Sinopsis:
Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.
Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.
"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."
Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Aku menyibukkan diri dengan setiap butir nasi goreng di piringku, seolah-olah isi piring itu adalah hal paling krusial di dunia saat ini. Suara tawa Om Angga yang menyambut Danendra, sapaan hangat Tante Anin yang menanyakan perjalanannya, hingga bisikan interogasi Valerie, semuanya masuk ke telinga kiri dan keluar ke telinga kanan tanpa kuizinkan mampir di kepala.
Aku tidak ingin memberikan panggung sedikit pun untuk kehadirannya di sini.
"Nak Danendra ini benar-benar ya, nekat sekali nyetir sendirian malam-malam begini," ujar Tante Nita sambil menuangkan teh hangat untuknya. "Zal, itu temannya diajak ngobrol dong, jangan cuma makan terus."
Aku hanya bergumam tidak jelas tanpa mendongak. Fokusku tetap pada sendok dan garpu. Aku sengaja menarik garis pembatas tak kasat mata di atas meja makan ini. Bagiku, keberadaannya di sini adalah pelanggaran kesepakatan, dan aku tidak punya kewajiban untuk bersikap manis hanya karena keluargaku menyukainya.
"Nggak apa-apa, Tante. Azzalia mungkin masih butuh waktu untuk bangun sepenuhnya," suara Danendra terdengar tenang, namun aku bisa merasakan tatapannya tertuju padaku. Ada nada geli dalam suaranya yang membuatku semakin ingin menenggelamkan wajah ke dalam mangkuk.
Sepanjang sarapan, aku tetap bungkam. Sementara mereka asyik bernostalgia dan tertawa, aku justru sedang menghitung jam. Aku sudah memutuskan; kepulanganku kali ini cukup singkat. Aku rindu rumah ini, aku rindu keluarga ini, tapi berada di bawah atap yang sama dengan Danendra dalam situasi non-profesional seperti ini membuat zirahku terasa kian tipis.
Aku harus kembali ke Kota J sore ini. Aku harus kembali bekerja esok hari. Lebih baik menghadapi Pak Danendra yang perfeksionis di kantor daripada menghadapi Danendra yang penuh perhatian di meja makan keluargaku sendiri.
Begitu suapan terakhir masuk, aku langsung berdiri dan merapikan piringku.
"Azzalia selesai. Tante, Om, aku mau beresin barang-barang di kamar dulu. Sore nanti aku mau langsung balik ke Kota J biar nggak kesorean sampai kost," ucapku datar, akhirnya mengeluarkan suara namun tetap menghindari kontak mata dengan Danendra.
"Lho, kok cepat sekali, Zal? Baru juga sampai kemarin," protes Tante Anin kaget.
"Besok sudah mulai masuk kerja lagi, Tan. Banyak laporan yang harus aku siapkan," jawabku sambil melangkah menuju dapur, meninggalkan keheningan mendadak di meja makan.
Aku tahu, di belakangku, Danendra pasti sedang menatap punggungku dengan ribuan pertanyaan yang tidak akan aku jawab hari ini.
Valerie menyusulku ke kamar beberapa menit kemudian. Aku sedang sibuk melipat jaket dan memasukkannya ke dalam ransel dengan gerakan yang sengaja dibuat buru-buru. Aku tidak ingin berlama-lama di sini jika itu berarti aku harus terus berada dalam satu radius dengan Danendra.
"Zal, pelan-pelan napasnya. Tas lo nggak bakal lari," ucap Valerie sambil duduk di tepi ranjang, tangannya meraih beberapa helai pakaianku untuk membantu merapikan.
Aku tidak menyahut. Aku hanya ingin cepat selesai.
"Lo beneran mau balik sore ini cuma gara-gara ada dia di luar?" Valerie menatapku lurus, mencoba mencari celah di balik wajah datarku. "Padahal Tante Nita udah berencana mau masak besar buat nanti malam."
"Gue emang harus kerja besok, Val. Capek kalau pulangnya terlalu malam," jawabku sekenanya.
Valerie menghela napas panjang, ia meletakkan baju yang ia pegang dan menahan tanganku. "Zal, dengerin gue. Sebelum lo balik ke Kota J dan balik jadi robot kantor lagi, mumpung cuaca lagi bagus, gimana kalau kita keluar sebentar? Kita ke kedai es krim favorit kita dulu. Lo butuh udara segar biar otak lo nggak kaku banget."
Aku terhenti sejenak, namun bayangan Danendra yang mungkin akan menawarkan diri untuk ikut langsung muncul di kepalaku. "Nggak, Val. Makasih. Gue mau fokus beresin ini terus istirahat sebentar sebelum jalan."
"Zal, cuma sebentar"
"Nggak, Val. Gue nggak mau keluar," potongku tegas, nada bicaraku kembali dingin. "Gue cuma mau pulang. Tolong jangan paksa gue buat ngelakuin hal yang nggak pengen gue lakuin sekarang."
Valerie terdiam, ia menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan—antara gemas dan kasihan. Ia tahu, jika aku sudah memasang tembok seperti ini, tidak akan ada yang bisa menembusnya. Dengan bahu yang merosot, ia akhirnya berdiri.
"Oke, oke. Gue nggak maksa," gumamnya pelan. "Tapi asal lo tahu, lari ke Kota J nggak bakal bikin masalah lo selesai. Masalahnya bukan di kota mana lo berada, tapi di dalem sini," ia menunjuk dadanya sendiri sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.
Aku terpaku di depan tas ranselku yang setengah terbuka. Kalimat Valerie terasa menyentil bagian hatiku yang paling dalam. Aku tahu dia benar, tapi bagiku, Kota J dengan segala kesibukannya adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Seseorang yang ingin kuhindari kehadirannya, malah dia yang selalu hadir di depanku. Seolah dia tidak memiliki kehidupan lain selain berada di dekatku. Dia tidak pernah memberiku waktu untuk benar-benar tenang. Sebenarnya, siapa di sini yang paling terluka? Aku yang terus-menerus dikejar rasa bersalah, atau dia yang sengaja membiarkan dirinya dihantam kedinginanku berkali-kali?
Aku menyandarkan punggung di daun pintu kamar, memejamkan mata rapat-rapat. Suara tawa Danendra yang sayup-sayup terdengar dari ruang makan tadi terasa seperti sebuah ironi. Bagaimana bisa dia bersikap seolah semuanya baik-baik saja? Bagaimana bisa dia begitu tenang setelah menempuh ratusan kilometer hanya untuk melihat wajahku yang bahkan enggan menatapnya?
Ketidakkonsistenannya membuatku lelah. Di satu sisi dia adalah atasan yang otoriter, di sisi lain dia adalah pria yang bersimpuh di kaki seorang anak magang. Dan sekarang, dia menjelma menjadi "bagian dari keluarga" yang diterima dengan tangan terbuka oleh orang-orang terdekatku.
"Kamu mau apa sebenarnya, Nen?" bisikku pada kesunyian kamar.
Aku merasa seperti sedang bermain catur dengan seseorang yang sudah tahu semua langkahku sebelum aku memikirkannya. Pelarianku ke Kota K ini seharusnya menjadi benteng terakhir, tempat di mana aku bisa bernapas tanpa aromanya. Tapi ternyata, dia justru membawa badai itu langsung ke depan pintu rumahku.
Aku meraih tas ranselku, menutup ritsletingnya dengan sentakan kasar. Jika tetap di sini hanya akan membuat pertahananku semakin tipis karena desakan keluarga dan kehadirannya, maka kembali ke Kota J adalah pilihan yang paling logis. Setidaknya di sana, ada sekat meja kantor dan status profesional yang bisa kujadikan perisai. Walaupun aku tahu, perisai itu pun sudah mulai retak berkeping-keping.
Aku melangkah keluar kamar dengan satu tekad: aku harus pergi sebelum matahari terbenam, sebelum aku benar-benar kehilangan kendali atas hatiku sendiri di rumah ini.