NovelToon NovelToon
Kaisar Pedang Penelan Surga

Kaisar Pedang Penelan Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Paviliun Angin Malam

Malam turun di Kota Giok seperti tirai hitam yang diturunkan perlahan.

Xiao Fan berdiri di atap penginapan, menatap ke arah utara kota. Di sana, di atas bukit kecil yang menghadap sungai, berdiri Paviliun Angin Malam—bangunan tua yang dulu menjadi tempat pertemuan para penyair dan cendekiawan, kini terbengkalai dan jarang dikunjungi.

Ia sudah berganti jubah. Yang baru, hitam dengan sulaman perak. Pedang Bintang Jatuh terselip di pinggang, kini dengan sarung kulit hitam yang ia ambil paksa dari pandai besi sebelum waktunya. Ia akan membayarnya nanti—jika masih hidup.

"Guru."

Liu Ruyan berdiri di ambang jendela kamarnya, menatapnya dengan mata penuh kekhawatiran. "Kau akan pergi sendirian?"

"Ya."

"Aku bisa ikut. Aku sudah lapis kedua."

Xiao Fan menoleh. Benar. Sore tadi, saat ia kembali, ia merasakan perubahan pada aura gadis itu. Qi Kematian di dalam dirinya telah menebal. Kondensasi Qi Lapis Kedua. Dalam waktu kurang dari seminggu. Bakatnya memang luar biasa.

"Tidak malam ini," kata Xiao Fan. "Ini urusanku. Dan kau belum siap menghadapi apa yang mungkin ada di sana."

Liu Ruyan ingin membantah, tapi ia menahan diri. "Baik. Aku akan menunggu."

"Jangan hanya menunggu." Xiao Fan melompat ke atap sebelah. "Latih jurus yang kuajarkan pagi tadi. Langkah Bayangan. Aku ingin melihat kemajuanmu saat kembali."

Ia menghilang ke dalam malam.

Paviliun Angin Malam berdiri sunyi di atas bukit. Angin menderu pelan melalui celah-celah kayunya yang lapuk. Lentera-lentera kertas yang dulu menghiasi atapnya kini tinggal rangka bambu yang patah-patah.

Xiao Fan mendarat di halaman depan tanpa suara. Ia mengamati sekitar. Tidak ada penjaga. Tidak ada formasi pelindung. Hanya bangunan tua dan bayangan pepohonan.

[Mendeteksi satu entitas di dalam paviliun. Tingkat kultivasi: Fondasi Inti Puncak. Jalur: Tidak teridentifikasi.]

Satu orang. Itu sesuai dengan pesan: "Datanglah sendiri."

Ia melangkah masuk. Di dalam, hanya ada satu meja kayu dan dua bangku. Di atas meja, sebuah teko tanah liat dan dua cangkir. Uap masih mengepul dari teh yang baru diseduh.

Di salah satu bangku, duduk seorang wanita.

Usianya mungkin tiga puluhan, tapi ada sesuatu di matanya yang menunjukkan ia jauh lebih tua dari penampilannya. Rambutnya hitam legam, diikat tinggi dengan jepit perak. Jubahnya biru tua, sederhana, tanpa hiasan. Tapi aura yang terpancar darinya—dingin, tajam, dan sangat kuno.

"Kau datang," katanya. Suaranya lembut, tapi membawa bobot waktu yang panjang. "Duduklah. Minum teh."

Xiao Fan duduk di bangku seberangnya. Ia tidak menyentuh teh.

"Kau yang mengirim mata-mata itu. Dan kau yang menulis ancaman tentang muridku."

Wanita itu tersenyum tipis. "Aku minta maaf soal ancaman itu. Terlalu dramatis. Tapi aku butuh kau datang. Dan aku tahu kau tidak akan datang hanya karena undangan sopan."

"Siapa kau?"

"Aku punya banyak nama. Tapi kau bisa memanggilku Qing Ji." Ia menyesap tehnya perlahan. "Aku adalah... mantan anggota para Penyegel."

Xiao Fan menegang. Sistem di kepalanya langsung bersuara.

[Peringatan. Entitas "Qing Ji" teridentifikasi sebagai anggota faksi kuno "Penyegel". Status: Membelot.]

"Mantan," ulang Xiao Fan.

"Aku keluar 3.000 tahun lalu. Setelah melihat apa yang mereka lakukan pada Putri Kegelapan." Qing Ji meletakkan cangkirnya. "Aku tidak setuju dengan cara mereka. Menyegel jiwa seseorang dalam siklus penderitaan abadi... itu bukan keadilan. Itu kekejaman."

"Lalu kenapa kau di sini? Kenapa mengancam muridku?"

"Karena aku ingin memperingatkanmu." Mata wanita itu berubah serius. "Para Penyegel tahu Putri Kegelapan telah bangkit sebagian. Mereka sudah mengirim pemburu. Namanya Xue Lang—Serigala Darah. Alam Inti Emas Puncak. Dia akan tiba di kota ini dalam tiga hari."

Xiao Fan mencerna informasi itu. Inti Emas Puncak. Itu setara dengan Tetua Tertinggi Sekte Langit Biru. Dengan kekuatannya saat ini, ia tidak akan menang dalam pertarungan langsung.

"Mengapa kau membantuku?"

"Karena aku lelah melihat mereka menghancurkan orang-orang yang seharusnya bebas." Qing Ji menatapnya lurus. "Dan karena kau adalah Kaisar Pedang. Dulu, kau menyelamatkan hidupku tanpa sengaja. Aku berutang budi."

Xiao Fan mengernyit. Ia tidak ingat pernah menyelamatkan wanita ini. Tapi kehidupan sebelumnya penuh dengan kejadian-kejadian kecil yang terlupakan.

"Apa yang kau inginkan sebagai imbalan?"

Qing Ji tersenyum lagi. "Tidak ada. Anggap ini pembayaran utang. Tapi jika kau bersikeras... selamatkan Putri Kegelapan. Bebaskan dia dari segel itu. Itu sudah cukup bagiku."

Ia berdiri. "Tiga hari, Xiao Fan. Itu waktu yang kau punya sebelum Xue Lang tiba. Aku sarankan kau dan gadis itu sudah jauh dari kota ini sebelum matahari terbit besok."

"Ke mana aku harus pergi?"

"Pegunungan Tulang Putih." Qing Ji berjalan ke pintu. "Di sana ada fragmen kedua pedangmu. Dapatkan itu, dan kekuatanmu akan cukup untuk menghadapi Xue Lang."

Ia berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit. "Oh, dan satu hal lagi. Jangan pernah sebut namaku pada siapa pun. Jika para Penyegel tahu aku membantumu, aku akan mati lebih menyakitkan dari yang bisa kau bayangkan."

Ia melangkah keluar dan menghilang ke dalam kegelapan.

Xiao Fan duduk sendiri di paviliun, menatap teh yang tidak disentuhnya. Pikirannya berpacu. Tiga hari. Pemburu dari para Penyegel. Pegunungan Tulang Putih.

Ia bangkit dan melesat kembali ke penginapan. Mereka harus pergi malam ini juga.

Saat ia mendarat di atap penginapan, ia melihat Liu Ruyan berdiri di halaman belakang. Gadis itu sedang berlatih Langkah Bayangan, tubuhnya bergerak cepat di antara bayangan pohon. Belum sempurna, tapi kemajuannya luar biasa.

Ia melihat Xiao Fan dan berhenti. "Guru. Kau kembali."

"Berkemas. Kita pergi malam ini."

Liu Ruyan tidak bertanya. Ia hanya mengangguk dan masuk ke dalam.

Dalam waktu singkat, mereka sudah berdiri di jalanan sepi Kota Giok. Bulan menggantung tinggi, menyinari jalan keluar kota.

"Guru," bisik Liu Ruyan. "Apa yang terjadi di paviliun?"

Xiao Fan menatap ke depan. "Seseorang datang untuk membunuhmu. Kita harus pergi sebelum dia tiba."

Gadis itu diam sejenak. Lalu ia berkata pelan, "Aku tidak takut."

Xiao Fan menoleh, menatapnya. "Seharusnya kau takut. Tapi jangan biarkan ketakutan itu menghentikanmu."

Mereka melangkah keluar gerbang kota. Di depan, jalan gelap membentang menuju selatan. Menuju Pegunungan Tulang Putih. Menuju fragmen kedua. Menuju pertempuran yang akan menentukan hidup mati mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!