NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 - Kembali

Gerbang besar Akademi Arvandor berdiri megah seperti biasa, menjulang tinggi dengan ukiran kuno yang tampak hidup ketika tersentuh cahaya pagi. Pola-pola yang terukir di permukaannya seolah menyimpan jejak waktu yang panjang, menjadi saksi bagi murid yang datang dengan harapan dan pergi dengan hasil yang tidak selalu sesuai keinginan. Sinar matahari menyapu permukaan batu itu dari samping, menciptakan bayangan panjang yang jatuh di jalan berbatu menuju bagian dalam, memberi kesan tenang yang menipu bagi mereka yang memahami kerasnya kehidupan di dalamnya.

Alverion Dastan berhenti beberapa langkah dari gerbang itu, tidak terburu-buru untuk melangkah masuk meskipun ia sudah berdiri cukup lama. Matanya terangkat perlahan, menatap lambang akademi yang terukir di bagian atas dengan ekspresi yang sulit dibaca, seolah mencoba mengingat sesuatu tanpa benar-benar tenggelam di dalamnya. Tempat ini pernah menjadi awal dari banyak hal dalam hidupnya, sekaligus tempat di mana ia pernah jatuh cukup dalam hingga hampir tidak memiliki alasan untuk kembali.

Angin pagi berhembus pelan, membawa aroma tanah yang masih lembap dan dedaunan dari taman dalam akademi yang terawat rapi. Suasana itu terasa sama seperti yang ia ingat, tidak banyak berubah meskipun waktu terus berjalan, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuat semua itu terasa berbeda. Perubahan itu tidak terlihat dari luar, namun cukup jelas baginya untuk disadari tanpa perlu dipikirkan terlalu dalam.

Ia akhirnya melangkah maju dengan ritme yang stabil, tidak cepat dan juga tidak ragu, seolah langkah itu sudah ia putuskan jauh sebelum berdiri di sini. Setiap pijakan terasa lebih ringan dibandingkan sebelumnya, tubuhnya bergerak dengan keseimbangan yang lebih baik, dan pikirannya tidak lagi dipenuhi keraguan yang dulu selalu muncul di tempat ini. Tidak ada dorongan untuk berhenti atau menoleh ke belakang, karena ia tahu tujuannya bukan lagi sekadar kembali.

Begitu melewati gerbang, beberapa murid yang sedang berjalan langsung melirik ke arahnya dengan reaksi yang hampir seragam. Tatapan mereka cepat, menilai dalam waktu singkat, lalu menyimpan kesan yang terbentuk dari ingatan lama yang belum sepenuhnya hilang.

“Bukankah itu Alverion?”

“Yang dulu gagal di ujian tahap dua?”

Suara bisik-bisik mulai terdengar di beberapa titik, tidak cukup keras untuk menarik perhatian semua orang, tetapi jelas terdengar bagi mereka yang berada di dekatnya. Nada yang digunakan tidak banyak berubah dari sebelumnya, masih mengandung rasa heran yang bercampur dengan penilaian yang sudah terbentuk sejak lama.

Alverion tidak menghentikan langkahnya, tidak juga mengubah arah hanya untuk menghindari perhatian yang datang. Ia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, tetapi kali ini reaksinya berbeda, karena ia tidak lagi merasa perlu menunduk atau mempercepat langkah demi menghindari tatapan orang lain. Ia berjalan seperti murid lain yang memiliki tujuan jelas, menjaga ritme tanpa terganggu oleh suara di sekitarnya.

Beberapa orang tertawa kecil saat ia lewat, sementara yang lain hanya menggelengkan kepala dengan sikap yang menunjukkan bahwa mereka tidak menganggap kehadirannya membawa perubahan berarti. Kalimat-kalimat ringan yang dilontarkan terdengar seperti kebiasaan yang belum hilang, mengalir begitu saja tanpa perlu dipikirkan.

“Dia kembali juga akhirnya.”

“Mungkin ingin mencoba lagi dan gagal lagi.”

Ucapan itu tidak lagi terasa tajam seperti dulu, karena bagi Alverion, kata-kata semacam itu tidak memiliki pengaruh yang sama. Ia tidak mengabaikan sepenuhnya, tetapi juga tidak menyimpannya sebagai sesuatu yang perlu dipikirkan lebih jauh.

Namun di antara semua itu, ada juga tatapan yang berbeda, meskipun jumlahnya tidak banyak dan mudah terlewat jika tidak diperhatikan. Seorang gadis berambut hitam panjang yang berdiri di dekat aula pelatihan menatapnya sedikit lebih lama, matanya menyipit seolah mencoba memastikan sesuatu yang tidak sesuai dengan ingatannya. Di sisi lain halaman, seorang pria bertubuh tinggi memperhatikannya tanpa berkata apa-apa, ekspresinya datar tetapi sorot matanya menunjukkan ketertarikan yang tidak biasa.

Alverion melewati mereka tanpa memberi reaksi, tidak berusaha mencari perhatian maupun menghindari pengamatan yang datang. Ia memahami bahwa perubahan tidak selalu terlihat jelas bagi semua orang, dan tidak semua orang akan langsung menyadarinya.

Beberapa akan tetap melihat masa lalu karena itu yang paling mudah diingat, sementara sebagian lain mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda meskipun belum bisa menjelaskannya. Sisanya akan memilih menunggu, mengamati tanpa terburu-buru mengambil kesimpulan.

Langkahnya membawanya ke halaman pelatihan luar, tempat para murid tingkat awal biasanya mengasah dasar kemampuan mereka. Suara benturan kayu terdengar dari berbagai arah, diselingi teriakan instruktur yang memberi arahan dengan nada tegas, menciptakan suasana yang ramai namun teratur.

Semua terlihat seperti dulu jika dilihat sekilas, tidak ada perubahan mencolok dalam tata letak maupun aktivitas yang berlangsung. Namun saat Alverion berdiri di tepi lapangan, ia merasakan sesuatu yang berbeda yang tidak berasal dari tempat itu.

Perbedaannya ada pada dirinya sendiri.

Napasnya lebih teratur, tidak lagi terburu-buru meskipun berada di tengah suasana yang padat. Pendengarannya terasa lebih peka, mampu menangkap arah langkah dan pola gerakan dari suara yang saling bertabrakan di sekitarnya. Bahkan tanpa melihat secara langsung, ia bisa memperkirakan posisi dan kecepatan beberapa murid hanya dari perubahan kecil dalam ritme suara mereka.

Lebih dari itu, ia mulai merasakan aliran energi di sekitar dengan cara yang sebelumnya tidak pernah ia alami. Tidak terlalu jelas, tetapi cukup untuk membedakan mana yang stabil dan mana yang bergejolak, memberi gambaran tentang kondisi seseorang tanpa perlu mendekat.

Alverion menggerakkan tangannya perlahan, menguji respons otot dan sendi yang kini terasa lebih ringan. Gerakan sederhana itu mengalir tanpa hambatan, menunjukkan kelenturan yang tidak ia miliki sebelumnya, serta kekuatan yang tersembunyi di balik kontrol yang lebih baik.

“Masih aneh?” sebuah suara terdengar dari samping, memotong alur pikirannya tanpa terasa mengganggu.

Alverion menoleh dan menemukan seorang pemuda bersandar pada tiang kayu dengan tangan terlipat, memperhatikannya dengan sikap santai namun penuh perhatian. Rambutnya cokelat gelap, wajahnya tenang, dan matanya menunjukkan kebiasaan mengamati lebih dari sekadar melihat.

Kaelion Vareth.

Sosok yang dulu jarang terlibat dalam keramaian, tetapi dikenal memiliki cara pandang yang berbeda dari kebanyakan orang.

Alverion mengangguk kecil, tidak berusaha menyembunyikan pengakuan yang sederhana.

“Sedikit.”

Kaelion tersenyum tipis, lalu mendorong tubuhnya dari tiang dan melangkah mendekat dengan ritme santai.

“Bukan hanya sedikit, menurutku.”

Alverion tidak langsung menjawab, memberi ruang bagi kata-kata itu untuk mengendap sejenak. Kaelion berhenti di depannya, menatap lebih serius dari sebelumnya, seolah mencoba memastikan kesan yang ia tangkap tidak keliru.

“Aku tidak tahu apa yang kamu alami di luar sana. Tapi cara kamu berdiri sekarang berbeda.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, nada suaranya lebih rendah namun jelas.

“Kamu lebih tenang.”

Alverion menatapnya tanpa mengalihkan pandangan, mempertimbangkan pertanyaan yang sebenarnya tidak ia ucapkan secara langsung.

“Apakah itu terlihat aneh?”

Kaelion menggeleng pelan, ekspresinya tetap santai tetapi jawabannya terasa jujur.

“Tidak. Itu hanya membuat orang lain tidak nyaman.”

Jawaban itu sederhana, namun cukup menjelaskan banyak hal yang Alverion rasakan sejak melangkah masuk ke dalam akademi. Ia menghela napas pelan, menyadari bahwa perubahan yang ia alami tidak hanya memengaruhi dirinya sendiri, tetapi juga cara orang lain merespons kehadirannya.

Kaelion menepuk bahunya ringan sebelum mundur, tidak berlama-lama seperti kebiasaannya.

“Hati-hati saja. Akademi ini tidak berubah. Orang-orang di dalamnya juga tidak.”

Alverion mengangguk tanpa ragu, karena ia sudah memahami hal itu bahkan sebelum percakapan ini terjadi.

Setelah Kaelion pergi, Alverion melanjutkan langkahnya menuju bagian dalam akademi, melewati koridor panjang dengan pilar-pilar tinggi yang berdiri kokoh di kedua sisi. Suara langkahnya menggema pelan di lantai batu, bercampur dengan suara percakapan dari berbagai arah yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Beberapa murid yang berpapasan masih menunjukkan ekspresi yang sama seperti sebelumnya, mengabaikan atau meremehkan tanpa banyak perubahan. Namun di antara semua itu, ia mulai melihat hal lain yang sebelumnya tidak terlalu terlihat.

Tatapan yang bertahan sedikit lebih lama.

Percakapan yang terhenti sejenak saat ia lewat.

Perubahan kecil yang tidak mencolok, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa sesuatu mulai bergeser.

Ia berhenti di depan papan pengumuman yang dipasang di dinding utama, di mana daftar peringkat murid terpampang dengan jelas. Nama-nama tersusun rapi berdasarkan pencapaian, menjadi acuan bagi siapa pun yang ingin mengetahui posisi mereka di dalam akademi.

Matanya menyapu daftar itu tanpa tergesa, tidak mencari sesuatu secara khusus, tetapi tetap memperhatikan detail yang ada. Nama Varian Zevran masih berada di posisi atas, menunjukkan bahwa kekuatannya tidak hanya sebatas reputasi.

Namun bukan itu yang menarik perhatiannya.

Ada satu nama lain yang berada lebih tinggi, lebih menonjol dibandingkan yang lain.

Eryndor Kaelis.

Alverion menatap nama itu beberapa detik lebih lama, tidak karena terkejut, tetapi karena ia memahami arti dari posisi tersebut. Nama itu sudah lama dikenal sebagai simbol kemampuan yang berada di atas rata-rata, seseorang yang selalu bergerak lebih cepat dari yang lain.

Suara langkah terdengar dari belakang, diikuti percakapan yang langsung mengarah pada nama yang sama.

“Eryndor kembali dari misi inti.”

“Aku dengar dia sudah mencapai tingkat yang tidak bisa disentuh murid biasa.”

“Bahkan para instruktur mulai memperhatikannya.”

Percakapan itu mengalir tanpa henti, menunjukkan seberapa besar pengaruh nama tersebut di antara para murid. Alverion tidak ikut berbicara, tetapi ia menyerap informasi yang ada tanpa perlu menunjukkan reaksi.

Ia sudah memahami satu hal.

Dunia tidak berhenti hanya karena seseorang mencoba bangkit.

Orang lain terus bergerak, dan beberapa di antaranya melangkah lebih jauh dalam waktu yang sama.

Alverion berbalik, meninggalkan papan itu tanpa keraguan, melangkah menuju area latihan utama yang menjadi pusat aktivitas tingkat lanjut. Semakin dekat ia ke sana, suasana semakin padat, dan energi yang terasa di udara menjadi lebih berat, menunjukkan tingkat kemampuan yang berbeda dari area sebelumnya.

Ketika ia tiba di lapangan utama, kerumunan besar sudah terbentuk mengelilingi area tengah, menciptakan lingkaran luas yang penuh perhatian. Suara benturan terdengar berulang kali, disertai dengan reaksi penonton yang mengikuti setiap gerakan di dalamnya.

Alverion berhenti di tepi kerumunan, matanya menembus celah di antara para murid yang berdiri rapat. Ia tidak perlu waktu lama untuk menemukan pusat dari perhatian itu.

Seorang pemuda berdiri di tengah lapangan dengan sikap tegak dan tenang, rambut hitam panjangnya terikat rapi di belakang. Tubuhnya tidak menunjukkan ketegangan berlebihan, tetapi aura yang ia pancarkan terasa jelas bahkan dari jarak yang cukup jauh.

Setiap gerakannya sederhana, tanpa hiasan yang tidak perlu, tetapi penuh kendali yang sulit diabaikan. Di depannya, seorang murid lain terjatuh setelah beberapa serangan singkat yang tidak memberi banyak ruang untuk bertahan.

Tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada usaha yang tampak dipaksakan, hanya efisiensi yang membuat segalanya terlihat mudah.

Eryndor Kaelis.

Nama itu kini memiliki wujud yang lebih nyata di hadapan Alverion.

Ia memperhatikan dengan saksama setiap detail, mulai dari langkah kaki hingga perubahan posisi yang terjadi dalam waktu singkat. Ada sesuatu dalam cara Eryndor bergerak yang berbeda dari yang lain, bukan hanya soal kekuatan, tetapi pemahaman yang terasa lebih dalam.

Seolah ia tidak hanya bereaksi terhadap apa yang terjadi, tetapi sudah mengetahui arah pertarungan sebelum lawannya bergerak sepenuhnya.

Eryndor menurunkan tangannya setelah lawannya menyerah, dan kerumunan langsung riuh dengan berbagai reaksi yang muncul. Pujian, kekaguman, dan bahkan rasa tertekan bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang hidup di sekitar lapangan.

Namun di tengah semua itu, Eryndor tidak menunjukkan ekspresi berlebihan, tetap berdiri dengan sikap yang sama seolah semua itu sudah biasa baginya.

Lalu tanpa peringatan, ia mengangkat kepalanya sedikit.

Tatapannya bergerak melewati kerumunan.

Dan berhenti.

Langsung pada Alverion.

Jarak di antara mereka tidak dekat, tetapi tatapan itu terasa jelas tanpa terhalang oleh siapa pun yang berdiri di antara mereka. Beberapa detik berlalu dalam diam, sementara suara di sekitar seakan meredup bagi Alverion.

Ia menatap balik tanpa menghindar, tidak juga menunjukkan sikap menantang, hanya menerima tatapan itu apa adanya. Ada sesuatu dalam sorot mata Eryndor yang sulit dijelaskan, antara pengakuan kecil dan rasa ingin tahu yang tidak sepenuhnya disembunyikan.

Momen itu tidak berlangsung lama, tetapi cukup untuk meninggalkan kesan yang jelas.

Eryndor akhirnya mengalihkan pandangannya dan berbalik, meninggalkan lapangan dengan langkah yang tetap tenang. Kerumunan langsung terbuka memberi jalan, seolah tanpa sadar mengakui posisinya tanpa perlu diperintah.

Alverion tetap berdiri di tempatnya, membiarkan napasnya tetap teratur meskipun pikirannya bergerak lebih cepat. Ia telah berubah, itu tidak bisa disangkal, tetapi dunia di sekitarnya juga terus berkembang tanpa menunggu siapa pun.

Di hadapannya sekarang, ada seseorang yang berdiri di puncak yang lebih tinggi dari yang ia bayangkan sebelumnya.

Perlahan, sudut bibir Alverion terangkat tipis, bukan karena merasa menang, tetapi karena memahami arah yang harus ia tempuh selanjutnya. Perjalanan ini belum mencapai bagian akhirnya, justru mulai memasuki tahap yang lebih menuntut dari sebelumnya.

Di antara banyak nama yang ada, satu nama kini berdiri jelas sebagai tujuan yang tidak bisa diabaikan.

Eryndor Kaelis.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!