Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 18
Ruang kerja virtual di Villa Karang Putih berubah menjadi pusat komando taktis dalam hitungan jam.
"Hentikan semua upaya take-down artikel itu, Marco. Biarkan saja bertengger di halaman utama pencarian."
Suara Dylan menggema tajam dan berwibawa melalui pengeras suara. Pria itu berdiri di dekat jendela kaca, melipat tangan di dada sambil menatap Yvone yang sedang menata draf-draf render 3D di layar monitor besar.
Di ujung telepon, Marco terdiam selama tiga detik penuh. "Bos? Anda yakin? Tim cyber kita baru saja berhasil menembus server mereka. Tabloid itu sedang mendapat traffic gila-gilaan karena para buzzer politik bayaran Nadia terus membagikan tautannya."
"Aku bilang, biarkan," ulang Dylan, sebuah seringai predator terbentuk di sudut bibirnya. Matanya tak lepas dari sosok istrinya yang tampak begitu fokus dan memukau. "Ketika kau ingin menghancurkan musuh, kau tidak memotong lidahnya saat dia berbicara. Kau membiarkannya berteriak sekeras mungkin, lalu membuktikan bahwa dia hanyalah orang bodoh yang membual. Siapkan koneksi satelit dengan Helena dari Arsitektur & Desain Asia. Kita akan mengalihkan panggungnya siang ini."
"Baik, Bos. Saya mengerti sekarang. Ini manuver yang brilian. Saya akan memastikan semua pimpinan redaksi media bisnis arus utama mendapat tautan wawancara Nyonya nanti sore." Sambungan ditutup.
Yvone menoleh, menghela napas panjang. "Helena Lim. Dia adalah pemimpin redaksi yang paling ditakuti di dunia arsitektur Asia. Dia terkenal dengan pertanyaannya yang menguliti narasumber."
"Kau takut?" Dylan melangkah mendekat, berhenti tepat di belakang kursi Yvone.
"Aku lebih takut melihat ayahku ditarik kembali ke kandang singa," jawab Yvone mantap. Ia mendongak, menatap suaminya dengan mata yang menyala oleh tekad. "Aku hanya butuh pakaian yang tepat."
Tiba-tiba, tablet Yvone berdering karena panggilan video masuk. Nama Tara berkedip di layar.
Begitu panggilan diterima, wajah ceria sekaligus panik Tara memenuhi layar. "Oh, astaga! Aku baru saja mendengar dari Marco! Kau mau maju head-to-head dengan kampanye hitam Sinta dan Nadia?! Yvone, aku bisa mencium kakimu sekarang juga! Kakakku akhirnya menemukan wanita yang punya tulang punggung!"
Dylan memutar bola matanya. "Tara, fokus."
"Ugh, dasar Kanebo kering," gerutu Tara pada kakaknya, lalu kembali menatap Yvone dengan mata berbinar. "Oke, Sayang. Dengarkan aku. Kau akan melakukan wawancara eksklusif yang akan ditonton oleh elit sosial dan bisnis. Jangan pakai kemeja kerja biasa, itu akan membuatmu terlihat seperti bawahan Dylan. Tapi jangan pakai gaun malam, itu membuatmu terlihat seperti istri trofi. Kau harus terlihat setara."
"Lalu aku harus pakai apa?" Yvone melirik lemarinya dengan putus asa.
"Pakai blazer dress tanpa lengan warna putih gading," instruksi Tara cepat. "Rambutmu ikat low ponytail dengan belahan tengah yang tegas. Riasan matte, eyeliner tajam, dan lipstik nude. Dan yang paling penting... pakai kalung berlian zamrud yang Dylan berikan di acara amal waktu itu. Itu akan mengirimkan pesan: 'Ya, aku istri miliarder, tapi aku juga wanita karir yang akan melibas kalian'."
Yvone tersenyum lebar. "Tara, kau jenius."
Pukul 14.00 WITA.
Kamera web berkualitas tinggi menyala. Di layar monitor, wajah Helena Lim seorang wanita paruh baya dengan kacamata cat-eye merah yang ikonik dan tatapan tajam muncul dari kantor pusat majalahnya di Singapura.
Yvone duduk tegak di sofa, berpenampilan persis seperti instruksi Tara. Ia memancarkan aura keanggunan yang mengintimidasi sekaligus kecerdasan yang tak bisa dibantah. Di luar jangkauan kamera, Dylan duduk di kursi sudut, menyilangkan kaki, bertindak sebagai penonton sekaligus pelindung bayangan istrinya.
"Selamat siang, Nyonya Hartono. Atau haruskah saya memanggil Anda, Desainer Larasati?" Helena memulai wawancara, nada suaranya netral namun sarat akan ujian.
"Selamat siang, Helena. Panggil saya Yvone," jawab Yvone dengan senyum profesional yang rileks.
"Saya orang yang to-the-point, Yvone," Helena menyandarkan tubuhnya. "Pagi ini, nama Anda meledak di media gosip Jakarta. Seorang pemuda yang mengklaim sebagai mantan kekasih Anda mengatakan bahwa Anda adalah... mari kita gunakan bahasa halusnya, seorang oportunis yang menumpang nama Alexander Group. Namun siang ini, PR Alexander Group menghubungi saya dan mengatakan Anda memegang kunci untuk mega-proyek Uluwatu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?"
Yvone mempertahankan senyumnya, tidak sedikit pun terlihat goyah oleh sebutan kasar itu. Di sudut ruangan, rahang Dylan mengeras mendengar Helena mengulangi fitnah Kevin, namun Yvone memberikan isyarat tangan kecil agar suaminya tetap tenang.
"Publik memang menyukai drama romansa tragis, Helena," Yvone menjawab dengan artikulasi yang sempurna. "Namun saya seorang desainer. Saya tidak membuang waktu untuk menanggapi drama. Saya lebih suka menjawab dengan karya."
Yvone menekan tombol di tabletnya, membagikan layarnya ke layar Helena. Gambar render 3D resor Uluwatu muncul memperlihatkan integrasi luar biasa antara tebing batu kapur, vila-vila beratap alang-alang organik, dan lobi terbuka bersirkulasi angin laut.
Mata Helena di balik kacamata merahnya sedikit melebar.
"Selama berminggu-minggu, terjadi perdebatan alot antara pengembang dan dewan adat Bali," Yvone menjelaskan, suaranya mengalir penuh passion. "Alexander Group hampir memaksakan struktur beton yang akan merusak garis horizon Uluwatu. Sebagai kepala desainer interior yang kini memimpin proyek ini, saya merombak visi tersebut. Ini adalah pendekatan eco-luxury transisional. Kita tidak meratakan alam, kita menyesuaikan diri dengannya. Saya menggunakan kayu ulin daur ulang dan marmer matte agar cahaya matahari tidak memantul menyilaukan."
Helena terdiam selama beberapa detik, mengamati detail gambar tersebut dengan mata kritisnya. "Ini... ini sangat brilian. Ini mematahkan stereotip desain Alexander Group yang biasanya kaku dan industrialis. Apakah ini murni gagasan Anda?"
"Gagasan saya yang didukung penuh oleh infrastruktur suami saya," Yvone tersenyum manis. "Dan kebetulan, saya juga sedang mengaplikasikan filosofi organik yang sama untuk proyek kolaborasi independen saya dengan biro arsitektur Rangga Susilo di Senopati. Bukankah begitu cara kerja dunia profesional, Helena? Kita dinilai dari apa yang bisa kita ciptakan, bukan dari gosip masa lalu yang ditebarkan oleh pihak yang merasa tidak aman."
Itu dia. Skakmat.
Yvone tidak hanya membuktikan kejeniusannya, tapi ia juga secara elegan menampar Kevin Pratama (pihak yang 'merasa tidak aman') dan meresmikan kerja samanya dengan Rangga Susilo, memberikan dirinya validasi ganda dari dua mega-proyek berbeda.
Helena Lim tertawa pelan, sebuah pemandangan langka di dunia jurnalistik. "Anda memiliki lidah yang tajam dan tangan yang ajaib, Yvone Larasati. Alexander Group sangat beruntung Anda tidak bekerja untuk kompetitor mereka."
"Saya memastikan suami saya menyadari fakta itu setiap hari, Helena," kelakar Yvone, yang memancing senyum tipis, sangat tipis, dari Dylan di sudut ruangan.
Wawancara itu berlangsung selama tiga puluh menit. Saat sambungan akhirnya diputus, Yvone membuang napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Tubuhnya merosot sedikit ke sofa, kakinya yang memakai stiletto terasa gemetar.
Suara tepuk tangan pelan bergema di ruangan. Dylan berjalan mendekat, matanya memancarkan rasa bangga yang luar biasa.
"Itu tadi... berbahaya," bisik Dylan, berhenti di hadapan Yvone. "Kau baru saja mempesona naga paling galak di industri media."
Yvone mendongak, tersenyum lelah namun puas. "Apakah aku melakukan kesalahan?"
Dylan membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran lengan sofa yang diduduki Yvone, mengurung wanita itu. "Kau tidak melakukan satu pun kesalahan. Kau sempurna. Kau baru saja membalikkan seluruh papan catur Nadia."
Pukul 17.00 WITA.
Dampak dari wawancara itu bagaikan tsunami. Majalah Arsitektur & Desain Asia mempublikasikan wawancara eksklusif tersebut dalam format video dan artikel mendalam.
Hanya dalam waktu dua jam, narasi di media sosial berputar seratus delapan puluh derajat. Kutipan Yvone, "Saya tidak membuang waktu menanggapi drama, saya menjawab dengan karya," menjadi trending topic.
Para profesional, arsitek, dan kalangan kelas menengah ke atas yang merupakan demografi penting bagi elit politik berbalik mendukung Yvone. Gambar-gambar desain resor Uluwatu memukau publik. Tiba-tiba, artikel Kevin di tabloid kuning itu terlihat persis seperti yang Yvone katakan: ocehan murahan dari mantan pacar yang cemburu karena ditinggalkan oleh wanita karir yang brilian.
Telepon Dylan berdering tanpa henti. Saat pria itu mengangkat telepon kesekian, Yvone bisa mendengar tawa seorang wanita dari seberang sana. Itu Bu Rina.
"Dylan! Istrimu benar-benar bintang!" Suara Wakil Gubernur Bali itu terdengar sangat puas. "Aku baru saja melihat wawancara itu. Dewan adat menghubungiku lima menit yang lalu. Mereka merestui desain istrimu. Izin AMDAL Alexander Group akan kutandatangani besok pagi. Menteri Hadi bisa menelan ludahnya sendiri!"
"Terima kasih, Bu Rina," jawab Dylan, matanya menatap Yvone yang sedang berdiri di dekat kolam renang dengan perasaan takjub. "Saya akan pastikan istri saya mendapat bonus yang pantas untuk ini."
Setelah menutup telepon, Dylan melangkah keluar menuju tepi kolam infinity. Angin sore membelai wajah mereka. Matahari mulai turun, mewarnai langit dengan semburat jingga dan ungu yang memabukkan.
Yvone berdiri memeluk dirinya sendiri, menatap lautan luas. Adrenalin yang membakar darahnya seharian ini mulai memudar, digantikan oleh rasa lega yang membanjiri dadanya. Ia berhasil. Ia melindungi ayahnya. Ia melindungi Dylan.
"Kevin pasti sedang bersembunyi di bawah batu sekarang," gumam Yvone saat Dylan berdiri di sampingnya.
"Kevin sudah tamat," Dylan membalas dengan nada mematikan yang santai. "Investor startup-nya menarik dana mereka siang ini. Tidak ada yang mau berbisnis dengan pria yang menyebar fitnah murahan tentang Nyonya Alexander Group. Dan Nadia... dia baru saja kehilangan tuas penekannya terhadap Bu Rina."
Dylan menoleh, menatap profil samping istrinya. Sinar keemasan matahari terbenam memantul di wajah Yvone, membuatnya terlihat seperti dewi yang turun dari langit.
Pria itu meletakkan tangannya di pinggang Yvone, menarik wanita itu perlahan hingga punggung Yvone menempel di dada bidangnya. Yvone tidak menolak, ia menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya, menikmati hawa panas yang mengalir dari tubuh pria itu.
"Kau menyelamatkan proyekku hari ini," bisik Dylan tepat di telinga Yvone, nada suaranya berubah menjadi serak dan intim. "Kau maju ke garis depan dan menjadikan dirimu tameng untukku. Belum pernah ada... tidak ada satu orang pun yang pernah melakukan itu untukku sejak aku masih kecil."
Yvone memutar tubuhnya di dalam pelukan Dylan. Tangannya terangkat, melingkar di leher pria itu. Ia menatap lurus ke dalam manik mata yang biasanya kelam dan dingin itu, yang kini dipenuhi oleh kehangatan dan sesuatu yang menyerupai... pemujaan.
"Kau bilang kita adalah satu tim," bisik Yvone, hidung mereka nyaris bersentuhan. "Kau melindungiku dari monster-monster di luar sana dengan uang dan kekuasaanmu. Izinkan aku melindungimu dengan cara yang aku bisa, Dylan."
Napas Dylan tertahan. Kata-kata itu lebih kuat daripada dokumen kontrak apa pun.
Rahang pria itu mengeras, namun kali ini bukan karena amarah. Pandangannya turun ke bibir Yvone yang terbuka mengundang.
"Yvone..." geram Dylan rendah, memangkas sisa jarak di antara mereka.
Bibir mereka bertaut. Kali ini tidak ada kepanikan, tidak ada badai yang menyela. Ciuman itu dimulai dengan lambat dan penuh perasaan, mengecap kemenangan manis yang mereka raih bersama.
Tangan Dylan merengkuh pinggang Yvone semakin erat, seolah ingin menyatukan tubuh wanita itu dengan tubuhnya sendiri. Ciuman yang awalnya lembut itu dengan cepat berubah menjadi liar dan penuh tuntutan. Lidah Dylan menyapu bibir Yvone, mencari akses dan memperdalam ciuman mereka hingga Yvone harus berjinjit dan mencengkeram kemeja pria itu agar tidak jatuh.
Sensasi memabukkan itu membuat pikiran Yvone kosong. Yang ada hanyalah Dylan. Aroma pria itu, rasa peppermint dan kopi di bibirnya, serta dominasi posesif yang kini terasa sangat aman.
Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Dylan mengangkat tubuh Yvone dengan mudah. Yvone memekik tertahan di sela-sela ciuman mereka, secara insting melingkarkan kedua kakinya di pinggang kokoh suaminya.
Dylan membawa Yvone berjalan menjauhi kolam renang, melangkah pasti masuk ke dalam vila, menendang pintu kaca hingga tertutup di belakang mereka.