Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.
Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Perjamuan Berdarah di Kota Badai
Kota Badai, pusat kekuatan **Klan Wang-Sui**, malam itu tampak begitu megah. Ribuan lampion kristal es digantung di sepanjang jalan utama, memancarkan cahaya biru pucat yang mewah. Aroma daging panggang dan arak madu memenuhi udara, merayakan kemenangan palsu atas "kematian" sang pengkhianat Wang Jian enam bulan lalu.
Di Aula Agung klan, **Penatua Wang Ruo-shan** duduk di kursi kehormatan, tertawa lebar sambil mengangkat cangkir gioknya. Di sampingnya, **Wang Feng** tampak sombong dengan jubah barunya, menikmati pujian dari para bangsawan kota.
"Untuk kematian sampah itu, dan untuk masa depan klan kita yang gemilang!" teriak Ruo-shan, diikuti oleh sorak-sorai ratusan tamu undangan.
Mereka tidak menyadari bahwa di atas atap aula, sesosok bayangan dengan mata berkilat biru sedang menatap mereka dengan kebencian yang murni.
### **Penyusupan Tanpa Jejak**
**Wang Jian** dan **Lin Meiling** telah berada di kota sejak senja. Berkat teknik **Putaran 5: Tubuh Tanpa Bentuk**, Jian mampu memanipulasi tekanan udara di sekitar tubuhnya sehingga ia tidak memantulkan cahaya maupun suara. Ia bergerak seperti hantu melewati barisan penjaga gerbang.
"Jian, formasinya sangat kuat. Ada **Formasi Pendeteksi Jiwa** di setiap sudut aula," bisik Meiling melalui transmisi suara *Qi*. Ia memberikan Jian sebuah butiran kecil—**Pil Penelan Aura**.
"Simpan pil itu, Meiling. Aku tidak akan bersembunyi lagi," jawab Jian datar. "Malam ini, aku ingin mereka melihat wajahku saat ajal mereka menjemput."
Jian melompat turun dari langit-langit aula tepat di tengah-tengah perjamuan. Ia tidak mendarat dengan lembut. Ia menjatuhkan diri dengan **Gaya Berat: Massa Gunung**.
*DHUARRRRRR!*
Meja utama yang penuh dengan makanan mewah hancur berkeping-keping. Debu giok beterbangan, menutupi pandangan semua orang. Keheningan yang mencekam mendadak menyelimuti aula yang tadinya bising.
### **Kembalinya Sang "Mayat"**
Saat debu menipis, sosok dengan rambut putih perak dan mata listrik berdiri tegak di tengah reruntuhan meja. Jubah hitamnya berdesir karena aliran energi yang meluap-luap.
"Siapa kau?! Beraninya mengacaukan perjamuan klan!" teriak seorang kapten penjaga sambil menghunus pedangnya.
Wang Jian menoleh pelan. "Ruo-shan... apakah araknya terasa manis setelah kau pikir kau membunuhku?"
Gelas giok di tangan Ruo-shan jatuh dan hancur. Wajahnya berubah dari merah karena mabuk menjadi pucat pasi seputih kertas. "Wang... Jian? Tidak... mustahil! Aku sendiri yang menghancurkan meridianmu!"
Wang Feng melompat berdiri, pedang esnya gemetar. "Kau... kau seharusnya sudah membusuk di dasar jurang!"
"Jurang itu terlalu hangat untukku, Wang Feng," ucap Jian. Ia melangkah maju, dan setiap langkahnya menciptakan retakan petir di lantai giok. "Aku kembali untuk menagih janji yang belum selesai."
### **Pertempuran di Aula Agung: Pembantaian Terencana**
"BUNUH DIA! JANGAN BIARKAN DIA BICARA!" perintah Ruo-shan dengan suara melengking.
Puluhan prajurit elit Ranah Pembersihan Tubuh Bintang 9 mengepung Jian. Mereka menyerang secara serentak dengan teknik *Pedang Es Pembelah*.
Wang Jian bahkan tidak menoleh. Ia hanya melepaskan **Putaran 4: Kompresi Atmosfer** secara radial dalam radius tiga meter. Udara di sekitarnya mendadak menjadi sekeras baja dan setajam silet.
*SLASH! SLASH! SLASH!*
Tanpa Jian menggerakkan tangan, seluruh prajurit yang mendekat terpotong-potong oleh tekanan udara yang ia ciptakan. Darah segar menyemprot ke dinding-dinding aula yang indah, mengotori lampion-lampion kristal. Para tamu undangan berteriak histeris, berlarian menuju pintu keluar, namun pintu-pintu tersebut mendadak tertutup oleh segel es yang diciptakan oleh Meiling dari luar.
"Tidak ada yang pergi sebelum akun ini lunas!" suara Meiling bergema dari balik bayang-bayang.
### **Duel Dendam: Jian vs Wang Feng**
Wang Feng, yang merasa terhina karena ketakutannya sendiri, melepaskan seluruh energinya. Ia telah mencapai **Ranah Pemurnian Qi Bintang 2** selama enam bulan terakhir. "Jangan sombong, Sampah! Kau hanya beruntung bertahan hidup! Rasakan teknik klan yang sebenarnya: **Nafas Es Naga Biru!**"
Naga es raksasa tercipta dari pedang Wang Feng, meluncur menuju Jian dengan raungan yang membekukan lantai.
Jian hanya mengangkat tangan kirinya. Ia mengaktifkan **Putaran 6: Pelahap Badai**. Naga es itu bukannya menghancurkan Jian, justru tersedot masuk ke dalam telapak tangannya, berputar-putar menjadi bola energi kecil yang padat.
"Teknik klanmu... terlalu ringan," ucap Jian dingin. Ia mengepalkan tangannya, menghancurkan energi naga es tersebut, lalu membalas dengan **Langkah Kilat Hitam**.
Jian muncul tepat di depan Wang Feng. Sebelum jenius klan itu sempat bereaksi, Jian mencengkeram lehernya dan mengangkatnya ke udara.
"Ini untuk setiap cambukan yang kau berikan padaku saat kita kecil," ucap Jian.
*KRAK!* Jian mematahkan lengan kanan Wang Feng.
"Dan ini untuk pedang yang kau tusukkan ke bahuku di Puncak Pembuangan!"
Jian menghantamkan lututnya ke perut Wang Feng, menghancurkan Dantian pemuda itu dalam satu serangan. Wang Feng memuntahkan darah dan jatuh lemas—kultivasinya hancur selamanya.
### **Konfrontasi Terakhir dengan Ruo-shan**
Penatua Ruo-shan yang melihat murid kesayangannya hancur, meledak dalam kemarahan. Ia melepaskan kekuatan **Ranah Kristalisasi Inti Bintang 2**-nya. Seluruh aula mulai membeku, suhu turun hingga di bawah nol derajat dalam sekejap.
"Kau... kau monster! Aku akan memastikan tidak ada satu sel pun dari tubuhmu yang tersisa!" Ruo-shan membentuk bola es raksasa yang berisi ribuan jarum beracun.
Wang Jian berdiri tenang di tengah badai salju. Ia menutup matanya, merasakan aliran **Inti Primordial Ganda**-nya yang kini telah mencapai **Ranah Pemurnian Qi Bintang 3**.
"Paman Ruo-shan... kau selalu bilang bahwa angin adalah elemen yang lemah. Biar kutunjukkan... bagaimana angin melahap esmu."
Jian merentangkan tangannya lebar-lebar. **Sayap Malaikat Badai** meledak keluar dari punggungnya, menghancurkan sisa-sisa atap aula. Ia menciptakan pusaran vertikal yang menyatukan petir hitam dan angin puyuh.
**"Seni Orisinal: Bor Langit Primordial!"**
Jian melesat seperti bor raksasa menuju Ruo-shan. Serangan es Ruo-shan hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan pusaran Jian.
*BOOOOOOMM!*
Ledakan energi itu meruntuhkan setengah dari bangunan Aula Agung. Saat asap menghilang, Ruo-shan tergeletak di tanah, kakinya hancur dan tangannya terbakar oleh petir. Penatua yang agung itu kini menatap Jian dengan tatapan penuh kengerian.
"Tolong... jangan bunuh aku... aku hanya menjalankan perintah Leluhur..." rintih Ruo-shan.
Jian berdiri di atasnya, ujung tombak hitamnya menunjuk tepat ke tenggorokan Ruo-shan. "Leluhur? Jangan khawatir. Dia adalah orang berikutnya di daftarku. Tapi untukmu... kematian adalah anugerah yang terlalu mewah."
Jian tidak membunuhnya. Ia menggunakan **Putaran 4** untuk secara permanen memutus seluruh meridian di tubuh Ruo-shan, menjadikannya manusia lumpuh yang akan merasakan penderitaan setiap kali ia bernapas.
### **Meninggalkan Kota yang Terbakar**
Kota Badai kini dalam kekacauan total. Kebakaran terjadi di mana-mana akibat percikan petir Jian. Prajurit kota mulai berdatangan dalam jumlah ribuan.
"Jian! Kita harus pergi! Bala bantuan dari klan cabang lain sedang menuju ke sini!" seru Meiling yang muncul di sampingnya.
Jian menatap ke arah kediaman utama Leluhur Wang yang terletak di puncak bukit kota. "Belum saatnya untuk dia. Aku ingin dia melihat klannya hancur perlahan, satu demi satu."
Dengan satu lambaian tangan, Jian menciptakan dinding angin yang membelah pasukan penjaga yang mencoba mendekat. Ia memeluk pinggang Meiling dan mengepakkan sayapnya, terbang tinggi meninggalkan kota yang kini dipenuhi jeritan ketakutan.
Malam itu, dunia kultivasi Benua Tengah gempar. Wang Jian bukan lagi sekadar legenda atau hantu; ia adalah bencana hidup yang telah kembali untuk menuntut balas.
### **Status Kultivasi Akhir - Bab 16:**
* **Nama:** Wang Jian
* **Ranah Kultivasi:** **Pemurnian Qi Bintang 3** (Stabil).
* **Kondisi:** Sangat Prima, dendam terbalaskan sebagian.
* **Musuh:** Wang Feng (Cacat Permanen), Penatua Ruo-shan (Lumpuh Permanen).
* **Tujuan Selanjutnya:** Mencari **Lembah Tanpa Nama** untuk menyempurnakan teknik tahap ketiga sebelum menghadapi Leluhur Wang.
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.