Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Di London, New York, Tokyo, hingga pelosok desa di pegunungan Alpen, jeritan pecah secara serempak. Mereka yang selama ini hidup berdampingan dengan manusia, rekan kerja yang pendiam, tetangga yang ramah, atau bahkan anggota keluarga tiba-tiba melolong ke arah bulan merah yang enggan tenggelam.
Transformasi itu tidak lagi menyakitkan, itu terasa seperti kemenangan bagi monster yang selama ini terpenjara. Stasiun berita internasional mulai dipenuhi dengan rekaman amatir yang mengguncang dunia. Gambar-gambar buram dari kamera pengawas menunjukkan sosok-sosok bulu gelap setinggi dua meter melompati kendaraan, merobek pintu-pintu besi, dan menyeret manusia ke dalam kegelapan gang.
Dunia medis menyebutnya sebagai epidemi psikosis massal, namun militer tahu lebih baik, ini adalah kepunahan manusia yang sedang berlangsung secara langsung.
Joan dalam wujud serigala hitam raksasa di puncak pegunungan, merasakan setiap tetes darah yang tumpah itu seolah-olah mengalir di kerongkongannya sendiri. Dia adalah Alpha dan frekuensi rasa sakit dari kawanannya yang sekarang berpesta pora menghantam kesadarannya seperti ribuan jarum panas. Dia menatap Selena yang melayang di hadapannya. Gadis itu atau entitas itu tampak sangat cantik sekaligus mengerikan dalam keheningan ilahinya.
"Lihatlah, Joan!" bisik Selena, suaranya terdengar di setiap inci sel otak Joan.
"Inilah kebebasan yang kamu tangisi. Inilah keaslian yang kamu dambakan. Manusia menyebutnya anarki, tapi aku menyebutnya kejujuran."
Joan mengerang dan mencoba mengendalikan otot-ototnya yang berdenyut liar. Di bawah sana, dia bisa melihat Jessy dan Riven berdiri gemetar. Jessy, sang jiwa manusia yang terbuang, menangis tersedu-sedu. Air matanya adalah air mata manusia yang murni, sangat kontras dengan air mata perak Selena yang membeku di pipi.
Dalam hitungan jam, peradaban modern mulai retak. Jaringan listrik di beberapa kota besar padam karena sabotase insting liar serigala yang membenci cahaya buatan. Internet dipenuhi dengan tagar #TheGreatExposure. Rahasia yang telah dijaga selama ribuan tahun oleh Dewan sekarang terhampar telanjang. Manusia tidak lagi bertanya apakah serigala itu nyata, mereka mulai bertanya bagaimana cara membunuh mereka.
Di markas besar PBB, pertemuan darurat diadakan melalui sambungan satelit yang tidak stabil. Para pemimpin dunia menyadari bahwa senjata konvensional hampir tidak berguna melawan mahluk yang bergerak lebih cepat dari peluru dan memiliki regenerasi instan. Namun, di balik kepanikan itu, sebuah faksi militer rahasia mulai mengaktifkan protokol yang telah lama tidur, yaitu Unit H.A.R.T (Human Armed Response Team).
"Kita tidak sedang berperang dengan binatang," ujar Jenderal Reed dalam siaran darurat ke seluruh dunia. "Kita sedang berperang dengan virus kuno yang memakai wajah manusia. Mulai detik ini, jam malam diberlakukan secara global. Setiap individu yang menunjukkan tanda-tengah agresi non-manusia akan dilenyapkan tanpa peringatan."
Di puncak gunung, Riven mendekati Joan. Wajah Riven keras dan mencerminkan ribuan tahun kegagalan yang dia pikul.
"Dia sengaja melakukannya, Joan. Selena melepaskan mereka agar manusia menghancurkan kita atau agar kita menghancurkan manusia. Dia ingin melihat dunia ini terbakar habis agar dia bisa membangun tatanan baru dari abunya. Dia ingin kita memohon agar dia kembali menjadi penjara kita."
Joan mendongak dan matanya yang merah menatap Selena. Rasa lapar di perutnya terasa menyakitkan, sebuah godaan untuk melompat turun dan bergabung dalam perburuan. Namun, di dalam tabung cahaya di belakang mereka, sisa-sisa energi Lucian berdenyut kencang.
"Gunakan aku!" suara Lucian menggema, serak dan penuh tipu daya namun mengandung kebenaran pahit. "Hanya rasa sakit yang bisa menghentikan Pencipta."
Joan menyadari plot keji Selena. Dengan melepaskan ikatan perak, Selena telah membuat setiap serigala menjadi target. Serigala-serigala yang tadinya damai kini terpaksa membunuh untuk bertahan hidup dari serangan manusia yang ketakutan dan manusia yang terbunuh hanya akan menambah kebencian. Ini adalah lingkaran setan yang sempurna.
"Selena!" Joan mengaum dan nada suaranya menggetarkan langit-langit dunia. "Kamu pikir ini membuktikan bahwa kita monster? Tidak! Ini hanya membuktikan bahwa kamu adalah penguasa yang gagal! Kamu tidak bisa mencintai kami, jadi kamu menghancurkan kami!"
Selena tidak marah. Dia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih dingin dari es abadi.
"Cinta adalah keterikatan, Joan, dan aku sudah tidak terikat pada apa pun. Nikmatilah fajar berdarahmu. Mari kita lihat berapa lama kemanusiaanmu bisa bertahan dalam tubuh yang dirancang untuk membunuh."
Selena perlahan menghilang ke dalam cahaya keemasan, kembali ke dimensi tingginya, meninggalkan mereka di tengah dunia yang kini dipenuhi jeritan.
Joan bertransformasi kembali ke wujud manusia, namun taringnya tidak sepenuhnya menyusut. Bibirnya robek dan mengeluarkan darah yang berwarna merah pekat bercampur emas. Dia menatap Riven dan Jessy.
"Kita tidak punya pilihan," kata Joan, suaranya bergetar karena emosi. "Riven, hubungi sisa-sisa kawanan yang masih memiliki akal sehat. Katakan pada mereka untuk mundur ke hutan terdalam. Jangan melawan manusia kecuali terpaksa."
"Dan apa yang akan kamu lakukan?" tanya Jessy mendekati Joan dan menyentuh lengannya yang panas.
Joan menatap tabung cahaya Lucian. "Aku akan melakukan apa yang Selena takutkan. Aku akan membiarkan Lucian masuk. Aku akan menyerap setiap rasa sakit dari serigala yang diburu dan manusia yang terbunuh malam ini. Jika Selena ingin aku menjadi monster, maka aku akan menjadi monster yang akan menyeretnya turun dari takhtanya."
"Joan, itu akan menghancurkan jiwamu!" Jessy memohon.
"Jiwaku sudah hancur sejak aku mengkhianatinya di kabin itu, Jessy," jawab Joan pahit. "Sekarang aku hanya ingin memastikan bahwa dia tidak akan pernah bisa tersenyum lagi di atas penderitaan kita."
Malam itu saat dunia manusia mulai mempersenjatai diri dengan perak dan kebencian, Joan melangkah masuk ke dalam tabung cahaya Lucian. Saat energi antivirus mulai meresap ke dalam sumsum tulangnya, sebuah ledakan energi hitam meletus dari puncak gunung menjawab tantangan Selena.
Anarki baru saja dimulai. Di bawah bulan merah darah, garis antara pahlawan dan monster telah memudar sepenuhnya. Perang antara Sang Pencipta dan ciptaannya tidak lagi tentang siapa yang benar melainkan siapa yang akan bertahan saat seluruh dunia berubah menjadi neraka. Selena melihat dari atas, air mata peraknya terus mengalir bukan karena sedih, tapi karena dia tahu, penghancuran ini adalah satu-satunya cara dia bisa merasa utuh kembali.