Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita yang Tak Diakui
Pintu itu akhirnya ditutup pelan tanpa suara, seolah Endric takut sedikit saja bunyi akan mengubah sesuatu di luar. Begitu kayu itu menutup rapat, ia langsung mundur dua langkah. Napasnya masih tertahan, matanya tetap mengarah ke pintu, seakan berharap tidak ada yang masuk lagi.
“Gue nurut lo,” katanya pelan.
Gandhul mengangguk.
“Bagus.”
Namun Endric tidak duduk. Ia tetap berdiri dan terus menatap, seolah ada sesuatu yang belum selesai. Ada dorongan yang belum hilang, sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
“Tapi gue tetap pengin tahu,” lanjutnya.
Gandhul langsung mendesah.
“Pasti.”
Endric menoleh.
“Lo kenapa berubah gitu?”
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia duduk di meja, menatap Endric lebih serius dari biasanya. Ekspresinya tidak santai, tidak seperti biasanya yang cenderung bercanda.
“Nama itu tidak biasa,” katanya pelan.
Endric mengernyit.
“Nama Ningsih?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Gandhul menggeleng pelan. Ia tampak ragu, tetapi tetap memilih menjelaskan.
“Bukan soal nama saja, tapi yang pakai nama itu.”
Endric menghela napas panjang.
“Lo kalau jelasin setengah-setengah begini bikin gue makin penasaran.”
“Bagus. Berarti lo mikir.”
Endric mendecak.
“Gue sudah kebanyakan mikir.”
Suasana hening sejenak. Endric akhirnya duduk, tetapi pikirannya masih tertinggal di luar. Ia terus memikirkan sosok itu, cara dia berdiri, dan cara dia bicara.
“Dia beda,” kata Endric pelan.
“Iya,” jawab Gandhul.
“Dia tidak ganggu.”
“Itu justru masalahnya.”
Endric menatap Gandhul.
“Kenapa semua yang tidak ganggu selalu jadi masalah di sini?”
Gandhul tersenyum tipis.
“Karena di desa ini yang normal itu mencurigakan.”
Endric tertawa kecil.
“Logika kebalik.”
“Selamat datang.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Tok.
Suara itu muncul lagi, pelan, dari pintu. Endric langsung menegang, tubuhnya refleks kaku.
“Dia lagi.”
Gandhul langsung berdiri.
“Jangan buka.”
“Gue tidak buka.”
Suara itu tidak seperti ketukan biasa, lebih seperti sentuhan ringan. Hanya sekali, lalu berhenti.
“Mas,” suara itu kembali.
Lembut, tidak memaksa.
Endric menelan ludah. Ia tidak mendekat, tetapi juga tidak menjauh. Tubuhnya tetap di tempat, seolah tertahan oleh rasa ingin tahu.
“Mas masih di situ?” tanya suara itu.
Endric diam.
Gandhul berbisik.
“Jangan jawab.”
Endric mengangguk kecil. Namun suara itu tidak hilang.
“Saya tidak mau masuk. Saya cuma...”
Ia berhenti sejenak.
“Butuh ngomong.”
Endric menghela napas pelan. Ia menatap pintu cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
“Lo bisa ngomong dari situ saja.”
Gandhul langsung menoleh.
“Rek.”
“Tenang,” kata Endric cepat.
Suara di luar terdengar lega.
“Makasih.”
Endric menyandarkan tubuhnya ke dinding.
“Lo bilang nama lo Ningsih.”
“Iya.”
“Lo dari mana?”
Sunyi sejenak.
“Saya juga tidak tahu pasti.”
Endric mengernyit.
“Semua orang di sini kayaknya kehilangan data diri.”
“Mungkin karena di sini kita bukan lagi siapa-siapa.”
Endric langsung diam. Kalimat itu terasa tepat, seolah menjelaskan sesuatu yang selama ini ia rasakan.
“Lo tinggal di mana?” tanya Endric lagi.
“Tidak ada tempat.”
Endric menghela napas.
“Ya sudah, standar.”
Gandhul meliriknya.
“Lo santai banget.”
“Gue sudah capek kaget.”
Suara itu terdengar lagi, pelan.
“Mas sudah lama di sini?”
Endric tertawa kecil.
“Baru beberapa hari, tapi rasanya kayak sebulan.”
“Saya juga.”
Endric menatap pintu.
“Lo ketemu warga?”
“Iya.”
“Terus?”
Sunyi, lebih lama kali ini.
“Mereka tidak lihat saya.”
Endric langsung menegang.
“Maksudnya?”
“Mereka lewat, ngobrol, tapi tidak pernah lihat.”
Endric menoleh ke Gandhul. Gandhul langsung mengangguk pelan, seolah mengonfirmasi sesuatu.
“Lo yakin?” tanya Endric.
“Iya.”
Endric berdiri dan mendekati pintu, tetapi tetap menjaga jarak. Rasa waspada masih ada, meski rasa penasaran lebih dominan.
“Lo tunggu,” katanya.
Gandhul langsung menatap tajam.
“Lo mau apa?”
“Cek.”
Endric membuka pintu sedikit, hanya celah kecil, cukup untuk melihat. Ningsih masih di sana, lebih dekat dari sebelumnya, tetapi tetap tidak terlalu dekat.
“Lo geser dikit,” kata Endric.
Ningsih tampak bingung, tetapi mengikuti. Ia melangkah ke samping.
Endric langsung melihat ke jalan. Beberapa warga lewat seperti biasa, santai, tidak ada yang aneh.
“Lo berdiri di situ saja,” kata Endric.
Ningsih mengangguk.
Endric menatap warga yang lewat. Mereka berjalan tanpa reaksi, tanpa melihat, tanpa menyadari keberadaan Ningsih.
Endric langsung menutup pintu lagi, pelan.
“Anjir.”
Gandhul mengangguk.
“Iya.”
Endric mengusap wajahnya.
“Dia benar-benar tidak ada di sistem.”
Gandhul menatapnya.
“Dan itu lebih bahaya.”
Endric duduk lagi, kali ini lebih serius. Pikirannya bekerja lebih cepat, mencoba menyusun kemungkinan.
“Lo tahu kenapa?” tanyanya.
Gandhul menggeleng.
“Tidak.”
Endric menatap pintu.
“Kalau semua di sini diatur.”
Gandhul mengangguk.
“Dan dia tidak terhitung.”
Endric melanjutkan.
“Berarti dia bisa lepas dari aturan.”
Suasana kembali sunyi. Gandhul tidak menjawab, tetapi ekspresinya berubah.
“Rek,” katanya pelan.
“Ini tidak bagus.”
Endric mengangguk.
“Gue tahu.”
Namun ia tidak menjauh. Ia justru kembali berbicara.
“Ningsih.”
“Iya.”
“Lo bisa ganggu?” tanya Endric.
“Ganggu?”
“Kayak yang lain. Nyentuh, nyerang.”
“Tidak.”
Endric mengangguk pelan.
“Lo pernah coba keluar desa?”
Sunyi.
“Pernah.”
“Berhasil?”
“Tidak.”
Endric menghela napas.
“Ya, standar.”
Gandhul menyela.
“Tanya yang penting.”
Endric mengangguk.
“Lo pernah dipanggil?”
Sunyi, lebih lama dari sebelumnya.
“Tidak.”
Endric langsung menegang.
“Tidak pernah?”
“Tidak.”
Endric menatap Gandhul. Gandhul juga terlihat kaget.
“Rek,” bisiknya.
“Iya.”
“Ini aneh banget.”
Endric menelan ludah. Di desa ini, semua yang masuk pasti melalui proses, dipanggil, dipilih, atau gagal. Namun Ningsih tidak melalui jalur itu.
“Lo muncul tiba-tiba?” tanya Endric.
“Saya tidak ingat.”
Endric berdiri lagi, berjalan kecil bolak-balik. Pikirannya bergerak cepat, mencoba memahami sesuatu yang tidak masuk pola.
“Lo tidak dipanggil, tidak dilihat warga, tidak ganggu.”
Ia berhenti dan menatap pintu.
“Lo ini apa, sih?”
Sunyi.
“Saya juga pengin tahu.”
Endric terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil.
“Bagus. Kita sama-sama bingung.”
Gandhul tidak ikut tertawa. Ia menatap Endric dengan serius.
“Rek.”
“Apa?”
“Jangan terlalu dekat.”
Endric menatapnya.
“Kenapa?”
Gandhul menarik napas.
“Karena yang tidak ada di aturan biasanya punya aturan sendiri.”
Endric diam. Kalimat itu masuk, tetapi tidak sepenuhnya menghentikannya.
Ia tetap menoleh ke pintu.
“Ningsih.”
“Iya.”
Endric ragu sebentar, lalu bertanya.
“Lo bisa datang lagi besok?”
Sunyi.
“Kalau Mas masih mau ngobrol.”
Endric tersenyum tipis.
“Ya, lumayan ada teman.”
Gandhul langsung mendesah keras.
“Ya ampun.”
Endric mengabaikannya.
“Datang saja besok.”
“Iya.”
Langkah pelan terdengar menjauh. Tidak jelas, tetapi terasa.
Endric berdiri diam beberapa detik, lalu kembali duduk.
“Gue melanggar, ya?” katanya.
Gandhul mengangguk.
“Iya.”
Endric menghela napas.
“Gue tahu.”
Namun ia tetap tersenyum kecil.
“Tapi gue penasaran.”
Gandhul menatapnya.
“Dan itu biasanya awal masalah.”
Endric tertawa pelan.
“Gue sudah jadi masalah dari kemarin.”
Suasana kembali sunyi, tetapi kali ini terasa lebih tenang, lebih ringan. Endric bersandar, matanya perlahan menutup. Untuk pertama kalinya, malam terasa sedikit normal, tanpa suara, tanpa gangguan, dan tanpa tarikan.
Dan itu justru yang paling aneh. Di dalam tubuhnya, garis hitam itu diam, tidak bergerak, seolah sesuatu sedang menunggu.