Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Malam datang begitu cepat, menggantikan sisa jingga yang tadi sempat bertahan di langit meski hanya sesaat. Cahaya lampu yang berhasil menerangi setiap rumah satu persatu.
Memantulkan cahaya yang bergerak cepat disepanjang lintasan yang masih dipenuhi suara mesin.
Balapan belum selesai. Feryal masih didepan. Tubuhnya condong rendah, sedangkan kedua tangannya stabil mengendalikan setang. Sementara kedua netranya fokus menembus jalur didepannya.
WHuzz,...ngenggg,..
Setiap tikungan ia lewati dengan presisi, seolah tidak ada ruang untuk ragu sedikit pun. dibelakangnya Kaizan memperkecil jarak.
Suara mesin motornya semakin tinggi, memecah angin yang terasa semakin berat. tatapannya tajam. Tidak lagi santai seperti sebelumnya.
"Enggak bisa dibiarin gini aja," gumamnya pelan. Ia mulai membaca tekhnik dan pola yang Feryal mainkan dalam strategi balapan mereka.
Bagaimana cara Feryal mengambil tikungan, cara dia menjaga jarak dan mempertahankan posisinya itu. Semuanya benar benar konsisten,..
"Belajar dari mana sih nih cewek, keren banget tekhniknya,..gilaa"
"Keci kecil cabe rawit parah sih,..gue bertahun tahun balapan juga kayaknya gini gini aja" gumam Kaizan Altaz sambil terus mengamati dan matanya tetap fokus kedepan meski sesekali ia menoleh ke arah Feryal kadang matanya menoleh ke arah belakang dengan memiringkan motornya sambil.lirik.ke arah spion untuk terus memastikan.
Dan itu yang membuatnya sulit ditembus. Tikungan tajam didepan, Feryal bergerak sedikit melambat, lalu miring dengan sempurna.
Kadang ada saat ia beratraksi free style hingga motornya ia putar ke udara benar benar aksi yang menegangkan.
Kaizan menyusul,..tapi kali ini tidak sepenuhnya mengikuti. Ia mengambil garis yang berbeda. Dan lebih beresiko.
Ban motornya pun sedikit bergeser keras dengan aspal, dan suara decitannya pun sampai terdengar tajam diudara malam itu.
Deg.
Feryal melirik sekilas dari spion, ada sesuatu yang berubah. "Berani juga dia..." gumam ya dalam hati. Kaizan berhasil memangkas jarak. Kini hanya selisih beberapa meter jaraknya dari Feryal saat ini.
Angin malam terasa lebih dingin, tapi suhu lintasan justru makin panas dan menegangkan. sorakan penonton terdengar tidak jelas malah semakin samar dari kejauhan.
Namun bagi mereka berdua,..dunia seolah hanya tinggal garis jalan dan kecepatan. "Jangan kasih celah," batin Feryal.
Ia menarik gas lebih dalam, motor melesat lebih cepat. Namun Kaizan tidak tinggal diam. Ia menyusul di sisi kanan, mencoba menyalip.
Dua motor kini hampir sejajar, sepersekian detik. Feryal menoleh sekilas ke arah Kaizan Altaz. Dan tatapan mereka berdua bertemu, meski hanya lewat kaca helm yang mereka gunakan.
Tidak ada senyum dan lainnya, akan tetapi satu hal yang sama, yaitu mereka berdua tidak ada yang mau kalah apalagi mengalah.
WRUUMM!" mereka kembali melaju, dengan kecepatan yang disesuaikan, tikungan berikutnya lebih sempit. Feryal tetap pada tekhniknya rapi dan presisi. Sementara Kaizan,..ia lebih agresif.
Ia masuk lebih dalam, mencoba mengambil posisi dari dalam tikungan. Hampir berhasil. Akan tetapi Feryal menutup ruang itu dengan cepat. "Belum cukup" gumam Kaizan.
Namun ia bukan kesal,..tapi justru bibirnya terangkat tipis, semakin sulit semakin menarik menurutnya., dan dibalik helmnya, nafas Feryal tetap stabil. tapi dalam dirinya, ia sadar akan suatu hal,..ini bukan balapan biasa.
"Dia beda..." bukan hanya soal skill, tapi cara dia membaca, cara dia memaksa dan bertahan. Lintasan hampir mencapai putaran terakhir. beberapa lampu di sisi jalan memanjang seperti garis tak berujung.
Kecepatan mereka tidak menurun, justru semakin gila. Di kejauhan,..harus finish mulai terlihat samar.
Deg.
Feryal mempererat pegangannya. "fokus Fey." tidak ada ruang untuk salah apalagi kalah. Satu kesalahan kecil saja bisa selesai.
. dibelakangnya, Kaizan menurunkan posisi tubuhnya lebih rendah. Matanya menyipit, satu kesempatan saja, ia butuh satu celah. dan saat itu datang,..tikungan terakhir.
Feryal masuk lebih dulu, rapi seperti biasa. Tapi Kaizan,..tidak. Ia mengambil jalur luar,.. lebih jauh.
Lebih cepat dan lebih beresiko. Sampai ban belakangnya pun sempat goyah sedikit.
Namun ia tahan, gas pun ditarik penuh, motor meleset keluar tikungan dengan kecepatan maksimal. Dan dalam hitungan detik,..ia kembali sejajar dengan Feryal.
Garis finish didepan mata. Angin terasa menampar lebih keras, suara mesin pun mencapai batasnya..dan hanya tinggal satu tarikan napas terakhir..keduanya pun melaju..menuju garis akhir.
Garis finish semakin dekat, siapakah yang akan menang sampai finish?"
"Yo Feryal Yo,..c'mon elo pasti bisaaa" teriak Josef dan tim Feryal yang lainnya bersorak menyemangati. Begitupun timnya Kaizan tak kalah heboh dalam mensupport teman satu genknya.
Kaizan main pun Feryal hanya tersenyum seraya satu tangannya seperti ala hormat gaya gaulnya mereka. Apa sih namanya yah pokoknya bayangkan sendiri saja authornya lagi dengan mode kemagerannya.
Dari detik ke menit semakin lambat dan tambah lambat saja, tapi anehnya mereka masih tetap melesat dalam waktu yang sama.
Mereka melaju dengan sejajar, seperti tidak ada yang mau saling mengalah satu sama lain, tidak ada yang menang ataupun kalah hari itu dan tidak juga ada yang lebih unggul satu sama lain. Posisinya kuat banget anjay,.. edisi nulis sambil nonton balapan ya gini dipadukan dengan sedikit kehaluan hehe..
Suara mesin yang menggelegar sampai menutupi suara mereka yang aktif hobah menyoraki dalam memberi support pada mereka.
Dua duanya saling menarik gasnya lebih lebih mantan tidak seperti sebelumnya. Dan keduanya sama sama duel nekat parah hari itu.
Brumm,..Wuuum..mereka sampai melewati garis yang ditentukan hampir saja bersamaan hanya selisih 0,3 detik lamanya. Dan saat sudah mendekati garis finis itu rasa deg degan dan menegangkan pun terjadi semuaanya terdiam fokus nyaris tanpa suara.
Deg. Deg.
"Dan pemenangnya adalaah,....YEEE FERYALL GO,..GO,..GO FERYAL MENANG LAGI YEEE!"
Pada akhirnya suara sorakan pun pecah ambyar seketika, dan beberapa orang pada maju mendekat untuk sekedar memastikannya secara langsung dengan kedua mata mereka.
Motor Feryal pun akhirnya ia lambatkan lebih dulu menarik remnya dengan sehalus halusnya. Dan langsung saja membuka helm dan mengibaskan rambut pendeknya yang berantakan itu sambil ia rapikan asal.
Dibelakangnya Kaizan pun tak kalah ia juga sama sama menghentikan motornya lalu membuka helmnya dan mengibas rambutnya yang acak acakan juga, lalu mereka pun saling beradu tatap penuh arti.
"Tipis banget anjay angkanya" kata seseorang yang melihat yang berada dalam kerumunan itu.
"Iya loh nyaris aja barengan, keren sih ini gila gila" sahut yang lainnya.
Panitia pun pada akhirnya datang membawa hasilnya. "Selisih 0,3 detik ya semua" ucapnya lantang terdengar.
Semuanya pun pada kompak menoleh "Yeee Feryal menang" tapi mendengar itu yang lain.pada bertos ria, Kaizan kali ini tidak marah sama sekali malah tersenyum.