NovelToon NovelToon
YE CHEN: PEWARIS PEDANG HITAM

YE CHEN: PEWARIS PEDANG HITAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Fantasi Timur
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Dikhianati oleh sektenya sendiri dan dibuang dengan meridian yang hancur total, Ye Chen mengira takdirnya telah berakhir di dasar Lembah Kabut Beracun. Namun, di titik nadir kematiannya, sebuah pedang hitam misterius yang telah terkubur selama ribuan tahun bangkit dan memilihnya sebagai pewaris tunggal.Di dalam pedang hitam itu, bersemayam jiwa pendekar legendaris, Yue-Jian, yang siap membimbingnya. Berbekal kekuatan mengerikan Es Yin dan bilah pedang hitam yang mampu menebas takdir, Ye Chen bangkit dari kegelapan untuk menuntut balas. Dari seorang pemuda yang dianggap sampah, ia merangkak naik menembus batas kultivasi, menghancurkan setiap klan yang pernah menghinanya, dan merebut kembali kehormatannya."Saat pedang hitam ini terhunus, maka langit pun harus tunduk di bawah kakiku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

"Sudah waktunya pergi dari sini, Bocah," suara Yue-Jian terdengar jelas di dalam benak Ye Chen, memecah keheningan panjang yang menyelimuti ruangan utama reruntuhan kuno itu. Nada bicaranya campur aduk, ada rasa lega karena misi awal terpenuhi, namun juga ada nada peringatan yang berat. "Kau sudah mendapatkan semua harta warisan, pengetahuan, dan kekuatan yang bisa diambil dari tempat ini. Cairan Sumsum Yin telah menyempurnakan tubuhmu, buku catatan leluhur telah membuka matamu akan kebenaran sejarah, dan kemampuan bertarungmu kini telah menembus batas sebelumnya. Namun, ingatlah satu hal penting: di Sekte Bayangan Kuno, tidak ada jalan keluar yang mudah. Siapa pun yang ingin mengambil warisan dan meninggalkan tempat ini, harus membuktikan bahwa dirinya layak membawa nama besar ini ke dunia luar."

Ye Chen berdiri tegak di tengah ruangan, jubah hitamnya yang basah oleh keringat perjuangan kini kembali kering ditiup hawa dingin yang masih mengepul dari tubuhnya. Dia memandang sekeliling ruangan megah yang kini penuh dengan puing-puing patung penjaga dan jejak pertempuran kemarin. Di dalam dadanya, energi Es Yin berputar dengan tenang namun dahsyat, seolah lautan beku yang dalam dan tak berujung. Meridiannya yang dulu rusak parah akibat ulah Tetua Mo Feng kini telah berubah menjadi saluran energi yang kokoh, lebar, dan sekeras baja, mampu menampung kekuatan sepuluh kali lipat dari kapasitas sebelumnya.

"Apa yang ada di depannya, Guru?" tanya Ye Chen pelan, matanya yang sedingin es menatap ke arah lorong panjang di sisi utara ruangan, satu-satunya jalan yang menanjak naik dan memancarkan cahaya remang-remang dari permukaan tanah di atas sana. Itulah jalan keluar.

"Penjaga Gerbang Terakhir," jawab Yue-Jian dengan nada yang menjadi berat dan serius. "Dulu, ribuan tahun yang lalu, saat aku dan pendiri sekte lainnya membangun tempat persembunyian ini, kami menempatkan satu makhluk paling setia dan paling mematikan untuk menjaga pintu keluar. Makhluk itu tidak bisa ditipu, tidak bisa dibeli, dan tidak akan pernah berhenti bertarung sampai salah satu dari kalian mati. Namanya Serigala Kematian Berduri."

Ye Chen mengerutkan kening samar, tangannya perlahan menggenggam gagang Pedang Hitam yang terselip di pinggangnya. Senjata itu seolah merasakan ketegangan tuannya, bergetar pelan dan memancarkan aura hitam samar yang hanya bisa dilihat oleh mata spiritual.

"Seberapa kuat makhluk itu?" tanyanya lagi.

"Kekuatan aslinya setara dengan seorang kultivator di ranah Foundation Establishment Tingkat Awal," jawab Yue-Jian terus terang.

Mata Ye Chen sedikit membelalak. Meski dia kini telah mencapai puncak ranah Qi Condensation Tingkat Kesembilan, selisih kekuatan antara ranah Qi Condensation dan Foundation Establishment masih sangat jauh. Bagaikan selisih antara langit dan bumi. Di ranah Foundation Establishment, energi tidak lagi berbentuk uap atau gas, melainkan sudah memadat menjadi cairan atau bahkan padatan, fisik tubuh telah mengalami penempaan ulang secara total, dan umur panjang bertambah drastis. Satu orang di ranah itu bisa dengan mudah membunuh sepuluh hingga seratus orang di tingkat di bawahnya sekaligus.

"Kau tidak perlu khawatir berlebihan," lanjut Yue-Jian seolah membaca kekhawatiran muridnya. "Makhluk itu sudah hidup selama ribuan tahun di bawah tanah ini. Sumber makanannya terbatas, dan energi di dalam tubuhnya sudah banyak yang terbuang atau menguap seiring berjalannya waktu. Kekuatannya sekarang mungkin hanya tersisa sekitar enam puluh hingga tujuh puluh persen dari masa jayanya. Ditambah lagi, kau tidak lagi sama seperti saat pertama kali masuk ke sini. Kau memiliki tubuh yang ditempa energi Yin murni, kau menguasai teknik gerak dan pedang tingkat tertinggi sekte ini, dan kau memiliki akal budi yang jauh melampaui usiamu. Kau punya peluang, Ye Chen. Tapi ingat... satu kesalahan kecil saja, dan nyawamu akan berakhir di sini, jauh sebelum sempat membalas dendam pada mereka yang telah menyakitimu."

Ye Chen menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, membiarkan uap putih tebal keluar dari mulutnya dan lenyap di udara dingin. Kilatan tekad yang tajam melintas di manik matanya.

"Di lembah kematian dulu, saat meridianku putus dan aku sekarat, aku sudah mengira hidupku selesai," ucap Ye Chen dengan suara rendah namun penuh keyakinan. "Di sana, aku berjanji pada diriku sendiri: tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi jalan mundur. Jika makhluk itu menghalangi jalanku menuju kebebasan dan pembalasan, maka aku akan membelahnya menjadi dua, tidak peduli seberapa kuat dia."

"Bagus! Itulah semangat yang kucari!" Yue-Jian tertawa kecil, bangga dengan keteguhan hati muridnya. "Pergilah. Tapi tetaplah waspada. Serigala Kematian Berduri bukan hanya kuat secara fisik. Dia memiliki kecepatan yang mengerikan, kulit sekeras besi tempa, dan racun yang bisa melumpuhkan musuh hanya dengan satu goresan kecil. Cari celah, gunakan kecepatanmu, dan serang titik vitalnya. Ingat, dia adalah penjaga, bukan pembunuh yang cerdas. Dia bertindak berdasarkan insting dan tugas. Gunakan itu untuk keuntunganmu."

Ye Chen mengangguk mantap. Dia tidak membuang waktu lagi. Dengan satu gerakan ringan, tubuhnya melayang maju memasuki lorong jalan keluar itu. Lorong ini berbeda jauh dengan lorong masuk yang gelap, lembap, dan berbau anyir. Lorong ini dindingnya dilapisi oleh batu-batu bercahaya alami yang memancarkan cahaya keemasan redup, menerangi jalan setapak yang menanjak curam ke atas. Udara di sini juga lebih hangat, lebih segar, mengandung elemen api dan tanah yang kontras dengan elemen air dan es yang mendominasi ruangan di bawah sana.

Semakin lama Ye Chen berjalan, semakin kuat bau anyir, tajam, dan amis yang menusuk hidungnya. Itu adalah bau darah kering, bau daging mentah, dan bau kematian yang pekat. Suara langkah kakinya bergema berulang kali di lorong panjang itu, menciptakan gema yang menambah suasana mencekam. Di dalam kegelapan di ujung sana, samar-samar terdengar suara napas berat, suara mendengus kasar yang berirama, seolah ada gunung kecil yang sedang bernapas di sana, menunggu kedatangannya.

Huft... Huft...

Suara itu semakin jelas, semakin dekat, semakin menggetarkan hati.

Ye Chen memperlambat langkahnya. Indra spiritualnya yang kini telah tajam berkat peningkatan kekuatan mulai menangkap keberadaan makhluk raksasa di ujung lorong. Di sana, lorong itu berakhir dan membuka menjadi sebuah gua besar alami yang menjadi pintu keluar permukaan. Di tengah gua itulah, sosok mengerikan itu berada.

Dengan perlahan dan penuh kewaspadaan, Ye Chen melangkah keluar dari bayangan lorong dan berdiri di tepi mulut gua itu. Pemandangan di depannya membuat matanya menyipit tajam, seluruh bulu kuduknya berdiri karena insting bahaya yang meledak hebat.

Di sana, di bawah cahaya remang-remang yang masuk dari celah-celah batu langit-langit gua, seekor makhluk raksasa sedang duduk melingkar. Bentuk dasarnya adalah serigala, namun ukurannya sebesar sapi dewasa, jauh lebih besar dari serigala biasa mana pun yang pernah dilihat Ye Chen. Tubuhnya panjangnya mencapai enam meter, tingginya lebih dari dua setengah meter. Namun, yang paling mengerikan bukanlah ukurannya, melainkan penampilan fisiknya.

Seluruh tubuh makhluk itu tidak ditutupi bulu, melainkan lapisan kulit tebal berwarna hitam pekat, kasar dan berkerak seperti kulit badak purba. Dari balik kulit itu, tumbuh ratusan duri-duri tajam sepanjang lengan orang dewasa, berwarna hitam mengkilap dengan ujung berwarna ungu gelap—tanda bahwa duri itu beracun. Duri-duri itu tumbuh di punggung, di sisi tubuh, di kaki, bahkan di sekitar lehernya, membentuk semacam perisai alami yang tak tertembus. Kepalanya besar dan lebar, dengan rahang yang kuat berisi gigi-gigi taring panjang dan runcing sebesar belati. Matanya besar, menyala merah darah, menatap kosong ke arah depan dengan tatapan yang penuh kebencian dan kelaparan purba. Di sekeliling tubuhnya, kabut energi berwarna abu-abu gelap berputar pelan, memancarkan tekanan yang membuat napas Ye Chen terasa berat.

Itulah Serigala Kematian Berduri.

GRROOOAAARR...

Seolah merasakan kehadiran penyusup, makhluk raksasa itu perlahan mengangkat kepalanya yang berat. Lehernya yang penuh duri berputar perlahan, menatap lurus ke arah sosok kecil yang berdiri di mulut lorong. Cahaya merah di matanya menyala lebih terang, dan suara dengusan rendah bergema dari kerongkongannya, membuat debu-debu halus berjatuhan dari langit-langit gua.

"Kau datang... manusia kecil," suara berat dan parau bergema langsung di dalam kepala Ye Chen, bukan lewat telinga. Makhluk ini ternyata memiliki kecerdasan yang cukup tinggi dan bisa berkomunikasi lewat transmisi suara roh. "Aroma tubuhmu... aku kenal aroma itu. Kau membawa darah Sekte Bayangan. Kau pewaris baru?"

Ye Chen tidak menjawab. Dia tetap diam, kedua tangannya memegang gagang Pedang Hitam di pinggangnya, kakinya sedikit merendah, bersiap melakukan gerakan apa pun dalam sekejap mata.

"Namun... aturan tetaplah aturan," suara makhluk itu terdengar sedih namun tegas. Tubuh raksasanya perlahan bangkit berdiri, memunculkan tinggi badannya yang mengerikan. Duri-duri di punggungnya berdiri tegak, beradu satu sama lain menimbulkan suara gesekan besi yang mengerikan. "Siapa pun yang ingin mengambil warisan dan meninggalkan tempat suci ini harus membuktikan kelayakannya. Hanya yang kuat yang berhak hidup. Yang lemah... akan menjadi makanan rantaiku."

"Kalau begitu, cobalah ambil nyawaku ini jika kau mampu," jawab Ye Chen dingin, kilatan tantangan jelas terlihat di matanya.

GRROOOAAARR!!!

Serigala Kematian Berduri itu meraung kencang, suaranya menggelegar seluruh gua hingga batu-batu besar berguncang. Tanpa peringatan lagi, makhluk raksasa itu bergerak.

Gerakan yang seharusnya lambat karena ukuran tubuhnya yang besar, ternyata justru sangat cepat. Sangat, sangat cepat. Seperti kilat hitam yang melesat, tubuh raksasa itu menghilang dari tempatnya berdiri, dan dalam sekejap mata sudah berada tepat di depan wajah Ye Chen. Cakar depannya yang besar, lebar, dan penuh kuku tajam beracun menghantam ke bawah dengan kekuatan yang bisa menghancurkan batu gunung sekalipun.

"Gerakan yang cepat!" seru Yue-Jian di dalam benak.

Namun, Ye Chen sudah bersiap. Sejak awal dia tahu bahwa musuhnya bukanlah makhluk yang lambat.

Langkah Bayangan Hantu – Menyusup!

Tubuh Ye Chen melebur menjadi kabut hitam tipis, bergerak menyamping ke kanan dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat oleh mata telanjang.

BRAKK!!!

Hantaman cakar raksasa itu menghantam lantai batu tempat Ye Chen berdiri sedetik yang lalu. Tanah dan batu-batu besar pecah berantakan, terlempar ke segala arah seperti debu ringan. Gelombang angin yang ditimbulkan dari benturan itu membuat pakaian Ye Chen berkibar liar saat dia mendarat sepuluh meter di sampingnya.

Serigala itu tidak berhenti. Tubuhnya yang berat berputar dengan gesit, ekor panjangnya yang juga penuh duri tajam dicambukkan ke arah Ye Chen seperti cambuk raksasa. Jaraknya terlalu dekat, dan kecepatannya terlalu mendadak.

Ye Chen menghentakkan kakinya ke tanah, melompat tinggi ke atas tepat saat ekor raksasa itu melesat di bawah kakinya, menebas udara dengan suara siulan tajam. Di udara, dia menarik napas dalam, memutar energi Es Yin di seluruh meridiannya hingga batas maksimal. Aura dingin yang pekat menyelimuti tubuhnya, membuat suhu di dalam gua itu turun drastis hingga dinding-dinding batu mulai membeku.

Seni Pedang Bayangan – Gaya Pertama: Tebasan Malam!

Pedang Hitam akhirnya terhunus. Cahaya hitam pekat yang tidak memantulkan cahaya apa pun menyambar ke bawah, menuju punggung makhluk itu yang sedang terbuka setelah mencambukkan ekornya.

"Serang punggungnya? Jangan!" teriak Yue-Jian memperingatkan terlambat sedikit.

TING!!!

Suara dentuman nyaring bergema. Tebasan pedang Ye Chen yang mengandung kekuatan penuh puncak Qi Condensation dan energi dingin murni mendarat tepat di punggung makhluk itu. Namun, alih-alih membelah daging dan tulang, pedang itu terasa seolah menebas besi tuang paling keras di dunia. Ye Chen merasakan sentakan balik yang dahsyat di tangannya, membuat lengannya sedikit mati rasa dan tubuhnya terpental mundur ke belakang karena tenaga lawan yang jauh lebih besar.

Di punggung Serigala itu, hanya ada goresan putih tipis yang langsung menutup kembali seketika. Tidak ada darah, tidak ada luka.

"Sudah kubilang!" suara Yue-Jian terdengar cemas. "Duri dan kulit di bagian punggung dan sisi tubuhnya adalah bagian terkeras. Bahkan senjata biasa pun tidak akan bisa menembusnya. Kau hanya memancing kemarahannya!"

Dan benar saja. Serigala Kematian itu berbalik badan, matanya menyala merah menyala karena amarah. Meski tidak terluka, serangan itu membuatnya merasa terhina. Mulutnya terbuka lebar, memamerkan gigi-gigi tajamnya, lalu menyemburkan bola api berwarna hijau gelap yang berbau sangat busuk dan tajam. Itu adalah napas racunnya.

Ye Chen memutar tubuhnya di udara, menghindari bola api racun itu yang meledak menghantam dinding gua, melelehkan batu keras seolah itu lilin. Dia mendarat dengan sikap rendah, napasnya sedikit memburu. Tangan kanannya yang memegang pedang masih terasa ngilu.

Musuh ini jauh lebih sulit dari yang dia bayangkan. Patung-patung penjaga di ruangan bawah sana hanyalah benda mati yang bergerak dengan pola tetap. Makhluk di depannya ini adalah makhluk hidup, cerdas, berinsting tajam, memiliki kekuatan di atas tingkatannya, dan pertahanan yang hampir tak tertembus.

"Jangan menyerang bagian atas atau samping!" instruksi Yue-Jian cepat, suaranya tegas dan cepat. "Pertahanan terkuat pasti memiliki titik terlemah. Cari celah di leher, di rahang, atau di bawah perutnya. Kulit di sana lebih tipis, dan tidak dilindungi duri. Tapi ingat, tempat itu adalah zona mati, tempat di mana dia paling waspada. Kau harus masuk ke jarak dekat, sangat dekat, dan bertaruh nyawa untuk menebasnya."

Ye Chen mengangguk pelan, matanya menatap tajam ke arah makhluk raksasa yang sedang mengamuk di depannya. Dia mengatur napasnya, menenangkan detak jantungnya, dan membuang segala rasa ragu atau takut. Di sini, di gua ini, pertarungan nyawa sedang berlangsung. Salah satu dari mereka harus mati.

"Kalau begitu... aku akan masuk ke sarang harimau," gumam Ye Chen dingin.

Dia mengubah cara bertarungnya. Alih-alih menyerang dari jarak jauh atau samping, dia mulai bergerak mengelilingi makhluk itu dengan gerakan Langkah Bayangan Hantu yang semakin cepat dan sulit diprediksi. Tubuhnya bergerak seperti bayangan yang terbelah-belah, menciptakan banyak bayangan semu yang membingungkan indra penglihatan dan penciuman makhluk itu.

Serigala Kematian itu menggeram marah, berputar ke sana kemari, mengayunkan cakar dan ekornya liar berusaha menghancurkan sosok kecil yang mengganggunya itu. Dia meraung berkali-kali, menyemburkan api racun ke segala arah, namun tidak ada satu pun yang berhasil menyentuh ujung jubah Ye Chen.

"Teruskan! Buat dia lelah, buat dia marah, buat dia lengah!" teriak Yue-Jian membimbing. "Kekuatan fisiknya besar tapi boros energi. Dia tidak bisa mempertahankan kecepatan dan kekuatan ini selamanya. Saat dia kehilangan kesabaran, dia akan membuka pertahanannya."

Waktu berlalu perlahan. Menit demi menit berlalu di tengah kekacauan pertempuran dahsyat itu. Seluruh isi gua itu hancur berantakan, penuh lubang besar dan retakan panjang. Napas makhluk raksasa itu mulai terdengar memburu, gerakannya sedikit lebih berat, matanya semakin merah karena amarah yang tidak tertahankan. Dia merasa dipermainkan oleh manusia kecil yang seharusnya menjadi mangsa mudah baginya.

"Akhirnya..." bisik Ye Chen saat melihat celah itu datang.

Saat makhluk itu dengan marah besar melompat tinggi ke udara, membantingkan seluruh berat tubuhnya ke arah tempat persembunyian bayangan Ye Chen, pertahanan di bagian bawah perutnya terbuka lebar karena dia menegakkan seluruh duri di punggungnya untuk menyerap benturan.

"Ini saatnya!"

Langkah Bayangan Hantu – Penembus Kegelapan!

Tubuh Ye Chen melesat maju ke arah bawah, tepat di bawah perut makhluk raksasa yang sedang melayang di udara itu. Dia berputar secepat kilat, menghindari goresan cakar belakang yang berusaha menyambarnya, dan masuk ke zona mati berjarak kurang dari satu meter dari kulit lunak makhluk itu.

Di atas kepalanya, dia melihat kulit berwarna merah muda kecokelatan, tipis, tidak ada duri, berdenyut karena detak jantung raksasa di dalam sana.

Seni Pedang Bayangan – Gaya Ketiga: Hantu Tanpa Jejak!

Tiga kilatan hitam berturut-turut melintas di udara. Gerakan itu begitu cepat, begitu halus, dan begitu tajam hingga mata biasa hanya melihat satu garis lurus saja. Energi Es Yin murni yang membekukan mengalir deras ke ujung Pedang Hitam, mengubah bilahnya menjadi senjata pembunuh yang paling mengerikan di dunia ini.

Sret! Sret! Sret!

Tiga suara sayatan halus terdengar.

Pertama: di bawah perut, membelah kulit dan otot tebal hingga ke rongga perut.

Kedua: naik ke arah dada, menembus jantung yang berdetak kencang.

Ketiga: melesat ke atas tepat di bawah rahang, memutuskan pembuluh darah besar dan tulang leher dari dalam ke luar.

Serigala Kematian Berduri itu meraung panjang dan mengerikan, suaranya memecahkan gendang telinga siapa pun yang mendengarnya. Tubuh raksasanya jatuh menghantam tanah dengan gemuruh yang mengguncang gunung, kakinya mengejang-jegjang hebat, memukul-mukulkan ekornya ke tanah secara liar dalam kematiannya. Darah berwarna hitam pekat dan berbau busuk menyembur deras dari tiga luka sayatan itu, membasahi lantai gua.

Ye Chen mendarat dengan ringan lima meter di depan kepala makhluk itu. Dia memegang pedangnya tegak lurus ke bawah, ujungnya meneteskan darah hitam makhluk itu. Napasnya sedikit memburu, keringat dingin mengucur deras di dahinya, namun matanya bersinar penuh kemenangan dan kewaspadaan. Dia tidak bergerak mundur, tetap bersiap jika makhluk itu masih punya tenaga tersisa.

Namun, perlahan-lahan, gerakan mengejang itu melemah. Cahaya merah di mata makhluk itu meredup dan akhirnya padam selamanya. Tubuh besar itu berbaring diam, napasnya terhenti, aura mengerikannya menghilang sepenuhnya.

Kemenangan ada di tangan Ye Chen.

"Bagus sekali!" Yue-Jian memuji dengan suara yang bergetar karena gembira. "Kau tidak hanya mengalahkan musuh yang jauh lebih kuat darimu, tapi kau juga melakukannya dengan kepala dingin dan perhitungan matang. Ini adalah kemenangan yang paling berharga, jauh lebih berharga daripada sekadar mendapatkan Cairan Sumsum Yin atau benda pusaka apa pun. Kau telah lulus ujian terakhir Sekte Bayangan Kuno, Ye Chen."

Ye Chen menghela napas panjang, lalu mengembuskan udara yang berat itu. Dia berjalan perlahan mendekati bangkai raksasa itu. Dia tidak lupa apa yang harus dilakukan setelah mengalahkan makhluk magis sebesar ini.

Dia menebas bagian kepala makhluk itu, mengambil inti kristal energi berwarna abu-abu gelap sebesar kepalan tangan yang bersinar terang di dalam sana. Kristal ini sangat berharga, bisa dijual dengan harga tinggi atau digunakan sebagai bahan baku pembuatan pil dan senjata. Dia juga mencabut empat gigi taring terbesar yang sekeras baja dan beracun, serta mengambil sepotong duri punggung yang paling besar. Semua ini adalah barang berharga yang bisa berguna di masa depan.

Setelah memastikan tidak ada lagi barang berharga yang tertinggal, Ye Chen berbalik badan. Di ujung gua itu, di atas tumpukan batu yang runtuh, cahaya matahari terik yang keemasan bersinar terang, menerangi jalan keluar yang terbuka lebar. Angin segar dari dunia luar bertiup masuk, membawa aroma bunga, tanah, dan kebebasan yang sudah lama dirindukannya.

Ye Chen melangkah maju melewati bangkai penjaga terakhir itu. Setiap langkahnya terasa berat namun penuh makna. Di belakangnya, dia meninggalkan masa lalu yang penuh penderitaan, ketidakberdayaan, dan penghinaan. Di depannya, terbentang dunia luas yang menunggu untuk dia taklukkan.

Dia berhenti sejenak di ambang pintu gua, membiarkan sinar matahari pagi yang hangat menyentuh wajahnya yang dingin dan tegas. Di kejauhan, di balik pepohonan hijau yang rimbun, samar-samar dia bisa melihat siluet bangunan megah yang menjulang tinggi: Sekte Azure Cloud.

"Bai Long... Tetua Mo Feng..." bisik Ye Chen pelan, suara dinginnya terbawa angin pagi. "Aku kembali. Dan kali ini, aku bukan lagi sampah yang bisa kalian buang sembarangan."

Dengan satu lompatan tegap, sosok Ye Chen menghilang dari mulut gua itu, menyatu dengan cahaya matahari pagi, memulai babak baru hidupnya yang penuh dengan ambisi, kekuatan, dan dendam yang membara. Jalan menuju pembalasan dendam kini terbuka lebar.

1
albarra
ok,, coba kita teruskan..
Aman Wijaya
mantab ye Chen semangat terus
Aman Wijaya
ayo ye Chen babat semuanya musuh musuh mu.bikin kabut darah semua
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Opayos
😄😄😄😄😄💪💪💪💪
Opayos
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Opayos
💪💪💪💪💪💪💪😄😄😄😄
Opayos
😄😄😄😄👍👍👍👍
Opayos
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪
Opayos
😍😍😍😍😄😄😄💪💪💪💪
Opayos
😄😄😄😄😄💪💪💪💪👍👍
Opayos
👍👍👍💪💪💪💪💪💪
Opayos
😍😍😍😍💪💪💪👍👍
Opayos
😄😄😄💪💪💪
Opayos
🤣🤣🤣💪💪
T28J
Kaaaak... kepanjangan paragrafnya, kaget saya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!