Sinopsis: Kembalinya Sang Dewa (Zeus Is Back)
Tiga tahun lalu, dunia siber internasional diguncang oleh kematian mendadak "Zeus", sang Raja Hacker legendaris yang mampu membobol sistem keamanan Pentagon dan bank dunia dalam hitungan detik. Tak ada yang tahu bahwa Zeus dikhianati oleh rekannya sendiri demi uang dan kekuasaan.
Demi bertahan hidup, Zeus memalsukan kematiannya dan menyamar sebagai Kenji, seorang pemuda biasa yang bekerja di toko servis komputer kecil yang kumuh. Dia hidup miskin, dihina oleh tetangga, dan diremehkan oleh semua orang. Kenji rela mengubur masa lalu kelamnya demi kehidupan yang tenang bersama adik perempuan satu-satunya, Hana.
Namun, ketenangan itu hancur saat Hana dijebak oleh Megacorp—korporasi raksasa yang korup—atas tuduhan pencurian data rahasia. Hana diancam hukuman seumur hidup dan denda miliaran rupiah yang tak masuk akal hingga membuatnya jatuh koma karena tekanan mental. Saat hukum bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, Kenji sadar bahwa dunia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Baru di Ufuk Digital
Pagi harinya, suasana di markas kepolisian siber internasional gempar bukan main. Berkas kasus Pluto yang dikirim anonim subuh tadi berisi data super lengkap, mulai dari daftar transaksi pasar gelap sampai rekaman suara asli sang buronan. Pluto resmi masuk sel dengan penjagaan paling ketat, tanpa akses ke perangkat elektronik apa pun seumur hidupnya.
Sementara itu, di sebuah warung bubur ayam pinggir jalan yang jaraknya tak jauh dari kosan Kenji, suasananya jauh lebih tenang.
Kenji sedang duduk santai sambil mengaduk bubur ayamnya yang penuh kerupuk. Di depannya, Hana sarapan dengan lahap, pipinya menggembung lucu karena mengunyah. Wajah adiknya sudah kembali ceria, seolah kejadian mengerikan di gedung Megacorp dua hari lalu hanyalah mimpi buruk yang lewat begitu saja.
"Kak, tadi pagi Hana cek berita di HP. Katanya orang yang jebak Hana kemarin udah dipindahin ke polda, terus perusahaan tempat Hana magang itu juga langsung tutup," kata Hana sambil menyuap sendok terakhirnya. Dia menatap kakaknya dengan mata berbinar penasaran. "Kok bisa pas banget ya, Kak? Kayak ada pahlawan super yang bantuin kita."
Kenji cuma terkekeh pelan, lalu mengusap rambut adiknya dengan gemas. "Ya bagus dong. Makanya kamu enggak usah mikirin itu lagi. Mulai besok cari tempat magang yang bener, jangan di tempat yang isinya orang stres semua."
"Ih, Kak Kenji mah gitu! Malah becanda!" Hana cemberut, tapi sedetik kemudian dia tersenyum lagi. Dia benar-benar merasa aman selama berada di dekat kakaknya, meskipun dia tahu kakaknya hanyalah seorang kuli servis komputer miskin di pasar loak.
Setelah selesai sarapan dan mengantar Hana pulang ke kosan untuk bersiap kuliah, Kenji berjalan kaki menuju toko loak Koh Darwin. Langkah kakinya santai, menikmati angin pagi yang hangat.
Namun, begitu Kenji sampai di depan ruko 'Darwin Komputer', dia mendapati suasananya agak aneh. Pintu gulung besi ruko itu terbuka setengah, tapi di dalamnya gelap gulita. Tidak ada suara radio butut Koh Darwin yang biasanya menyetel lagu dangdut dengan volume keras.
Kenji menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Matanya menyapu seisi ruko yang remang-remang.
Bzzzt...
Sebuah laptop bekas yang tergeletak di atas meja kerja Kenji tiba-tiba menyala sendiri. Layarnya memancarkan warna hitam pekat, bukan merah darah seperti sistem Zeus milik Kenji. Di tengah layar itu, muncul sebuah logo berbentuk topeng teater yang retak di bagian tengahnya.
Itu adalah lambang dari Aliansi Siber Hitam, organisasi peretas bawah tanah terbesar di dunia yang menjadi dalang di balik aksi Pluto semalam.
Kenji tidak panik. Dia melangkah masuk ke dalam ruko, berjalan dengan tenang mendekati meja kerjanya, lalu bersandar di pinggiran meja sambil menatap layar laptop itu dengan kedua tangan bersedekap di dada.
"Lu telat. Anjing peliharaan lu yang namanya Pluto udah gua serahin ke polda subuh tadi," ucap Kenji datar, berbicara langsung ke arah kamera web laptop tersebut.
Dari speaker laptop yang kualitasnya pecah itu, terdengar suara tawa yang disamarkan menjadi distorsi berat, terdengar sangat licik dan menggema di dalam ruko yang sepi.
"Kami tidak peduli tentang Pluto, Zeus. Dia hanyalah bidak catur yang gampang diganti," ujar suara di seberang sana dengan nada meremehkan. "Kami menghubungi lu hanya untuk menyampaikan ucapan selamat datang kembali ke dunia nyata. Tiga tahun lu bersembunyi seperti tikus got, kami mengira Sang Dewa siber sudah benar-benar lenyap."
Kenji menyipitkan matanya. "Kalau gua bisa hancurin Pluto dalam waktu kurang dari satu jam, gua juga bisa hancurin seluruh jaringan lu dalam waktu satu malam. Jadi, mending lu cabut dari wilayah gua sebelum gua bikin organisasi lu bangkrut total."
Tawa dari speaker itu semakin keras, terdengar sangat menjengkelkan.
"Jangan sombong dulu, Zeus. Lu pikir kenapa Pluto bisa dengan mudah menemukan sistem satelit Narendra Group? Itu karena kami yang memberikan kuncinya. Kami sengaja memancing lu keluar dari tempat persembunyianmu... dan umpan kami berhasil dengan sangat sempurna."
Mendengar hal itu, rahang Kenji sedikit mengeras. Jadi, serangan Pluto ke Narendra Group semalam hanyalah sebuah jebakan besar untuk memancing agar algoritma Red Lightning milik Zeus muncul kembali ke internet. Aliansi Siber Hitam sengaja mengorbankan Pluto hanya untuk memastikan kalau Zeus masih hidup.
"Sekarang seluruh dunia bawah tahu kalau Zeus telah kembali," suara itu berbisik penuh ancaman. "Lu punya sesuatu yang sangat kami inginkan, Zeus. Cetak biru dari sistem keamanan siber militer global yang lu curi tiga tahun lalu. Serahkan data itu pada kami, atau... kehidupan tenangmu bersama adik perempuanmu yang manis itu akan berubah menjadi neraka yang sesungguhnya."
Klik.
Layar laptop itu mendadak mati total, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam ruko.
Kenji berdiri tegak. Aura di dalam ruko kecil itu langsung berubah drastis. Kali ini, kemarahan yang keluar dari tubuh Kenji jauh lebih pekat dan mengerikan daripada saat dia menghadapi Adrian atau Pluto. Mereka tidak cuma mengancam dirinya, tapi mereka secara terang-terangan menjadikan Hana sebagai target sandera berikutnya.
Kenji mengeluarkan ponsel murahnya dari saku celana, lalu menekan satu tombol cepat untuk menghubungi Genta. Sambungan langsung diangkat pada deringan pertama.
"Genta," ucap Kenji, suaranya sangat rendah hingga terdengar seperti bisikan malaikat maut. "Siapkan seluruh jaringan informasi Narendra Group. Mulai detik ini, kita enggak cuma bertahan..."
Kenji mengepalkan tangan kanannya sampai buku-buku jarinya memutih.
"Gua bakal ratakan seluruh jaringan Aliansi Siber Hitam sampai ke akar-akarnya."