NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Aliya mempercepat langkahnya melewati gang yang remang-remang, namun langkahnya seketika terhenti saat tiga orang pria berpenampilan kumal menghalangi jalannya. Tatapan mereka lapar dan penuh niat jahat.

"Hay cantik, mau ke mana malam-malam begini sendirian?" goda salah satu preman dengan seringai menjijikkan.

"Pergi kalian! Jangan ganggu aku!" Aliya mencoba menggertak, meski suaranya bergetar hebat.

Ia berusaha berbalik untuk berlari, namun ruang geraknya terkunci.

Para preman itu tertawa kasar. Mereka mulai mendekat, mengabaikan peringatan Aliya.

Salah satu dari mereka menarik tas ranselnya, sementara yang lain mencengkeram lengan Aliya dengan kasar hingga pakaian di bagian bahunya robek akibat tarikan paksa.

"Tolong! Siapa pun tolong!" teriak Aliya histeris, rasa perih di dadanya kembali berdenyut karena gerakan paksa itu.

"Lepaskan dia!"

Sebuah suara bariton yang menggelegar memecah keributan.

Belum sempat para preman itu menoleh, sebuah pukulan keras mendarat di rahang pemimpin mereka.

Emirhan datang seperti badai, matanya menyala penuh amarah yang mematikan.

Dengan gerakan taktis dan bertenaga, ia melayangkan tendangan dan pukulan yang membuat para preman itu tersungkur di aspal.

Melihat lawan yang begitu tangguh dan tak seimbang, para preman itu segera bangkit dan kabur tunggang langgang ke dalam kegelapan gang.

"Emir..." lirih Aliya.

Tubuhnya gemetar hebat, ia nyaris jatuh jika Emirhan tidak segera menangkapnya.

Wajah Emirhan yang tadinya beringas langsung melunak saat menatap Aliya.

Ia melihat pakaian Aliya yang robek dan wajahnya yang sembab.

Tanpa berkata-kata, Emirhan melepaskan jaket kulit hitamnya dan menyampirkannya ke bahu Aliya, membungkus tubuh gadis itu dengan hangat.

"Aku di sini, Aliya. Kamu aman sekarang," bisik Emirhan sambil mendekap kepala Aliya sebentar ke dadanya.

Tanpa menunggu lama, ia membimbing Aliya menuju mobil yang sudah menunggu.

Emirhan membukakan pintu depan dan membantu Aliya duduk dengan sangat hati-hati.

Begitu pintu tertutup, suasana di dalam mobil terasa sangat kontras dengan kekacauan di luar—hangat, sunyi, dan penuh perlindungan.

Emirhan segera melajukan mobilnya menjauh dari tempat terkutuk itu, tangannya yang satu menggenggam erat tangan Aliya yang masih dingin karena ketakutan.

"Aku antar kamu pulang ke rumah ibumu sekarang," ucap Emirhan dengan nada tegas, masih merasa khawatir dengan kondisi Aliya yang terguncang.

Aliya langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

"Jangan. Ibu mengusirku, Emir. Aku tidak punya rumah lagi sekarang. Aku, menginap saja di losmen sekitar sini."

Mendengar kata 'losmen', rahang Emirhan mengeras.

Ia tidak akan pernah membiarkan gadis yang dicintainya tinggal di tempat murahan yang tidak aman, apalagi setelah kejadian buruk yang baru saja menimpanya.

"Tidak akan. Aku tidak mengizinkanmu tinggal di tempat seperti itu," jawab Emirhan mutlak.

Ia melirik ke arah spion tengah, menatap tajam ke arah asisten kepercayaannya.

"Kabir, putar arah. Kita ke apartemen pribadiku sekarang!"

"Baik, Tuan," jawab Kabir patuh sambil segera memutar kemudi menuju kawasan elit di pusat kota.

Aliya ingin memprotes, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan.

Rasa lapar yang melilit perutnya sejak sore, rasa sakit di bekas lukanya, serta syok akibat serangan preman tadi benar-benar menguras seluruh energinya.

Pandangannya mulai mengabur, lampu-lampu jalanan Istanbul di luar jendela tampak berputar-putar.

"Emir... aku..."

Belum sempat Aliya menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya mendadak lemas.

Kepalanya terkulai jatuh ke bahu Emirhan. Aliya pingsan karena kelelahan dan lapar yang luar biasa.

"Aliya?!" Emirhan tersentak. Ia segera merangkul tubuh gadis itu, menepuk pipinya dengan cemas.

"Aliya! Buka matamu! Kabir, lebih cepat! Dia pingsan!"

Suasana di dalam mobil seketika menjadi tegang. Emirhan mendekap erat tubuh Aliya yang terasa dingin, hatinya hancur melihat gadis yang biasanya ceria itu kini tak berdaya di pelukannya.

Ia bersumpah dalam hati, siapapun yang membuat Aliya menderita seperti ini, termasuk keluarganya sendiri, akan berhadapan dengannya.

Sesampainya di gedung apartemen mewah miliknya, Emirhan tidak memedulikan tatapan hormat dari petugas keamanan di lobi.

Ia membopong tubuh Aliya yang terasa ringan namun dingin dengan penuh kehati-hatian, seolah-olah gadis itu adalah porselen yang bisa retak kapan saja.

Begitu pintu apartemen terbuka, Emirhan langsung membawa Aliya ke kamar utama.

Ia membaringkan tubuh gadis itu di atas ranjang king size yang empuk, menyelimutinya hingga sebatas dada dengan selimut sutra yang hangat.

Wajah Emirhan tampak sangat tegang. Sambil terus memperhatikan napas Aliya yang pendek-pendek, ia merogoh ponselnya dan menekan nomor dokter pribadinya.

"Halo, Dokter Aras? Datanglah ke apartemenku sekarang juga! Ini darurat," perintah Emirhan dengan suara yang tak terbantahkan.

"Tuan Emirhan? Apa Anda terluka lagi?" tanya dokter di seberang telepon dengan nada khawatir.

"Bukan aku. Gadis yang menyelamatkanku tempo hari. Dia pingsan, kemungkinan karena kelelahan, lapar, dan syok. Cepatlah, jangan sampai lewat dari lima belas menit!"

Setelah mematikan telepon, Emirhan duduk di tepi ranjang.

Ia mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air hangat, dan perlahan menyeka dahi Aliya yang berkeringat dingin.

"Bertahanlah, Aliya," bisik Emirhan pelan, jemarinya mengusap lembut helai rambut yang menutupi wajah gadis itu.

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Mulai sekarang, tempat ini adalah rumahmu."

Apartemen yang biasanya terasa sunyi dan dingin itu kini dipenuhi dengan kecemasan yang mendalam. Emirhan terus berjaga di sisi Aliya, menunggu dokter tiba, sambil merencanakan bagaimana ia akan melindungi Aliya dari kemarahan ibunya dan juga kecurigaan keluarganya sendiri yang mulai mengintai.

Suasana di dalam kamar apartemen itu kini terasa lebih tenang, meski bau antiseptik samar mulai tercium.

Dokter Aras baru saja menyelesaikan tugasnya, dengan cekatan memasang selang infus yang terhubung ke pergelangan tangan Aliya untuk mengembalikan cairan tubuh dan nutrisi yang hilang.

"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Emirhan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah pucat Aliya.

Dokter Aras merapikan peralatannya sebelum menjawab dengan nada rendah.

"Dia mengalami syok hebat dan tubuhnya sangat lemah karena kelaparan. Lukanya sedikit meradang, mungkin karena aktivitas fisik yang berlebihan sebelum pulih benar."

Emirhan mengepalkan tangannya di samping tubuh, merasa bersalah karena membiarkan Aliya pulang sendirian tadi siang.

"Nanti kalau dia sudah sadar, beri dia teh hangat dan makanan lunak sedikit demi sedikit. Jangan dipaksa jika dia mual," lanjut Dokter Aras memberikan instruksi medis.

Emirhan menganggukkan kepalanya dengan sungguh-sungguh, merekam setiap detail perintah sang dokter di dalam benaknya.

"Aku mengerti."

Sebelum Dokter Aras melangkah keluar, Emirhan menahan lengan pria paruh baya itu.

Tatapannya berubah menjadi sangat serius dan dingin, kembali ke mode seorang pemimpin yang tak ingin rahasianya bocor.

"Dan satu hal lagi, Dokter. Rahasiakan keberadaan gadis ini di sini dari kedua orang tuaku. Jika mereka bertanya, katakan saja Anda sedang menanganiku untuk kontrol rutin," ucap Emirhan tegas.

Dokter Aras, yang sudah bertahun-tahun melayani keluarga Emirhan dan tahu betapa kerasnya Onur, menganggukkan kepalanya dengan penuh pengertian.

"Tentu, Tuan Emirhan. Rahasia medis pasien adalah prioritas saya. Saya tidak akan mengatakan apa pun kepada Tuan Onur maupun Nyonya Zaenab."

Setelah dokter pergi, Emirhan kembali duduk di kursi samping ranjang.

Di bawah cahaya lampu tidur yang remang-remang, ia memandangi tetesan infus yang jatuh satu per satu, seolah menghitung waktu hingga gadis yang dicintainya itu kembali membuka mata. Ia tahu, mulai malam ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Beberapa jam kemudian, cahaya lampu remang di kamar itu seolah menyambut Aliya yang perlahan membuka matanya.

Ia mengerjapkan mata berkali-kali, mencoba mengenali langit-langit kamar yang tampak begitu mewah dan asing baginya.

Rasa sakit di dadanya sudah berkurang, namun tubuhnya masih terasa sangat ringan.

"Emir..." lirih Aliya saat melihat sosok pria itu duduk di samping ranjangnya dengan wajah lelah yang dipaksakan untuk terjaga.

"Ssshh... Jangan bergerak dulu," ucap Emirhan lembut.

Ia segera bangkit, mengambil cangkir teh hangat yang sudah disiapkan di atas nakas, lalu dengan perlahan membantu Aliya sedikit bersandar pada bantal.

Aliya menyesap teh itu perlahan, merasakan hangatnya menjalar ke kerongkongannya.

"Maaf, aku kembali merepotkan kamu. Seharusnya aku tidak pingsan. Tolong, antarkan aku mencari..."

"Mencari apa? Losmen?" potong Emirhan dengan nada bicara yang tiba-tiba berubah dingin namun penuh perlindungan.

Ia meletakkan cangkir itu kembali dan menatap Aliya dalam-dalam.

"Nggak, Aliya. Selama aku hidup, kamu harus selalu berada di dekatku."

Aliya tertegun, matanya yang besar menatap Emirhan dengan bingung.

"Maksud kamu?"

Emirhan menarik napas panjang, ia menggenggam tangan Aliya yang masih terpasang infus.

"Aku mencintaimu, Aliya. Aku tidak bisa membiarkanmu berkeliaran sendirian di luar sana sementara hatiku tertinggal padamu."

Jantung Aliya berdegup kencang, rasa hangat menjalar ke pipinya. Namun, kenyataan pahit segera terlintas di pikirannya.

"Tapi Emir, usia kita beda jauh. Kita berasal dari dunia yang berbeda. Pasti banyak yang akan menentang kita. Ibuku, orang tuamu..."

"Aku tidak peduli apa kata orang," jawab Emirhan tanpa ragu sedikit pun.

"Bagiku, kamu adalah orang yang memberiku kesempatan hidup kedua. Sekarang, aku hanya ingin tahu satu hal..."

Emirhan mendekatkan wajahnya, menatap lurus ke netra Aliya.

"Apakah kamu mencintaiku?"

Aliya terdiam sejenak, mencari jawaban di dalam lubuk hatinya yang terdalam.

"Entahlah, Emir. Aku belum mengerti perasaan ini. Tapi, aku selalu merasa sangat nyaman dan aman saat kamu berada di sampingku. Aku merasa seolah tidak ada yang bisa menyakitiku jika ada kamu."

Mendengar pengakuan jujur itu, pertahanan Emirhan runtuh.

Ia tidak butuh kata "cinta" yang puitis, cukup dengan rasa nyaman itu sudah lebih dari cukup baginya untuk saat ini.

Emirhan langsung menarik tubuh Aliya ke dalam pelukannya dengan sangat lembut, seolah takut akan menyakiti luka gadis itu.

Aliya menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Emirhan, menghirup aroma maskulin yang kini terasa begitu akrab.

Di kamar apartemen yang tinggi itu, di tengah malam Istanbul yang dingin, dua jiwa yang terluka itu akhirnya menemukan tempat untuk saling bersandar, meski badai besar sedang menunggu mereka di luar sana.

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!