Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Di lantai tertinggi Gedung Mahesa Grup, Zeffrano Devandra Mahesa duduk tegak di kursi kebesarannya. Ruangan itu senyap, hanya diisi suara detak jam dinding antik yang tergantung megah di dinding, serta hembusan angin yang berdesir pelan lewat celah ventilasi ruangan.
Tiba-tiba, bunyi ketukan halus terdengar di pintu kayu besar berukir emas itu. Belum sempat Zeffrano menjawab, pintu sudah terbuka perlahan. Alvin masuk, wajahnya yang biasanya selalu datar kini tampak sedikit berkerut, seolah baru saja mendengar sesuatu yang mengganjal pikiran.
"Ada apa, Alvin? Bukankah semua jadwal hari ini sudah selesai?"
Alvin berhenti di jarak tiga langkah dari meja kerja besar itu, sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
"Benar, Tuan. Semua pertemuan sudah selesai. Namun baru saja saya menerima telepon masuk. Dari nona Aruna Kirana Dirgantara."
Gerakan jari-jari Zeffrano terhenti sepersekian detik. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan nama itu? Aruna Kirana Dirgantara. Wanita itu, satu-satunya wanita yang berani menolak lamarannya dengan kata-kata yang begitu tegas, bahkan menyebutnya terlalu sombong dan jauh dari kata tulus. Saat itu, penolakan itu terasa seperti tamparan keras bagi harga dirinya. Saat semua wanita berebut mendekat, gadis itu justru pergi memunggunginya, seolah dia hanyalah debu tak berharga di sepatunya.
Zeffrano mengerutkan kening, rahangnya mengeras seketika.
"Aruna?" ulangnya pelan, suaranya lebih rendah dan berat dari sebelumnya, menyembunyikan gejolak di dalam dada. "Aruna Kirana Dirgantara... Wanita yang menolak tawaran yang kuberikan padanya dua bulan lalu?"
Alvin mengangguk perlahan, wajahnya tetap tenang meski dia bisa merasakan suhu ruangan seolah turun drastis seketika. "Benar, Tuan. Sesuai instruksi dari Anda, saat itu saya memberikan nomor telepon saya dan mengatakan jika dia bisa menghubungi saya kapan saja jika dia berubah pikiran. Dan barusan dia menelepon. Dia meminta jadwal pertemuan segera."
Sudut bibir Zeffrano terangkat, membentuk senyum miring yang dingin dan penuh sindiran. Dia kembali menyandarkan punggungnya ke kursi besar itu, namun kali ini aura yang dipancarkannya jauh lebih mengintimidasi.
"Atur saja. Jadwalkan saja besok siang, tepat pukul satu," ucap Zeffrano dengan nada datar, namun penuh penekanan.
Alvin mengangguk paham, "Baik, Tuan. Akan saya sampaikan kepada Nona Aruna. Apakah ada hal lain yang perlu saya persiapkan untuk pertemuan besok?"
Zeffrano terdiam sejenak. Matanya yang hitam pekat kembali menatap keluar jendela, menembus kaca tebal itu ke arah kota yang mulai dibalut kegelapan malam.
"Tidak ada. Aku akan pulang sekarang. Kamu bereskan semua laporan hari ini," jawab Zeffrano singkat, sambil bangkit dari kursi kebesarannya.
Dia merapikan ujung jas hitamnya yang sudah rapi, lalu melangkah tegap menuju pintu keluar. Di balik raut wajahnya yang sedingin es dan tak tersentuh itu, badai perasaan yang jauh lebih besar sedang bergemuruh hebat, tersembunyi rapat di balik tembok tinggi harga dirinya.
Satu tahun lalu, di pesta perusahaan. Malam itu, lampu gantung berkilauan, musik mengalun lembut, dan semua mata tertuju padanya sebagai pewaris tunggal kekayaan Mahesa Grup. Namun di antara lautan wajah-wajah yang penuh kepura-puraan dan senyum bermuka dua, ada satu sosok yang langsung mencuri seluruh perhatiannya, seolah waktu berhenti berputar saat itu juga.
Aruna.
Dia datang berjalan beriringan dengan kedua orang tuanya, mengenakan gaun berwarna putih gading, tanpa perhiasan berlebih, namun bersinar lebih terang daripada siapapun di ruangan itu. Wajahnya tenang, matanya jernih, dan senyumnya tulus.
Saat itu, Aruna sama sekali tidak menatapnya dengan pandangan memuja atau bernafsu seperti wanita-wanita lain. Tapi justru itulah yang membuat hati Zeffrano tersentuh begitu dalam. Di dunia yang semuanya ingin memanjat dan memanfaatkannya, Aruna tampak begitu murni, begitu berbeda, begitu berharga.
Hingga dua bulan lalu, dia tak lagi sanggup menahan perasaannya. Dia berpikir, dengan menawarkan hubungan serius dan kedudukan di sisinya, dia akan mendapatkan wanita yang selama ini menjadi pusat dunianya dan memberikan perlindungan padanya setelah kabar kematian kedua orang tuanya.
"Maaf, Tuan Mahesa. Anda terlalu sombong dan jauh dari kata tulus," begitu ucap Aruna saat itu, dengan tatapan yang begitu dingin, "Lagipula... saya sudah punya kekasih, dan saya hanya akan menikah dengannya."
Kalimat itu menghancurkannya. Selama dua bulan ini, setiap detik dia dipenjara oleh perasaan bercampur aduk. Dan sekarang... wanita itu meneleponnya. Wanita itu meminta bertemu.
"Aruna..." batinnya bergumam, rasa sakit dan rindu menyayat hati bersamaan. "Apa yang kamu inginkan sekarang? Apa kamu sudah berubah pikiran dan mulai mempertimbangkanku?"
-
-
-
Keesokan harinya, tepat pukul satu kurang lima belas menit siang, sebuah mobil berhenti di depan lobi utama Gedung Mahesa Grup.
Pintu mobil terbuka, dan Aruna melangkah keluar. Hari ini dia tampil sederhana namun elegan, mengenakan kemeja berwarna krem dipadukan dengan rok selutut berpotongan rapi, serta sedikit rias wajah yang menonjolkan ketajaman dan ketenangan wajahnya.
"Selamat siang, Nona Aruna," sapa Alvin dengan nada hormat namun tetap formal, sedikit menundukkan kepalanya saat Aruna berhenti di hadapannya. "Tuan Zeff sudah menunggu di ruangan kerja utama. Saya diperintahkan untuk menjemput dan mengantar Anda langsung ke atas."
Aruna mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sopan. "Selamat siang, asisten Alvin. Terimakasih atas bantuannya kemarin dan hari ini."
Sepanjang jalan melewati lobi yang luas dan megah itu, banyak pasang mata karyawan yang melirik rasa penasaran. Siapa wanita muda yang diantar langsung oleh sekretaris pribadi Tuan Mahesa? Pertanyaan itu tergantung di udara, namun tak ada yang berani bersuara.
Denting halus terdengar. Pintu lift terbuka lebar, menampakkan lorong luas dengan langit-langit tinggi yang mengarah langsung ke pintu kayu besar yang merupakan ruang kerja Zeffrano.
"Silakan masuk, Nona Aruna. Tuan Zeff sudah menunggu di dalam," ucap Alvin pelan, berhenti tepat di depan pintu besar itu. Dia membantu membukakan pintu, lalu mundur selangkah, memberikan ruang bagi Aruna untuk melangkah masuk sendirian sesuai perintah tuannya.
Aruna menarik napas panjang, lalu melangkah masuk dengan langkah tegas. Pintu tertutup perlahan dibelakang punggungnya, menyisakan dia sendirian di ruangan seluas istana itu. Di ujung ruangan, di balik meja kerja raksasanya, Zeffrano duduk diam di kursi kebesarannya.
Pria itu terlihat lebih gagah dan mengintimidasi dari yang diingat Aruna. Berbalut kemeja hitam polos dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh.
"Akhirnya kamu datang," suara berat dan dalam Zeffrano terdengar bergema pelan di ruangan itu. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, tatapannya semakin tajam menembus jiwa. "Darimana kamu mendapatkan keberanian untuk kembali berdiri di hadapanku setelah apa yang kamu katakan dulu? Katakan... apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku sekarang, Aruna?"
Zeffrano berdiri perlahan, dia melangkah keluar dan berhenti didepan meja kerjanya. Namun sebelum satu patah katapun sempat keluar dari bibirnya, tiba-tiba Aruna bergerak. Wanita itu berlari kecil ke arahnya dan memeluknya. Kepalanya bersandar kuat di dadanya, seolah sedang mencari tempat berlindung paling aman di dunia ini.
Zeffrano terpaku. Seluruh tubuhnya membatu di tempatnya.
"Apa ini? Apa yang sedang wanita ini rencanakan?" batin Zeffrano bertanya-tanya.
-
-
-
Bersambung...
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍