada, menatap Gibran dengan tatapan penuh selidik. "Terus, apa hubungannya dengan kertas aneh ini? Apa itu Kontrak Seumur Hidup? Mas Gibran jangan bercanda ya, pernikahan itu bukan mainan!"

"Gue enggak pernah bercanda soal dokumen resmi, Nayla," ujar Gibran, kini menatap lurus ke dalam manik mata Nayla. Tatapannya mendadak berubah menjadi sangat intens, membuat detak jantung Nayla melewatkan satu ketukan. "Baca poin-poinnya. Gue sudah menyesuaikannya dengan kebutuhan kita berdua. Anggap saja ini revisi demi keamanan bersama."

Nayla menarik kertas tersebut dengan kasar, lalu membacanya keras-keras dengan nada penuh penekanan dan sarkasme.

"Poin pertama: Pihak Kedua,yaitu aku dilarang keras menampilkan ekspresi cemberut, menekuk wajah, atau menunjukkan bibir cumi-cumi di depan Pihak Kesatu,yaitu Mas Gibran terutama di pagi hari, karena dapat merusak produktivitas kerja Pihak Kesatu."

Nayla berhenti membaca, menatap Gibran dengan pandangan tidak percaya. "Bibir cumi-cumi? Mas, ini dokumen hukum atau komik strip sih? Muka jengkelku ini alami ya, respons biologis karena melihat kelakuanmu!"

Gibran mengunyah roti bakarnya dengan santai, mengabaikan protes Nayla. "Lanjut. Poin kedua lebih penting."

Nayla mendengus keras, lalu melanjutkan membaca. "Poin kedua: Guna menjaga stabilitas emosional dan kesehatan mental kedua belah pihak akibat tekanan eksternal (baca: keluarga Mahardika), Pihak Kesatu wajib memberikan, dan Pihak Kedua wajib menerima, satu kali pelukan gratis setiap hari dengan durasi minimal sepuluh detik. Tidak boleh dicicil."

Nayla hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Wajahnya yang semula sembap mendadak berubah warna menjadi merah padam, menjalar hingga ke daun telinganya. Ia membanting kertas itu ke atas meja. "Mas Gibran ketularan virus apa sih semalam di balkon? Kok mendadak jadi mesum dan gombal begini? Mana ada klausul pelukan wajib dalam kontrak bisnis!"

"Ini bukan kontrak bisnis, ini kontrak rumah tangga sandiwara yang ditingkatkan statusnya menjadi semi-permanen," koreksi Gibran dengan wajah lempeng tanpa dosa.

Ekspresinya begitu serius, seolah ia sedang membahas laporan keuangan tahunan Mahardika Group di depan dewan komisaris, padahal isi yang dibahasnya sangat tidak masuk akal. "Pelukan itu secara ilmiah bisa melepaskan hormon oksitosin, menurunkan tingkat stres. Lu pikir menghadapi Papa Baskoro itu mudah? Gue butuh booster energi, dan lu adalah istri sah gue setidaknya secara hukum agama dan negara sekarang. Jadi, itu hak dan kewajiban hukum."

"Hak hukum mbahmu!" semprot Nayla, melupakan sopan santun sesaat karena terlalu syok. "Mas, sadar dong! Mas itu Gibran Mahardika, CEO dingin yang ditakuti ratusan karyawan, yang kalau ngomong iritnya kayak kuota internet gratisan. Kenapa sekarang jadi kayak cowok fakboy komplek yang suka godain anak gadis orang?"

Gibran terkekeh pelan. Suara tawa yang renyah dan rendah itu terdengar begitu seksi di telinga Nayla, membuat kemarahan gadis itu sedikit menguap, digantikan oleh rasa salah tingkah yang luar biasa. Gibran menggeser kursi barnya, memperkecil jarak antara dirinya dan Nayla yang masih berdiri mematung di balik konter.

"Gue cuma dingin sama orang luar, Nay. Sama istri sendiri, ya harus hangat. Kalau dingin juga, nanti kita jadi pinguin," goda Gibran, matanya berkilat jahil sebuah pemandangan yang mustahil dilihat oleh siapa pun di kantor Mahardika.

Nayla memalingkan wajahnya, berusaha keras menyembunyikan senyum yang hampir lolos dari bibirnya. Sifat menyebalkan Gibran yang baru ini benar-benar berbahaya bagi kesehatan jantungnya. "Sudahlah, Mas. Jangan ngaco. Roti bakarnya dihabiskan, keburu dingin seperti hatimu yang dulu."

"Hati gue yang dulu memang dingin, tapi sekarang kan sudah dipasang pemanas ruangan buatan lu," sahut Gibran lagi, benar-benar tidak mau kalah.

"Mas Gibran!" Nayla berbalik, mengambil sepotong roti bakar yang tersisa di piringnya sendiri dengan maksud untuk menyumpal mulut suaminya itu agar berhenti bicara tak karuan. Namun, gerakannya terlalu cepat dan tidak diperhitungkan. Tubuhnya condong di atas meja konter, membuat jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja.

Nayla terpaku. Ia bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di dalam manik mata hitam pekat milik Gibran. Ia bahkan bisa merasakan embusan napas hangat Gibran yang beraroma kopi menerpa permukaan kulit wajahnya. Jantung Nayla mendadak berdegup kencang, berdentum-dentum seperti beduk magrib di kampung halamannya.

Gibran tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tangan kanannya bergerak cepat, menangkap pergelangan tangan Nayla yang sedang memegang roti, lalu dengan lembut mengarahkannya ke mulutnya sendiri.

Gibran menggigit ujung roti tersebut langsung dari tangan Nayla, tanpa melepaskan pandangan matanya sedikit pun dari mata gadis itu.

Setelah mengunyah dan menelan potongan roti itu, Gibran berbisik dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa desiran yang membuat bulu kuduk Nayla merinding. "Roti bakarnya enak. Tapi orang yang bikin jauh lebih menarik."

Nayla menarik tangannya dengan sentakan kuat, wajahnya kini sudah benar-benar sewarna tomat matang yang siap dipanen. Ia melangkah mundur dua langkah, memegang dadanya yang bergemuruh. "Kam-kamu ... bener-bener sudah gila ya, Mas! Cepat berangkat kerja sana! Nanti telat!"

Gibran melihat jam tangannya, lalu tersenyum tipis sebuah senyuman yang sangat langka, yang sanggup membuat wanita mana pun bertekuk lutut dalam hitungan detik. Ia berdiri dari kursinya, merapikan letak kemejanya yang sedikit kusut.

Sebelum melangkah pergi, Gibran berjalan memutari meja konter, menghampiri Nayla yang masih berdiri kaku. Tanpa peringatan, Gibran menarik tubuh kecil Nayla ke dalam pelukannya. Tangan kekarnya melingkar erat di pinggang Nayla, sementara tangan satunya lagi menekan kepala Nayla dengan lembut agar bersandar di dada bidangnya.

Nayla tersentak, berniat memprotes, namun suaranya tertahan di tenggorokan saat mendengar detak jantung Gibran yang berirama cepat di balik kemeja birunya. Detak jantung yang membuktikan bahwa pria itu sebenarnya tidak se-tenang penampilannya.

"Satu, dua, tiga ... empat ..." Gibran mulai menghitung dengan suara berbisik di dekat telinga Nayla.

"Mas, apa-apaan sih?" gumam Nayla, protesnya kini terdengar sangat lemah tanpa tenaga.

" ... delapan, sembilan, sepuluh. Oke, kuota pelukan wajib hari ini sudah terpenuhi," ujar Gibran sambil melepaskan pelukannya secara perlahan. Ia menunduk sedikit, lalu mengecup kening Nayla dengan lembut dan lama sebuah kecupan yang terasa begitu tulus, menyalurkan rasa aman yang selama ini tidak pernah Nayla rasakan sejak badai masalah menimpa keluarganya.

Nayla terpaku, tangannya perlahan menyentuh keningnya yang baru saja dikecup.

Gibran mundur satu langkah, mengambil tas kerjanya yang tergeletak di kursi ruang tamu, lalu berbalik menatap Nayla kembali di ambang pintu masuk griya tawang. "Gue berangkat kerja dulu. Ingat aturan kontrak baru kita: jangan cemberut, jalani hari ini dengan tenang. Mulai hari ini, lu enggak sendirian lagi menghadapi dunia ini, Nay. Ada gue di depan lu."

Tanpa menunggu jawaban dari Nayla yang masih termangu seperti patung selamat datang, Gibran memutar kenop pintu dan keluar, meninggalkan keheningan yang kini terasa jauh lebih hangat di dalam ruangan mewah tersebut.

Nayla perlahan merosot duduk di salah satu kursi bar. Ia memandangi sisa roti bakar di piring, lalu beralih ke selembar kertas kontrak baru yang masih tergelar di atas meja. Jemari tangannya mengusap tulisan (Kontrak Seumur Hidup) dengan pelan. Sebuah senyuman kecil, manis, dan tulus akhirnya terbit di bibirnya untuk pertama kali setelah sekian lama.

"Kulkas dua pintu itu ... ternyata kalau mencair bisa bikin banjir bandang di hati orang ya," gumam Nayla sendirian, diiringi sisa rona merah di pipinya yang enggan pergi.

Malam penuh air mata kemarin rasanya sudah berlalu sangat jauh, digantikan oleh babak baru kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian namun untuk pertama kalinya, Nayla tidak lagi merasa takut.

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!