Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Geng Elang Mencari Masalah
Pagi itu, atmosfer di Universitas Global terasa seperti kabel listrik yang telanjang—bergetar, berbahaya, dan siap menyengat siapa saja yang menyentuhnya. Kabar tentang hancurnya dominasi Rico dan "The Vultures" bukan lagi sekadar gosip kantin, melainkan legenda urban yang berkembang menjadi narasi supernatural. Namun, di duni bawah kekuasaan mahasiswa, kekosongan kekuasaan adalah sesuatu yang menjijikkan. Dan di mana ada singa yang jatuh, hyena akan segera datang untuk berebut bangkai.
Hyena itu bernama Geng Elang.
Berbeda dengan anak-anak kaya manja pengikut Rico, Geng Elang adalah kumpulan mahasiswa dari fakultas teknik dan olahraga yang lebih menyukai kekerasan fisik daripada gertakan verbal. Mereka adalah penguasa area parkir timur dan gudang belakang kampus. Pemimpin mereka, Bara, adalah seorang mantan atlet tinju amatir yang dikeluarkan dari pelatnas karena masalah temperamen.
Vittorio melangkah masuk melalui gerbang samping, tempat yang biasanya menjadi jalur pelarian Arjuna jika ingin menghindari kerumunan. Di sampingnya, Karin berjalan dengan langkah yang disengaja agar terlihat "keren", meski daster kuningnya hari ini dibalut jaket bomber kebesaran yang membuatnya tampak seperti bola bulu yang berjalan.
"Juna, lu liat nggak?" bisik Karin, matanya melirik ke arah sekumpulan pria berjaket kulit hitam yang duduk di atas motor-motor besar di sepanjang jalur pejalan kaki. "Itu anak-anak Geng Elang. Mereka biasanya nggak pernah nongkrong di sini pagi-pagi. Aura mereka bau-bau masalah, bau-bau ketiak yang nggak pake deodoran."
Vittorio tetap menatap lurus ke depan. "Abaikan saja, Karin. Lalat tidak akan menyerang jika kau tidak terlihat seperti sampah."
"Tapi masalahnya, lu itu sekarang kayak magnet sampah, Juna!" Karin menyikut lengan Vittorio. "Sejak lu bantai Rico, semua orang yang pengen jadi 'Raja Kampus' baru pasti bakal nyari lu buat pembuktian."
Insting Vittorio membenarkan ucapan Karin. Di duniaku, jika kau membunuh seorang Don, kau tidak akan mendapatkan kedamaian; kau hanya mendapatkan antrean pembunuh baru yang ingin mengambil takhtamu.
Baru saja mereka melewati deretan motor itu, sebuah suara knalpot yang memekakkan telinga meledak tepat di samping telinga Karin. Gadis itu terlonjak kaget hingga hampir jatuh.
"Woi! Jalannya pake mata, jangan pake daster doang!" teriak seorang pria bertubuh gempal dengan rambut dikuncir, salah satu kaki tangannya Bara.
Vittorio berhenti. Ia tidak berbalik, namun aura di sekitarnya mendadak mendingin. Ia bisa merasakan Karin gemetar di sampingnya. Di duni bawah Italia, menyerang orang yang berada di bawah perlindungan seorang Genovese adalah dosa yang hanya bisa ditebus dengan nyawa. Meski Karin adalah "variabel pengganggu", dia berada di bawah perlindungan Vittorio.
"Minta maaf padanya," ucap Vittorio pelan. Suaranya tidak keras, namun memiliki bobot yang sanggup menghentikan suara mesin motor yang menderu.
Pria gempal itu turun dari motornya, diikuti oleh empat orang lainnya. Mereka mengepung Vittorio dan Karin di tengah jalur yang mulai sepi karena mahasiswa lain memilih untuk berputar arah daripada terjebak dalam masalah.
"Minta maaf? Sama cewek semprul ini?" Pria itu tertawa, memperlihatkan gigi-giginya yang kuning. "Eh, Arjuna. Kami denger lu sekarang sakti. Bisa bikin Rico nangis bombay. Tapi di depan Geng Elang, lu itu cuma kerupuk yang belum digoreng."
Bara, sang pemimpin, melangkah maju dari kerumunan. Ia jauh lebih tinggi dari Arjuna, dengan bahu lebar dan tangan yang penuh dengan bekas luka kapalan akibat latihan keras. Ia menatap Vittorio dengan tatapan meremehkan, namun ada sedikit kewaspadaan di sudut matanya—seorang petarung tahu bagaimana mengenali petarung lain.
"Lu Arjuna?" tanya Bara, suaranya berat dan serak. "Gue nggak suka ada orang baru yang bikin gaduh di wilayah gue. Rico itu sampah, tapi dia bayar 'pajak' ke kami. Sejak lu bikin dia masuk rumah sakit, aliran dana itu berhenti. Jadi, lu punya dua pilihan: bayar kerugian kami, atau lu jadi samsak hidup gue pagi ini."
Vittorio akhirnya berbalik sepenuhnya. Ia menatap Bara dengan tatapan datar yang kosong, seolah ia sedang melihat sebuah benda mati, bukan seorang manusia yang mengancamnya. "Aku punya pilihan ketiga."
"Apa itu?"
"Kau dan anjing-anjingmu pergi dari hadapanku dalam sepuluh detik, atau aku akan memastikan kalian tidak akan bisa naik motor lagi seumur hidup."
Hening.
Karin menahan napas. Ia tahu Juna-nya sekarang jagoan, tapi ini Bara. Bara pernah mematahkan hidung tiga orang sekaligus di sebuah tawuran antar fakultas tahun lalu.
"Satu..." Vittorio mulai menghitung.
"Hahaha! Lu beneran gila!" Bara memberi isyarat pada anak buahnya. "Hajar dia. Tapi jangan sentuh mukanya, gue mau mukanya tetep utuh biar dia bisa liat gimana gue matahin kakinya."
Dua orang maju pertama kali. Mereka tidak seperti anak buah Rico yang menyerang dengan asal; mereka menyerang dengan pola. Satu mengincar kaki, satu mengincar kepala.
Vittorio bergerak.
Ia mendorong Karin ke belakang sebuah pilar beton. Dalam gerakan yang hampir sinkron, ia memiringkan tubuhnya, membiarkan pukulan pertama lewat di atas bahunya. Tanpa membuang waktu, ia menangkap tangan penyerang itu dan menggunakan teknik joint-lock yang brutal.
KREK.
Pergelangan tangan pria itu bergeser dalam sudut yang tidak wajar. Sebelum pria itu sempat berteriak, Vittorio menggunakan bahu pria itu sebagai tumpuan untuk meluncurkan tendangan lutut ke arah penyerang kedua yang mencoba menerjangnya dari bawah.
DUAK!
Penyerang kedua tersungkur, hidungnya mengeluarkan darah segar setelah dihantam lutut Vittorio yang sekeras batu. Dua orang tumbang dalam waktu kurang dari lima detik.
Bara menyipitkan mata. "Ternyata gosip itu bener. Lu bukan amatiran."
Bara maju sendiri. Ia mengambil posisi orthodox tinju, kakinya bergerak lincah di atas aspal. Ia meluncurkan jab-jab cepat yang bertujuan untuk mengukur jarak. Vittorio tetap diam, tangannya tidak terkepal, hanya terbuka santai di samping pinggangnya—sebuah posisi yang sangat berbahaya karena memberikan fleksibilitas serangan balik yang tak terduga.
Bara meluncurkan hook kanan yang sangat kuat. Vittorio tidak menghindar ke belakang; ia justru masuk ke dalam radius serang Bara. Ini adalah teknik "Counter-Intuitive" dari para pembunuh bayaran elite. Dengan masuk lebih dekat, kekuatan pukulan lawan justru berkurang karena tidak mencapai titik ekstensi maksimal.
Vittorio menangkis lengan Bara dengan telapak tangannya, lalu dengan gerakan secepat kilat, ia menusukkan ujung jari tengah dan telunjuknya ke arah saraf di bawah ketiak Bara.
"Ugh!" Bara merasa lengannya mendadak lumpuh dan mati rasa.
Vittorio tidak berhenti di sana. Ia meluncurkan serangkaian pukulan cepat ke titik-titik vital: ulu hati, rusuk bawah, dan pangkal paha. Setiap serangan mendarat dengan suara tumpul yang menyakitkan. Bara yang tadinya terlihat seperti raksasa, kini terhuyung-huyung, kesulitan mengatur napas.
"Ini..." Vittorio mendekati telinga Bara, sementara tangannya masih mencengkeram kerah jaket Bara agar pria itu tidak jatuh. "Adalah perbedaan antara olahraga dan pembunuhan. Kau berlatih untuk memenangkan poin. Aku dilahirkan untuk mengakhiri hidup."
Vittorio melepaskan Bara dan memberikan satu tendangan rendah ke arah saraf di belakang lutut Bara. Pemimpin Geng Elang itu jatuh berlutut di depan Vittorio, di hadapan anak-anak buahnya yang kini membeku dalam ketakutan.
"Sembilan detik," ucap Vittorio dingin. "Satu detik tersisa."
Anak buah Bara yang tersisa segera membantu pemimpin mereka berdiri dan mundur perlahan. Mereka tidak lagi melihat Arjuna si Cupu. Mereka melihat sebuah bayangan kematian yang mengenakan raga seorang mahasiswa.
"Cabut! Cabut sekarang!" perintah Bara dengan suara yang serak menahan sakit. Mereka memacu motor mereka pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu dan aroma karet terbakar di udara.
Vittorio menghela napas, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Ia berbalik dan melihat Karin yang masih berdiri di belakang pilar, matanya membelalak lebar seperti piring makan.
"Juna..." bisik Karin. "Lu... lu beneran pake cheat ya? Itu tadi nggak masuk akal! Lu bahkan nggak keringetan!"
Vittorio berjalan mendekati Karin, mengambil tas ranselnya yang sempat terjatuh. "Sudah kubilang, mereka hanya lalat. Dan lalat hanya perlu ditepuk."
"Ditepuk palemu! Itu Bara, Juna! Bara yang ditakutin seantero fakultas teknik!" Karin memegangi lengan Vittorio, mencoba mencari otot yang mungkin tersembunyi. "Lu beneran bukan manusia ya? Lu robot yang dikirim dari masa depan buat nyelamat gue dari kejombloan?"
Vittorio memutar bola matanya. "Jangan mulai lagi dengan teorimu, Karin. Ayo, kelas hukum internasional akan dimulai sepuluh menit lagi."
Saat mereka berjalan menuju gedung fakultas, Vittorio menyadari sesuatu. Kerumunan mahasiswa di sepanjang jalan kini memberikan jalan dengan sangat hormat—atau lebih tepatnya, sangat takut. Tidak ada lagi bisik-bisik ejekan. Yang ada hanyalah keheningan yang menyesakkan.
Namun, di tengah keheningan itu, mata elang Vittorio menangkap sosok wanita berambut pendek yang kemarin ia temui. Ia berdiri di balkon lantai dua, memperhatikan semuanya sambil memegang sebuah tablet digital. Ia tampak sedang mencatat sesuatu.
Mereka terus mengawasiku, batin Vittorio. Geng Elang hanyalah tes. Mereka ingin melihat sejauh mana tubuh Arjuna bisa menanggung beban teknik tempurku.
"Juna, kok diem aja? Mikirin apa? Mikirin seblak yang gue janjikan kalau lu menang?" Karin menarik-narik ujung kemeja Vittorio.
"Aku sedang berpikir," jawab Vittorio pelan. "Bahwa kampus ini mulai terasa terlalu kecil untuk permainan yang sedang dimainkan oleh orang-orang di balik layar itu."
"Halah, sok misterius lu! Pokoknya nanti malem lu harus bantuin gue kerjain tugas statistik sebagai upah karena gue udah jadi penonton setia aksi lu tadi!"
Vittorio tersenyum tipis. Di tengah ancaman mafia internasional, konspirasi pelacak di tubuhnya, dan musuh-musuh baru yang bermunculan, ocehan Karin adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa... hidup. Bukan sebagai Vittorio Genovese sang Raja Mafia, tapi sebagai sesuatu yang baru. Sesuatu yang bahkan ia sendiri belum bisa mendefinisikannya.
"Baiklah, wanita semprul. Tapi kau yang beli kopinya."
"Deal! Tapi pake uang lu ya!"
Mereka masuk ke ruang kelas, meninggalkan jejak ketakutan di belakang mereka. Babak baru telah terbuka. Geng Elang telah dipatahkan, namun elang yang sebenarnya—mereka yang terbang tinggi di atas langit politik dan duni bawah—baru saja mulai mengasah kuku mereka untuk mencengkeram mangsa baru bernama Arjuna.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍