Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Ruangan rapat itu dipenuhi suasana tegang.
Tidak ada yang berani bersuara.
Puluhan pria duduk rapi di kedua sisi meja panjang, masing-masing dengan ekspresi serius. Tidak satu pun dari mereka berani mengangkat kepala terlalu lama.
Di ujung meja seorang pria duduk dengan tenang.
Nathan Han.
Jas hitamnya rapi tanpa cela, kacamata tipis bertengger di wajahnya, menambah kesan dingin yang sulit ditembus.
Lima tahun telah berlalu sejak ia mengambil alih segalanya.
Dan kini—
Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang meragukan posisinya.
“Mulai.”
Suaranya rendah.
Tenang.
Namun cukup untuk membuat seluruh ruangan langsung hidup.
“Laporan kuartal ini menunjukkan peningkatan di semua sektor, Tuan,” ujar salah satu pria. “Perusahaan legal kita berkembang pesat. Investasi di bidang properti dan teknologi juga berjalan stabil.”
Nathan mengangguk kecil.
“Bagus.”
Singkat.
Pria lain ikut berdiri, terlihat lebih hati-hati, “Ada beberapa pihak yang mulai merasa terancam dengan perkembangan kita.”
Nathan menatapnya sekilas.
“Siapa?”
“Kelompok lama yang dulu bekerja sama dengan James Fung. Mereka mulai bergerak diam-diam.”
Ruangan menjadi sedikit tegang.
Namun Nathan justru tersenyum tipis.
“Sudah lima tahun,” ujarnya santai. “Masih belum tahu tempat mereka?”
Pria itu terdiam.
“Maaf, Tuan. Mereka bergerak sangat hati-hati.”
Nathan menyandarkan tubuhnya. “Kalau begitu, buat mereka berhenti bergerak.”
Marcus melangkah maju. “Tuan, ada satu hal lagi.”
Nathan melirik. “Katakan!”
“Keamanan pribadi Anda perlu ditingkatkan. Beberapa percobaan penyusupan berhasil kami gagalkan bulan ini.”
Nathan tidak terlihat terkejut. “Biarkan saja,” ujarnya santai.
Marcus mengernyit.
“Tuan—”
“Mereka yang berani mendekat,” lanjut Nathan pelan, “justru akan lebih mudah ditemukan.”
Hening.
Kalimat itu membuat suasana kembali dingin.
“Aku malah berharap mereka menyerangku,” ucap Nathan tenang. “Dengan begitu, aku bisa langsung menangkap mereka.”
Beberapa orang di ruangan itu saling berpandangan.
“Tuan… pihak musuh bukan orang sembarangan,” ujar salah satu dari mereka hati-hati. “Mereka memiliki banyak anak buah.”
Nathan tersenyum tipis.
“Diserang bukan pertama kali dalam hidupku,” balasnya datar. “Tidak ada yang mengejutkan.”
Hening.
Tidak ada yang berani membantah.
“Rapat sampai di sini,” lanjutnya singkat. “Bubar.”
Tanpa menunggu respon, Nathan berdiri dan melangkah keluar.
Marcus segera mengikuti di belakangnya.
Keduanya berjalan menuju ruang kerja pribadi Nathan.
Begitu pintu terbuka—
Seorang pria paruh baya terlihat duduk santai di sofa, membaca koran seolah itu tempatnya sendiri.
Nathan berhenti sejenak.
Tatapannya langsung berubah dingin.
“Kenapa datang ke sini?” tanyanya datar. “Ada urusan apa?”
Ia melepaskan jasnya dan menyerahkannya pada Marcus tanpa menoleh.
Pria paruh baya itu menurunkan korannya, lalu tersenyum santai.
“Nathan, aku datang membawa kabar baik,” ujarnya ringan. “Seorang temanku memiliki anak angkat. Cantik, masih muda, dan berkepribadian baik.”
Nathan tidak tertarik. Ia bahkan tidak duduk. “Jadi?” tanyanya singkat.
“Aku ingin menjodohkan kalian,” lanjut pria itu tanpa ragu. “Namanya… Liora Meng.”
Untuk sesaat—
Ruangan itu terasa lebih sunyi.
Namun ekspresi Nathan tidak berubah. “Tidak perlu melakukan hal yang tidak penting,” jawabnya dingin.
Pria itu menghela napas.
“Usiamu sudah tidak muda lagi,” katanya. “Sudah lima tahun berlalu.”
Nathan tidak merespon.
Tatapannya justru semakin dalam.
“Apa lagi yang kau tunggu?” lanjutnya. “Seluruh dunia juga tahu… dia sudah tidak ada.”
Hening.
Udara di ruangan itu seakan membeku.
Marcus bahkan tidak berani bergerak.
Perlahan
Nathan mengangkat kepala.
Tatapannya tajam.
“Kalau dia benar-benar tidak ada,” suaranya rendah namun menekan, “aku tidak akan mencarinya sampai sekarang.”
Pria paruh baya itu terdiam.
Untuk pertama kalinya, senyumnya menghilang.
Nathan berbalik, berjalan menuju jendela.
“Jangan pernah membawa nama itu lagi di hadapanku,” lanjutnya dingin. “Dan aku tidak tertarik dengan wanita mana pun.”
Ia berhenti sejenak. Lalu menambahkan,“Termasuk Liora Meng.”
Tanpa ia sadari…
Nama yang baru saja ia tolak—
Adalah orang yang selama ini ia cari.
“Nathan,” ujar pria paruh baya itu lagi, kali ini lebih serius, “kau punya kekayaan, kekuasaan… tapi tidak punya keturunan. Apa arti semua itu kalau kau tetap sendirian?”
Nathan tidak menjawab.
Ia hanya membuka berkas di mejanya, seolah tidak tertarik.
“Hanya bertemu saja dulu,” lanjutnya sabar. “Soal perasaan, itu bisa diproses. Siapa tahu suatu hari kau akan melihat kebaikannya.”
Masih tidak ada respon.
“Gadis itu juga bukan sembarang orang,” tambahnya. “Selama ini dia belajar banyak tentang ilmu pengobatan dengan Calvin Chu. Sekarang dia bekerja di rumah sakit, di bagian administrasi… dan terkadang membantu sebagai perawat.”
Nathan tetap diam.
Namun pria itu belum selesai.
“Kau sering terluka karena serangan musuhmu,” ujarnya, menatap tajam. “Dia bisa merawatmu.”
Baru kali ini Nathan berhenti membalik halaman.
Namun hanya sesaat.
“Kalau sudah selesai bicara,” ucapnya dingin tanpa mengangkat kepala, “silakan keluar.”
Suasana langsung menegang.
“Nathan, kalau bukan karena kita sudah lama saling kenal, aku juga tidak akan ikut campur urusanmu,” katanya pelan. “Temanku sangat mengkhawatirkan gadis itu. Dia hanya ingin mencarikan pria yang baik… yang bisa memberinya keluarga yang layak.”
Hening.
Beberapa detik berlalu.
Nathan akhirnya menutup berkasnya.
Perlahan, ia mengangkat kepala.
Tatapannya dingin.
“Kalau begitu,” ucapnya santai, “kenapa tidak kau saja yang menikahinya?”
Pria itu terdiam.
Nathan menyandarkan tubuhnya. “Aku bahkan bisa memberimu hadiah besar,” lanjutnya tanpa ekspresi.
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???