NovelToon NovelToon
Garis Takdir Baru

Garis Takdir Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: USR

Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
​Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: OPERASI BAYANGAN

Apartemen di Marina Bay yang dulu terasa seperti simbol kemenangan, kini tak lebih dari sebuah sangkar emas yang dipenuhi "telinga". Nata tahu bahwa setiap denyut sinyal Wi-Fi, setiap panggilan telepon, dan bahkan getaran pada kaca jendela bisa saja sedang dipantau oleh tim Tuan Lim dari ISD.

​Setelah dibebaskan dengan jaminan pengawasan, Nata tidak diizinkan meninggalkan Singapura. Ia adalah tahanan kota yang tak terlihat.

​"Bos, mereka memasang malware tingkat kernel di semua perangkat yang mereka sita kemarin dan mereka kembalikan pagi ini," Elena berbisik sambil berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Ia tidak menyentuh laptop utamanya. Ia hanya menggunakan tablet murah yang dibeli tunai di toko barang bekas. "Jika kita masuk ke server Prawira Global menggunakan perangkat ini, mereka akan mendapatkan koordinat data center kita di Jakarta dan Singapura dalam hitungan detik."

​Nata duduk di balkon, menyesap tehnya sambil menatap lurus ke arah kamera CCTV gedung di seberang jalan. "Biarkan mereka melihat apa yang ingin mereka lihat, Elena. Gunakan perangkat 'bersih' itu untuk melakukan transaksi saham biasa. Beli beberapa lot perusahaan teknologi yang sedang tren. Buat aku terlihat seperti mahasiswa kaya yang sedang panik dan mencoba mencari aman."

​"Lalu bagaimana dengan Naga Laut? Zulkifli sudah mulai berani mengabaikan instruksi kita karena dia tahu Anda sedang dalam masalah," Elena menunjukkan laporan fisik yang ia cetak secara manual.

​Nata meletakkan cangkirnya. Matanya mendingin. "Kita akan menggunakan 'Protokol Hantu'. Kita tidak akan berkomunikasi lewat internet."

​Hari itu, Nata pergi ke kampus seperti biasa. Ia tahu ada dua mobil yang membuntutinya dari jarak aman. Di perpustakaan NUS, ia sengaja duduk di area terbuka. Namun, di antara tumpukan buku referensi ekonomi, ia menyelipkan sebuah kartu memori kecil di dalam lipatan halaman buku yang sudah ditentukan.

​Satu jam kemudian, seorang mahasiswa kedokteran yang tampak biasa saja mengambil buku itu. Mahasiswa itu adalah salah satu kurir yang direkrut Elena melalui jalur gelap—orang yang tidak punya koneksi apa pun dengan dunia finansial. Kartu memori itu berisi instruksi terenkripsi untuk Yuda di Jakarta: "Aktifkan mode senyap. Pindahkan semua likuiditas ke aset fisik sementara. Jual ruko Jakarta Barat lewat pihak ketiga dan beli kembali melalui yayasan sosial."

​Nata sedang melakukan pemutusan hubungan. Ia harus membuat Prawira Global terlihat seolah-olah sedang runtuh dan kehilangan arah, agar ISD kehilangan minat dan Arthur Chen merasa bahwa Nata bukan lagi ancaman yang perlu disingkirkan dengan cara keras.

​Sore harinya, Marcus Chen menemui Nata di kantin kampus. Wajah Marcus tampak kuyu. Ia tidak lagi duduk dengan dagu tegak.

​"Ayahku... dia mulai ketakutan, Nata," bisik Marcus setelah memastikan tidak ada orang yang mendengarkan. "Dia melihat namamu ada di daftar pengawasan ketat MAS. Dewan direksi mendesak Ayah untuk memutuskan semua hubungan dengan Prawira Global. Jika itu terjadi, investasi lima puluh juta dolar itu akan dibekukan oleh bank."

​Nata menatap Marcus dengan iba yang dibuat-buat. "Katakan pada ayahmu, aku mengerti posisinya. Jika dia ingin memutuskan hubungan, lakukanlah. Tapi ingatkan dia, bahwa 'bom waktu' digital itu masih berdetak. Jika bankmu memutuskan akses secara sepihak, protokol itu akan menganggapnya sebagai serangan dan mulai merilis data internal keluarga Chen ke publik secara otomatis."

​"Nata, kumohon! Jangan lakukan itu! Kita bisa cari jalan keluar!" Marcus hampir menangis.

​"Jalan keluarnya sederhana, Marcus. Ayahmu harus membantuku keluar dari pengawasan ISD. Aku butuh paspor diplomatik atau setidaknya status 'aset strategis' yang tidak bisa diganggu oleh Lim. Jika tidak, kita semua akan tenggelam bersama di selat Malaka," ucap Nata dengan nada yang sangat datar, seolah ia sedang membicarakan cuaca.

​Nata sengaja menekan Marcus. Ia tahu Arthur Chen punya koneksi dengan menteri-menteri senior yang bisa memerintahkan Lim untuk mundur. Nata sedang memainkan permainan "siapa yang berkedip duluan".

​Malam harinya, Elena kembali ke apartemen dengan membawa kabar yang mengejutkan.

​"Bos, aku menemukan sesuatu saat melakukan pemindaian frekuensi radio di sekitar apartemen ini," Elena menunjukkan sebuah grafik pada tabletnya. "Ada sinyal yang tidak berasal dari ISD. Sinyal ini lebih pendek, lebih personal. Seseorang memasang alat penyadap fisik di kamar tidurmu, Bos. Dan itu bukan gaya pemerintah."

​Nata berdiri, memeriksa bingkai foto keluarganya di nakas. Di balik lapisan kayunya, ia menemukan sebuah chip kecil yang sangat canggih.

​"Arthur Chen," gumam Nata. "Dia tidak hanya ingin mengawasiku lewat otoritas. Dia ingin memastikan aku benar-benar mati sebelum aku sempat merilis datanya."

​"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Elena, tangannya gemetar sedikit. Ini pertama kalinya mereka menghadapi ancaman pembunuhan yang nyata.

​Nata terdiam sejenak. Ia teringat masa lalunya, saat ia tidak punya kekuatan apa pun. Sekarang, ia punya segalanya, tapi itu justru membuatnya menjadi target.

​"Kita akan memalsukan kekalahan kita," ucap Nata tiba-tiba. "Elena, siapkan pengumuman internal untuk semua cabang Prawira Global. Katakan bahwa perusahaan akan dilikuidasi karena masalah hukum di Singapura. Biarkan berita ini bocor ke keluarga Chen dan Zulkifli malam ini juga."

​"Tapi Bos, itu akan menghancurkan kepercayaan investor kita!"

​"Tidak ada investor luar selain keluarga Chen dan modal pribadiku, Elena. Ini adalah umpan. Saat Arthur mengira aku sudah kalah dan menyerah, dia akan menurunkan kewaspadaannya. Saat itulah kita akan menyerang pusat data pribadinya dan mengambil alih seluruh kendali banknya dari dalam."

​Keesokan paginya, berita tentang "Runtuhnya Start-up Misterius Prawira Global" mulai menyebar di kalangan terbatas komunitas finansial Singapura. Harga saham beberapa anak perusahaan yang terkait dengan logistik Naga Laut merosot tajam.

​Di kantor pusat perbankan Chen, Arthur tersenyum puas saat membaca laporan tersebut. Ia merasa telah berhasil menjinakkan singa muda yang sombong itu.

​Namun, di dalam kegelapan kondominiumnya, Nata dan Elena sedang bekerja dengan perangkat yang sama sekali tidak terhubung ke jaringan kabel gedung. Mereka menggunakan koneksi satelit enkripsi ganda yang diselundupkan oleh kurir Elena kemarin.

​"Target terkunci, Bos," ucap Elena. "Server pribadi Arthur Chen terbuka selama tiga detik saat dia mengakses laporan likuidasi kita. Kita sudah masuk."

​Nata berdiri di belakang Elena, matanya berkilat penuh ambisi yang dingin. "Unduh semua data aset pribadinya di luar negeri. Pindahkan hak kuasa atas perusahaan logistik di Malaysia dari namanya ke yayasan anonim kita di Swiss. Lakukan dengan sangat halus sehingga dia baru akan menyadarinya dalam tiga bulan ke depan."

​"Dilakukan," jawab Elena singkat.

​Nata menatap ke luar jendela. Hujan mulai turun membasahi Singapura. Ia tahu, langkah ini sangat berisiko. Jika ia ketahuan, ia tidak hanya akan dideportasi, tapi bisa menghilang selamanya. Namun bagi Nata, garis takdir ini tidak pernah menjanjikan keamanan. Ia menjanjikan kemenangan bagi mereka yang berani bertaruh paling besar.

​"Tuan Lim, Tuan Arthur... kalian pikir kalian sedang berburu mangsa," bisik Nata pada kaca jendela yang berembun. "Kalian tidak sadar bahwa mangsa ini baru saja menelan seluruh hutan kalian."

​Malam itu, di bawah pengawasan ketat intelijen negara, Nata Prawira berhasil melakukan pencurian aset terbesar dalam sejarah pribadinya. Ia bukan lagi seorang arsitek yang membangun; ia telah menjadi hantu yang menguasai.

​Di Jakarta, Kirana menerima pesan singkat dari nomor yang tak dikenal: "Beli payung, badai akan segera berlalu." Kirana tersenyum, ia tahu kakaknya sedang memenangkan pertempuran yang paling sulit.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjutkan Thor, aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!