SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Langit yang Sama, Dengan Rasa yang Berbeda
Minggu pagi menyapa dengan ketenangan yang jarang Aruna nikmati. Mengikuti saran—atau lebih tepatnya perintah—Aska, Aruna benar-benar tidak menyentuh buku pelajaran sama sekali. Ia sengaja menumpuk buku-bukunya di pojok meja dan menutupinya dengan jaket, seolah tidak ingin melihat bayang-bayang rumus kimia yang biasanya menghantui akhir pekannya.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ponselnya bergetar di atas nakas. Ada panggilan masuk dari Adrian. Aruna menarik napas panjang sebelum mengangkatnya.
"Halo, Kak?"
"Halo, Na. Kamu sudah bangun? Suara kamu kayak orang baru bangun tidur," suara Adrian terdengar segar dan penuh semangat di seberang sana.
"Aku cuma mau nanya, jurnal yang aku kirim semalam sudah sempat kamu baca? Ada bagian di halaman empat tentang mutasi genetik yang kayaknya bakal keluar di simulasi besok. Kalau kamu bingung, kita bisa bahas via Zoom siang ini."
Aruna terdiam. Ia menatap tumpukan buku yang ia sembunyikan. "Maaf, Kak. Semalam aku langsung tidur karena capek banget. Dan hari ini... kayaknya aku mau istirahat total dulu. Aku belum mau buka buku."
Hening sejenak di seberang sana. Aruna bisa membayangkan kening Adrian yang berkerut heran. "Istirahat total? Tapi Na, simulasi besok itu penting banget untuk menentukan peringkat kita di tingkat provinsi. Kamu nggak takut ketinggalan materi?"
"Aku cuma butuh napas, Kak," jawab Aruna pelan namun tegas. "Kalau aku paksa belajar hari ini, otak aku malah bakal macet besok. Aku butuh satu hari buat nggak jadi 'Aruna si juara kelas'."
Adrian menghela napas, suaranya melembut meski masih terdengar ada nada ketidaksetujuan. "Ya sudah, kalau itu mau kamu. Tapi nanti malam coba dibaca sebentar ya? Aku nggak mau kamu kesulitan besok. Istirahat yang cukup, Na."
Setelah menutup telepon, Aruna merasa ada beban yang sedikit terangkat, meski ia tahu Adrian tidak sepenuhnya mengerti. Baginya, "istirahat" adalah persiapan, sementara bagi Adrian, "istirahat" adalah waktu yang terbuang.
---
Sore harinya, Aruna memutuskan untuk pergi ke minimarket dekat rumah hanya untuk membeli es krim. Ia ingin merasakan udara luar tanpa harus membawa beban pikiran.
Saat sedang berjalan pulang sambil menikmati es krim cokelatnya, sebuah motor berhenti di sampingnya. Suara mesinnya tidak terlalu bising karena pengendaranya sengaja memelankan tarikan gasnya.
"Gue bilang juga apa, liat dunia luar itu lebih seger daripada liat mikroskop," suara itu membuat Aruna menoleh.
Aska duduk di atas motornya, tanpa jaket kulit, hanya memakai kaus hitam polos yang lengannya sedikit digulung. Wajahnya bersih dari noda oli, membuatnya terlihat jauh lebih muda dan... tampan.
"Gue cuma beli es krim, Ka," sahut Aruna sambil menunjukkan bungkus es krim di tangannya.
"Nggak apa-apa, yang penting lu nggak lagi megang pulpen," Aska mematikan mesin motornya. "Gimana? Si Pangeran neror lu nggak hari ini?"
Aruna terkekeh. "Dia nelpon tadi pagi. Nanyain jurnal yang dia kirim semalam. Dia kayaknya stres banget pas gue bilang gue mau istirahat total."
Aska menyeringai puas. Ia turun dari motor dan ikut berjalan di samping Aruna, menuntun motornya pelan. "Biarin aja dia stres sendiri. Dia emang butuh pengakuan lewat nilai, tapi lu nggak. Lu udah pinter tanpa harus jadi budak buku."
Mereka berjalan beriringan di bawah langit sore yang mulai meredup. Suasananya anehnya terasa sangat nyaman. Tidak ada obrolan berat, tidak ada tuntutan masa depan. Hanya dua remaja yang berjalan santai di gang perumahan.
"Ka," panggil Aruna tiba-tiba.
"Hm?"
"Kenapa lu peduli banget? Maksud gue... lu kan biasanya nggak suka sama cewek-cewek kayak gue yang cupu dan cuma tau belajar."
Aska berhenti melangkah, membuat Aruna juga ikut berhenti. Ia menatap Aruna dengan tatapan yang sulit dibaca. "Lu nggak cupu, Na. Lu cuma terlalu patuh. Dan gue peduli karena... entahlah.
Mungkin karena gue liat diri gue yang dulu di mata lu. Yang dipaksa jadi sesuatu yang bukan kemauan gue sendiri. Bedanya, gue milih berontak dengan cara kasar, sedangkan lu milih bertahan sampai hampir hancur."
Aruna terpaku. Ia tidak pernah menyangka Aska memiliki pemikiran sedalam itu.
"Udah, jangan pasang muka serius gitu," Aska menepuk puncak kepala Aruna pelan, sedikit mengacak rambutnya. "Besok simulasi kan? Jangan stres. Kerjain apa yang lu bisa. Kalau nilai lu turun dikit, dunia nggak bakal kiamat. Dan kalau si Adrian marah, bilang ke dia... suruh urusan sama gue."
Aruna tertawa lepas. "Lu mau nantang ketua OSIS berantem cuma gara-gara nilai gue turun?"
"Kenapa enggak? Gue kan emang dicap berandalan," Aska kembali naik ke motornya. "Balik sana, makan yang bener. Sampai ketemu di sekolah besok, Anak Pintar."
---
Senin pagi tiba. Suasana ruang kelas sudah penuh dengan aroma ketegangan. Meja-meja diatur berjarak, dan semua siswa sibuk membolak-balik catatan terakhir mereka sebelum pengawas masuk. Adrian tampak tenang, namun matanya terus memantau Aruna dari kejauhan, seolah memastikan partnernya siap tempur.
Saat soal simulasi dibagikan, Aruna menarik napas panjang. Ia melihat soal-soal biologi molekuler yang biasanya membuat kepalanya berdenyut. Namun anehnya, kali ini ia merasa jauh lebih tenang. Otaknya yang sudah di-*refresh* selama seharian kemarin terasa lebih encer. Ia mengerjakan soal demi soal dengan ritme yang stabil.
Di tengah ujian, ia sempat melirik ke arah jendela yang menghadap ke lapangan. Di sana, ia melihat kelas Aska sedang jam olahraga. Aska sedang berlari mengejar bola, wajahnya penuh semangat dan kebebasan.
Aruna tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada lembar jawabannya. Ia menyadari satu hal: ia tetap mencintai sains, ia tetap ingin menjadi juara, tapi kali ini ia melakukannya bukan karena tuntutan Adrian atau orang tuanya.
Ia melakukannya karena ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa berprestasi tanpa harus kehilangan jiwanya.
Selesai ujian, Adrian langsung menghampirinya. "Gimana, Na? Soal mutasi genetik tadi keluar kan? Untung kamu sempat baca link yang aku kirim kan?"
Aruna menatap Adrian, lalu tersenyum manis—senyum yang terasa berbeda dari biasanya. "Aku nggak baca link itu, Kak. Tapi aku bisa jawab pake logika dasar yang aku dapet dari buku manual mesin motor kemarin. Ternyata prinsip kerjanya hampir sama."
Adrian tertegun, bingung dengan jawaban Aruna. "Mesin motor? Apa hubungannya?"
"Panjang ceritanya, Kak," jawab Aruna sambil mengemasi tasnya. "Aku duluan ya, mau ke kantin bareng Sasha."
Aruna berjalan meninggalkan Adrian yang masih terpaku. Di koridor, ia berpapasan dengan Aska yang baru kembali dari lapangan dengan handuk kecil di lehernya. Aska memberikan isyarat jempol secara diam-diam tanpa menghentikan langkahnya.
Aruna membalas dengan kedipan mata singkat. Hidupnya mungkin masih penuh dengan rumus dan ujian, tapi kini Aruna punya rahasia kecil yang membuatnya merasa jauh lebih kuat. Ia tahu, di antara deru mesin dan suara hati, ia telah menemukan jalannya sendiri.
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻