NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dihadapkan pada Masa Lalu

Terik matahari siang itu terasa menyengat tanpa ampun. Jalanan dipenuhi debu dan suara kendaraan yang berlalu-lalang tanpa peduli siapa yang berjalan di tepinya. Di antara keramaian itu, Fatan melangkah pelan.

Kemejanya sudah pudar, lengannya digulung seadanya. Sepatunya usang, tapi masih ia pakai. Wajahnya terlihat lelah, namun sorot matanya tidak lagi kosong seperti dulu ada sesuatu di sana. Tekad yang diam-diam tumbuh.

Sudah satu tahun.

Satu tahun ia hidup tanpa pekerjaan tetap. Satu tahun ia jatuh, mencoba bangkit, lalu jatuh lagi. Tapi kali ini, ia tidak berhenti.

Ia berhenti di pinggir jalan, mengusap keringat di dahinya. Napasnya berat, tapi langkahnya belum ingin menyerah.

“Mungkin… hari ini,” gumamnya pelan.

Namun sebelum sempat melangkah lagi

BRAK!

Sebuah mobil mewah melaju cepat, melewati genangan air di sisi jalan. Cipratan air kotor itu menghantam tubuh Fatan tanpa ampun dari kaki hingga wajahnya.

Fatan terdiam.

Air itu menetes dari rambutnya, membasahi wajah dan pakaiannya yang sudah tak layak.

Beberapa orang menoleh, tapi tidak ada yang benar-benar peduli.

Mobil itu berhenti beberapa meter di depan.

Pintu terbuka.

Seorang pria keluar dengan langkah santai, mengenakan setelan mahal yang kontras dengan keadaan Fatan.

Fatan menyipitkan mata.

Ia mengenal pria itu.

Bagaskara rekan bisnisnya dulu,yang ia singkirkan karena dendam pribadi,karena Bagaskara selalu menatap Amira dan bertingkah aneh jika di hadapan Amira yang dulu masih menjadi istrinya,

Dada Fatan terasa menegang.

“Wah…” Bagaskara tersenyum tipis, matanya menatap Fatan dari ujung kepala sampai kaki. “Aku kira aku salah lihat.”

Fatan tidak menjawab.

Pintu sisi lain terbuka.

Dan detik berikutnya… dunia terasa berhenti.

Amira turun dari mobil itu.

Langkahnya anggun, penampilannya rapi dan elegan. Tidak ada lagi bayangan wanita yang dulu menangis di hadapan Fatan. Yang ada sekarang… seseorang yang terlihat jauh. Dingin.

Fatan menatapnya lama.

“Amira…” suaranya lirih, hampir tak terdengar.

Amira menatapnya sekilas. Tatapan itu datar. Tanpa getaran.

Fatan menelan ludah. “Kenapa… kamu di sini… dengan dia?”

Bagaskara tertawa kecil, lalu melangkah mendekat. Tangannya dengan santai merangkul bahu Amira.

“Sepertinya dia belum tahu,sayang” katanya santai.

Amira tidak menepis.

“Sudah 6 bulan,” ucap Amira akhirnya, suaranya tenang. “Kami sudah menikah.”

Kalimat itu seperti menghantam dada Fatan.

Ia membeku.

“Menikah…?” ulangnya pelan.

Bagaskara tersenyum puas, mempererat rangkulannya.

“Iya,” katanya. “Istriku Amira.”

Fatan menggeleng pelan, napasnya mulai tidak teratur.

“Tidak,mungkin…” katanya. “Kamu dan aku… belum resmi bercerai.”

Amira menatapnya lagi. Kali ini lebih lama, tapi tetap tanpa emosi.

“Tidak ada yang perlu dipertahankan lagi,sekalipun kamu menolak mendatangi surat perceraian itu” jawabnya.

Fatan mengepalkan tangan.

“Apalagi… melihat keadaanmu seperti ini,” lanjut Amira, matanya turun sejenak menilai pakaian Fatan yang kotor dan usang

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada apapun.

Fatan menunduk sesaat, lalu kembali menatap mereka.

“Jadi… itu saja?” tanyanya. “Semudah itu?”

Bagaskara tertawa pelan.

“ya Semudah itu,” katanya. “Dunia tidak menunggu orang yang jatuh terlalu lama, Fatan.”

Ia melangkah lebih dekat, cukup dekat hingga suara napas mereka hampir bersentuhan.

“Kamu ingat?” lanjut Bagaskara pelan, namun penuh tekanan. “Dulu… Amira memilihmu,dan aku kehilangan karirku di dunia bisnis,sekarang lihatlah Amira menjadi milikku,dan berada di bawah ,tepatnya di bawah kakiku”

Kejadian itu membuat rahang Fatan menegang.

Viktor tersenyum miring.

“Aku kalah waktu itu,” katanya. “Aku akui.”

Ia melirik Amira, lalu kembali ke Fatan.

“Tapi sekarang…” ia mengangkat dagu sedikit, “semua sudah berubah.”

Amira berdiri di sampingnya, tidak bergerak.

“Aku tidak peduli lagi soal masa lalu,” lanjut Bagaskara “Karena sekarang… aku punya apa yang kamu pikir tidak akan pernah bisa aku miliki.”

Tangannya menggenggam tangan Amira dengan mesra, kemudian menciumnya

“Istriku.”

Fatan menatap tangan itu.

Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya,bukan lagi kemarahan yang membabi buta, tapi luka yang dalam… dan anehnya, tenang.

Ia mengangkat wajahnya perlahan.

“Selamat untuk pernikahan kalian” katanya pelan.

Bagaskara sedikit terkejut.

Amira juga menatapnya, kali ini ada sedikit perubahan di matanya meski cepat ia sembunyikan.

Fatan melanjutkan, “Kalau itu yang kamu pilih… ya sudah.”

Bagaskara mengernyit. “Hanya itu?”

Fatan tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi pahit seperti dulu.

“Aku sudah kehilangan banyak hal,” katanya. “Jadi aku tidak punya apa-apa lagi untuk diperebutkan.”

Sunyi sejenak.

“Dan kamu…” Fatan menatap Amira, “kamu sudah memilih jalanmu.”

Amira tidak menjawab.

“Semoga kamu tidak bahagia selalu” lanjut Fatan.

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa berat.

Bagaskara tertawa lagi, mencoba meremehkan.

“kami selalu bahagia dan Kami baik-baik saja. Lihat saja keadaanmu sekarang.”

Ia menunjuk pakaian Fatan yang kotor.

“Dari atas… ke bawah,” lanjutnya, “tidak ada yang tersisa dari dirimu.”

Fatan menunduk sebentar, melihat dirinya sendiri.

Lalu ia mengangguk pelan.

“Iya,” katanya. “Memang tidak ada.”

Bagaskara tersenyum puas.

“Tapi…” Fatan mengangkat wajahnya lagi, menatap lurus ke mata Bagaskara, “setidaknya sekarang… aku tidak hidup dalam kebohongan.”

Senyum Bagaskara sedikit memudar.

Fatan melanjutkan, suaranya tenang tapi tegas, “Aku mungkin jatuh. Tapi aku tahu kenapa aku jatuh. Dan aku sedang berusaha memperbaikinya.”

Ia melirik Amira sebentar.

“Kalian… silakan menikmati pilihan kalian.”

Sunyi kembali menyelimuti mereka.

Fatan melangkah mundur satu langkah.

“Tidak perlu khawatir,” katanya. “Aku tidak akan mengganggu hidup kalian.”

Ia berbalik.

Langkahnya pelan, tapi tidak ragu.

“Fatan,” suara Amira tiba-tiba terdengar.

Fatan berhenti… tapi tidak menoleh.

Amira terdiam beberapa detik, seolah ragu.

“…jaga dirimu,” ucapnya akhirnya.

Fatan tersenyum kecil, meski tidak terlihat.

“Kali ini… aku akan benar-benar melakukannya,” jawabnya.

Tanpa menunggu lagi, ia melanjutkan langkahnya.

Meninggalkan mobil mewah itu.

Meninggalkan masa lalunya.

Dan untuk pertama kalinya… ia tidak merasa kalah.

Karena di tengah keterpurukan itu, ada sesuatu yang akhirnya ia temukan

harga dirinya sendiri,,

Pagi itu terasa berbeda,Fatan mendapatkan pekerjaan sebagai supir di rumah seseorang dan tentunya dengan gaji besar,ibunya sedang sakit dan membutuhkan banyak uang

Fatan berdiri di depan gerbang rumah yang menjulang tinggi, tangannya sedikit berkeringat meski udara masih cukup sejuk. Di hadapannya, sebuah rumah mewah berdiri megah tiga lantai dengan desain elegan, halaman luas, dan deretan mobil mahal yang terparkir rapi di garasi terbuka.

Ia menelan ludah.

“Ini… tempat kerjaku sekarang,” gumamnya pelan.

Ada perasaan asing yang menyelinap bukan sekadar gugup, tapi juga rasa kecil yang tiba-tiba muncul tanpa diminta. Dunia seperti kembali mengingatkannya pada siapa dirinya sekarang.

Seorang sopir.

Ia menghela napas, mencoba menenangkan diri. “Tidak apa-apa… ini pekerjaan yang halal,” bisiknya, seolah meyakinkan dirinya sendiri.

Satpam membuka gerbang dan menatapnya sekilas.

“Kamu sopir baru, ya?” tanyanya.

“Iya, Pak,” jawab Fatan sopan.

“Masuk saja. Ibu sudah menunggu.”

Fatan mengangguk. Langkahnya terasa berat saat ia memasuki halaman rumah itu. Matanya sempat menyapu sekeliling mobil-mobil mahal, taman yang tertata rapi, dan suasana yang begitu berbeda dari kehidupan yang ia jalani setahun terakhir.

Ia kembali menunduk.

“Fokus… kamu kerja,” katanya dalam hati.

Seorang asisten rumah tangga mempersilahkannya masuk ke dalam. Begitu melangkah melewati pintu utama, Fatan seolah memasuki dunia lain.

Interior rumah itu begitu mewah namun hangat. Lampu kristal menggantung di langit-langit tinggi, lantai marmer berkilau, dan aroma harum yang lembut menyambut.

Ia berdiri kaku.

Sampai

“Silakan duduk.”

Suara itu membuat Fatan menoleh.

Seorang wanita paruh baya duduk di ruang tengah, penampilannya anggun, sorot matanya tenang namun tegas.

Fatan membeku.

“Ibu…?” ucapnya tanpa sadar.

Wanita itu menatapnya lebih lama, seolah memastikan.

Dan detik berikutnya, matanya sedikit melebar.

“Kamu… Fatan?” tanyanya pelan.

Dunia terasa berhenti.

Fatan menunduk cepat, jantungnya berdetak keras.

“Iya, Bu…” jawabnya lirih.

Wanita itu ibunda Kanaya terdiam beberapa saat. Wajahnya sulit dibaca.

“Jadi… kamu yang melamar sebagai sopir?” tanyanya.

“Iya, Bu,” jawab Fatan. “Saya… membutuhkan pekerjaan.”

Nada bicaranya sopan, terjaga, berbeda jauh dari pria yang dulu pernah berdiri di hadapan wanita itu sebagai menantu.

Sunyi sejenak menyelimuti ruangan.

“Silakan duduk,” kata wanita itu akhirnya.

Fatan menurut, duduk dengan posisi tegak, tangannya bertaut di atas lutut.

Ia masih mencoba mencerna satu hal

Ini rumah ibunya Kanaya.

Artinya… Kanaya ada di sini.

Dan dalam diam itu, sesuatu terasa menyesak.

Ternyata… dia bisa bangkit.

Bahkan… lebih tinggi dari sebelumnya.

Lamunan itu belum sempat selesai ketika suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.

“Bu, apa sopir barunya sudah datang?”

Suara itu.

Fatan langsung mengenalinya.

Tubuhnya menegang.

Langkah kaki itu semakin dekat, menuruni tangga dengan ritme yang tenang.

Dan saat sosok itu muncul

Fatan mengangkat wajahnya.

Pandangan mereka bertemu.

Waktu seolah berhenti.

Kanaya berdiri di ujung tangga, mengenakan pakaian kerja yang elegan blazer rapi, sepatu heels, rambut tertata sempurna. Penampilannya mencerminkan wanita karier yang kuat dan percaya diri.

Berbeda.

Sangat berbeda dari Kanaya yang dulu.

Dan di saat yang sama, Kanaya membeku di tempatnya.

Matanya melebar.

“Fatan…?” suaranya hampir tidak terdengar.

Fatan berdiri perlahan.

Sunyi yang panjang menggantung di antara mereka.

Tatapan Fatan tidak bisa lepas dari sosok di hadapannya. Ada rasa takjub, ada luka, dan ada sesuatu yang tidak bisa ia definisikan.

Kanaya terlihat… luar biasa.

Lebih dari yang pernah ia bayangkan.

Sementara dirinya…

Fatan menunduk sejenak, melihat seragam sopir yang ia kenakan.

Kontras itu terasa begitu nyata.

Kanaya akhirnya melangkah turun, satu per satu anak tangga dilewatinya. Wajahnya kembali tenang, meski jelas ada keterkejutan yang belum sepenuhnya hilang.

“sedang apa kamu disini?” tanyanya, berusaha menjaga nada suara tetap stabil.

"Fatan yang melamar sebagai sopirmu nak"ucap ibunda Kanaya yang membuat Kanaya tertegun

Kanaya terdiam sesaat.

Ibunya memperhatikan mereka bergantian, tapi memilih tidak ikut campur.

Ada jarak yang kini terasa begitu jelas

Kanaya tidak menjawab.ia menyalami ibunya karena akan berangkat ke kantor

"hati hati nak"ucap ibu Kanaya menganguk

Ia melangkah keluar lebih dulu.

"saya ada meting pagi ini,bisa berangkat sekarang"ucap Kanaya kepada Fatan

"baiklah"ucap fatan

Fatan mengikuti dari belakang, menjaga jarak.

Saat mereka berjalan menuju mobil, Fatan sempat melirik sekilas ke arah Kanaya.

Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat dengan jelas

Wanita itu bukan lagi seseorang yang ia tinggalkan.

Melainkan seseorang yang berhasil bangkit… tanpa dirinya.

Fatan membuka pintu mobil dengan sopan.

“Silakan,” ucapnya.

Kanaya masuk tanpa banyak bicara.

Fatan menutup pintu, lalu berjalan ke kursi pengemudi.

Saat mesin mobil menyala, suasana di dalam terasa hening.

Tidak ada lagi hubungan lama.

Tidak ada lagi ikatan.

Yang ada sekarang… hanya dua orang asing yang pernah saling menghancurkan.

Dan perjalanan itu

baru saja dimulai kembali.

Dengan cara yang sangat berbeda

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!