Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Sssst... sssst...
Salju turun makin gila. Gunung Sandaran pagi ini putih total, seolah dunia baru saja dicat ulang. Aku berdiri di pinggir kolam Guntur Es, menatap air yang tidak lagi terlihat seperti air, tapi seperti kumpulan pisau kaca yang jatuh dari langit.
Hari ini aku genap tujuh tahun. Setahun penuh aku di sini, mandi es sampai kulitku mati rasa.
"Heh, Bocah! Kamu mau jadi patung di situ sampai lumutan?"
Srek... srek...
Ki Kusumo muncul dari balik kabut. Dia menyeret batang pohon pinus raksasa yang ukurannya dua kali badanku. Mukanya masih saja menyebalkan, penuh sisa sirih di sudut bibir.
"Aku cuma sedang berpikir, Ki," jawabku datar. Suaraku sudah tidak melengking lagi. Ada getaran berat di sana.
"Berpikir apa? Mau minta hadiah?" Ki Kusumo menghentakkan kakinya ke tanah. Bugh! "Setahun ini kamu sudah mandi es. Kulitmu sudah tidak lembek lagi. Kamu sudah menembus Level 1 Kultivasi: Tahap Pembentukan Dasar. Secara teknis, kamu sudah jadi manusia besi kecil."
Aku melihat lenganku. Warnanya sedikit perunggu, berkilat kena cahaya matahari yang pucat. "Jadi, aku sudah kuat?"
"Kuat? Hahaha!" Ki Kusumo tertawa sampai batuk-batuk. Uhuk! Uhuk! "Baru Level 1 sudah tanya kuat. Kelinci di hutan ini saja bisa menendang pantatmu kalau kamu sombong!"
Dia melemparkan batang pinus itu ke kolam. Gebyur! Air menciprat ke mana-mana.
"Masuk! Ini ujian terakhir untuk Kulit Besimu," perintahnya. "Berdiri pakai satu kaki tepat di bawah kucuran paling deras. Tutup matamu. Kalau kamu jatuh sebelum matahari tenggelam, aku bakal buat kamu mandi es setahun lagi!"
Aku mendengus kesal, tapi tetap melangkah masuk. Krak, krak. Kakiku memecah lapisan es tipis di permukaan kolam. Aku naik ke batu besar yang licinnya minta ampun. Aku angkat kaki kiri, berdiri pakai kaki kanan saja, lalu menutup mata.
Bhuuuagghh!
Air terjun itu menghantam kepalaku. Rasanya seperti dipukul palu godam tanpa henti. Tapi anehnya, aku tidak merasa sakit. Aku bisa merasakan sesuatu yang panas mengalir di bawah kulitku. Qi-ku bergerak otomatis, membentuk lapisan pelindung setiap kali air itu menekan pundakku.
"Fokus, Qinar! Jangan cuma melamunkan paha ayam!" teriak Ki Kusumo.
Wush!
Telingaku menangkap suara benda membelah angin. Cepat sekali. Aku refleks memiringkan kepala ke kiri.
Sret!
Sebuah batu lewat tepat di samping telingaku.
"Main curang lagi, Ki?" tanyaku sambil tetap menutup mata.
"Siapa bilang ini permainan? Terima ini lagi!"
Wus! Wus! Wus!
Batu-batu mulai berterbangan. Tak! Tak! Aku menangkis beberapa pakai punggung tangan. Rasanya seperti dipukul kerikil kecil saja. Lalu, Dug! Satu batu besar menghantam dadaku.
Suaranya nyaring, mirip besi dipukul kayu. Aku tidak bergeser satu senti pun. Inilah Level 1. Inilah Kulit Besi yang Ki Kusumo banggakan selama setahun ini.
"Cukup main batunya! Sekarang rasakan ini!"
Brak!
Tiba-tiba perutku rasanya seperti ditabrak kereta kuda. Ki Kusumo menusukkan batang pinus raksasa tadi tepat ke ulu hatiku. Batu di bawah kakiku retak—krek—dan aku hampir saja terpental ke belakang.
"Hiaaaaa!"
Aku berteriak. Amarahku meledak. Aku buka mata dan cahaya merah tipis sempat kilat keluar dari mataku. Aku tangkap batang pohon itu pakai tangan kanan. Aku peras sekuat tenaga.
Krak! Pyaaarr!
Kayu pinus yang keras itu hancur jadi serpihan kecil di genggamanku. Serpihannya terbang ke segala arah. Aku melompat keluar dari kolam, mendarat dengan tenang di depan Ki Kusumo. Napasku memburu, uap panas keluar dari seluruh tubuhku seperti cerobong asap.
"Sudah selesai, kan? Setahun ini sudah cukup," kataku.
Ki Kusumo menatap sisa kayu di tangannya, lalu menatapku. Matanya yang biasanya jahil mendadak jadi serius sekali. "Tujuh tahun... dan kamu sudah bisa menghancurkan pinus hitam dengan satu tangan. Lumayan."
Dia membuang sisa kayu itu ke tanah. "Ujian Pertama: Kulit Besi, selesai. Kamu sudah lulus level dasar. Sekarang, pedang biasa tidak akan bisa melukai kulitmu dengan mudah."
Aku mengusap lenganku yang basah. "Lalu sekarang apa? Aku masih tidak tahu kenapa aku harus jadi sekuat ini di gunung sepi."
"Kamu akan tahu saat waktunya tiba," jawab Ki Kusumo sambil berbalik pergi menuju gubuk. "Sekarang bersihkan dirimu. Jangan sampai bau badanmu mengalahkan bau arakku."
Aku berdiri sendirian di pinggir kolam, menatap pantulan wajahku di air yang jernih. Wajah bocah tujuh tahun yang tidak tahu dari mana asalnya, tidak tahu siapa orang tuanya, dan tidak tahu kenapa hatinya selalu terasa kosong meski kulitnya sudah sekeras besi.
Angin dingin kembali menderu, tapi aku tidak lagi menggigil. Aku hanya berdiri di sana, menatap puncak gunung yang gelap di atas sana.