NovelToon NovelToon
Adikku Sayang Adikku Malang

Adikku Sayang Adikku Malang

Status: tamat
Genre:Fanfic / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:624.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: DN YM

"Adek itu penerang hidup kami semua. Mas janji, Mas akan melakukan cara apapun agar Adek bisa sembuh dari kanker. Mas janji, Sayang."

Apalah daya jika janji yang terucap, akan terkalahkan jua oleh takdir yang mutlak. Manusia memang punya rencana, tapi tetap Tuhan yang mengambil kendali dalam segalanya.

Berurai air mata, Ammar berusaha menenangkan sang adik tersayang. Ditemani Sadha dan Dhana yang tak kalah sedih melihat kesedihan sang adik. Dhina menatap ketiga masnya dengan mata yang sembab. Tak menyangka akan hal yang kini terjadi pada dirinya, membuatnya takut, suatu saat nanti penyakit mematikan itu akan merenggut nyawanya.

Ammar, Sadha dan Dhana pun tak kalah terpukul akan kabar buruk yang menimpa sang adik. Takut, khawatir, dan sedih semuanya bercampur aduk. Membuat ketiganya harus tetap kuat dan tegar menerima semua ini, demi sang adik dan kedua orang tua mereka yang tak kalah lebih terpukul.

Akankah Dhina bisa sembuh dari sakitnya?

Apakah Dhina sanggup melewati semua ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DN YM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14 ~ Ketidakpekaan Dhina

...🍁🍁🍁...

Dhana dan Dhina sudah berada di kamar masing-masing. Tapi tidak ada di antara mereka yang tertidur di dalam sana. Sejak masuk ke kamar, Dhana masih saja memikirkan kejadian tadi pagi. Kejadian Dhina pingsan tadi tidak bisa hilang di kepalanya. Sedangkan Dhina masih asyik bermain ponsel dan chatting dengan seseorang.

Dunia chatting :

"Aku kangen sekali sama kamu, Dhina." ucap orang yang sedang chatting dengan Dhina.

"Aku juga. Kamu di mana sekarang?" tanya Dhina pada orang itu sambil tersenyum.

"Aku di Jakarta. Maaf ya tidak memberi kamu kabar." jawab orang itu.

"Apa? Kamu di Jakarta? Sedang apa?" tanya Dhina dengan bersemangat pada orang itu.

"Aku mendapat panggilan kerja di sini, makanya aku ke Jakarta. Sudah dua hari tapi aku lupa memberitahu kamu." jelas orang itu dan membuat Dhina sedikit kesal.

"Dasar ya kamu! Jahat sekali. Kita sering chatting, tapi masih bisa lupa memberitahu aku." ujar Dhina dengan nada ketus.

"Iya, iya maaf. Bagaimana kalau kita quality time? Kita sudah lama juga tidak mengobrol manja, bukan?" ujar orang itu dan membuat Dhina bersemangat.

"Boleh juga. Sore ini saja kita bertemu. Lagi pula aku bosan di rumah seharian. Nanti aku share lokasinya. Bagaimana?" ujar Dhina yang antusias.

"Oke. Aku tunggu ya. Sampai bertemu nanti sore, Sayangku." jawab orang itu.

Chating mereka pun berakhir setelah Dhina share lokasi pertemuan mereka nanti.

Dhina sangat senang mendapat kabar kalau orang itu sekarang ada di Jakarta. Ia akan bertemu dengan orang itu nanti sore. Dhina pun tidak jadi tidur dan malah beranjak dari kamarnya karena semangat ingin bertemu orang itu. Lalu ia turun ke lantai bawah untuk menunggu waktu itu tiba.

***

Hari pun semakin siang, siang menjelang sore. Kini Ammar sudah pulang dari rumah sakit karena jam dinasnya sudah selesai. Ammar langsung masuk ke dalam rumah dengan wajah yang tidak bersemangat. Ekspresinya kali ini menggambarkan rasa khawatir yang begitu besar terhadap adik perempuannya. Dhina yang melihat Ammar baru masuk rumah pun menghampirinya.

"Assalamualaikum, Mas." ucap Dhina sambil menyalami mas sulungnya itu.

"Wa'alaikumsalam, Dek. Adek mengagetkan Mas saja." jawab Ammar yang berjalan sambil melamun dan membalas salaman Dhina.

"Bukan Adek yang mengagetkan Mas, tapi Mas Ammar yang melamun. Kenapa Mas? Mas ada masalah." ujar Dhina yang bertanya pada Ammar.

*I*ya, Dek. Mas kepikiran dengan tisu berdarah yang ada di kamar Adek. Ingin rasanya Mas menanyakan itu pada Adek. Tapi Mas yakin, Adek tidak akan jujur. Gumam Ammar dalam hati.

"Mas... Mas Ammar... Mas." sapa Dhina yang melambaikan tangannya di depan wajah mas sulungnya itu.

Tidak ada respon dari Ammar dan membuat Dhina jengah.

"Mas..." pekik Dhina yang menepuk bahu Ammar sambil meloncat karena lambaian tangannya pun tidak mampu menyadarkan Ammar.

"Iya Dek. Mas melamun lagi, maaf ya. Mungkin karena Mas banyak pekerjaan di rumah sakit, makanya sekarang lelah sekali. Mas ke atas dulu ya." ujar Ammar seraya mengusap kepala Dhina dan berlalu pergi.

Melihat sikap Ammar yang cukup aneh membuat Dhina merasa heran. Biasanya Ammar selalu pulang dengan ceria dan semangat. Tapi kali ini, Ammar berbeda sekali. Pikiran Ammar masih berada di ruangan labor saat ia hendak memberikan tisu berdarah itu pada suster. Ammar memilih masuk ke kamarnya untuk mandi dan istirahat sebentar. Sedangkan Dhina yang melihat jam pun langsung berlari ke kamarnya untuk siap-siap.

***

Tidak lama kemudian, Ammar pun keluar lagi dari kamarnya. Berniat ingin ke bawah dan mengambil minuman segar yang ada di dalam kulkas. Saat Ammar keluar, secara bersamaan Dhana juga keluar dari kamarnya.

"Mas Ammar sudah pulang?" sapa Dhana yang menghampiri dan menyalami mas sulungnya itu.

"Sudah, Dhana. Mas baru selesai mandi, mau ke bawah ambil minum." jawab Ammar sambil membalas salaman adik kembar lelakinya itu.

"Dhana juga mau ke bawah karena tiba-tiba lapar, Mas." ujar Dhana yang tertawa seraya melihat ke arah Ammar.

"Kamu ini sama saja dengan Adek, hobinya makan. Ya sudah, ayo ke bawah." jawab Ammar seraya mengacak rambut Dhana.

"Namanya juga kembar. Ayo, Mas." ujar Dhana yang tertawa dan bersemangat mengajak Ammar ke bawah.

Saat berjalan ke lantai bawah, Dhana ingin memberitahu mas sulungnya itu tentang kejadian tadi. Tapi karena sudah terlanjur janji pada Dhina, mau tidak mau Dhana harus menepati janji itu.

Apa aku beritahu Mas Ammar saja ya tentang Adek pingsan tadi? Tapi aku sudah terlanjur janji sama Adek. Salah sendiri sih terlalu tidak tega sama bocah itu. Gumam Dhana dalam hati .

Sedangkan Ammar, sebenarnya ia juga ingin memberitahu Dhana ataupun Sadha tentang tisu yang ia temukan tadi. Tapi karena hasil dari pemeriksaan tisu itu belum keluar. Jadi Ammar pun kembali mengurungkan niatnya sampai hasilnya keluar besok pagi.

Ingin sekali aku cerita pada Dhana atau pun Sadha. Tapi lebih baik aku lihat dulu hasilnya besok, baru setelah aku memberitahu semuanya. Kalau aku kasih tau sekarang, ternyata itu bukan tisu Adek. Bisa kacau. Gumam Ammar dalam hati.

Saat mereka berdua berjalan menuruni tangga dan sibuk dengan isi pikiran masing-masing. Tiba-tiba dari arah belakang Dhina datang dan mengagetkan keduanya.

"Lagi pada memikirkan apa sih?" ujar Dhina yang mengagetkan kedua masnya itu.

"Ya ampun, Dek. Untung tidak langsung loncat ke bawah. Memang usilnya tidak hilang ya nih anak." jawab Ammar yang menjewer telinga Dhina karena usil.

"Ampun Mas, ampun... Adek minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi, please." ujar Dhina sambil memohon pada Ammar.

"Sekarang minta maaf, nanti usil lagi. Jewer saja Mas." timpal Dhana yang tertawa sambil mengompori mas sulungnya itu.

"Mas Dhana kompor gas sekali sih. Ampun Mas, lepas ya. Adek sedang buru-buru nih." jawab Dhina pada Dhana dan membuat Ammar melepaskan tangannya.

"Buru-buru? Adek mau ke mana?" tanya Ammar yang menarik tangan Dhina agar cepat sampai di lantai bawah.

"Adek mau ketemu Uci, Mas. Dia ada di Jakarta sekarang. Adek sudah janjian sama dia." jawab Dhina yang ternyata ingin bertemu dengan Uci.

Uci... nama lengkapnya Uci Dwi Anggraini. Seorang wanita cantik, putih, pintar, namun sedikit pemalu adalah sahabat dekat Dhina sejak awal masuk kampus. Mereka bertemu saat pendaftaran ulang dan wawancara beasiswa yang sama saat itu. Merasa cocok, mereka pun berteman. Tanpa di sadari, persahabatan mereka menjadi semakin dekat. Karena sering bersama, jurusan yang sama, satu kelas yang sama, konsentrasi yang sama, asrama yang sama, bahkan setelah masa asrama habis mereka pun mengontrak bersama.

Mereka sering dipanggil Upin dan Ipin oleh teman yang lain karena melakukan apapun selalu berdua dan pergi kemana pun selalu berdua. Uci anak kedua di dalam keluarganya. Ia mempunyai seorang kakak laki-laki dan satu adik perempuan. Sekilas tentang uci.

"Adek pergi sama siapa? Janji di mana?" tanya Ammar yang menatap ke arah Dhina.

"Adek naik taksi online saja. Adek pergi dulu ya Mas. Assalamualaikum." jawab Dhina yang buru-buru namun dicegah oleh Dhana.

"Adek pergi sendiri? Lebih baik Mas antar ya. Nanti kalau pulangnya malam bagaimana?" ujar Dhana yang mengetahui kondisi Dhina saat ini.

"Tidak usah, Mas. Adek sendiri saja ya." jawab Dhina seraya meraih tangan Dhana yang memegang tangannya.

"Tapi, Dek..."

"Biar Mas yang antar! Jangan menolak dan jangan bandel! Mas kebetulan sudah mandi, tunggu sebentar Mas ambil jaket dulu." titah Ammar dengan tegas pada Dhina.

Dhina pun hanya diam dan tidak berani menjawab perkataan Ammar lagi. Dhina sangat tau kalau Ammar sudah bicara seperti itu, maka tidak ada yang boleh membantahnya.

Untung ada Mas Ammar. Khawatir juga kalau membiarkan anak ini pergi sendiri. Apalagi setelah pingsan. Gumam Dhana dalam hati.

"Sudahlah, Dek. Ikuti saja kata Mas Ammar. Mas Ammar seperti itu karena hari sudah sore, nanti kalau pulangnya malam bagaimana?" ujar Dhana yang berusaha menenangkan Dhina.

Dhina hanya diam mendengar perkataan Dhana. Lalu...

"Lagi pula tadi Adek habis pingsan. Adek lupa ya? Nanti kalau tiba-tiba pingsan lagi bagaimana?" ujar Dhana yang berbisik di telinga Dhina.

Dhina yang tadinya diam langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Dhana.

"Iya, ya Mas. Adek lupa." jawab Dhina yang mengangkat kepalanya dan menatap Dhana.

"Tadi Mas sempat menawarkan diri, karena itu. Tapi Adek tidak peka. Jadinya Mas Ammar yang mengantar Adek." jelas Dhana yang ikut duduk di samping Dhina.

Dhina pun menyesal setelah mendengar perkataan Dhana. Ia tidak peka terhadap isyarat yang diberikan oleh mas kembarnya itu. Akhirnya kini ia harus pergi bersama Ammar. Saat sedang asyik bicara dengan Dhana, Ammar pun kembali dari kamar dengan penampilan yang begitu cool. Dhina yang melihat Ammar tidak mampu mengedipkan matanya dan kemudian tertawa.

"Mas Ammar mau ke mana?" ujar Dhina yang tertawa melihat penampilan mas sulungnya.

"Mau menemani Adek pergi. Ayo, tadi katanya buru-buru." jawab Ammar seraya merapihkan lengan jaket levisnya itu.

"Adek yang ingin bertemu temannya saja tidak serapih itu, Mas." timpal Dhana yang tertawa dan menggoda Ammar.

"Apaan sih! Teman Adek itu cewek. Jadi harus rapih dan harus jaga penampilan di depan temannya Adek." jawab Ammar yang percaya diri dengan penampilannya.

"Jangan sampai suka sama teman Adek ya, Mas. Nanti Kak Ibel mau diapakan?" ujar Dhina sambil menggoda Ammar balik.

"Tidak, tenang saja. Mas hanya ingin menjaga penampilan saja di depan teman Adek." jawab Ammar yang melihat ke arah si kembar secara bergantian.

"Ya sudah, lebih baik kalian pergi sekarang. Jangan terlalu malam pulangnya ya." ujar Dhana yang melihat ke arah Dhina dan Ammar sambil berjalan menuju teras.

"Kita pamit ya, Mas. Tolong bilang sama Ayah dan Ibu. Assalamualaikum." ujar Dhina yang bersalaman pada Dhana dan langsung masuk mobil Ammar.

"Mas antar bocah cantik ini dulu ya, Dhana. Assalamualaikum." timpal Ammar seraya membalas salaman Dhana.

Dhana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya. Lalu...

"Wa'alaikumsalam, hati-hati." pekik Dhana dari dalam sedangkan Ammar dan Dhina sudah pergi.

Mendengar Dhana menjawab salam dengan begitu keras membuat Pak Aidi keluar dari kamarnya. Pak Aidi mengira ada orang yang datang ke rumahnya. Tapi Pak Aidi hanya melihat Dhana yang berdiri di depan pintu. Saat Dhana ingin beranjak masuk, ia melihat Pak Aidi menghampirinya.

"Ayah..."

"Kamu menjawab salam siapa Nak?" ujar Pak Aidi yang sudah berdiri di depan pintu dan melihat sekitar.

"Itu Mas Ammar sama Adek pergi keluar sebentar, Yah." jawab Dhana yang menunjuk ke arah mobil Ammar yang sudah pergi.

"Mereka pergi ke mana? Kenapa tidak pamit dulu?" tanya sang ayah dan membuat Dhana bingung akan jawab apa.

"Tadi Adek mau pamit, tapi karena dia buru-buru jadi pamitnya sama Dhana saja, Yah." jelas Dhana yang berusaha membuat sang ayah percaya.

"Iya, iya tidak masalah. Wajah kamu jangan tegang seperti itu dong. Ayah sempat dengar kok tadi saat Adek minta tolong pamitan sama kamu." ujar Pak Aidi sambil tertawa karena melihat ekspresi Dhana yang mulai takut.

"Ayah membuat Dhana takut saja. Ibu di mana Yah?" jawab Dhana yang merasa lega dan bertanya keberadaan Bu Aini.

"Ibu kamu lagi mandi. Oh iya, lusa kalian ada acara tidak?" ujar Pak Aidi yang duduk di ruang keluarga.

"Lusa? Sepertinya tidak ada, Yah. Kalau besok ada, Dhana ingin pergi ke cafe." jawab Dhana yang juga ikut duduk sambil menyalakan TV.

"Kalau Ammar dan Sadha bagaimana?" tanya Pak Aidi lagi pada Dhana dan membuat Dhana bingung.

"Dhana tidak tau, Yah. Memang ada apa Ayah? Lusa itu belum weekend loh, masa mau pergi liburan lagi sih." ujar Dhana yang melihat ke arah sang ayah.

"Bukan weekend tapi ada undangan dari kantor Ayah untuk seluruh anggota keluarga pegawai yang bekerja di sana, termasuk Ayah. Undangannya untuk kita satu keluarga." jelas Pak Aidi pada Dhana.

"Undangan? Ada acara apa Yah? Ibu ikut juga?" tanya Dhana yang mengeryitkan dahinya.

"Acara open office. Kantor Ayah habis renovasi. Jadi diadakan acara ini untuk seluruh anggota keluarga pegawai. Ibumu pastinya ikut untuk mendampingi Ayah." jawab Pak Aidi dan membuat Dhana mengangguk tanda mengerti.

Saat Dhana dan Pak Aidi sedang membicarakan acara yang diadakan oleh kantor dinas Pak Aidi. Dari luar, terdengar suara mobil yang datang. Ternyata itu mobil Sadha yang baru pulang dari kantor. Setelah memarkirkan mobilnya, Sadha langsung masuk dan mencari Dhina.

"Assalamualaikum. Adek... Adek..." pekik Sadha yang masuk ke dalam rumah dan berlari kecil.

Melihat Sadha yang baru pulang dan mencari Dhina, membuat Dhana dan Pak Aidi merasa heran. Lalu mereka langsung menghampiri Sadha.

"Wa'alaikumsalam, Nak. Kamu kenapa? Baru sampai rumah sudah teriak memanggil Adek kamu?" ujar sang ayah yang heran melihat tingkah Sadha.

"Wa'alaikumsalam. Mas Sadha kenapa memanggil Adek?" timpal Dhana yang juga semakin heran.

"Ayah, Dhana... Adek di mana?" tanya Sadha sambil menyalami ayahnya dan membalas salaman Dhana.

"Adek tidak ada di rumah, Mas. Adek sedang keluar karena ingin bertemu dengan teman kuliahnya." jawab Dhana yang berjalan ke ruang keluarga.

"Pergi? Ke mana? Sendirian saja?" tanya Sadha bertubi-tubi pada Dhana karena marasa khawatir pada Dhina sambil mengikuti Dhana.

"Adek kamu pergi bersama Ammar, Nak. Kamu kenapa khawatir sekali? Memang Adek kenapa sampai membuat kamu seperti ini?" ujar Pak Aidi yang semakin penasaran.

Sadha pun tersentak dengan tingkahnya sendiri. Rasa cemas yang menyelimuti hatinya membuat pikirannya kalut dan berakhir ceroboh seperti ini hingga membuat Pak Aidi dan Dhana heran melihatnya.

Aku kenapa ceroboh sekali. Ayah jadi bertanya aneh-aneh 'kan jadinya. Sadha... Sadha... kalau bertindak itu berpikir dulu. Jangan terlalu panik karena Adek tidak apa-apa. Tenang Sadha, tenang.... Gumam Sadha dalam hati.

Sementara Sadha yang terdiam, Dhana pun juga ikut terdiam dan asyik berkutat dengan pikirannya sendiri.

Mas Sadha kenapa ya? Kenapa dia khawatir seperti ini sama Adek? Apa yang Mas Sadha ketahui saat ini? Apa ada hubungannya dengan kejadian adek pingsan tadi. Gumam Dhana dalam hati.

"Kenapa kalian diam saja? Kalian sedang memikirkan apa?" ujar Pak Aidi yang mulai curiga dengan kedua putranya.

"T-tidak Ayah. Tidak ada apa-apa. Tadi Sadha berencana ingin mengajak Adek beli martabak telur di depan sana." jawab Sadha asal dan berusaha membuat Pak Aidi percaya.

"Kamu yakin hanya itu?" tanya Pak Aidi lagi dan berusaha menatap mata Sadha untuk mencari jawaban di mata putranya itu.

"Iya, Ayah. Tadi Sadha teriak karena terbawa semangat saja ingin mengajak Adek, ternyata orangnya tidak ada di rumah." jawab Sadha yang berusaha tenang.

"Ya sudah, kalau begitu. Kamu lebih baik mandi, setelah itu salat ashar dan istirahat. Ayah ingin ke taman samping dulu." ujar Pak Aidi yang mengusap bahu Sadha dan pergi ke taman samping rumahnya.

"Siap Ayah." jawab Sadha yang hormat dan ingin pergi ke lantai atas.

Saat Sadha ingin berjalan menaiki tangga, tiba-tiba Dhana meraih tangan Sadha.

"Mas Sadha..."

"Kenapa Dhana?" tanya Sadha yang membalikkan tubuhnya.

"Mas yakin mencari Adek hanya karena ingin mengajak dia beli martabak telur? Apakah ada hal lain, Seperti kondisi kesehatan Adek?"

Dhana yang memegangi tangan Sadha pun menatap tajam mas tengahnya itu. Sementara Sadha, ia terdiam saat mendengar pertanyaan Dhana yang tiba-tiba mengintrogasi dirinya.

Apa yang dipikirkan Dhana? Kenapa dia bisa bicara seperti itu? Apakah dia sudah tau kondisi Adek? Atau dia juga sudah melihat Adek mimisan. Gumam Sadha dalam hati.

Sadha yang diam membuat Dhana yakin kalau mas tengahnya itu sedang menyembunyikan sesuatu tentang sang adik.

"Kenapa Mas Sadha diam? Apa ada yang Mas sembunyikan dari Dhana dan Mas Ammar tentang Adek?" ujar Dhana dengan tatapan tajamnya dan membuat Sadha bingung mau jawab apa.

"Kamu bicara apa sih, Dhana. Mas ingin mandi dulu. Nanti kita bicara lagi." jawab Sadha yang langsung pergi karena tidak ingin Dhana curiga lagi.

Sadha pun pergi sementara Dhana menatap punggung mas tengahnya itu hingga hilang.

"Mas Sadha pasti mengetahui sesuatu tentang Adek. Tapi apa? Kalau aku bilang pada Mas Ammar, nanti mereka malah bertengkar lagi."

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

1
Fitri03
terharu banget bacanya sampe menguras air mata
Fitri03
pas dhina diagnosa terkena penyakit kanker darah disitu aku nangis banget bacanya sampe Dhana akhirnya menikah dengar orang benar2 mirip sama adeknya,benar2 terharu bacanya dan menguras air mata.makasih yaa Thor udah bikin cerita sebagus ini kalau bisa bikin season 2nya tentang Dhana dan mala.
🌹Dina Yomaliana🌹: Alhamdulillah makasih banyak ya kak udah mau baca novel aku🥹🩷🙏 btw lanjutannya ada kok, di sebelah silakan berkunjung juga ya semoga suka☺️☺️
total 1 replies
Asih Asih
jangan di kasih penyakit terus dong Thor,kasih kebahagian bersama imam pliss
🌹Dina Yomaliana🌹
Sebagai penulis dari novel ini, saya berharap akan ada banyak orang yang menyukai alur ceritanya. Walaupun saya sadar, kalau cerita ini masih sangat banyak kesalahannya.
Dina Ima Tari
aduhh capek banget baca cerita ini tuh, rasanya gak berhenti mengalir, ini novel pertama yang aku ingin banget si tokoh utamanya hidup
biasanya klau tokoh utamanya sakit, ya udah pasti bakal kesana mikirnya
tapi ngeliat kebahagiaan, canda tawa, rasanya gak rela bgt kalau dhina dah gak ada
thanks buat author yang membuat cerita keren dan membuat banjir air mata
Nadia Permata
berulang kali baca ini...
ttp aja nangis...
Erma Wahyuni
😭😭😭😭😭
Erma Wahyuni
😭😭😭😭
Erma Wahyuni
gimana ya kabar imam
Erma Wahyuni
😭😭😭😭
Rani Virjani
kenapa jg yg nungguin harus d bawah sih..sedangkan yg sakit berada d lantai atas🤦‍♀️🤦‍♀️
Li Permana
Mampir kak, 3 like untuk karyamu
Mommy Gyo
10;like hadir thor mampir
Ganezt Ganezho
wesss mantap mengandung bawang yg buanyaaakkk pokok e... top dach kk thor bkin certa nya
Yenz_Azzahra
Hadir disini.
tingglkn jejak dulu ya
Μғ⃝🦪тιαяα м͜͡¢͢🦇
Semangat Thor ceritanya sangat bagus😍, mampir juga di novel ku "Hijrahnya Gadis Pembunuh Bayaran" 💙💙
Martina Alfarizqi
semangat untuk karya barunya💪💪
Eva Santi Lubis
keren
Anun
Udah mampir dari my Maria
Yeni Eka
Disitu tulis Plak, eh aku yang meringis ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!