Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arena Debu Hitam Dan Harga Kekuatan
Episode 13
Aku melangkah dengan sangat tenang di atas ubin ubin obsidian yang terasa sangat licin namun memberikan cengkeraman yang pas bagi telapak kaki baruku. Di sekelilingku bangunan bangunan dari tulang hitam menjulang tinggi seolah olah mereka sedang mencoba menggapai pusaran awan ungu yang terus bergejolak di langit Gehenna. Cahaya dari kristal esensi yang dipasang di setiap sudut jalan memberikan rona ungu yang mistis pada kulit abu abuku. Aku bisa merasakan tatapan tatapan dari mahluk mahluk lain yang berpapasan denganku di jalanan yang lebar ini.
Beberapa mahluk memiliki bentuk tubuh yang sangat aneh. Ada yang menyerupai ksatria berbaju zirah lengkap namun zirahnya tumbuh dari dalam daging mereka sendiri. Ada juga mahluk mahluk ramping dengan wajah yang tertutup kain sutra hitam yang berjalan dengan sangat anggun. Aku menyadari bahwa di wilayah tengah ini penampilan fisik adalah cerminan dari tingkat evolusi serta kedudukan sosial. Semakin manusiawi bentuk tubuhmu maka semakin tinggi pula tingkat esensi yang kau miliki di dalam jiwamu.
Dug... dug... dug...
Jantungku berdetak dengan ritme yang sangat teratur memberikan sirkulasi energi yang lancar ke seluruh bagian ototku. Aku merasa sangat stabil sekarang. Namun di balik kestabilan itu aku tetap waspada. Sebagai seorang pendaki aku belajar bahwa medan yang paling tenang sering kali menyimpan bahaya yang paling mematikan. Aku terus mengamati sekeliling menggunakan Eyes of the Abyss mencari titik titik energi yang mungkin menjadi ancaman bagiku.
"Jangan terlalu kaku Goma. Kau sekarang sudah terdaftar sebagai prajurit rendah kota. Selama kau tidak memancing keributan di jalanan utama para penjaga kota tidak akan mengusik mu," bisik Kharis yang kini bersembunyi di balik tudung jubah compang camping yang baru saja kuambil dari sisa sisa pertempuran sebelumnya.
"Aku tidak khawatir tentang penjaga Kharis. Aku khawatir tentang waktu. Aku butuh peta dimensi itu secepat mungkin. Aku tidak ingin menghabiskan sisa keabadianku di tempat yang penuh dengan bau kematian ini."
Suaraku terdengar jernih dan berat menggema di lorong lorong bangunan tulang yang kami lewati. Kami terus berjalan menuju arah barat kota di mana struktur bangunan terlihat lebih besar serta mengeluarkan suara gemuruh yang sangat rendah. Itu adalah distrik hiburan dan pertarungan tempat di mana koin esensi berpindah tangan secepat nyawa yang melayang di atas pasir arena.
Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit kami sampai di depan sebuah bangunan berbentuk lingkaran raksasa. Bangunan ini tidak memiliki atap sehingga asap hitam dan cahaya api ungu terlihat membubung tinggi dari dalamnya. Di atas gerbang bangunan tersebut terdapat sebuah papan besar yang terbuat dari logam Black Iron dengan tulisan yang berpendar terang: ARENA DEBU HITAM.
[ SISTEM: LOKASI TERIDENTIFIKASI: BLACK DUST ARENA ]
[ SISTEM: ANALISIS AREA: TEMPAT PERTANDINGAN FISIK DAN SIHIR ESENSI ]
[ SISTEM: MATA UANG UTAMA: KOIN ESENSI OKSIDIAN ]
[ SISTEM: TUJUAN: MENDAPATKAN KOIN UNTUK AKSES AULA PENGETAHUAN ]
Arena ini adalah satu satunya tiketku untuk naik ke kasta yang lebih tinggi. Aku tidak punya koin untuk membayar informasi maka aku akan membayar dengan kekuatan yang kumiliki.
Aku melangkah mendekati loket pendaftaran yang dijaga oleh seorang iblis bertubuh besar dengan kulit berwarna merah tua. Iblis itu memiliki empat mata yang semuanya menatapku dengan pandangan penuh selidik. Di tangannya ia memegang sebuah pena yang terbuat dari tulang sayap kelelawar.
"Daftar," ucapku singkat sambil berdiri tegak di depan meja loket yang terbuat dari batu hitam.
Iblis itu mendengus mengeluarkan asap tipis dari hidungnya yang lebar. "Mahluk liar yang baru masuk kota ya. Kau punya nama atau kau hanya ingin dipanggil sebagai budak nomor sekian di arena ini."
"Namaku Goma. Aku bukan budak."
Mendengar jawabanku iblis itu tertawa kecil hingga perutnya yang buncit bergetar. "Semua yang bertarung di sini tanpa sponsor bangsawan dianggap sebagai petarung liar atau budak Goma. Jika kau menang kau akan mendapatkan koin esensi. Jika kau kalah jiwamu akan diserap oleh pasir arena untuk menjadi bahan bakar kristal lampu di kota ini. Kau masih ingin mendaftar."
"Daftarkan aku sekarang," jawabku tanpa ragu sedikit pun.
Iblis itu mengangkat bahunya kemudian menuliskan namaku di atas selembar kulit kering yang berfungsi sebagai dokumen pendaftaran. Ia kemudian memberikan sebuah lencana kecil yang terbuat dari tulang rawan yang berdenyut pelan.
"Lencana ini adalah identitasmu di dalam arena. Masuklah lewat pintu samping. Kau akan ditempatkan di kategori Petarung Perunggu karena tingkat esensi mu masih berada di level awal wilayah tengah."
Aku mengambil lencana tersebut kemudian berjalan menuju pintu samping yang dijaga oleh dua orang prajurit berzirah lengkap. Begitu aku masuk ke dalam aku langsung disambut oleh bau darah yang sangat kuat dan suara teriakan penonton yang sangat bising dari arah tribun atas. Di lorong bawah tanah yang gelap ini banyak mahluk mahluk lain yang sedang bersiap siap. Ada yang sedang mengasah taring mereka ada juga yang sedang memoles senjata tulang mereka dengan cairan esensi agar lebih tajam.
"Tuan Goma tempat ini benar benar gila," bisik Kharis dengan nada gemetar. "Lihat mahluk di pojok sana. Dia memiliki otot lengan yang jauh lebih besar dari milikmu. Dan mahluk yang di sana dia memiliki sayap yang bisa mengeluarkan duri beracun."
Aku melihat ke arah mahluk mahluk yang ditunjuk oleh Kharis. Memang benar mereka terlihat sangat kuat. Namun aku menyadari satu hal yang mereka tidak miliki. Mereka semua bergerak hanya berdasarkan kekuatan otot murni tanpa adanya teknik yang matang. Sebagai pendaki aku tahu bahwa kekuatan tanpa kendali serta teknik yang tepat hanya akan membuang buang tenaga.
Aku duduk di sebuah bangku batu yang dingin untuk menstabilkan aliran energinya. Aku menutup mata kuning keemasan ku kemudian memfokuskan jiwaku ke arah sistem di dalam pikiranku.
Sistem periksa status kesiapan tubuhku untuk pertarungan fisik tingkat menengah.
[ SISTEM: MEMULAI DIAGNOSIS TUBUH ]
[ SISTEM: OTOT DAN KULIT DALAM KONDISI PRIMA (95 %) ]
[ SISTEM: SISTEM SIRKULASI ESENSI BERJALAN LANCAR ]
[ SISTEM: PERINGATAN: ANDA MEMBUTUHKAN SENJATA YANG LEBIH BAIK DARIPADA BELATI KRISTAL YANG RETAK ]
Aku melihat belati kristal ku. Memang benar belati ini sudah tidak layak lagi untuk pertarungan kelas tinggi. Aku harus mencari senjata baru secepatnya. Namun untuk sekarang aku harus mengandalkan tangan kosong ku yang sudah diperkuat oleh Black Iron dan kekuatan otot dadaku.
Tiba tiba sebuah suara bergema di seluruh lorong bawah tanah tersebut melalui sihir suara.
"PERTANDINGAN SELANJUTNYA, GOMA SANG PENDAKI MELAWAN IRON CRUSHER!"
Mendengar nama Iron Crusher disebut beberapa mahluk di sekitarku mulai berbisik bisik. Mereka menatapku dengan pandangan kasihan seolah olah mereka sedang melihat orang mati yang berjalan.
"Iron Crusher. Dia adalah penghancur tulang yang sudah memenangkan sepuluh pertandingan berturut turut. Tubuhnya dilapisi oleh cangkang logam organik yang sangat keras," bisik salah satu iblis di dekatku dengan nada yang mengejek.
Aku berdiri dari bangku batu tersebut. Aku tidak merasa takut sedikit pun. Justru adrenalin di dalam jantungku mulai bergejolak hebat mengirimkan gelombang panas ke seluruh otot ototku. Aku mengepalkan tangan kiriku merasakan kepadatan logam Black Iron yang ada di dalamnya.
"Ayo Kharis. Ini adalah saatnya untuk membuktikan bahwa pendakianku tidak akan berhenti di sini."
Aku berjalan menuju pintu masuk arena yang perlahan lahan mulai terbuka. Cahaya lampu ungu yang sangat terang menyilaukan pandanganku sesaat sebelum aku menginjakkan kaki di atas pasir hitam yang sangat halus. Pasir ini terasa sangat panas di telapak kakiku seolah olah ia memang haus akan darah yang akan segera tumpah di atasnya.
Di seberang arena seorang mahluk raksasa setinggi tiga meter sedang berdiri tegak. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh cangkang berwarna abu abu metalik yang sangat mengkilap. Ia membawa sebuah palu besar yang terbuat dari tulang paha mahluk purba yang dilapisi oleh besi. Mahluk itu menatapku dengan tatapan meremehkan sambil meludahkan cairan hijau ke atas pasir.
"Hanya seekor monyet abu abu yang baru tumbuh daging ya. Aku akan menghancurkan setiap ruas tulangmu sampai kau menjadi debu hitam di bawah kakiku!" teriak Iron Crusher dengan suara yang menggetarkan seluruh arena.
Aku tidak membalas provokasinya. Aku hanya merendahkan posisi tubuhku memasang kuda kuda yang sangat stabil. Aku fokus pada satu titik kelemahan di balik cangkang logamnya yang tebal. Mataku yang bercahaya kuning mulai memindai setiap inci tubuh lawan di depanku.
Dewa lihatlah pertandingan ini baik baik dari atas sana. Karena setiap kemenangan yang kuraih di arena ini adalah satu langkah lebih dekat bagiku untuk mencapai leher kalian.
Suara lonceng tanda dimulainya pertandingan berbunyi sangat nyaring. Seluruh penonton bersorak histeris menyambut dimulainya pembantaian. Aku melesat maju dengan kecepatan penuh memulai tarian mautku di Arena Debu Hitam.